NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Onimaru Rascall

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Onimaru Rascall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Pagi itu suasana ruang direktur utama perusahaan tampak jauh lebih tegang dari biasanya. Udara dingin dari pendingin ruangan sama sekali tidak mampu meredakan amarah yang sedang memenuhi ruangan. Pak Agung berdiri di dekat jendela dengan wajah gelap, sementara Doni berdiri di depannya sambil menjelaskan kejadian yang terjadi semalam.

“Jadi Tony benar-benar mencoba membawa Clara secara paksa?” tanya Pak Agung dengan suara berat.

Doni mengangguk pelan. “Iya, Pak. Dia datang dalam keadaan emosi. Clara menolak ikut dengannya, lalu dia mulai memaksa.”

Rahang Pak Agung mengeras.

“Dan dia menampar Clara?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih dingin.

Doni sempat diam sesaat sebelum menjawab. “Iya, Pak.”

Brak!

Tangan Pak Agung menghantam meja hingga gelas kopi di atasnya bergetar. Kemarahan yang selama ini ia tahan akhirnya meledak begitu saja.

“Saya bahkan tidak pernah memukul anak saya!” bentaknya penuh emosi. “Walaupun Clara dulu keras kepala, egois, dan sering membuat masalah, saya tetap tidak pernah menyentuhnya!”

Doni hanya diam mendengarkan. Ia memahami perasaan pria itu. Seorang ayah mana yang bisa menerima putrinya diperlakukan kasar oleh orang lain?

Pak Agung berjalan mondar-mandir sambil menahan emosi.

“Tony sudah keterlaluan,” ucapnya geram. “Dia pikir karena pernah dekat dengan Clara maka dia bisa melakukan apa saja?”

“Sepertinya dia panik setelah kasus penggelapan dana itu mulai terungkap,” jawab Doni tenang. “Dia takut kehilangan semuanya.”

Pak Agung tertawa sinis.

“Lalu dia berpikir menculik Clara adalah solusi?” katanya tajam. “Dasar bodoh.”

Ruangan kembali hening beberapa saat. Doni kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Pagi ini Tony tidak datang ke kantor. Beberapa staf juga bilang nomor ponselnya tidak bisa dihubungi.”

“Mau sembunyi di mana pun dia tetap akan saya cari,” kata Pak Agung tanpa ragu. “Saya akan menuntut dia. Saya pastikan dia mendapat hukuman yang setimpal.”

Tatapan mata pria itu benar-benar dipenuhi amarah. Selama ini Pak Agung memang dikenal sebagai sosok yang tegas dalam pekerjaan, tetapi urusan keluarga adalah hal yang sangat sensitif baginya. Apalagi menyangkut Clara, putri semata wayangnya.

Doni kemudian berkata pelan, “Untuk sementara Clara ada di rumah saya, Pak.”

Pak Agung langsung menoleh.

“Di rumahmu?”

“Iya. Saya khawatir Tony masih mengincarnya. Saya tidak mungkin membiarkan Clara sendirian di kontrakannya setelah kejadian tadi malam.”

Wajah Pak Agung sedikit melunak mendengar itu.

“Kamu membawanya pulang?”

“Iya, Pak.”

Pak Agung menghela napas panjang. Beban di wajahnya sedikit berkurang setelah mendengar Clara tidak sendirian.

“Terima kasih, Doni,” ucapnya tulus. “Saya benar-benar berterima kasih.”

Doni menggeleng pelan. “Tidak perlu seperti itu, Pak. Saya hanya melakukan hal yang memang harus saya lakukan.”

“Walaupun Clara dulu sering menyakitimu, kamu masih mau melindunginya.”

Doni tersenyum kecil mendengar ucapan itu.

Masa lalunya dengan Clara memang tidak selalu baik. Clara pernah memandang rendah dirinya, meragukannya, bahkan beberapa kali menyakitinya dengan ucapan tajam. Namun melihat Clara ketakutan semalam membuat semua rasa kesal itu terasa tidak penting lagi.

“Bagaimanapun juga Clara sedang dalam bahaya,” jawab Doni tenang. “Saya tidak mungkin meninggalkannya.”

Pak Agung memperhatikan Doni beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Kamu memang pantas berada di posisi sekarang.”

Doni tampak sedikit canggung mendengar pujian itu.

“Saya hanya beruntung Bapak memberi kepercayaan kepada saya.”

Pak Agung terkekeh pelan.

“Beruntung?” katanya sambil menggeleng. “Dulu banyak orang meragukanmu saat saya mengangkatmu menjadi direktur pemasaran. Mereka bilang kamu terlalu muda dan tidak punya koneksi kuat.”

Doni tersenyum tipis.

Ia masih ingat bagaimana banyak orang memandang rendah dirinya dulu. Beberapa petinggi perusahaan bahkan terang-terangan mempertanyakan keputusan Pak Agung.

“Tapi saya tidak peduli dengan omongan mereka,” lanjut Pak Agung. “Saya lebih percaya kemampuan dibanding omong kosong.”

“Dan sekarang mereka tidak bisa membantah keputusan Bapak,” jawab Doni.

Pak Agung mengangguk puas.

“Karena kamu membuktikan sendiri kemampuanmu.”

Setelah berbicara beberapa saat lagi, Doni akhirnya pamit untuk kembali bekerja.

“Saya akan kembali ke kantor pemasaran dulu, Pak.”

Pak Agung mengangguk. “Kalau ada kabar tentang Tony, segera beri tahu saya.”

“Tentu, Pak.”

Sebelum keluar ruangan, Doni sempat berhenti sejenak.

“Pak…”

“Ada apa?”

“Jangan terlalu khawatir. Clara aman.”

Ucapan sederhana itu membuat wajah Pak Agung sedikit lebih tenang.

“Terima kasih,” ucapnya sekali lagi.

Doni hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya keluar dari ruangan.

---

Sementara itu di rumah Doni, suasananya jauh berbeda.

Aroma mentega dan vanila memenuhi dapur hangat milik keluarga Doni. Clara berdiri di dekat meja dapur sambil mengenakan celemek berwarna krem milik ibu Doni. Rambutnya diikat sederhana, membuat penampilannya terlihat jauh berbeda dari biasanya.

Jika dulu Clara selalu tampil sempurna dengan pakaian mahal dan kuku yang dijaga rapi, sekarang gadis itu justru sibuk memegang mangkuk adonan sambil kebingungan.

“Bu… ini terlalu cair atau memang begini?” tanyanya ragu.

Ibu Doni tertawa kecil melihat ekspresi panik Clara.

“Kamu baru menuang susu sedikit saja sudah bingung.”

“Karena saya takut gagal.”

“Memasak itu bukan soal takut gagal,” jawab ibu Doni santai sambil mengaduk adonan lain. “Yang penting telaten.”

Clara memperhatikan wanita paruh baya itu dengan serius.

“Telaten?”

“Iya. Banyak orang berpikir memasak itu sulit. Padahal sebenarnya tidak. Yang menentukan hasilnya adalah kesabaran.”

Clara mengangguk pelan sambil mencoba memahami.

Ia kemudian kembali mencoba mengaduk adonan. Namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali berubah bingung.

“Bu… ini malah menggumpal.”

Ibu Doni tertawa lagi.

“Kamu mengaduknya terlalu cepat.”

Clara langsung menghela napas panjang.

“Ternyata membuat kue lebih sulit dari laporan keuangan.”

“Karena laporan keuangan tidak perlu perasaan,” jawab ibu Doni sambil tersenyum geli.

Clara ikut tertawa kecil.

Sudah lama ia tidak merasakan suasana sehangat ini. Biasanya rumahnya selalu terasa sepi karena ayahnya sibuk bekerja. Bahkan saat kecil Clara lebih sering ditemani asisten rumah tangga dibanding keluarganya sendiri.

Namun di rumah Doni, suasananya berbeda.

Hangat.

Tenang.

Dan anehnya membuat Clara merasa nyaman.

“Nah, sekarang coba tuang tepungnya pelan-pelan,” kata ibu Doni.

Clara mengikuti instruksi itu dengan hati-hati. Walaupun gerakannya masih kaku, ia mulai lebih fokus dibanding sebelumnya.

“Bagus,” puji ibu Doni. “Kamu cepat belajar.”

Clara tersenyum kecil mendengar pujian itu.

“Biasanya saya malah dimarahi kalau salah.”

“Kalau dimarahi terus orang malah malas belajar.”

Clara terdiam sesaat.

Ucapan itu terasa sederhana, tetapi entah kenapa membuat dadanya sedikit hangat.

Setelah adonan selesai dibuat, mereka mulai menuangkannya ke loyang kecil sebelum memasukkannya ke oven.

“Nah, sekarang tinggal menunggu,” kata ibu Doni sambil membersihkan tangannya.

Clara memperhatikan oven dengan penuh rasa penasaran.

“Semoga berhasil,” gumamnya.

“Kalau gagal nanti kita coba lagi.”

“Kalau hangus?”

“Berarti ovennya sedang ingin mencari perhatian.”

Clara tidak bisa menahan tawanya mendengar jawaban itu.

Beberapa saat kemudian mereka duduk di meja makan sambil menunggu kue matang. Clara tampak memainkan jarinya sendiri sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Bu…”

“Hm?”

“Makanan kesukaan Doni apa?”

Ibu Doni langsung menoleh sambil tersenyum tipis.

“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”

Clara tampak salah tingkah.

“Saya cuma… ingin berterima kasih.”

“Karena dia menolongmu?”

Clara mengangguk pelan.

Kalau mengingat kejadian semalam, tubuhnya masih terasa dingin.

Tony benar-benar terlihat seperti orang kehilangan akal. Tatapan matanya membuat Clara ketakutan. Jika Doni tidak datang tepat waktu, mungkin semuanya akan menjadi jauh lebih buruk.

“Kalau bukan karena Doni…” suara Clara mengecil, “mungkin saya benar-benar sudah dibawa paksa.”

Ibu Doni memandang Clara dengan lembut.

“Kamu sangat takut, ya?”

Clara tersenyum pahit.

“Saya bahkan tidak tahu harus bagaimana semalam.”

“Sekarang kamu aman.”

Clara mengangguk kecil.

“Tony sudah berubah,” lanjutnya lirih. “Dulu dia memang ambisius, tapi sekarang dia seperti orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri.”

“Orang yang panik sering kehilangan akal sehat.”

Clara menunduk pelan.

“Ayah juga pasti kecewa besar.”

“Yang penting ayahmu lebih memilih melindungimu dibanding memikirkan harga dirinya.”

Clara tersenyum tipis mendengar itu.

Ia tahu ayahnya memang keras, tetapi pria itu selalu menyayanginya dengan caranya sendiri.

“Jadi, makanan favorit Doni apa?” tanyanya lagi, mencoba mengalihkan suasana.

Ibu Doni terkekeh kecil.

“Putra saya itu sebenarnya tidak pilih-pilih makanan.”

“Tapi pasti ada favoritnya.”

“Hm…” wanita itu berpikir sejenak. “Dia paling suka gulai ayam.”

Mata Clara langsung berbinar.

“Gulai ayam?”

“Iya.”

“Ajari saya.”

Ibu Doni tertawa kecil melihat semangat Clara yang tiba-tiba muncul.

“Kamu yakin?”

“Saya serius.”

“Kamu bahkan masih kesulitan membedakan adonan terlalu cair atau terlalu kental.”

Clara langsung tersipu malu.

“Itu bisa dipelajari.”

“Baiklah,” jawab ibu Doni sambil tersenyum hangat. “Nanti saya ajarkan.”

Clara langsung tampak bersemangat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sedang belajar menjadi seseorang yang baru. Bukan Clara yang manja dan keras kepala seperti dulu, melainkan Clara yang ingin berubah sedikit demi sedikit.

Dan semua itu dimulai dari dapur kecil sederhana milik keluarga Doni. Tempat penuh aroma kue hangat, suara tawa ringan, dan ketenangan yang tidak pernah ia sadari sangat ia butuhkan. Manusia memang aneh. Kadang baru sadar arti rumah setelah hidup mereka hampir hancur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!