Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Bayangan yang Kembali Mencuri
Angin pagi di perbatasan lembah terasa lebih tajam dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa bau hangus dari benteng yang baru saja runtuh. Aruna berdiri mematung, telapak tangannya menempel di perut, sementara matanya tak lepas dari puncak bukit di kejauhan. Di sana, di bawah langit yang mulai membiru, berdiri sosok yang seharusnya tidak mungkin ada.
Sosok itu mengenakan kemeja putih dan celana jin biru, pakaian yang sangat dikenali Aruna sebagai miliknya di dunia modern. Rambutnya diikat kuda, persis seperti gaya Aruna saat sedang lembur mengedit naskah.
"Ratri, ada apa? Wajahmu pucat sekali," suara Arvand memecah keheningan. Jenderal itu melangkah mendekat, tangannya yang masih terbalut perban darurat merangkul bahu Aruna dengan protektif.
Aruna menunjuk dengan jari yang gemetar. "Arvand... lihat itu. Wanita yang bersama Kaelan."
Arvand menyipitkan mata, menatap ke arah bukit. Namun, ia mengerutkan kening. "Aku hanya melihat Pangeran Kaelan sendirian di sana. Dia memegang sesuatu yang bercahaya, tapi tidak ada siapa pun di sampingnya."
Aruna tersentak. Hanya dia yang bisa melihatnya? "Tidak mungkin. Dia berdiri tepat di sana! Dia... dia adalah aku, Arvand. Aruna yang asli."
Kaisar tua yang berdiri di dekat mereka ikut menatap ke arah yang sama. "Hutan terlarang sering kali meninggalkan sisa-sisa ilusi bagi mereka yang baru saja melintasinya, Aruna. Mungkin itu hanya bayangan traumamu."
"Bukan! Itu bukan ilusi!" Aruna berteriak frustrasi. Obsesinya sebagai penulis mengatakan bahwa ini adalah plot twist yang sengaja ditinggalkan oleh sang 'Penulis' sebelum dia hilang. "Kaelan tidak mungkin membawa kabur kunci tembaga itu tanpa alasan. Dia sedang mencoba membawa Aruna yang asli masuk ke tubuh ini dan mengusirku!"
Arel yang melihat ibunya panik, mulai menangis lagi, memeluk kaki Aruna erat-earat. "Ibu jangan takut... Arel akan jaga Ibu."
Arvand menatap Aruna dengan tatapan dalam, campuran antara cinta dan kekhawatiran yang besar. "Siapa pun yang ada di sana, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi. Kita harus segera bergerak. Pasukan Kaelan mungkin sedang menyusun barisan di balik bukit itu."
Mereka mulai bergerak menuju kamp persembunyian pasukan rahasia Kaisar tua. Sepanjang perjalanan, Aruna terus merasa diawasi. Setiap kali ia menoleh ke belakang, ia seolah melihat kilasan lampu kota atau suara klakson mobil yang samar di antara desau angin hutan. Dunia lamanya seolah sedang mencoba menyeretnya kembali, atau setidaknya, menagih hutang karena ia telah mencuri hidup Lady Ratri.
Sesampainya di kamp, suasana sangat sibuk. Prajurit dengan seragam melati putih bersiap dengan senjata mereka. Kaisar tua segera masuk ke dalam tenda utama untuk menyusun strategi penyerangan ke ibu kota.
Arvand membawa Aruna ke sebuah tenda kecil yang lebih tenang. Ia mendudukkan Aruna di atas tumpukan jerami yang dilapisi kain tebal.
"Tadi kau bilang ada sesuatu yang ingin kau katakan," bisik Arvand sambil berlutut di depan Aruna, memegang kedua tangannya.
Aruna menelan ludah. Rasa mual itu kembali muncul, tapi kali ini diiringi dengan kehangatan yang aneh. "Arvand... sepertinya aku hamil."
Keheningan menyelimuti tenda itu selama beberapa detik. Arvand terpaku, matanya melebar. Ia menatap perut Aruna, lalu kembali ke wajahnya. Perlahan, senyum kecil muncul di bibirnya yang pecah-pilih, sebuah ekspresi kebahagiaan murni yang jarang ia tunjukkan.
"Anak kita?" Arvand bertanya pelan, suaranya serak karena emosi.
"Iya. Tapi aku takut," Aruna menunduk. "Dunia ini sedang kacau. Kaelan mengejar kita, dan ada 'Aruna lain' yang mengancam keberadaanku. Bagaimana jika aku menghilang sebelum anak ini lahir?"
Arvand menarik Aruna ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan sangat lama. "Aku sudah pernah kehilanganmu sekali di jembatan itu, dan aku berhasil kembali. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, baik dari dunia ini atau duniamu, mengambilmu lagi. Anak ini akan lahir sebagai pangeran, dan kau akan menjadi ratuku."
Tiba-tiba, tenda mereka tersingkap. Seraphina masuk dengan wajah yang sangat serius. Kipas besinya berlumuran darah segar.
"Berhenti bermesraan, kalian berdua. Masalah besar datang," ujar Seraphina tanpa basa-basi.
"Apa lagi sekarang?" Arvand berdiri, langsung kembali ke mode jenderal perangnya.
"Kaelan menggunakan Kunci Tembaga itu untuk memanggil 'Arwah Penasaran' dari dimensi lain. Dia memberikan sesajen berupa darah prajuritnya sendiri," Seraphina menatap Aruna. "Dan wanita yang kau lihat itu bukan ilusi, Aruna. Itu adalah soul fragment atau pecahan jiwa yang tertinggal saat kau melompat keluar dari dimensi tadi. Kaelan berhasil menangkapnya."
"Apa tujuannya?" tanya Aruna.
"Dia ingin melakukan ritual pertukaran jiwa malam ini, saat bulan mencapai puncaknya. Dia ingin mengembalikan jiwa Lady Ratri yang asli ke tubuh ini, dan membuang jiwamu ke dalam pecahan jiwa itu agar kau terjebak di ruang hampa selamanya," Seraphina menjelaskan sambil membuka peta kuno. "Bagi Kaelan, kau yang sekarang terlalu sulit dikendalikan. Dia ingin Ratri yang dulu, yang haus kekuasaan, agar dia bisa memerintah bersamanya."
Aruna merasa kedinginan. Kaelan benar-benar sudah gila. Dia lebih memilih memiliki raga tanpa jiwa yang ia cintai, daripada membiarkan Aruna hidup bahagia bersama Arvand.
"Di mana mereka sekarang?" tanya Arvand, suaranya rendah dan berbahaya.
"Di Kuil Langit, titik tertinggi di hutan ini. Itu adalah tempat di mana dinding antar dunia paling tipis," Seraphina melirik Aruna. "Kita harus menyerang sekarang. Sebelum bulan naik."
Arvand segera mengambil pedang dan jubahnya. "Mira! Jaga Arel di sini! Jangan biarkan dia keluar dari tenda ini apa pun yang terjadi!"
Aruna ikut berdiri. "Aku ikut."
"Tidak, Ratri. Kau sedang hamil, kau harus tetap di sini," cegah Arvand.
"Arvand, ini masalah jiwaku! Kaelan mengincar aku! Jika aku di sini, aku justru menjadi sasaran empuk. Di dekatmu adalah tempat paling aman bagiku," Aruna menatap Arvand dengan kebanggaan dan tekad yang kuat.
Arvand sempat ragu, namun akhirnya ia mengangguk. Mereka berangkat menembus kegelapan hutan menuju Kuil Langit. Perjalanan itu penuh dengan rintangan; prajurit-prajurit Kaelan yang sudah berubah menjadi seperti mayat hidup menghadang di setiap jalan setapak.
Arvand bertarung dengan ganas, setiap tebasannya membuka jalan bagi Aruna dan Seraphina. Aruna sendiri tidak tinggal diam, ia menggunakan belati kecil pemberian Arvand untuk melindungi dirinya sendiri saat ada musuh yang mendekat. Rasa mualnya ia abaikan, obsesinya untuk bertahan hidup demi anak di kandungannya dan Arel memberinya kekuatan tambahan.
Saat mereka sampai di gerbang Kuil Langit, pemandangan di sana sangat mengerikan. Kaelan berdiri di tengah altar yang dikelilingi oleh api ungu. Di sampingnya, sosok 'Aruna asli' itu duduk bersimpuh, wajahnya kosong tak bernyawa.
"Kau datang, Aruna," Kaelan menyambut mereka dengan senyuman miring. Matanya merah, tanda bahwa ia sudah terlalu banyak mengonsumsi energi gelap dari kunci itu.
"Hentikan ini, Kaelan! Kau menghancurkan dirimu sendiri!" teriak Aruna.
"Aku tidak menghancurkan diriku. Aku sedang memperbaiki kesalahan sejarah!" Kaelan mengangkat Kunci Tembaga itu. "Ratri seharusnya menjadi milikku! Kau hanyalah pencuri yang masuk ke tubuhnya!"
Kaelan mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang membuat telinga Aruna berdenging. Tanah mulai bergetar. Sosok 'Aruna asli' mulai bercahaya terang, dan Aruna merasakan jiwanya seolah-olah ditarik keluar dari tubuhnya melalui pusar.
"Argh!" Aruna jatuh berlutut, memegang kepalanya yang terasa seperti mau pecah.
"Ratri!" Arvand menerjang ke arah Kaelan, namun ia dihadang oleh dinding energi transparan yang kuat.
Seraphina mencoba menyerang dengan kipas besinya, tapi ia juga terpental. "Aruna! Kau harus melawannya dari dalam! Ingat siapa dirimu! Kau bukan Ratri, tapi kau pemegang pena cerita ini!"
Di dalam kesadarannya yang mulai memudar, Aruna melihat dirinya sendiri di dunia modern. Ia melihat dirinya sedang duduk di depan laptop, mengetik bab tentang kematian Lady Ratri.
"Ini bukan akhir ceritaku," bisik Aruna dalam gelap.
Ia membayangkan pena di tangannya. Ia membayangkan ia sedang menghapus sosok 'Aruna asli' yang tak bernyawa itu dari layarnya. Ia membayangkan ia menulis kalimat baru: “Dan sang ibu memutuskan untuk menetap, karena cintanya telah menciptakan dunia yang nyata.”
Tiba-tiba, cahaya di Kuil Langit meledak. Aruna merasakan sentakan kuat yang mengembalikan jiwanya ke raga. Sosok 'Aruna asli' di samping Kaelan hancur menjadi debu hitam.
"TIDAK! JANGAN PERGI!" teriak Kaelan histeris.
Kunci Tembaga di tangan Kaelan retak dan meledak, melukai tangan pangeran itu hingga hancur. Kaelan terlempar ke belakang, menghantam pilar batu.
Arvand segera berlari memeluk Aruna yang lemas. "Kau tidak apa-apa?"
Aruna mengangguk lemah. "Aku... aku masih di sini."
Namun, kemenangan mereka terganggu oleh suara tawa parau dari arah belakang altar. Sosok yang sangat mereka kenali keluar dari bayang-bayang. Itu adalah Barka, tapi tubuhnya sudah tidak utuh lagi, ia tampak seperti gabungan antara manusia dan mesin kayu dari benteng tadi.
"Kalian pikir Kaelan adalah masalah utamanya?" Barka tertawa, suaranya seperti gesekan logam. "Pangeran ini hanyalah umpan. 'Sang Penulis' tidak pernah hilang sepenuhnya... dia hanya pindah ke dalam tubuhku."
Barka mengangkat tangannya, dan tiba-tiba seluruh prajurit Kaisar tua yang ada di bawah bukit berteriak kesakitan. Mereka semua mulai berubah menjadi patung kayu yang kaku.
"Aku butuh energi yang lebih besar untuk benar-benar pulang," ujar Barka dengan mata yang menyala ungu. "Dan anak di dalam kandunganmu itu... dia memiliki energi dari dua dunia. Dia adalah tiket pulangku yang paling sempurna."
Aruna memucat. Ternyata kehamilannya bukan hanya rahasia bahagia, tapi juga menjadi incaran utama sang musuh sejati.
Tepat saat itu, Arel muncul di pintu kuil dengan napas terengah-engah, matanya membelalak melihat ibunya dalam bahaya. Namun, di belakang Arel, berdiri Mira dengan belati yang sudah menempel di leher bocah itu.
"Maafkan aku, Madam... tapi suamiku dan anakku disandera oleh Barka," bisik Mira dengan air mata mengalir deras.
Mira berkhianat? Bagaimana nasib Arel di tangan Mira yang sedang terdesak? Dan mampukah Arvand melawan Barka yang kini telah menjadi wadah bagi kekuatan sang 'Penulis', sementara Aruna harus berjuang melindungi janinnya yang menjadi incaran?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.