NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Zuhair melangkah pergi dengan sisa harga diri yang hancur berkeping-keping. Rahasia tentang Raka dan pengkhianatan Celina ia simpan rapat-rapat di balik dadanya yang sesak; ia terlalu malu untuk mengadu pada Abi, dan terlalu hancur untuk sekadar marah. Ia kembali ke kamar dengan langkah kosong, sementara di sisi lain Ndalem, Celina sudah tidak peduli lagi.

Hanya berselang satu jam setelah Zuhair pergi, jendela kamar Celina diketuk pelan. Raka muncul dari kegelapan, melompat masuk dengan napas yang sedikit memburu setelah menghindari patroli santri. Namun, suasana malam ini terasa berbeda. Adrenalin karena ketegangan antara Celina dan Zuhair tadi masih terasa di udara.

Celina menatap Raka dengan mata yang berkilat penuh amarah yang tertahan. "Lo tahu, Rak? Si Zuhair baru aja dari sini. Dia minta haknya," ucap Celina sambil berjalan mendekat, jemarinya mulai memainkan kerah baju koko yang dipakai Raka untuk penyamaran.

Raka menyeringai, ia menarik pinggang Celina hingga tubuh mereka menempel rapat. "Terus? Lo kasih?"

"Gue bilang ke dia kalau lo cowok gue. Gue bilang lo jauh lebih menarik daripada dia yang cuma bisa bikin anak sama Sarah," bisik Celina tepat di bibir Raka. "Sekarang, buktiin ke gue kalau ucapan gue tadi bener. Sentuh gue, Rak. Gue mau lo hapus semua sisa ruang kehadiran dia di sini."

Raka terdiam sejenak, menatap lekat wajah Celina yang tampak menantang. Ada keraguan tipis mengingat mereka berada di area pesantren, namun aroma parfum Celina dan suasana kamar yang remang segera menghapus logika itu. "Lo beneran mau ini, Cel? Di sini?"

"Gue nggak pernah seserius ini," jawab Celina sambil menarik tengkuk Raka, memperpendek jarak di antara mereka.

Tanpa kata lagi, Raka membungkam bibir Celina dengan ciuman, sebuah ciuman yang penuh dengan rasa rindu dan pemberontakan terhadap segala aturan di tempat itu. Tangan Raka mulai bergerak nakal, menyusuri lekuk tubuh Celina di balik pakaian tipisnya, sementara Celina mengerang pelan, melingkarkan lengannya erat di leher Raka.

Mereka bergerak menuju ranjang dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu tidur temaram. Raka perlahan menanggalkan pakaiannya, membuang peci dan baju kokonya ke lantai seolah membuang beban identitas palsunya selama di pesantren. Di atas ranjang kayu itu, diiringi suara jangkrik dari luar dan kesunyian Ndalem yang menipu, Raka mulai menjamah setiap jengkal kulit Celina dengan sentuhan yang membakar.

Setiap sentuhan Raka terasa seperti bentuk balas dendam bagi Celina terhadap rasa sakit hatinya pada Zuhair dan Sarah. Di kamar yang seharusnya menjadi tempat ibadah dan ketenangan itu, mereka justru tenggelam dalam gumulan gairah zina yang terlarang. Suara napas yang memburu dan gesekan kulit menjadi melodi malam yang penuh dosa. Raka melakukannya dengan penuh intensitas, memberikan kepuasan yang selama ini tidak pernah dibayangkan oleh Celina dari suaminya itu.

"Lo punya gue, Cel... bukan punya Zuhair, " bisik Raka dengan suara serak di tengah kegiatan mereka.

Celina tidak menjawab, ia hanya memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram sprei dengan kuat seolah sedang memegang satu-satunya pegangan hidupnya. Malam itu, di bawah atap suci pesantren, Celina benar-benar menyerahkan segalanya kepada Raka, mengabaikan fakta bahwa di kamar sebelah, suaminya mungkin sedang meratapi nasibnya dalam diam. Mereka bercinta dalam gelap, menciptakan masalah yang jauh lebih besar dari apa yang dilakukan Sarah, tanpa menyadari bahwa setiap detik yang mereka lalui adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Malam Jumat itu, suasana pendopo pesantren terasa lebih khidmat dari biasanya. Ratusan santri bersila rapi, melantunkan selawat yang menggema hingga ke langit-langit kayu jati pendopo. Aroma kayu gaharu terbakar memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang seharusnya menenangkan.

Namun, bagi Zuhair, malam ini adalah siksaan.

Zuhair duduk di kursi depan, di samping Abinya. Secara fisik, ia ada di sana, memegang kitab dan sesekali membenarkan letak mikrofon. Namun, matanya tidak bisa berhenti bergerak. Sejak pengakuan brutal Celina semalam, instingnya mendadak tajam seperti pisau.

Ia mulai memperhatikan barisan santri putra. Di sana, duduk Raka.

Raka terlihat sangat sempurna dalam penyamarannya: mengenakan baju koko putih bersih, sarung yang rapi, dan wajah yang tampak sangat "khusyuk" menunduk mengikuti irama zikir. Tapi Zuhair kini bisa melihat apa yang tidak ia lihat sebelumnya. Ia melihat bagaimana Raka sesekali mengatur posisi duduknya agar bisa sejajar dengan pandangan ke arah barisan santriwati di balik tirai pembatas (satir).

Zuhair kemudian mengalihkan pandangannya ke arah satir yang sedikit terbuka di bagian depan—tempat khusus untuk keluarga Ndalem. Di sana ada Celina.

Celina tampak cantik mengenakan mukena bordir mahal, tapi gerak-geriknya sama sekali tidak mencerminkan orang yang sedang berzikir. Celina sengaja memainkan ujung mukenanya, sesekali merapikan rambut yang keluar, lalu dengan sangat berani, ia mendongak dan melemparkan tatapan ke arah barisan putra.

Zuhair menahan napas saat melihat momen itu: Sebuah kode.

Celina mengedipkan mata dengan sangat tipis, disusul dengan senyum miring yang hanya muncul sebentar. Di seberang sana, Raka membalas dengan membetulkan posisi pecinya—sebuah isyarat balik yang sangat halus, namun di mata Zuhair yang sudah dipenuhi rasa curiga, itu terlihat seperti tamparan keras.

Jadi benar... mereka berkomunikasi tepat di depan mata saya, di rumah Allah ini, batin Zuhair. Jantungnya berdegup kencang, tangannya yang memegang kitab sampai gemetar karena menahan amarah yang meledak-ledak.

Sarah, yang duduk tidak jauh dari Celina, menyadari kegelisahan suaminya. Ia mengusap perutnya yang masih rata dengan bangga, lalu berbisik pada Zuhair saat ada jeda selawat.

"Mas... Mas Zuhair kenapa? Kok keringetan gitu? Apa Mas pusing mikirin kesehatan aku dan bayi kita?" tanya Sarah dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Zuhair tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh pada Sarah. Fokusnya hanya satu: melihat bagaimana Celina dan Raka saling "berbicara" melalui kode-kode mereka di tengah ribuan santri yang sedang mencari pahala.

Ada perasaan hina yang luar biasa menyelimuti hati Zuhair. Ia merasa seperti pecundang. Istri sahnya sedang asyik bermain api dengan santrinya sendiri, sementara ia sendiri terjebak dalam tanggung jawab terhadap istri siri yang hamil karena sebuah skandal yang masih terasa janggal di ingatannya.

Begitu zikir selesai dan doa mulai dibacakan, Zuhair melihat Raka bangkit lebih dulu dengan alasan ingin mengambil air minum ke arah belakang—arah yang menuju ke jalan pintas Ndalem. Tak lama kemudian, Celina juga bangkit, berpura-pura membetulkan mukenanya yang tersangkut dan berjalan pelan keluar dari barisan santriwati.

Zuhair menutup kitabnya dengan kasar. Ia tidak bisa lagi hanya diam menjadi penonton dalam penghinaan ini.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!