Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
"PENCULIK! Kalian sudah menculik anak saya! Di mana Bara?! Di mana dia menyembunyikan Aira?! Kalian pasti sudah mencuci otaknya agar dia berani melawan orang tuanya sendiri!"
Suara Prasetya Maheswari menggelegar, membelah kesunyian Ballroom yang tadinya dipenuhi kekaguman palsu. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol saat ia menunjuk-nunjuk asisten keluarga Galaksi yang masih berdiri tenang di atas panggung. Ia mencoba mengalihkan narasi, mencoba memposisikan dirinya sebagai ayah yang kehilangan anak demi menutupi rasa malu yang mulai merayap.
Ratna ikut berdiri, air mata buayanya tumpah seketika. "Tolong kembalikan Aira... Dia anak kami yang sakit, dia butuh pengobatan! Kalian tidak berhak membawanya pergi! Ini penculikan!"
Asisten berpakaian safari hitam itu hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang sarat akan penghinaan. Ia sama sekali tidak terlihat terintimidasi. Sebaliknya, ia justru merogoh sebuah remote kecil dari saku jasnya.
"Menculik? Mencuci otak?" Asisten itu terkekeh pelan melalui mikrofon. "Tuan Prasetya, Nyonya Ratna... Anda terlalu percaya diri. Nona Aira tidak perlu dicuci otaknya untuk membenci neraka yang kalian buat sendiri. Beliau hanya perlu... diselamatkan."
Klik.
Layar monitor raksasa yang tadinya menampilkan logo SMA Garuda mendadak berkedip. Dalam hitungan detik, gambar berubah. Seluruh hadirin di ruangan itu menahan napas serentak.
Sebuah foto muncul. Foto gudang belakang rumah Maheswari yang sempit, gelap, dan penuh dengan tumpukan kain perca. Di sudutnya, terdapat sebuah kasur tipis yang sudah menguning dan lampu belajar kecil yang hampir mati.
"Ini adalah 'kamar' dari siswi yang Anda sebut sebagai putri tercinta," suara asisten itu terdengar dingin, menggema di setiap sudut ruangan. "Tempat di mana Nona Aira dipaksa menjahit siang dan malam tanpa henti untuk memenuhi ambisi saudaranya."
Layar berganti lagi. Kali ini menampilkan video tersembunyi yang memperlihatkan Airin sedang membanting hasil jahitan Aira ke lantai sambil memaki-maki. "Cepat selesaikan! Kalau gaun ini tidak menang, aku akan pastikan Papa menguncimu lagi tanpa makan!"
Suasana gedung yang tadinya hening kini mulai gaduh dengan bisikan jijik. Namun, asisten itu belum selesai.
"Dan ini... adalah bagian yang paling menarik."
Monitor menampilkan dokumen medis dari Rumah Sakit Jiwa yang dibawa Ratna sebelumnya. Namun, di sampingnya muncul sebuah rekaman percakapan suara yang sangat jernih.
"Dokter, saya tidak peduli berapa biayanya. Buat surat diagnosa bahwa Aira menderita skizofrenia delusi. Pastikan dia tidak punya kekuatan hukum jika dia bicara soal gaun itu. Ini kartu kredit saya, silakan ambil berapa pun yang Anda butuhkan."
Itu suara Ratna Maheswari. Jelas. Nyata. Tak terbantahkan.
"TIDAK! ITU FITNAH! ITU REKAYASA AI!" Airin berteriak histeris di atas panggung, piala emas di tangannya gemetar hebat. Wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan karena ketakutan. "Pa! Ma! Hentikan mereka! Mereka mau menghancurkan aku!"
Tapi tak ada yang bisa menghentikannya. Monitor terakhir menampilkan bukti teknis desain 'The Awakening'. Sketsa-sketsa awal yang dibuat dengan tangan Aira, lengkap dengan coretan ide asli tentang teknik 'Hidden Rose Stitch' yang telah dipatenkan atas nama Aira Maheswari dua hari yang lalu secara rahasia.
Seketika, atmosfer di ruangan itu berbalik 180 derajat. Tatapan memuja dari para tamu undangan berubah menjadi tatapan muak yang mematikan.
"Biadab..." gumam seorang wali murid di barisan depan.
"Gila! Orang tua macam apa yang mengurung anaknya sendiri di gudang?!" teriak yang lain.
"Airin... jadi selama ini dia pencuri? Semua prestasinya palsu?!"
Teman-teman seangkatan mereka mulai berdiri, menunjuk-nunjuk Airin dengan pandangan menghina. "Pantas saja Aira selalu kelihatan pucat dan ketakutan! Ternyata lo ular berbisa ya, Rin!"
"Kembalikan pialanya! Loe nggak pantes berdiri di situ, pencuri!"
Airin menangis histeris, menoleh ke arah barisan kursi terdepan. "Al! Alvaro! Tolong aku! Kamu percaya sama aku, kan? Mereka semua bohong, Al! Ini semua gara-gara Bara! Dia mau misahin kita!"
Alvaro.
Pria itu masih mematung di kursinya. Tubuhnya kaku, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Dunianya baru saja runtuh berkeping-keping. Suara teriakan Airin terasa seperti dengingan menyakitkan di telinganya.
POV Alvaro
Gue... gue baru aja denger apa?
Telinga gue berdenging. Setiap kata dari rekaman suara Tante Ratna, setiap foto gudang itu... semuanya menghantam jantung gue kayak gada besi.
Gue teringat malam di balkon itu. Aira menangis di depan gue, memohon agar gue inget soal pita merah. Gue inget gimana gue mendorong dia sampai jatuh ke lantai. Gue inget gimana gue menyebut dia gila, menyebut dia parasit, dan menuduhnya sebagai pembohong yang ahli manipulasi.
“Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang penuh delusi itu, Aira!”
Kata-kata gue sendiri terngiang kembali di kepala gue. Rasanya lebih tajam dari pisau. Gue melihat monitor itu lagi. Foto gudang itu... Aira tidur di sana? Selama bertahun-tahun gue main ke rumah ini, gue nggak pernah tahu kalau cewek yang gue cari selama ini ada di balik dinding lembap itu, menderita sendirian sementara gue tertawa bersama ular yang mencuri identitasnya.
Pita merah.
Bayangan masa kecil itu mendadak jadi sangat jernih. Sosok kecil yang memberikan pita rambutnya buat bebat luka di lutut gue. Tangannya gemeteran, tapi matanya berani. Mata itu... mata yang sama dengan mata Aira yang penuh luka tiap kali dia ngeliat gue. Bukan mata Airin yang selalu penuh kepalsuan.
Bodoh. Gue benar-benar cowok paling bodoh sedunia.
Gue udah ngelindungi orang yang salah. Gue udah memuja iblis yang menghancurkan hidup malaikat gue sendiri. Gue membiarkan Aira menderita, gue ikut andil dalam menyiksa batinnya. Rasa bersalah ini... rasanya mau bikin gue mati sekarang juga.
POV End
"Alvaro! Jawab aku!" Airin berlari turun dari panggung, mencoba meraih lengan Alvaro. Ia menangis tersedu-sedu, mencari perlindungan terakhir dari kehancuran sosialnya. "Semua orang jahat padaku, Al! Cuma kamu yang tahu aku gimana! Bilang sama mereka kalau itu semua bohong!"
Alvaro menoleh pelan. Tatapannya kosong, seperti orang gila yang kehilangan jiwanya. Namun, saat tangan Airin menyentuh jasnya, Alvaro tersentak seolah baru saja menyentuh bara api.
"Jangan..." suara Alvaro parau, hampir tak terdengar.
"Al?"
"JANGAN SENTUH GUE, ULAR LICIK!"
Alvaro mendorong tangan Airin dengan kasar hingga gadis itu terjerembap di antara barisan kursi. Alvaro berdiri, napasnya memburu, matanya merah karena amarah dan penyesalan yang meluap.
"Selama ini gue buta..." Alvaro menunjuk wajah Airin dengan tangan bergetar. "Gue belain loe, gue sakitin dia demi loe! Ternyata loe pelakunya! Loe yang curi semuanya dari dia! Loe yang bikin dia menderita di gudang itu!"
"Al... dengerin aku dulu..."
"Cukup!" bentak Alvaro, suaranya menggelegar hingga Airin menciut ketakutan. "Mulai hari ini, jangan pernah sebut nama gue lagi. Loe bukan 'Ai' gue. Loe cuma sampah yang dibungkus sutra. Gue muak liat muka loe!"
Alvaro berbalik, menatap Prasetya dan Ratna yang masih mematung di samping panggung. "Om... Tante... kalian adalah orang tua paling biadab yang pernah saya kenal. Jangan harap keluarga Pratama akan tinggal diam setelah apa yang kalian lakukan pada Aira."
Kekacauan pecah total. Di barisan belakang, beberapa pengusaha besar yang tadinya menjadi relasi bisnis Prasetya mulai berdiri dan berteriak.
"Prasetya! Aku batalkan semua kontrak pembangunan apartemen dengan perusahaanmu! Aku tidak sudi bekerja sama dengan monster sepertimu!" teriak seorang pria berjas abu-abu.
"Keluarga Maheswari adalah aib bagi komunitas bisnis kita! Coret nama mereka dari daftar keanggotaan klub elit!" sahut yang lain.
Prasetya mencoba bicara, tapi suaranya tenggelam oleh sorakan kebencian dari seluruh hadirin. Reputasi yang ia bangun dengan darah dan air mata Aira selama puluhan tahun, hancur lebur dalam hitungan menit.
Ratna mencoba menutupi wajahnya dengan tas mahalnya saat beberapa wartawan sekolah dan tamu mulai mengambil foto mereka dengan ponsel. "Tolong hentikan... ini privasi keluarga kami..."
"Privasi apa?! Privasi penyiksaan?!" seorang siswi melempar botol air mineral ke arah Ratna. "Kalian harus dipenjara!"
Di tengah keriuhan itu, asisten keluarga Galaksi kembali mengambil mikrofon.
"Satu pengumuman terakhir," ucapnya dengan nada tenang yang mematikan. "Tuan Muda Bara Galaksi menitipkan pesan khusus untuk Tuan Prasetya. Mulai besok pagi, Galaksi Fintech akan menarik seluruh dana pinjaman modal yang telah diberikan kepada perusahaan Maheswari secara paksa. Dan kami juga akan menuntut Anda atas pemalsuan dokumen medis dan eksploitasi anak di bawah umur."
Prasetya jatuh terduduk di lantai panggung. Wajahnya pucat pasi. Ia tahu, kata-kata itu adalah vonis mati bagi masa depan keluarganya. Tanpa dukungan modal Galaksi, perusahaannya akan bangkrut dalam semalam.
Alvaro tidak sanggup lagi berada di sana. Ia berlari keluar dari ballroom, mengabaikan teriakan Airin yang memanggil namanya. Ia berlari menuju parkiran, hatinya perih luar biasa. Ia ingin mengejar Aira, ia ingin sujud di kaki gadis itu dan memohon ampunan sejuta kali.
Tapi ia tahu, ia sudah terlambat.
Aira sudah pergi bersama Sang Serigala yang jauh lebih berani dan lebih setia daripada seorang 'Pangeran' buta sepertinya.
Malam kelulusan SMA Garuda yang seharusnya menjadi malam kemenangan bagi Airin, berubah menjadi malam eksekusi massal bagi keluarga Maheswari. Mahkota palsu itu telah jatuh, dan di bawah lampu sorot yang kini meredup, hanya tersisa sisa-sisa kebohongan yang membusuk di atas panggung sandiwara.
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas