Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Brak!
Pintu kelas XI IPA 1 terbuka dengan hentakan yang cukup keras, membelah keheningan suasana belajar-mengajar yang sedang berlangsung. Di ambang pintu, dua orang gadis berdiri dengan napas yang sedikit tersengal, namun wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan raut penyesalan.
"Alah huu akbar!" seru salah satu siswa di barisan depan karena terkejut.
"Astaghfirullah!" sahut yang lain, mengelus dada.
"Monyet eh monyong!" latah seorang siswa laki-laki yang duduk paling belakang, membuat seisi kelas sempat tertawa kecil sebelum akhirnya suasana kembali mencekam.
"ZIVA ALQUEENA, KARLOTA SALSABILA!!"
Teriakan melengking itu berasal dari depan papan tulis. Seorang wanita dengan riasan wajah yang cukup tebal—mungkin terlalu tebal untuk ukuran lingkungan sekolah—berdiri tegak sambil memegang penggaris kayu panjang. Matanya melotot tajam, menatap dua siswi yang baru saja membuat kegaduhan tersebut.
"ZIVA HADIR BUK!" seru Ziva dengan nada bicara yang sengaja dibuat lantang, seolah sedang mengikuti apel pagi.
"KARLOTA JUGA HADIR BUK!" timpal Karlota tak mau kalah, ia bahkan sempat-sempatnya melakukan gerakan hormat yang asal-asalan.
"Kalian ngapain, hah?!" gertak guru itu, melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi tuk-tuk-tuk di lantai kelas. "Ziva, Karlota! Berapa kali Ibu bilang, kalau masuk itu ketuk pintu, bukan didobrak!"
"Buka pintu, Buk. Tadi tangannya lagi penuh, jadi ya pakai sedikit tenaga dalam," jawab Ziva polos, wajahnya tampak tak berdosa sama sekali.
"Dari mana saja kalian, hah? Kalian ini perempuan, sudah kelas 11 tapi bolos terus! Harusnya kalian memberikan contoh yang baik untuk adik kelas kalian. Bukannya malah kelayapan tidak jelas!" ceramah guru itu panjang lebar.
Wanita di depan mereka adalah Bu Sukma. Namun, di kalangan siswa, ia lebih populer dengan sebutan "Bu Suk". Beliau adalah guru Sejarah yang memiliki obsesi unik terhadap penampilannya. Bu Sukma selalu tampil menor, konon katanya demi menarik perhatian Pak Mahendra, guru Penjaskes yang berperawakan gagah dan menjadi idola para guru serta siswi di sekolah itu.
"Kita ini tidak bolos, Buk," ucap Ziva santai, ia menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Kita ini baru saja selesai menambah imun dan nutrisi tubuh. Biar apa? Biar pas menghadapi pelajaran Bu Sukma yang penuh dengan angka tahun dan nama pahlawan ini, otak kita bisa nyantel. Ya, walaupun jujur saja, seringnya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, sih."
"Imun, imun! Emangnya kamu masih bayi?" Bu Sukma berkacak pinggang. "Alasan saja kalian ini! Sudah, tidak ada pembelaan. Kalian hormat di lapangan sekarang juga!"
Mendengar kata 'lapangan', mata Karlota tiba-tiba berbinar. Ia menyikut lengan Ziva dengan semangat. "Wih, asyik tuh di lapangan basket! Sekarang kelas 12 IPA 2 lagi olahraga, Ziv. Ada kakel-kakel ganteng, kita bisa cuci mata di sana!"
Bu Sukma mendengus geram. "Siapa yang mengatakan lapangan basket, Karlota?! Saya mau kalian hormat di lapangan upacara! Bukan di lapangan basket yang teduh itu. Atau kalian mau saya tambah hukumannya dengan jogging keliling lapangan upacara?"
"What?!" Karlota terpekik, ekspresinya berubah dramatis seolah baru saja mendengar berita duka.
"Lapangan upacara? Oh no, Buk! Skincare saya ini mahal, Buk. Yang ada nanti wajah saya gosong dan breakout karena teriknya Pak Matahari di atas sana. Dan lagi, kita tidak mau jogging keliling lapangan. Yang ada kita bisa mati berdiri! Ingat ya, Buk, lapangan upacara kita itu luasnya sudah kayak kebun teh, bukan cuma lima meter!"
"Saya tidak peduli!" tegas Bu Sukma, tidak tergoyahkan oleh keluhan mahalnya harga serum wajah Karlota.
Sebenarnya, Ziva sedang malas dihukum hari ini. Bukannya ia takut, tapi rasa lelah sehabis "menambah nutrisi" alias makan bakso pedas di kantin belakang membuatnya ingin segera tidur. Namun, bagi Ziva dan Karlota, hukuman adalah santapan harian. Prinsip mereka jelas: 'Nakal boleh, asal tetap menjaga batasan'. Mereka tidak pernah menyentuh narkoba atau tawuran anarkis, mereka hanya... sedikit terlalu berjiwa bebas.
Ziva memutar otaknya. Ia tahu titik lemah Bu Sukma. Sambil menaik-turunkan alisnya, Ziva mendekat sedikit.
"Eh, Ibu mau tahu sesuatu tidak?" bisik Ziva misterius.
"Apa? Jangan mencari alasan ya kamu, Ziva. Saya tidak akan mempan dengan rayuan kamu," sahut Bu Sukma, meski nada bicaranya sedikit melunak karena penasaran.
"Ya sudah kalau tidak mau tahu. Padahal ini informasi penting banget dari sang calon gebetan," ucap Ziva dengan nada acuh tak acuh, seolah informasi itu tidak berharga baginya.
Mendengar kata "calon gebetan", jantung Bu Sukma seakan berhenti berdetak sesaat. Siapa lagi calon gebetannya kalau bukan Pak Mahendra? Ia terdiam beberapa saat, matanya membulat, lalu ia berjalan cepat mendekati Ziva yang masih bersandar santai.
"Apa, Ziva? Kamu mau bilang apa? Pak Mahendra bilang apa tentang saya?" tanya Bu Sukma antusias. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan tatapan puluhan siswa di dalam kelas yang sedang menahan tawa melihat tingkah laku guru mereka.
"Em, gimana ya... Tawaran informasinya sudah kedaluwarsa beberapa detik yang lalu, Buk," jawab Ziva, sengaja memancing emosi. "Ayo, Kar, kita ke lapangan sekarang saja sebelum makin terik."
Ziva merangkul tangan Karlota, memberikan kode melalui kerlingan mata agar sahabatnya itu mengikuti permainannya. Karlota, yang sudah sefrekuensi dan memiliki "koneksi batin" dengan otak Ziva, hanya tersenyum tipis. Memang benar kata orang, jika memiliki sahabat yang otaknya setipe, tidak perlu banyak bicara untuk saling mengerti.
Bu Sukma panik. Jika kedua murid ini pergi ke lapangan, ia akan kehilangan kesempatan emas mendapatkan informasi tentang Pak Mahendra. "Eh, emm... Kayaknya saya berubah pikiran. Kalian tetap di kelas saja! Tidak ada hukuman untuk hari ini."
"Beneran nih, Buk?" tanya Ziva memastikan.
"Iya, beneran! Asal kalian beri tahu Ibu, apa yang ingin kalian katakan tadi tentang Pak Mahendra!" tuntut Bu Sukma tak sabaran.
"Itu mah gampang, ya nggak, Kar?"
"Yoi, pren!" sahut Karlota santai.
"Buruan kasih tahu saya, Ziva!" gertak Bu Sukma lagi, wajahnya sudah memerah karena rasa penasaran yang membuncah.
"Santai dong, Buk, jangan pakai gas. Nanti mesinnya meledak," Ziva berdecak sebal. "Nunduk sedikit, Buk. Saya tidak sampai kalau harus bisik-bisik sambil jinjit."
"Makanya, tubuh itu tumbuh ke atas, jangan ke samping terus!" sindir Bu Sukma tajam.
Ziva memutar bola matanya malas. Memang belum waktunya tinggi saja kok ribet, batinnya.
Bu Sukma akhirnya sedikit menunduk. Ziva mendekatkan mulutnya ke telinga sang guru, memastikan suaranya tidak terdengar oleh siswa lain, lalu membisikkan sebuah kalimat yang cukup untuk membuat dunia Bu Sukma jungkir balik.
Mata Bu Sukma langsung membelalak. Wajahnya yang semula hanya merah karena riasan, kini benar-benar memerah seperti kepiting rebus. Antara malu, senang, atau emosi, sulit dibedakan.
"Kamu... kamu tidak sedang membohongi saya kan, Ziva?" selidik Bu Sukma dengan suara bergetar.
"Kalau Bu Suk tidak percaya ya sudah. Tidak ada untungnya juga buat saya bohong, kan?" ucap Ziva acuh tak acuh, sambil melangkah menuju kursinya.
"Jadi... ini beneran, Ziva?"
"Ya menurut Anda bagaimana, Ibu Sukma yang terhormat? Masa saya bawa-bawa nama Pak Mahendra kalau tidak ada sumbernya?"
Wajah Bu Sukma kini benar-benar berbinar bahagia. Ia tampak seperti remaja yang baru saja ditembak oleh cinta monyetnya. Ia merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah sangat rapi dengan jemari yang gemetar.
"Ekhem! Oke, anak-anak, pelajaran Ibu sampai di sini saja. Ibu ada urusan mendadak yang sangat penting di ruang guru. Kalian jangan berisik, kerjakan tugas halaman 45 sampai 50! Ibu tinggal dulu. Oh iya, Ziva... terima kasih informasinya. Ibu bangga punya murid kritis seperti kamu," ucap Bu Sukma cepat-cepat, lalu ia bergegas meninggalkan kelas dengan langkah yang hampir menyerupai lari kecil.
"YESSS!! Dua jam kita bebas pelajaran, guys!" teriak salah satu siswa begitu punggung Bu Sukma menghilang di belokan koridor.
"Asyikkk!"
"Eh, Ziv! Lo bisikin apa sih ke Bu Suk sampai wajahnya kayak mau meledak gitu?" tanya Angga, ketua kelas, yang diikuti oleh anggukan penasaran teman-teman yang lain.
Ziva menatap teman-temannya satu per satu dengan senyum penuh kemenangan. "Kalian mau tahu, atau mau tahu banget?"
"CEPAT ZIVA!!" teriak mereka serempak.
"Ih, iya-iya! Santai dong, kuping gue bisa pengeng tahu!" Ziva mengerucutkan bibirnya.
"Tau kalian ini! Kalau teriak kira-kira dong. Badan kalian ini gede-gede, suara kayak toa masjid, dikondisikan!" Karlota ikut menimpali sambil menggosok-gosok telinganya.
"Buruan, Ziva yang cantik, manis, dan tidak sombong..." rayu salah satu siswa agar Ziva segera buka suara.
"Gue memang cantik, itu fakta," sahut Ziva sombong. "Tadi gue bilang ke Bu Sukma, kalau nanti malam Pak Mahendra mengajak ketemuan di Jalan Kemuning jam 8 malam."
Seketika kelas hening. Semua orang tahu Pak Mahendra adalah pria yang sangat dingin dan tertutup, sangat mustahil tiba-tiba mengajak Bu Sukma kencan.
"Eh, bentar deh," Angga mengerutkan kening. "Bukannya Jalan Kemuning itu lokasi Pemakaman Umum, ya?"
Ziva tertawa kecil. "Lah, iya! Pintar juga lo, Ngga."
"Beneran lo, Ziv? Lo ngerjain dia?"
"Ya iyalah! Mana pernah Ziva yang cantik membahana ini memberikan informasi akurat kepada musuh bebuyutan?"
"Ziv, lo nggak ingat nanti malam itu malam Jumat Kliwon?" tanya seorang siswi dengan wajah ngeri.
"Nggak apa-apalah. Sekali-kali kita buat Bu Sukma olahraga jantung. Siapa tahu setelah bertemu 'penghuni' sana, beliau jadi insaf dan tidak galak lagi sama kita," celetuk Karlota sambil terkekeh geli, membayangkan Bu Sukma berdiri sendirian di tengah kuburan dengan riasan menornya.
"Gila! Ini prank paling jauh yang pernah ada!"
"Dan yang lebih gila lagi, Bu Suk percaya aja!"
"Makanya, cinta itu boleh, tapi jangan sampai bikin logika tumpul. Apalagi cuma modal perasaan sepihak," ucap Karlota dengan nada bicara yang tiba-tiba menjadi pedas. "Banyak orang sekarang itu cintanya modal halu. Kayak anak-anak zaman sekarang, kenal lewat sosmed, belum pernah ketemu, baru modal ketikan 'sayang' aja udah baper setengah mati. Giliran diputusin lewat chat, nangisnya kayak dunia mau kiamat sampai mau bunuh diri segala. Padahal cintanya cuma modal kuota internet yang bisa habis kapan saja."
Mendengar ucapan Karlota, Gio, yang duduk di baris tengah, mendesah lesu. "Ngomong-ngomong, gue lagi LDR-an, Kar. Kata-kata lo nancep banget."
Karlota menoleh ke arah Gio. "Gimana rasanya LDR-an? Pasti was-was, kan? 'Sayang lagi apa?', dijawab 'Lagi bobo'. Pas ditanya 'Sama siapa?', dijawab 'Sendiri ayang'. Padahal di sana lagi asyik nongkrong sama yang lain. Bulshit! Derita LDR itu berat, Bro. Tapi yang lebih berat itu sebenarnya kalau lo melanggar aturan Tuhan demi status 'pacaran' yang belum tentu berakhir di pelaminan."
Ucapan Karlota membuat beberapa siswa yang memiliki pacar di luar sekolah atau berbeda kota langsung terdiam. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak berubah menjadi sesi renungan singkat.
"Mending kayak gue nih, JOMBLO!" ucap Ziva bangga, menekan kata jomblo dengan penuh penekanan.
"Jomblo happy, jomblo happy..." Ziva bernyanyi kecil sambil berjalan menuju tempat duduknya yang berada di pojok belakang.
"Ingat, pren! Indonesia merdeka karena bersatu, bukan berduaan di bawah pohon jati!" Karlota menambahkan, membuat beberapa temannya tertawa kecut.
"Kayaknya gue mau minta putus aja deh habis ini," gumam Gio tiba-tiba.
"Iya, gue juga. Capek gue pacaran jarak jauh, cuma bikin overthinking tiap malam," sahut siswa lain.
Karlota yang mendengar komat-kamit teman sekelasnya hanya menyunggingkan senyum puas. Bukan bermaksud jahat atau iri, tapi ia merasa telah melakukan "dakwah" kecil-kecilan. Baginya, menyadarkan teman dari hubungan yang tidak jelas adalah sebuah pencapaian.
Ia melirik ke arah samping. Sahabatnya, Ziva, ternyata sudah terlelap. Gadis itu memang luar biasa; baru saja membuat skenario kencan di pemakaman, sekarang sudah masuk ke alam mimpi dengan hoodie yang dijadikan bantal.
"Dasar tukang tidur," gumam Karlota pelan.
Dengan lembut, Karlota menarik gorden jendela di samping meja mereka agar sinar matahari yang terik tidak mengusik tidur sahabatnya. Ia kemudian mengambil ponselnya, membuka aplikasi video pendek dengan volume yang sangat pelan agar tidak mengganggu ketenangan kelas.
Dua jam pelajaran kosong ini adalah kemenangan kecil bagi mereka. Di tengah sistem kurikulum yang semakin padat, momen-momen seperti inilah yang membuat mereka merasa benar-benar menjadi "murid merdeka". Walaupun pada akhirnya, mereka tahu bahwa besok pagi, mereka mungkin harus menghadapi kemarahan Bu Sukma yang jauh lebih dahsyat jika sang guru benar-benar pergi ke Jalan Kemuning nanti malam. Tapi itu urusan besok, pikir Karlota. Yang penting, hari ini mereka menang.