NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suara denting sendok yang beradu lambat dengan bibir mangkuk keramik kembali mengisi sunyinya kamar perawatan.

Fathan menyuapkan bubur ke dalam mulutnya sendiri dengan gerakan kaku.

Dadanya masih terasa sesak, seolah setiap bulir makanan yang masuk ke tenggorokannya adalah duri yang menyiksa.

Sindiran dingin Humairah beberapa saat lalu benar-benar telah mematikan sisa rasa percaya dirinya sebagai seorang laki-laki.

Di atas brankar, Humairah kembali memalingkan wajah ke arah jendela.

Ia memejamkan mata erat-erat, mencoba menulikan diri dari keberadaan suaminya yang kini duduk hanya berjarak semeter dari tempatnya berbaring.

Ceklek!

Pintu kamar perawatan mendadak terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.

Langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan, memuntahkan aroma debu jalanan yang asing ke dalam ruangan yang sarat bau obat-obatan itu.

Fathan menghentikan gerakan sendoknya di udara.

Sementara Humairah perlahan membuka mata, menoleh ke arah ambang pintu.

Napas kedua orang di dalam kamar itu seketika tertahan.

Di sana, berdiri Abraham. Adik bungsu Fathan itu tampak sangat kacau.

Rambutnya berantakan, jaketnya kusut, dan matanya merah menyiratkan badai emosi yang sejak tadi ia pendam sejak tamparan Kyai Umar mendarat di pipinya di pesantren.

Ia tidak bersama Kyai Umar maupun Abi Sasongko; pria itu tampaknya sengaja menyelinap diam-diam mencari kamar Humairah.

Mata Abraham langsung tertuju pada sosok Humairah yang terbaring lemah.

Gurat penyesalan yang mendalam, bercampur dengan gejolak aneh yang sempat ia rasakan di teras pesantren tadi pagi, kini meledak sepenuhnya.

Melihat wanita yang seharusnya menjadi istrinya itu tampak begitu rapuh dengan perban di kening dan selang infus di tangan, benteng pertahanan Abraham runtuh.

Tanpa memedulikan keberadaan Fathan yang duduk di sisi ranjang, Abraham melangkah lebar mendekati brankar.

"Humairah..." suara Abraham bergetar, parau dan sarat akan keputusasaan.

Humairah menegang. Tangannya yang bebas refleks mencengkeram selimut rumah sakit.

Rasa malu, sakit hati karena dibuang di hari pernikahan, dan kelelahan fisik membuat dadanya kembali berdenyut nyeri.

"Abraham ,untuk apa kamu ke sini?" lirihnya, nyaris berbisik.

Abraham tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menjatuhkan lututnya di sisi brankar yang berseberangan dengan Fathan.

Matanya menatap lekat wajah pucat Humairah, mengabaikan fakta bahwa wanita di depannya kini telah sah menjadi kakak iparnya sendiri.

"Aku tahu aku bajingan, Humairah. Aku tahu aku pengecut yang sudah menghancurkan harimu," ucap Abraham dengan suara yang mulai terisak.

"Tapi melihatmu seperti ini, melihat apa yang terjadi padamu setelah dua bulan menikah dengan Mas Fathan, aku sadar aku telah membuat kesalahan yang jauh lebih besar."

Abraham mendongak, menatap Humairah dengan tatapan memohon yang begitu intens, seolah-olah dunia di sekitar mereka telah lenyap.

"Ceraikan dia, Humairah. Tolong, ceraikan Mas Fathan dan kembalilah bersamaku."

Kalimat itu meluncur begitu saja, memotong arus udara di dalam kamar perawatan. Berani, lancang, dan mematikan.

"Aku tahu Mas Fathan tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Dia tidak mencintaimu, dia hanya menanggung beban akibat ulahku! Kembalilah bersamaku, Humairah. Aku akan menebus semua kesalahanku. Aku akan membahagiakanmu, tidak seperti dia yang hanya bisa membuatmu terluka!" lanjut Abraham berapi-api, air matanya kini luruh membasahi

pipinya sendiri.

BRAKK!

Mangkuk keramik di tangan Fathan terlepas, menghantam lantai dengan keras hingga bubur di dalamnya hancur berantakan.

Fathan yang mendengarnya langsung bangkit dari duduknya.

Tubuhnya tegak sempurna, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tajam.

Sepasang matanya yang biasanya sedingin es, kini menyala oleh amarah yang membakar.

"Jaga lisanmu, Abraham!" bentak Fathan dengan suara yang rendah namun menggelegar, sanggup membuat nyali siapa pun menciut.

Ia melangkah memutari ranjang, mencengkeram kerah jaket adik kandungnya itu dengan satu tangan, lalu menarik tubuh Abraham secara paksa hingga pria itu berdiri tegak menghadapnya.

"Apa kamu sudah hilang akal, hah?!" napas Fathan memburu tepat di depan wajah Abraham.

"Wanita yang sedang kamu damba-dambakan ini adalah istriku yang sah secara agama dan hukum! Dia kakak iparmu! Berani-beraninya kamu datang ke sini dan memintanya untuk bercerai?!"

Abraham tidak gentar. Meskipun tubuhnya gemetar akibat cengkeraman Fathan, ia membalas tatapan kakaknya dengan kilat amarah yang sama besarnya.

"Lalu apa bedanya denganmu, Mas?!" tantang Abraham setengah berteriak.

"Kamu menikahinya hanya untuk menjaga gengsi keluarga, kan?! Kamu menyiksanya! Kamu menghinanya! Aku tahu semuanya, Mas! Aku mendengar semua pengakuanmu di depan Abah tadi! Kamu menyebutnya wanita murahan dan mendorongnya sampai terluka! Laki-laki macam apa kamu?!"

BUGH!

Satu pukulan mentah dari kepalan tangan Fathan mendarat telak di rahang Abraham, membuat pria itu terhuyung ke belakang dan menabrak lemari kecil di sudut ruangan.

"Ustadz! Abra! Cukup!!" Teriakkan Humairah memecah keributan itu.

Suaranya yang serak melengking di tengah ruangan, dipenuhi rasa frustrasi dan air mata yang kembali pecah.

Humairah memegangi kepalanya yang terasa kian berputar hebat.

Selang infusnya menegang, hampir saja terlepas akibat gerakannya yang panik.

Di matanya yang hancur, kedua pria di depannya tidak lebih dari sekadar dua orang egois yang sedang memperebutkan objek, tanpa pernah memedulikan jiwanya yang sudah lama menjadi abu.

"Hentikan!! Tolong hentikan..."

Suara Humairah melengking untuk terakhir kalinya, pecah menjadi bisikan parau yang sarat akan keputusasaan.

Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan tidak teratur seiring dengan dunianya yang perlahan menggelap.

Rasa sakit yang menghunjam kening, melilit perut, dan mencabik hatinya menyatu menjadi satu hantaman gelombang kelam yang tak lagi sanggup ditahan oleh tubuh rapuhnya.

Brugh!

Kepala Humairah terkulai lemas di atas bantal. Kedua matanya terpejam rapat, memutus paksa segala drama kejam yang tersaji di depan matanya.

Tangannya yang terbebat jarum infus jatuh terkulai di sisi brankar, dingin seperti es.

Ia jatuh pingsan, tak sadarkan diri di tengah badai ego dua bersaudara.

Namun, Fathan dan Abraham seolah telah tuli dan buta.

Amarah yang telanjur membakar ubun-ubun membuat keduanya mengabaikan kondisi kritis wanita di atas ranjang tersebut.

Abraham menyeka sudut bibirnya yang pecah dan berdarah akibat pukulan kakaknya.

"Kamu tidak pantas menjadi imamnya, Mas! Kamu monster!" teriak Abraham, kembali merangsek maju dan melayangkan tinju balasan yang mengenai pipi kiri Fathan.

BUGH!

Fathan terhuyung, namun rasa bersalah yang menjelma menjadi murka membuatnya kehilangan akal sehat.

Ia membalas mencengkeram kerah jaket Abraham, bersiap melayangkan pukulan berikutnya.

BRAKK!

Pintu kamar perawatan dibanting terbuka dari luar.

"ASTAGHFIRULLAHAL 'ADZIM!!! FATHAN! ABRAHAM!"

Suara menggelegar Kyai Umar meruntuhkan ketegangan di dalam ruangan.

Beliau yang baru kembali dari kantin bersama Abi Sasongko langsung menerjang masuk dengan mata melotot sempurna.

Tubuh sepuh sang Kyai gemetar hebat melihat kedua putranya saling cengkeram layaknya binatang yang kelaparan.

Dengan sisa tenaga tua yang dimilikinya, Kyai Umar menarik tubuh Abraham menjauh, sementara Abi Sasongko dengan cekatan langsung menyela di depan Fathan, mendorong dada menantunya itu dengan kasar hingga cengkeramannya terlepas.

"INI RUMAH SAKIT, BUKAN ARENA TINJU!!" teriak Abi Sasongko dengan suara yang menggelegar, meruntuhkan wibawa tenang yang biasanya beliau miliki.

Wajah pria paruh baya itu merah padam, napasnya memburu menahan amarah yang sudah sampai di batas tertinggi.

Pandangan Abi Sasongko sedetik kemudian beralih ke arah brankar.

Jantungnya serasa berhenti berdetak melihat wajah Humairah yang seputih kapas dengan sisa air mata yang mengering di pipi.

Di dekat jarum infus, aliran darah merah mulai naik mengisi selang plastik akibat pergerakan kasar Humairah sebelum pingsan tadi.

"Humairah... Astaghfirullah, Putriku!" jerit Umi Mamik yang baru saja menyusul masuk di belakang suaminya.

Wanita itu langsung histeris, menangkup wajah dingin Humairah dan mencoba membangunkannya dengan tangis yang pecah.

"Abi, panggil dokter, Bi! Selang infusnya mengeluarkan berdarah!"

Kyai Umar menoleh ke arah brankar dan seketika dadanya terasa seperti dihantam batu besar.

Beliau berbalik menatap kedua putranya dengan pandangan yang sarat akan kehinaan dan kekecewaan mendalam.

"Keluar kalian berdua! Keluar dari kamar ini sekarang juga!" perintah Kyai Umar dengan suara yang rendah namun bergetar hebat karena menahan tangis.

"Kalian berdua, benar-benar anak tidak tahu diuntung. Keluar sebelum Abah mengharamkan wajah kalian berdua ada di depan Abah!"

Abraham tertunduk, memegangi rahangnya yang bengkak dengan air mata penyesalan yang kembali mengalir.

Sementara Fathan berdiri mematung di sudut ruangan, menatap tangannya sendiri yang memerah.

Pandangannya kosong menatap selang infus Humairah yang memerah oleh darah istrinya sendiri.

Di kepala Fathan, kalimat terakhir Humairah sebelum kegelapan merenggutnya kembali bergema, menghujam jiwanya hingga tak bersisa.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!