Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah kosong
Air mata Xarena menetes satu-satu, membasahi lantai semen rumah kontrakannya yang dingin. Kata-kata Monique terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Bikin dia 'hilang' dalam semalam. Kalimat itu bukan sekadar gertakan sambal. Xarena tahu persis seberapa besar kekuasaan keluarga Monique di kota ini.
"Mom... kita harus pergi. Sekarang. Malam ini juga," bisik Xarena. Suaranya serak, matanya yang biasa bersinar lembut kini dipenuhi ketakutan yang mencekam.
Mommy Bela, meski tubuhnya masih gemetar sisa kepanikannya tadi, langsung mengangguk tegas. "Iya, Nak. Kamu bener. Monique itu nekat. Kita gak bisa ambil risiko kalau udah menyangkut Ciara. Ayo, kita kemas-kemas."
Mereka bergerak dalam senyap, berlomba dengan waktu yang terus berdentang. Tidak ada waktu untuk mengepak seluruh isi rumah. Xarena mengambil dua ransel usang dari atas lemari.
"Gak usah bawa banyak-banyak, Mom. Baju beberapa pasang aja yang penting-penting. Sisanya kita tinggal," kata Xarena sambil memasukkan beberapa potong pakaian Ciara, susu kaleng, dan dokumen penting ke dalam tas.
"Dokumen medis Mommy juga udah masuk, Ren?" tanya Mommy Bela dengan suara berbisik, takut membangunkan cucunya yang terlelap di kamar sebelah.
"Udah, Mom. Obat-obatan Mommy buat sebulan ke depan juga udah Xarena masukin dompet kecil." Xarena mengusap keringat di dahinya. "Tabungan kita di ATM cuma sisa lima juta. Cukup buat tiket kereta sama bertahan hidup sebulan dua bulan di sana nanti."
"Uang segitu lebih dari cukup buat mulai dari awal, Ren. Yang penting kita tenang dulu," sahut Mommy Bela berusaha menguatkan, meski hatinya sendiri miris melihat nasib putrinya.
Tepat jam sebelas malam, persiapan darurat itu selesai. Xarena melangkah ke kamar tidur, memandangi Ciara yang sedang memeluk boneka kelinci usangnya. Wajah polos bocah berusia empat tahun itu tampak begitu damai, sama sekali tidak tahu kalau dunianya baru saja jungkir balik.
"Ciara sayang, bangun sebentar yuk nak," bisik Xarena lembut sambil mengelus pipi putrinya.
Ciara menggeliat, mengerjapkan matanya yang masih mengantuk. "Bunda...? Kok gelap? Kita mau ke mana?"
"Kita mau naik kereta malam, Sayang. Mau petualangan ke tempat baru. Ciara mau kan?" Xarena tersenyum sekuat tenaga, menyembunyikan getar di suaranya.
"Kereta tut-tut? Mau, Bunda!" jawab Ciara dengan suara khas anak kecil yang baru bangun tidur, langsung mengalungkan lengannya ke leher Xarena.
Xarena menggendong Ciara yang masih setengah sadar, sementara Mommy Bela membawa dua ransel di kedua bahunya. Sebelum mengunci pintu rumah untuk terakhir kalinya, Xarena sempat mengetik pesan singkat di ponselnya, lalu segera mencabut kartu SIM-nya dan mematikan daya ponsel tersebut.
Mereka berjalan kaki menyusuri gang sempit yang gelap, lalu menyetop taksi online yang kebetulan lewat di jalan raya depan. Tujuan mereka hanya satu: Stasiun Kereta Api Pasar Senen.
Sepanjang perjalanan di dalam taksi, suasana hening. Xarena terus memeluk Ciara erat-erat, sementara pandangannya lurus menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang perlahan menjauh. Mereka menuju sebuah kota kecil di Jawa Tengah—sebuah tempat terpencil yang bahkan tidak akan pernah terpikirkan oleh Monique atau Alan. Di sana, mereka berharap bisa mengubur masa lalu dan hidup dengan aman.
Keesokan paginya, suasana di ruangan kerja Alan terasa sangat mencekam. Sejak jam delapan pagi, sang CEO hanya duduk diam di kursi kebesarannya, mengabaikan tumpukan berkas yang harus ditandatangani. Pikirannya benar-benar kacau setelah kepergian Xarena kemarin siang.
TING!
Ponsel di atas meja Alan bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Alan langsung menyambarnya dengan cepat. Begitu membuka isi pesan tersebut, matanya membelalak sempurna.
Pesan itu berisi lampiran data investigasi pribadi yang sangat mendalam.
Subjek: Satria Utama (26 tahun)
Pekerjaan: Staf Logistik di Perusahaan Ekspedisi PT Maju Jaya.
Status: Putra tunggal dari Ibu Inah (ART keluarga Xarena).
Catatan Tambahan: Ibu Inah sudah bekerja dengan keluarga Xarena sejak ayah Xarena belum tersandung kasus hukum dan masuk penjara. Satria diketahui sering membantu keperluan Xarena setelah keluarga tersebut bangkrut.
Alan menggeser layar ponselnya ke bawah, dan jantungnya serasa berhenti berdetak saat membaca baris berikutnya.
Subjek: Ciara Amanda (4 tahun)
Catatan Kelahiran: Lahir di sebuah klinik bersalin kecil di pinggiran kota. Tidak ada data resmi mengenai pernikahan Xarena dengan pria bernama Hasan di KUA manapun. Semua saksi di sekitar lingkungan rumah lama menyatakan tidak pernah melihat sosok suami atau ayah dari anak tersebut sejak Xarena hamil hingga melahirkan. Keberadaan anak ini ditutupi dengan sangat rapat oleh Ibu Inah dan Satria.
Tangan Alan gemetar hebat hingga ponselnya hampir terjatuh. "Hasan... jadi Hasan itu gak pernah ada?!" gumam Alan dengan suara tercekat. "Ciara... anak itu..."
Napas Alan memburu. Bayangan wajah Xarena empat tahun lalu, saat wanita itu tiba-tiba menghilang dari hidupnya tanpa alasan yang jelas, langsung berputar di benaknya. Kini semuanya masuk akal. Xarena sengaja menyembunyikan kehamilannya. Ciara adalah darah dagingnya sendiri!
"Sialan! Kenapa aku bodoh banget selama ini!" umpat Alan.
Tanpa membuang waktu lagi, Alan langsung menyambar kunci mobilnya. Dia tidak peduli lagi dengan rapat penting hari ini. Dia harus menemui Xarena sekarang juga. Dia butuh penjelasan langsung dari wanita itu.
Alan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota menuju alamat rumah kontrakan Xarena yang ia dapatkan dari bagian HRD kemarin. Pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah, marah, dan rindu yang membuncah.
Begitu sampai di sebuah gang sempit, Alan memarkirkan mobil mewahnya sembarangan dan berlari mencari rumah nomor 14B. Namun, langkahnya mendadak terhenti di depan pagar kayu kecil yang sudah lapuk.
Pintu rumah itu tertutup rapat. Sebuah gembok besar terpasang di sana. Suasana rumah itu tampak mati, sepi tanpa tanda-tanda kehidupan.
"Cari siapa, Pak?" tanya seorang ibu-ibu paruh baya yang kebetulan lewat membawa pelastik belanjaan.
"Eh, sore Bu. Saya cari Xarena. Penghuni rumah ini ke mana ya? Kok digembok?" tanya Alan panik.
Ibu itu mengernyitkan dahi. "Oh, Mbak Xarena sama ibunya? Waduh, tadi subuh-subuh saya lihat mereka udah pergi bawa tas gede-gede, Pak. Naik taksi. Katanya mau pulang kampung, tapi gak tahu kampungnya di mana. Malah rumahnya udah diserahin lagi kuncinya ke pemilik kontrakan."
"Pulang kampung? Terus... Bi Inah sama Satria yang suka ke sini, Ibu tahu mereka di mana?" tanya Alan lagi, memegang pundak ibu itu karena terlalu panik.
"Lah, Bi Inah sama Satria kan emang tinggalnya numpang di paviliun belakang rumah kontrakan itu, Pak. Mereka juga ikut pergi bareng Mbak Xarena tadi subuh. Gak ada yang tersisa," jawab si ibu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Alan melepaskan pegangannya. Lututnya terasa lemas. Mereka semua menghilang tanpa jejak. Xarena benar-benar telah menghapus seluruh keberadaannya dari kota ini dalam waktu semalam.
Malam harinya, pintu gerbang mansion megah keluarga Alan terbuka lebar. Mobil Alan melesat masuk dengan suara derit ban yang memekakkan telinga. Pria itu keluar dari mobil dengan wajah merah padam, menyiratkan kemarahan yang sudah berada di ubun-ubun.
BRAK!
Alan menendang pintu utama mansion hingga terbuka lebar, membuat para pelayan yang sedang membersihkan ruang tamu langsung tertunduk ketakutan dan buru-buru menyingkir.
Monique yang sedang asyik maskeran sambil menonton televisi di ruang tengah langsung menoleh dengan wajah kesal. "Kamu apa-apaan sih, Lan? Datang-datang kayak orang kesurupan! Rusak tahu gak pintu rumah!"
"Kamu yang apa-apaan, Monique!!" teriak Alan menggema, berjalan cepat mendekati istrinya.
Monique berdiri, melipat tangannya di dada dengan angkuh. "Kenapa? Kamu mau marah soal perempuan jalang itu lagi? Dia udah resign kan? Bagus dong! Sadar diri juga akhirnya."
"Apa yang kamu lakuin ke Xarena semalam, hah?!" bentak Alan, matanya menatap tajam menembus manik mata Monique. "Jangan pikir aku gak tahu kamu nyamperin dia ke rumahnya! Kamu ngancem dia sampai dia pergi dari kota ini!"
Monique sempat tersentak karena Alan bisa tahu secepat itu, namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi senyum remeh. "Oh, jadi kamu udah ke rumah kumuhnya itu? Terus dia udah kabur? Syukurlah. Berarti gertakan aku semalam berhasil. Lagian buat apa kamu belain perempuan kayak dia, Lan? Dia itu cuma mau morotin harta kamu pake bawa-bawa anak haram!"
PLAK!
Alan menepis vas bunga kecil di atas meja samping hingga hancur berkeping-keping di lantai. Monique berteriak kaget dan mundur selangkah.
"Jaga mulut kamu, Monique! Anak itu bukan anak haram! DIA ANAK AKU!" teriak Alan dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah. "Kamu puas sekarang? Kamu udah ngusir ibu dari anak aku sendiri! Kamu egois!"
Monique terpaku, wajahnya mendadak pucat mendengar pengakuan Alan. Sementara itu, Alan berbalik arah dengan napas memburu, meninggalkan Monique yang masih syok di tengah ruangan.
"Ren... kamu di mana..." gumam Alan frustrasi sambil meremas rambutnya sendiri, menatap langit malam yang terasa begitu hampa tanpa tahu harus mencari belahan jiwanya ke mana lagi.