Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Mahasiswa KKN
Ke esokan harinya setelah kejadian, Desapun kehadiran kelompok mahasiswa KKN dari Jakarta ini benar-benar memberikan suasana baru serta ketegangan yang semakin terasa di Desa Pasir Angin. Mereka datang dengan mengenakan almamater biru dongker yang masih terlihat bersih dan rapi, membawa kamera DSLR dan laptop, dipenuhi oleh semangat yang besar untuk membawa perubahan.
Adrian dan Dinda berdiri di tepi area Jarian. Tempat itu kini tampak bersih dari gunungan sampah, namun tanahnya masih hitam pekat dan aroma wangi kemenyan samar-samar masih tercium di udara, kontras dengan hawa dingin yang mulai turun.
"Gila, angle-nya dapet banget di sini, Yan! Tanah hitam bekas lahan kritis, latar belakangnya matahari terbenam. Ini kalau difoto buat laporan akhir atau buat feeds medsos kita bakal estetik banget. Narasi sebelum dan Sesudah KKN kita bakal sukses besar!". Dinda mengangkat kamera DSLR-nya, membidik beberapa sudut area Jarian lalu melihat hasilnya di layar.
"Din, kita ke sini bukan buat berburu foto estetik. Fokus ke tata letak. Jarian ini adalah pilot project yang sempurna buat Sistem Pengelolaan Sampah Smart yang kita rancang di Jakarta. Lahan ini sudah clear, tinggal kita pasang instalasi tong pemilah berbasis sensor dan area komposting digital." Adrian berdiri kaku sambil memegang papan jalan berisi draf proyek, matanya sibuk memindai kontur tanah.
"Eh... tapi kamu nyium sesuatu gak, sih? Baunya aneh. Kayak bau wewangian... tapi pekat banget. Mirip bau dupa atau kemenyan di film-film horor." Dinda menurunkan kameranya, tiba-tiba mengendus udara di sekitarnya sambil mengernyitkan dahi.
"Paling cuma sisa pembakaran sampah organik atau kayu oleh warga lokal beberapa hari lalu. Secara sains, senyawa karbon yang terbakar memang sering menghasilkan bau menyengat yang bertahan lama di tanah lembap. Jangan biasakan mengaitkan fenomena kimia dengan takhayul, Din. Kita di sini membawa solusi ilmiah." Adrian mengibas-ngibaskan kertas drafnya, menjawab dengan nada skeptis dan kaku.
"Bukan gitu, Yan... rasanya beda. Bulu kudukku mendadak merinding. Lagian kamu ingat gak mukanya Pak RT sama Kang Kosim tadi siang pas kita nyebut tempat ini? Tegang banget. Kayak ada sesuatu yang sengaja mereka sembunyiin dari kita tentang tanah ini." Dinda berjalan beberapa langkah ke tengah area, tiba-tiba bergidik pelan.
"Edukasi dan sedikit teknologi, Yan," kata Bagas, mahasiswa teknik elektro yang sedang fokus memperbaiki sensor pada prototipe alat mereka.
"Masalahnya, mereka lebih percaya bahwa bau tidak sedap itu adalah petanda bahwa penunggu Jarian sedang marah, padahal sensor gas metana kita sudah menunjukkan sinyal merah semua." Bagas mengusap keringat di dahi, lalu melihat ke arah sekelompok warga yang sedang memandang mereka dari kejauhan dengan tatapan curiga.
"Bayangkan saja, kita bawa diagram alir dan rumus kimia ke tempat di mana untuk menebang pohon pun harus menunggu hari baik. Aku hanya khawatir bahwa penggaris besi itu tidak akan cukup untuk menjelaskan tentang bakteri anaerob jika mereka mulai berbicara soal pamali," tambah Bagas sambil tertawa kecil, meskipun ada nada khawatir dalam suaranya.
Langkah berat Pak RT, yang mengenakan sandal jepit tua, tiba-tiba menghentikan perdebatan teknis di antara mahasiswa itu, membuat Adrian segera menurunkan penggaris besi sementara Bagas secara refleks menyembunyikan layar tablet yang masih menyala. Wajah pria paruh baya itu tampak tenang, tetapi menyimpan kedalaman yang sulit dipahami, sangat kontras dengan jaket almamater mereka yang mencolok di bawah sinar matahari siang.
"Selamat datang di Pasir Angin, Nak Adrian, Nak Dinda, dan Nak Bagas,". Kata Pak RT dengan suara berat dan serak, sambil menyalami mereka satu per satu dengan genggaman tangan kasar khas seorang petani.
Dia kemudian berdiri sejenak di tepi area Jarian, menghirup udara dalam-dalam seolah sedang berhubungan dengan sesuatu yang tak terlihat, sebelum akhirnya menatap mereka dengan senyum tipis yang penuh makna.
Tanah di area ini memang tampak seperti lahan kosong yang butuh dibersihkan, tetapi bagi kami, Jarian adalah tempat yang memiliki cara unik untuk berkomunikasi. Kami berharap rencana besar yang kalian bawa dari kota dapat sejalan dengan kehidupan sederhana di desa ini.
"Pak RT," Adrian memulai dengan suara serius, mencoba menunjukkan posisinya sebagai pemimpin kelompok sambil menyesuaikan kacamatanya,
"Kehadiran kami di sini tidak hanya untuk melihat, tetapi juga ingin membantu masyarakat dalam mengelola Jarian dengan cara yang lebih modern melalui program Manajemen Sampah Pintar. Oleh karena itu, kami meminta izin Bapak untuk tinggal di desa ini selama sebulan ke depan." Pinta Adrian kepada pak RT dengan nada memohon.
"Betul, Pak, kami berharap bisa belajar banyak dari penduduk sini sambil berbagi pengetahuan yang kami miliki.". Dinda menambahkan dengan senyuman ceria yang telah dia siapkan untuk kamera.
"Niat baik pasti akan menemukan jalan, Nak. Terkait tempat tinggal, kalian bisa tinggal di rumah tua di ujung jalan dekat kaki bukit. Itu adalah rumah mantan bidan desa yang sudah lama kosong, tetapi masih layak huni dan cukup luas untuk kalian semua." Pak RT mengangguk perlahan, matanya menyipit saat memeriksa logo kampus di dada mereka sebelum mengeluarkan napas panjang.
Dia menunjukkan ke jalur kecil yang dikelilingi oleh pohon-pohon bambu, di mana atap sebuah bangunan kayu terlihat dari jarak jauh.
"Rumah itu sudah dibersihkan kemarin. Namun, saya ingin mengingatkan jika malam tiba, lebih baik tetap berada di dalam rumah. Suasana di sini cukup berbeda dari Jakarta, udaranya lebih menusuk," kata Pak RT dengan nada yang agak sulit dimengerti.
"Terima kasih banyak, Pak RT. Kami sangat menghargai sambutan dan izin yang Pak RT berikan kami berjanji akan menjaga perilaku dan mengikuti peraturan yang ada selama proyek ini,". Ujar Adrian sambil membungkuk dengan sopan, diikuti oleh teman-temannya yang tampak lega karena urusan administratif mereka berjalan tanpa hambatan.
"Ya, Pak, terima kasih karena telah mengizinkan kami tinggal di rumah itu. Kami minta izin untuk bersiap-siap." Dinda juga menampilkan senyum manisnya.