Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 Hamil
Alea mengalihkan pandangannya tidak berniat untuk memaafkan suaminya itu membuat Dharma memegang dagu Alea, kemudian menatapnya kembali.
"Kamu benar-benar tidak akan memaafkan ku?" tanya Dharma lagi.
"Baiklah, tetapi jangan lakukan hal ini lagi," jawab Alea akhirnya luluh dengan bujuk rayu dari Dharma.
"Iya sayang," sahut Dharma membawa istrinya kembali ke dalam pelukannya.
Dharma kemudian melonggarkan pelukan itu.
"Kamu sudah selesai sarapannya?" tanya Dharma.
Alea mengangguk-anggukkan kepala.
"Maaf ya sayang, gara-gara aku kita tidak jadi sarapan, lalu kamu sarapan bersama dengan Raidan?" tanya Dharma.
"Tidak, Raidan juga tadi langsung pulang begitu saja, jadi tidak sempat sarapan bersamaku dan aku hanya sarapan sendiri," jawab Alea.
"Sayang sekali, kamu pasti sudah memasak banyak. Maaf ya sayang," Dharma kembali membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Kenapa aku harus berbohong seolah-olah itu adalah hal yang harus disembunyikan? Bukankah tidak masalah jika aku sarapan bersama dengan Raidan, aku seperti tidak menginginkan Dharma mengetahui bahwa kami menghabiskan sarapan bersama," batin Alea tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba saja berbohong pada suaminya.
Padahal dia dan Raidan menghabiskan waktu dengan sarapan bersama.
*****
"Ehegg, eheg, eheg....." Alea memasuki kamar mandi dengan mentah-muntah.
Dharma baru saja bangun dari tidurnya ketika mendengar suara istrinya cukup keras tampak kesulitan mengeluarkan isi perut itu membuat Dharma duduk.
"Sayang!" panggil Dharma.
Alea terus saja mual-mual. Dharma mendengar kondisi istrinya seperti itu membuat Dharma akhirnya menyusul ke kamar mandi.
"Sayang kamu baik-baik saja?" tanya Dharma menghampiri Alea.
Alea menghidupkan kran air dan mencuci mulutnya, tubuhnya seketika menjadi lemas berhadapan dengan Dharma.
"Perutku sejak tadi tidak enak, aku terus mual-mual tidak jelas," keluh Alea.
Dharma tiba-tiba saja tersenyum dengan memegang pipi Alea dan bahkan mencium lembut kening Alea.
"Sayang, aku sedang tidak baik-baik saja, tetapi kenapa respon kamu malah tersenyum seperti itu?" tanya Alea.
"Bagaimana aku tidak tersenyum akhirnya apa yang kita tunggu-tunggu sudah terwujud saat ini," ucap Dharma.
"Maksud kamu?" tanya Alea kebingungan.
"Sayang sekarang kita ke dokter untuk memastikan kehamilan kamu," ucap Dharma.
"Aku hamil?" tanya Alea merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan Dharma.
"Benar sayang, kamu sudah pasti mengandung saat ini. Akhirnya anak kita akan lahir dan kita bisa memenuhi keinginan keluargaku," ucap Dharma terlihat begitu semangat dan sementara Alea masih belum yakin jika dia saat ini sedang mengandung.
"Makasih sayang!" Dharma membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Apa benar, aku memang hamil?" tanya Alea.
"Sekarang kita jangan tunggu lama-lama lagi, kamu siap-siap, kita sekarang memeriksakan kehamilan kamu ke Dokter dan setelah itu memberi kabar bahagia ini kepada keluargaku agar mereka bahagia," ucap Dharma begitu semangat dan sudah melepas pelukan itu.
Dharma keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaian dan sementara Alea masih tetap diam di tempatnya dengan memegang perut ratanya.
"Sungguh di dalam rahimku sudah ada bayi?" tanyanya masih tidak percaya jika pada akhirnya dia hamil.
Hal yang menjadi permasalahan antara dia dan suaminya karena suaminya tidak bisa memberikan dia anak dan mau tidak mau harus melalui orang lain.
****
Alea dan Dharma akhirnya memeriksakan kandungan Alea untuk memastikan dugaan Dharma jika Alea sedang mengandung.
Alea saat ini terlihat berbaring di atas ranjang dengan Dokter wanita sejak tadi memeriksanya menggunakan alat yang diputar-putar di atas perutnya. Alea tampak begitu gugup sementara Dharma justru terlihat santai.
Ekspresi Dharma sejak tadi seolah-olah benar-benar sangat yakin bahwa Alea memang hamil.
"Bagaimana Dokter?"
"Apa mual-mual istri saya sesuai dengan dugaan saya bahwa dia sedang mengandung?" tanya Dharma ketika melihat Dokter wanita itu sudah selesai memeriksa Alea.
Dokter itu berdiri dengan memberikan senyuman kepada Dharma.
"Tepat sekali tuan, istri Anda sedang mengandung dan kondisi kandungannya juga baik-baik saja. Mual, pusing dan nafsu makan yang berkurang merupakan karena hormon di dalam tubuhnya, tetapi jangan khawatir saya akan memberikan obat untuk mengurangi rasa mual," jawab Dokter memberi sedikit penjelasan.
Dharma terlihat begitu senang seolah-olah baru saja mendapatkan hadiah yang begitu besar dan sementara ekspresi Alea masih terlihat datar, terlihat kebingungan di wajahnya harus memberikan ekspresi seperti apa.
"Sayang, dugaanku benar kamu benar-benar mengandung," ucap Dharma menghampiri Alea, memeluknya dengan cepat.
"Akhirnya sayang, kita kalau menemui keluargaku dan mengatakan tentang kehamilan kamu," Dharma terlihat begitu excited.
"Terima kasih Dokter, sudah membantu untuk memberitakan kehamilan istri saya," ucap Dharma.
"Sama-sama tuan," sahut Dokter itu dengan tersenyum.
*****
Sejak dari rumah sakit wajah Alea terlihat murung duduk di sebelah Dharma yang sedang menyetir.
"Akhirnya aku hamil, lalu bagaimana dengan kehamilanku ini? Apa aku harus mengatakan kepada Raidan, bagaimanapun anak yang ada di dalam kandunganku adalah darah dagingnya," batin Alea.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Dharma menyadari tingkah laku istrinya yang sejak tadi hanya diam saja.
"Tidak apa-apa," jawab Alea.
"Bagaimana mungkin kamu mengatakan tidak apa-apa, sementara aku melihat jejak tadi kamu tanpa murung, kamu tidak seperti istri-istri pada umumnya ketika mendengar kehamilannya maka akan sangat bahagia," ucap Dharma.
"Hmmmm, aku tiba-tiba saja kepikiran, bagaimana jika kedua orang tua kamu tahu bahwa anak yang aku kandung bukanlah dari daging kamu?" tanya Alea.
"Sayang, kamu tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak penting, kedua orang tuaku tidak akan tahu yang terpenting bagaimana kamu menjaga kandungan kamu dengan semua rencana kita di awal dan sembunyikan baik-baik saja," ucap Dharma.
"Lalu bagaimana dengan Raidan, kamu tidak akan memberitahu dia tentang kehamilanku?" tanya Alea.
"Apa itu perlu?" Dharma kembali bertanya kepada istrinya.
"Alea, hubungan kamu dan Raidan hanya sebatas penanaman benih, setelah itu semua selesai, kamu hamil atau tidak dan selanjutnya bagaimana keadaan kamu itu adalah menjadi urusanku. Raidan mungkin akan tahu jika kamu mengandung, tetapi apapun yang terjadi pada kamu itu menjadi bagian dari tanggung jawabku dan tidak berkaitan dengannya!" tegas Dharma.
Alea tidak merespon dengan apapun, tetapi tetap saja wajahnya masih terlihat murung.
"Apa jangan-jangan sejak tadi kamu terlihat murung seperti itu, karena berkaitan dengan Raidan?" tanya Dharma membuat Alea melihat serius ke arah suaminya.
"Maksud. Mas, bagaimana?" tanya Alea.
"Sudahlah lupakan, aku akan mengabari kedua orang tuaku tentang kehamilan kamu," sahut Dharma sepertinya tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu.
Alea tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Dharma.
****
Alea berada di atas ranjang tampak berbaring miring, tadinya Alea terlihat tertidur, tetapi matanya tampak terbuka karena merasa tidurnya terganggu dengan pandangannya tertuju pada teras kamar.
Di sana tampak Dharma duduk santai sembari menelpon, entahlah siapa saat ini dihubungi suaminya di tengah malam seperti itu.
Pembicaraan telepon itu terlihat tidak serius, seperti bukan komunikasi dengan seorang klien, panggilan telepon tersebut tampak segar dengan wajah Dharma tertawa-tawa yang membuat Alea semakin bingung dengan suaminya itu.
Bukannya tidur dan malah berkomunikasi dengan seseorang terlihat begitu sangat dekat.
"Kenapa harus mengangkat telepon malam-malam seperti ini dan siapa orang itu, kenapa Mas Dharma begitu cerah sekali," batin Alea.
Bersambung....