Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Embun Pagi di Paviliun Merah
Cahaya matahari yang menyelinap di balik tirai sutra membangunkan Yu Fan dari tidur panjang yang kelam. Aroma kayu cendana yang menenangkan memenuhi ruangan, namun rasa sakit yang tajam di pangkal tengkoraknya membuat ia refleks mengerang.
Ia melirik ke sekeliling, ia berada di dalam sebuah paviliun megah dengan ukiran naga emas yang meliuk di pilar-pilar kayu hitam.
Tak lama kemudian, pintu bergeser terbuka. Seorang gadis dengan rambut dikuncir dua, mengenakan gaun berwarna kuning dan merah yang cerah, melangkah masuk dengan anggun. Di belakangnya, seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang menjuntai hingga ke pinggang mengikuti. Pria tua itu memiliki aura yang sangat berat dan padat, sebuah tanda dari Master Tingkat 6, puncak kekuatan yang bisa dicapai oleh makhluk fana di dunia ini.
"Anak muda, kau sudah sadar dari tidur panjangmu?" tanya si kakek tua dengan suara berat yang menggetarkan udara di ruangan itu.
Gadis itu mendekat, matanya yang jernih menatap Yu Fan dengan rasa ingin tahu. "Kau sudah hampir tiga hari tidak sadarkan diri. Kami sempat mengira jiwamu sudah tersesat di jalan menuju alam baka."
Yu Fan memegang kepalanya, matanya menyipit mencoba fokus. "Kalian... siapa?"
Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar seperti guntur yang ramah. "Ahahaha! Aku adalah Jin Taixu, leluhur dari Kerajaan Tianwu. Anggap saja kau sedang berada di rumah seorang kawan lama."
"Aku adalah Jin Yuexin," si gadis menyela dengan nada sedikit malu. "Maafkan kakekku. Dia memang suka berbicara sesuka hatinya."
Jin Taixu kembali menatap Yu Fan dengan serius. "Lalu, siapa namamu, anak muda? Luka di tubuhmu sangat tidak lazim saat kami menemukanmu di Hutan Terlarang. Apa yang dilakukan pemuda sepertimu di tempat terkutuk itu?"
Yu Fan tertegun. Ia mencoba menggali ke dalam ingatannya, mencari sebuah identitas. "Aku... ak..aku..." Namun, setiap kali ia mencoba mengingat, kepalanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Ia berteriak kesakitan, mencengkeram kepalanya hingga urat-urat di lehernya menegang.
"Kakek, kenapa dengan pria ini?!" seru Jin Yuexin cemas.
Jin Taixu segera meletakkan telapak tangannya di punggung Yu Fan. Wajah sang leluhur berubah serius. "Alur Yin dan Yang-nya tidak seimbang, dan dia kehilangan ingatannya. Energi Yin di dalam tubuhnya terlalu besar—begitu murni namun berbahaya. Jika manusia biasa memiliki energi Yin sebanyak ini, dia akan segera kehilangan akal sehat dan berubah menjadi iblis."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kakek?"
Tanpa membuang waktu, Jin Taixu melakukan serangkaian gerakan formasi tangan cepat, mengalirkan energi Yang murni ke dalam tubuh Yu Fan. "Anak muda, tenangkan jiwamu. Kau tidak perlu mengingat masa lalu jika itu hanya memberi beban." Energi Yang itu mengalir lembut, meredam gejolak dingin di tubuh Yu Fan hingga ia merasa lebih tenang.
"Jika kau tidak punya nama, maka aku akan memberimu nama. Yu Fan," ucap Jin Taixu.
Jin Yuexin terbelalak, "Itu nama siapa yang kakek berikan? Kek?"
Sang leluhur kembali tertawa. "Saat kita bertemu dengannya, energi Yin-nya luar biasa besar. Nama Yu Fan adalah kiasan bagi 'Ketenangan di Balik Badai'. Sepertinya nama itu cocok untuk menyeimbangkan takdirnya."
Yu Fan menarik napas panjang, bangkit perlahan dan memberikan penghormatan dengan tangan terkepal. "Terima kasih, Leluhur Jin Taixu. Yu Fan sangat menghargai jasa Anda. Terima kasih telah merawat saya yang tidak tahu asal-usulnya ini."
"Ahahaha, jangan hanya berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada cucuku, Yuexin. Dia yang menemukanku dan memintaku membawamu kemari," ucap Jin Taixu sambil berbalik membelakangi Yu Fan.
"Anak muda, aku melihat potensi besar di dirimu. Aku akan menunggumu besok di aula latihan, tapi sebelum itu, kau harus bersumpah untuk setia pada kerajaanku."
Yu Fan menatap punggung tua itu dengan mantap. "Karena nyawaku telah diselamatkan oleh Leluhur, tidak ada alasan bagiku untuk menolak. Aku bersumpah setia dengan darahku kepada Kerajaan Tianwu."
"Bagus," Jin Taixu tersenyum tipis. "Besok, jangan sampai terlambat."
...****************...
Waktu berlalu seperti aliran sungai di musim semi. Dalam satu purnama, Yu Fan menjalani pelatihan yang sangat keras di bawah bimbingan Jin Taixu. Setiap pagi, ia berlatih pedang hingga tangannya melepuh, dan setiap malam ia bermeditasi untuk mengendalikan energi Yin-nya.
Di awal pelatihan, Yu Fan hanyalah sasaran empuk. Jin Taixu memperkenalkannya pada Li Feng, murid terbaik di aula latihan yang sudah mencapai puncak Master Tingkat 1.
Dalam duel-duel awal, Yu Fan sering kali terlempar, tubuhnya memar dihantam teknik pedang Li Feng yang cepat. Namun, Yu Fan tidak pernah menyerah. Ia menyerap setiap gerakan, setiap kesalahan, dan setiap inci aliran tenaga dalam yang ia rasakan.
Hingga suatu hari, tepat satu bulan setelah kebangkitannya, suasana di aula latihan menjadi sunyi. Yu Fan berdiri dengan pedang kayunya, menantang Li Feng sekali lagi.
Seluruh murid terkejut merasakan aura Yu Fan yang telah berubah drastis, ia telah mencapai Master Tingkat 2 hanya dalam satu bulan, sebuah kecepatan yang mustahil bagi manusia biasa.
"Kau beruntung kali ini, Yu Fan, tapi tingkat tak akan menipu hasil!" seru Li Feng sambil menerjang maju. Pedangnya bergerak seperti kilat, namun Yu Fan hanya bergeser sedikit, gerakan yang begitu tenang seolah ia sudah tahu ke mana arah pedang itu. Dengan satu sentakan tangan, Yu Fan memutar pedangnya, menghantam pergelangan tangan Li Feng, dan dengan gerakan secepat bayangan, ujung pedang kayunya sudah berada di tenggorokan lawan.
Li Feng terdiam, keringat dingin mengucur.
Jin Taixu yang melihat dari kejauhan tertawa puas. "Luar biasa! Harimau yang terluka kini telah menumbuhkan taringnya kembali!"
...****************...
Malam itu, Yu Fan duduk bermeditasi di atap paviliun, menatap bulan sabit yang menggantung indah. Tiba-tiba, sebuah bayangan kuning melompat ringan ciri khas Master Tingkat 2 dan mendarat tepat di sampingnya. Itu adalah Jin Yuexin, membawa sebuah kotak bekal kecil berisi kue bunga osmanthus.
Yu Fan sempat terkejut dan hendak turun untuk memberi hormat, namun Yuexin menahannya dengan senyum hangat. "Duduklah, Yu Fan. Malam ini sangat indah, tidak perlu ada protokol kerajaan."
Mereka duduk bersisian di bawah cahaya bulan. Yuexin mulai bercerita tentang dunia yang luas ini. "Dunia ini tidak sesederhana yang kau lihat," ucapnya pelan. "Ada tujuh kerajaan besar yang saling menjaga keseimbangan, dan di antara mereka, ada praktisi dari berbagai sekte. Ada tujuh sekte utama yang paling disegani: Sekte Pedang Ilahi tempat aku belajar, Sekte Budha yang tenang, Sekte Pedang Iblis yang haus darah, Sekte Penggoda yang misterius, Sekte Pencuri yang licin, dan tentu saja... Sekte Teratai Putih yang konon sangat suci. Selain itu, ada tiga belas sekte biasa yang tersebar di seluruh bumi."
Yu Fan mendengarkan dengan seksama, hatinya bergetar saat mendengar nama "Sekte Teratai Putih," meski ia tidak tahu mengapa nama itu memicu rasa panas di dadanya. Ia terpana melihat semangat di mata Yuexin saat menjelaskan luasnya dunia dan beragamnya teknik kultivasi.
"Dunia ini sangat luas, ya?" gumam Yu Fan, menatap cakrawala yang gelap.
"Sangat luas," jawab Yuexin lembut. "Dan aku yakin, namamu suatu saat akan bergema di setiap sudutnya."
Yu Fan terdiam, menatap bulan. Di dalam hatinya, sebuah keinginan baru muncul bukan hanya untuk setia pada kerajaan, tetapi untuk mengetahui siapa dia sebenarnya dan mengapa dunia yang indah ini terasa seperti penjara yang harus ia dobrak.