Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Mobil melaju membelah jalanan Swiss yang tenang, melewati deretan pohon pinus dan danau yang berkilauan diterpa cahaya siang. Pemandangan yang sebelumnya begitu ia banggakan, yang ia rencanakan dengan penuh harapan untuk dibagi bersama Lolly, kini hanya menjadi latar kosong yang tidak lagi berarti.
Setelah apa yang terjadi, Zayyan memutuskan kembali ke hotel.
Dia melamun sambil menatap ke arah luar jendela mobil. Tatapannya kosong seperti tidak benar-benar berada di dalam tubuhnya sendiri. Dia seperti melayang.
Setiap detik terasa aneh. Sunyi yang biasanya menenangkan, kini justru menekan. Bahkan suara mesin mobil pun terdengar jauh, seperti berasal dari dunia lain.
Di sampingnya, Lolly duduk diam. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya, sesekali ia melirik ke arah Zayyan, namun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Suasana yang dulu akrab kini berubah canggung. Lolly merasa bersalah, tapi hati tidak bisa di paksakan.
Zayyan menarik napas panjang, namun dadanya terasa sesak. Ia mencoba menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, tapi tidak berhasil.
Pikirannya berputar. Ucapan Lolly tadi terus terngiang di dalam benaknya.
"Aku nggak bisa…Aku belum bisa nerima kamu sepenuhnya…"
Zayyan terkekeh pelan. Suara itu terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.
“Aneh ya…” gumamnya tiba-tiba.
Lolly menoleh perlahan.
“Apa?” tanyanya pelan.
Zayyan tetap menatap jalan.
“Aku kira selama ini kamu serius denganku. Tapi ternyata tidak"
Lolly menunduk.
“Zayyan, aku—”
“Tidak usah di jelaskan, aku sudah tahu kok. Mungkin akunya aja yang terlalu berharap,” potong Zayyan cepat, nadanya datar tapi tajam.
Seketika suasana menjadi hening.
Zayyan mengingat kembali semua kenangannya dengan kekasihnya itu. Dari awal ia bertemu Lolly. Dari cara gadis itu tersenyum, cara ia berbicara, cara ia membuat Zayyan merasa… cukup. Ia bahkan mengubah banyak hal dalam dirinya. Menahan diri, menjaga batas. Semua dia lakukan demi menjaga dan melindungi Lolly. Dia tidak mau merusak masa depan kekasihnya itu.
Tapi ternyata…semua yang terjadi tidak sesuai harapan.
“Harusnya aku sadar dari awal,” ucapnya lagi, pelan namun jelas.
Lolly menutup matanya, air mata kembali jatuh tanpa suara. “Aku gak pernah mau nyakitin kamu,” ucapnya lirih.
Zayyan tersenyum tipis, pahit.“Tapi kamu tetep menyakiti ku,” balasnya.
Kata-kata itu sederhana, tanpa emosi berlebihan. Justru itu yang membuatnya terasa lebih menusuk.
Mobil terus melaju membawa mereka berdua. Lampu-lampu kota mulai terlihat saat mereka semakin mendekati hotel. Langit yang tadi cerah kini berubah menjadi jingga, perlahan menuju gelap.
Namun bagi Zayyan, waktu seolah berhenti sejak jawaban itu keluar dari mulut Lolly.
Ia merasa seperti kehilangan arah. Bukan hanya tentang hubungan mereka… tapi juga tentang dirinya sendiri. Apa yang kurang dari dirinya? Apa yang salah? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui, tanpa jawaban.
Sesampainya di hotel, Zayyan memarkirkan mobil dengan rapi. Mesin dimatikan.
"Istirahatlah, besok kita pulang" ucap Zayyan dan melangkah keluar dari mobil.
Kalimat itu membuat Lolly terdiam.
Zayyan berjalan masuk ke dalam hotel tanpa menoleh sedikit pun. Meninggalkan Lolly yang masih duduk di dalam mobil, dengan air mata yang kini tak lagi bisa ia bendung.
Perjalanan yang seharusnya menjadi kenangan indah… berubah menjadi sesuatu yang akan selalu mereka ingat, sebagai awal dari sebuah luka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Klek....
Zayyan masuk kedalam kamar hotelnya dan menutupnya kembali.
Ia melangkah masuk tanpa menyalakan lampu terlebih dahulu. Cahaya senja yang tersisa masuk samar melalui jendela besar, membentuk bayangan lembut di dalam kamar.
Zayyan melepaskan jaketnya asal, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia merebahkan diri, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Kedua tangannya terbuka di samping tubuhnya, napasnya terdengar berat, tidak teratur.
Semua terasa sunyi. Namun berbeda dengan isi kepalanya, yang terlalu berisik.
Zayyan menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali. Namun bukannya mereda, rasa sesak di dadanya justru semakin terasa nyata.
"Argh......" kesal Zayyan sambil mengusap wajahnya kasar
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hingga tiba-tiba suara ponselnya memecah suasana.
Tring… tring…
Zayyan mengerjapkan matanya pelan. Ia menoleh ke samping, meraih ponselnya yang tergeletak disampingnya.
Layar menyala. Nama yang tertera membuat dadanya kembali terasa berat. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menggeser tombol untuk menjawab panggilan itu.
“Hallo, iya mom?” ucap Zayyan, berusaha membuat suaranya terdengar biasa saja.
Di seberang sana, suara hangat Kiandra langsung menyambutnya dengan penuh antusias.
“Bagaimana rencanamu? Berhasil tidak?” tanyanya cepat, nada bahagianya begitu jelas. Ia memang sudah menantikan momen ini sejak Zayyan bercerita tentang rencananya.
Zayyan terdiam sejenak. Namun cukup untuk membuat segalanya terasa lebih berat. Matanya kembali menatap langit-langit.
“Maaf, mom…” ucapnya pelan.
Sunyi sejenak di ujung sana.
“Hai, kenapa? Apakah dia menolakmu?” tanya Kiandra, kali ini nada suaranya berubah, lebih hati-hati… seolah sudah bisa menebak.
Zayyan menelan ludah. “Eum… dia bilang katanya belum siap,” jawabnya lirih.
Terdengar helaan napas dari seberang telepon.
“Tidak apa, kamu bisa mencari yang lain.” ucapnya lembut.
Zayyan memejamkan matanya.
“Kamu tahu kan, kita tidak bisa memaksakan sesuatu yang memang bukan milik kita.” lanjut Kiandra.
Kata-kata itu sederhana. Tapi terasa seperti menekan luka yang masih terbuka.
Zayyan tersenyum kecil, pahit. “Iya, mom,”
Namun di dalam hatinya, ia tahu…Bukan semudah itu.
"Jangan sedih. Kalau dia memang mencintaimu, harusnya dia tidak menolakmu” ujar Kiandra lagi, suaranya kini penuh kelembutan seorang ibu.
Zayyan terdiam. Kalimat itu menusuk dengan cara yang berbeda. Karena yang ia hadapi sekarang… adalah keraguan.
Dan keraguan itu nyata.
“Aku cuma… merasa bodoh aja, mom. Aku terlalu yakin dengan hubunganku” ucapnya jujur, suaranya sedikit serak.
“Bukan bodoh,” balas Kiandra cepat. “Itu namanya tulus.”
Zayyan membuka matanya, menatap kosong ke atas.
“Tapi kamu juga harus belajar… kalau ketulusan itu nggak selalu dibalas dengan cara yang sama.”
Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya jatuh perlahan ke pelipisnya. Ia tertawa kecil, pelan.
“Iya…” gumamnya.
Di seberang sana, Kiandra terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Kamu di kamar?” tanyanya.
“Iya.”
“Istirahatlah. Besok kamu pulang, ya?”
Zayyan menarik napas panjang.
“Iya, mom. Besok aku pulang.”
“Mom tunggu di rumah.”
Zayyan mengangguk pelan, meskipun ia tahu ibunya tidak bisa melihatnya.
“Iya.”
Setelah beberapa kalimat penutup, panggilan itu berakhir. Layar ponsel kembali gelap. Kamar kembali sunyi. Zayyan menurunkan ponselnya ke samping, lalu kembali menatap langit-langit.
Namun kali ini, matanya tidak lagi kosong. Ada rasa sesak yang perlahan berubah menjadi kelelahan. Ia memiringkan tubuhnya, menarik selimut tanpa benar-benar menutup dirinya dengan rapi.
Pikirannya masih penuh. Hatinya masih sakit. Namun tubuhnya sudah terlalu lelah untuk terus menahan semuanya.
Di tengah dinginnya malam Swiss, Zayyan akhirnya memejamkan mata. Bukan karena ia sudah baik-baik saja.Tapi karena untuk saat ini… hanya itu yang bisa ia lakukan.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥