Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Balairung Agung Keraton Amarta adalah lambang kemegahan yang sanggup membuat raja dari negeri seberang manapun menahan napas karena takjub. Lantainya terbuat dari marmer pualam putih yang didatangkan langsung dari lereng Gunung Mahameru, dipoles hingga berkilau memantulkan bayangan siapa pun yang berjalan di atasnya. Pilar-pilar penyangganya yang sebesar pelukan tiga orang dewasa berlapiskan emas murni, diukir dengan relief kisah para dewa kahyangan. Asap dupa kemenyan cendana mengepul tipis dari pembakar perunggu di setiap sudut ruangan, menciptakan aroma sakral yang mengintimidasi sekaligus memabukkan.
Namun pagi ini, kemegahan itu terasa lebih menyerupai sebuah makam pualam raksasa.
Udara di dalam Balairung Agung terasa begitu berat, seolah kelembapan sisa hujan semalam telah membeku menjadi timah yang menekan paru-paru setiap orang yang hadir. Tidak ada suara gamelan yang biasanya mengalun lembut. Tidak ada celoteh para menteri atau tawa ramah para bangsawan. Ruangan itu hanya diisi oleh ketegangan mutlak.
Di ujung ruangan, di atas singgasana berundak yang dinaungi payung kebesaran berwarna kuning keemasan, duduklah Prabu Puntadewa. Sang Raja Amarta yang terkenal akan kebijaksanaan dan kelembutan hatinya itu kini tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Gurat-gurat kelelahan dan beban jutaan nyawa rakyat tergambar jelas di wajahnya yang pucat. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong yang menyiratkan keputusasaan.
Di sebelah kanannya, duduk sang penasihat agung, Sri Kresna, dengan senyum tipisnya yang penuh teka-teki, memutar-mutar kembang wijayakusuma di sela jarinya. Di hadapan singgasana, berdiri dua pilar kekuatan Pandawa: Bima yang bertubuh raksasa dengan wajah merah padam menahan amarah, dan Arjuna, sang ksatria penengah yang ketampanannya pagi ini tertutup oleh raut wajah penuh perhitungan taktis yang dingin.
Dan di sudut ruangan yang paling gelap, setengah tersembunyi di balik bayang-bayang pilar emas raksasa, berdirilah Gatotkaca.
Sang Senopati Pringgandani itu berdiri mematung layaknya arca pelindung kuil. Zirah emasnya telah dibersihkan dari darah dan debu Hutan Wanamarta, memantulkan cahaya obor dengan sempurna. Kedua tangannya bersedekap di depan dada, wajahnya ditutupi oleh helm baja yang hanya memperlihatkan rahangnya yang mengeras. Ia diperintahkan hadir sebagai Panglima Keamanan Tertinggi, berdiri dalam diam, tidak diizinkan berbicara kecuali jika diminta untuk mematahkan leher seseorang.
Ia adalah penjaga ruangan ini, namun ironisnya, ia sama sekali tidak bisa menjaga hatinya sendiri dari apa yang sedang dibicarakan oleh para pemegang kekuasaan tersebut.
"Tindakan Lesmana Mandrakumara di perbatasan Wanamarta tiga malam yang lalu bukanlah sebuah insiden kebetulan." Suara Arjuna memecah keheningan Balairung. Baritonnya yang biasanya merdu bagai kidung, kini terdengar tajam dan menusuk. Ia berjalan mondar-mandir di atas karpet beludru merah. "Itu adalah sebuah deklarasi, Kakang Prabu Puntadewa. Kurawa tidak lagi bermain di balik layar. Mereka mencoba menculik Pregiwa dan Pregiwati untuk dijadikan sandera, untuk memaksa kita menyerahkan separuh wilayah Amarta tanpa syarat."
Bima mendengus keras, suara dengusannya bergema seperti geraman singa jantan yang terluka. Ia menghantamkan ujung kuku pancakananya ke udara kosong. "Lalu apa yang kita tunggu?! Jika anjing-anjing Astina itu sudah berani menyentuh batas hutan kita, biarkan aku dan anakku, Gatotkaca, meratakan gerbang keraton mereka besok pagi! Kita tidak butuh diplomasi dengan para pengecut yang menyerang keputrian!"
Puntadewa mengangkat sebelah tangannya, sebuah isyarat halus yang seketika membungkam amarah adiknya. Sang Raja menghela napas panjang. "Peperangan tidak bisa dimenangkan hanya dengan amarah, Dinda Bima. Tegal Kurusetra sudah menanti kita. Baratayuda tidak bisa dihindari lagi. Namun, kita harus melihat kenyataan di atas papan catur ini. Jumlah pasukan kita saat ini tidak berimbang."
Sri Kresna mengangguk pelan, menyetujui ucapan Puntadewa. "Astina telah membeli kesetiaan puluhan raja dari negeri-negeri utara. Suyudana memiliki gajah perang, kereta kencana berbaja, dan jutaan prajurit berani mati. Jika kita membunyikan sangkakala perang besok pagi, Amarta mungkin akan menang berkat kesaktian kalian, para Pandawa, namun kemenangannya akan ditebus dengan lautan darah rakyat kita sendiri. Kita butuh sekutu, Arjuna. Kita butuh barisan pertahanan tambahan."
Mendengar kata "sekutu", firasat buruk yang teramat pekat menyergap dada Gatotkaca di sudut ruangan. Jantungnya, yang sejak tiga malam lalu berdetak dengan ritme yang baru, kini mendadak berpacu liar. Ada hawa dingin yang tak kasat mata merayap naik ke tengkuknya.
Arjuna menghentikan langkahnya. Ia menatap Kresna, lalu beralih menatap Puntadewa dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara ketegasan seorang jenderal dan kegetiran seorang ayah. Sang ksatria panah itu perlahan merogoh ke balik lipatan jubah sutranya, mengeluarkan sebuah gulungan lontar yang diikat dengan pita sutra berwarna ungu dan disegel dengan malam emas bermotif harimau putih.
"Kakang Prabu," ucap Arjuna pelan, suaranya kini melunak, namun membawa bobot yang sanggup meruntuhkan gunung. "Kemarin petang, utusan dari Kerajaan Swantipura tiba di perbatasan kita secara rahasia. Mereka membawa gulungan ini."
Mata Bima menyipit. "Swantipura? Kerajaan kaum penunggang kuda lapis baja dari dataran tinggi selatan? Prabu Dirgantara, raja mereka, terkenal tamak dan licik. Ia tidak pernah mau memihak siapa pun kecuali pihak yang memberinya keuntungan terbesar. Apa yang ia inginkan dari Amarta?"
"Prabu Dirgantara menawarkan sebuah aliansi militer penuh," jawab Arjuna, mengabaikan cemoohan kakaknya. "Ia berjanji akan mengirimkan lima puluh ribu pasukan kavaleri kuda berbaju zirah murni, lengkap dengan seribu kereta perang dan logistik yang cukup untuk menopang pasukan kita selama Baratayuda berlangsung. Ia bersedia berdiri di bawah panji Amarta dan menyatakan musuh kepada Astina."
Keheningan kembali menyergap Balairung. Lima puluh ribu kavaleri lapis baja. Itu bukanlah jumlah yang bisa diabaikan. Pasukan sebesar itu bisa mengubah gelombang pertempuran di Tegal Kurusetra dalam hitungan jam. Itu adalah kunci kemenangan mutlak yang selama ini dicari-cari oleh para ahli strategi Amarta.
Puntadewa mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya memancarkan secercah harapan yang dipaksakan. "Itu adalah tawaran yang mustahil untuk ditolak. Namun, di dunia politik ini, tidak ada lima puluh ribu pasukan yang diberikan secara cuma-cuma. Apa harga yang diminta oleh Prabu Dirgantara untuk kesetiaan sebesar itu, Dinda Arjuna?"
Di sudut bayang-bayang pilar emas, Gatotkaca merasa dunia di sekitarnya perlahan kehilangan udara. Paru-parunya menolak bekerja. Telinganya berdenging hebat, seolah ia sudah tahu apa jawaban yang akan meluncur dari bibir pamannya itu. Tangannya yang bersedekap di depan dada tanpa sadar mencengkeram pelat zirahnya sendiri dengan kekuatan yang nyaris meremukkan logam tempaan dewa tersebut.
Arjuna menelan ludah. Untuk pertama kalinya pagi itu, sang ksatria penengah tampak ragu. Ia menundukkan wajahnya menatap gulungan lontar di tangannya, seolah tulisan di atasnya adalah racun mematikan.
"Prabu Dirgantara... tidak meminta emas, Kakang Prabu," ucap Arjuna lirih, nyaris menyerupai bisikan yang tertiup angin keraton. "Ia juga tidak meminta pembagian wilayah. Ia meminta sebuah ikatan darah untuk menjamin kesetiaan Amarta agar tidak membuangnya setelah perang usai. Ia meminta... seorang permaisuri untuk putra mahkotanya."
"Seorang permaisuri?" Bima mengernyitkan dahi tebalnya. "Putri siapa yang berani ia minta? Amarta tidak memiliki banyak putri yang belum terikat pertunangan."
Arjuna menarik napas panjang, mengunci pandangannya pada lantai pualam. "Ia meminta... putri sulungku. Ia meminta Dewi Pregiwa."
BUM.
Dunia Gatotkaca hancur berkeping-keping.
Jika ada seribu pedang Astina yang menusuk dadanya secara bersamaan saat ini, rasanya tidak akan sepedih kalimat yang baru saja diucapkan oleh Arjuna. Udara di sekitarnya benar-benar lenyap. Seluruh darah di tubuh separuh raksasanya seakan menguap, digantikan oleh cairan es murni yang membekukan jantungnya. Di balik helm bajanya, mata elang Gatotkaca membelalak ngeri, menatap kosong ke arah pamannya.
*Pregiwa.*
Nama yang selama tiga malam terakhir terus ia sebut dalam doa-doa bisunya. Wajah pualam yang menangis untuknya di dasar gua Wanamarta. Tangan lembut yang membelai punggung tangannya yang penuh luka dan memberitahunya bahwa ia bukanlah sekadar senjata. Wanita yang baru saja mengajarinya bagaimana rasanya menjadi seorang manusia, kini sedang ditransaksikan di atas meja politik seolah ia hanyalah seonggok emas batangan atau sekantong beras logistik perang.
*Lima puluh ribu kuda lapis baja.* Itulah harga untuk senyum teduh Dewi Pregiwa. Itulah nilai dari setetes air mata yang jatuh demi seorang Gatotkaca.
Gatotkaca merasa lututnya goyah. Untuk pertama kalinya seumur hidup, sang ksatria otot kawat tulang besi merasa tidak sanggup menopang berat badannya sendiri. Di balik bayang-bayang pilar, tangannya bergetar hebat. Buku-buku jarinya memutih, dan secara perlahan, pelat dada emas yang ia cengkeram mulai melengkung, meninggalkan bekas penyok akibat tekanan tenaga raksasanya yang tak terkendali.
"Pregiwa?" Puntadewa terkesiap pelan, tubuhnya bersandar lemas pada punggung singgasana. "Tapi... putri itu baru saja lolos dari maut. Traumanya di Hutan Wanamarta mungkin belum sepenuhnya pulih. Dan kau... kau bersedia menyerahkan putri kesayanganmu ke negeri dataran tinggi yang dingin itu, Arjuna?"
Arjuna menutup matanya. Garis rahangnya menegas, berusaha menyembunyikan getaran di bibirnya. Sebagai seorang ayah, hatinya meronta. Namun sebagai seorang ksatria yang memikul beban keselamatan seluruh negeri, ia tidak memiliki kemewahan untuk memilih perasaannya.
"Ini bukan masalah bersedia atau tidak, Kakang Prabu," jawab Arjuna tegas, menekan sisi emosionalnya dalam-dalam. "Ini adalah matematika peperangan. Astina semakin kuat setiap harinya. Jika kita gagal mendapatkan kavaleri Swantipura, kita mungkin akan melihat kepala anak-anak kita sendiri dipenggal oleh Lesmana di alun-alun ini. Pregiwa adalah putri seorang prajurit. Ia tahu bahwa takdir kelahirannya adalah untuk mengabdi pada negara. Ia akan mengerti. Jika dengan satu pernikahannya ia sanggup menyelamatkan jutaan nyawa rakyat Amarta, maka itu adalah darma tertingginya sebagai seorang ksatria wanita."
Di sudut ruangan, aura mematikan mulai memancar tak terkendali dari tubuh Gatotkaca.
Rasa sakit yang menyayat hatinya perlahan bermutasi menjadi sebuah kemarahan purba yang menggelapkan akal sehatnya. Udara di sekelilingnya menjadi sangat panas. Asap tipis mulai mengepul dari celah-celah zirahnya. Matanya yang sebelumnya nanar kini menyala merah keemasan di balik helm.
Ia ingin berteriak. Ia ingin melangkah maju ke tengah Balairung, menghempaskan gulungan lontar laknat itu dari tangan Arjuna, dan menyatakan di hadapan para raja bahwa Dewi Pregiwa tidak akan pergi ke mana pun. Ia ingin mengatakan bahwa jika Amarta membutuhkan lima puluh ribu prajurit, maka biarkan Gatotkaca sendirian yang berdiri di garis depan melawan seluruh pasukan Astina! Biarkan ia yang mematahkan leher seratus ribu kuda! Biarkan ia yang hancur lebur di Tegal Kurusetra, asalkan wanita itu tidak disentuh oleh tangan mana pun!
Namun kakinya terpaku di lantai pualam.
Sebuah suara di dalam kepalanya—suara yang dingin, kejam, dan rasional—menamparnya kembali ke realitas. *Siapa kau berani menentang titah raja?* bisik suara itu. *Kau hanyalah anak haram dari hutan Pringgandani. Kau adalah senjata, bukan pangeran. Apa yang bisa kau berikan pada Pregiwa selain ketakutan dan kehidupan yang berlumur darah? Cinta kasarmu tidak akan sanggup menyelamatkan Amarta dari kehancuran.*
Bima, yang memiliki kepekaan batin luar biasa terhadap putranya, tiba-tiba memutar kepalanya ke arah sudut pilar gelap tersebut. Sang raksasa Pandawa itu merasakan fluktuasi aura panas yang luar biasa memancar dari Gatotkaca.
"Gatotkaca!" suara menggelegar Bima mengejutkan seluruh isi Balairung. Semua mata kini tertuju pada sosok raksasa di sudut ruangan. "Apa yang terjadi denganmu? Mengapa auramu mendidih seperti itu? Apakah kau merasakan keberadaan mata-mata di sekitar ruangan ini?!"
Gatotkaca tersentak. Seluruh sistem pertahanannya seolah ditelanjangi di depan umum. Ia buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, menarik napas panjang secara paksa untuk memadamkan api yang membakar nadinya. Ia menelan sisa-sisa harga dirinya, menguncinya rapat-rapat di dasar Kawah Candradimuka di dalam jiwanya.
Sang senopati melangkah maju setengah tindak keluar dari bayangan pilar. Ia membungkukkan tubuh besarnya memberikan penghormatan mutlak, menyembunyikan pelat dadanya yang penyok di balik lipatan jubahnya.
"Ampun, Ayahanda Bima. Ampun, Gusti Prabu," jawab Gatotkaca, suaranya parau, berat, dan dipenuhi getaran aneh yang ia susahkan sekuat tenaga agar terdengar seperti batuk tertahan. "Hamba... hamba hanya terbawa suasana. Mendengar rencana penyerangan ke Astina membuat darah Pringgandani di dalam tubuh hamba bergejolak. Tidak ada mata-mata. Ruangan ini aman."
Alasan yang sangat masuk akal bagi seorang jenderal perang yang haus darah. Bima mengangguk puas, mengira putranya sama tidak sabarnya dengan dirinya untuk segera membelah dada musuh. Arjuna hanya melirik sekilas tanpa curiga, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Puntadewa.
Sri Kresna tersenyum kecil. Mata dewa penasihat itu menatap lurus ke arah Gatotkaca, menembus helm baja dan melihat tepat ke dasar jiwanya yang hancur lebur. Kresna tahu. Sang penitis Dewa Wisnu itu tahu segalanya. Ia melihat tragedi yang sedang dimainkan oleh takdir, namun ia memilih untuk diam, membiarkan roda penderitaan berputar sebagaimana mestinya.
"Jika itu adalah keputusanmu, Arjuna," ucap Puntadewa akhirnya, suaranya terdengar sangat lelah, memutus segala keraguan. "Maka aku, sebagai Raja Amarta, memberikan restu. Persiapkan utusan balasan. Beritahu Prabu Dirgantara bahwa Amarta menerima tawaran aliansinya. Dan persiapkan Dewi Pregiwa... untuk hari pertunangannya."
Titah telah dijatuhkan. Palu takdir telah diketuk.
"Ada satu hal lagi, Kakang Prabu," tambah Arjuna, menyisipkan kembali lontar itu ke balik jubahnya. "Perjalanan menuju perbatasan Swantipura sangatlah jauh dan melintasi jalur pegunungan yang rawan pencegatan oleh telik sandi Astina. Pregiwa tidak bisa dikawal oleh prajurit biasa. Ia adalah kunci kemenangan kita."
Arjuna memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke arah raksasa di sudut ruangan.
"Senopati Gatotkaca," panggil Arjuna tegas.
Jantung Gatotkaca berhenti berdetak. "Hamba, Paman."
"Tiga malam yang lalu, kau telah membuktikan kesetiaanmu dan kekuatanmu dengan menyelamatkan Pregiwa dari cengkeraman Lesmana," ucap Arjuna, sama sekali tidak menyadari bahwa setiap kata pujiannya adalah belati yang menyayat hati keponakannya. "Oleh karena itu, aku memberikan mandat tertinggi ini kepadamu. Saat hari keberangkatan tiba, kaulah yang akan menjadi panglima pengawal utamanya. Kaulah yang harus memastikan Pregiwa tiba dengan selamat di Kerajaan Swantipura, dan menyerahkannya sendiri ke tangan calon suaminya."
Di atas singgasananya, Sri Kresna memejamkan mata, menghela napas prihatin atas ironi takdir yang begitu kejam ini.
Gatotkaca mematung. Langit-langit Balairung pualam itu seakan runtuh menimpa pundaknya. Ia tidak hanya dituntut untuk melepaskan wanita yang mengajari hatinya berdetak. Ia kini diperintahkan secara langsung oleh sang raja dan ayahnya, untuk mengantarkan sendiri sayap kebebasannya itu ke dalam pelukan pria lain. Ia harus menjadi algojo bagi perasaannya sendiri.
Dengan darah yang menetes tanpa henti dari luka tak kasat mata di dalam dadanya, Gatotkaca menyilangkan tangan kanannya di dada. Ia membungkuk serendah mungkin, menyembunyikan setetes air mata yang mengkhianati pertahanannya, jatuh berbaur dengan bayang-bayang lantai pualam.
"Sendika dawuh, Paman Arjuna," bisik sang raksasa. "Titah akan hamba laksanakan... dengan nyawa hamba sebagai taruhannya."