Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Keyakinan Yang Muncul
Pagi datang perlahan di desa kecil itu.
Kabut tipis masih menyelimuti ladang-ladang luas yang membentang di sekitar rumah-rumah kayu milik penduduk. Udara pagi terasa dingin dan lembap, sementara embun masih menempel di daun-daun tanaman serta rerumputan yang tumbuh liar di sepanjang jalan tanah.
Matahari baru saja mulai muncul dari balik pepohonan tinggi di pinggir hutan.
Cahaya keemasannya perlahan menyebar, menyentuh atap-atap rumah sederhana dan pagar kayu yang sudah tua.
Desa itu terlihat damai seperti biasanya.
Beberapa petani sudah mulai berjalan menuju ladang mereka dengan membawa alat pertanian di bahu. Suara langkah kaki mereka bercampur dengan suara ayam yang berkokok dari halaman rumah.
Di sisi lain desa, beberapa wanita menjemur pakaian di depan rumah sambil berbincang ringan anak-anak kecil berlari di jalan sempit sambil tertawa riang tidak ada yang terlihat aneh ,tidak ada yang terlihat berbahaya.
Bagi penduduk desa, hari itu hanyalah hari biasa seperti hari-hari sebelumnya Namun bagi seseorang yang telah hidup cukup lama untuk memahami banyak hal tentang dunia…
pagi itu terasa sedikit berbeda.
Di teras rumah kayu tua yang berdiri di pinggir desa, kakek Alana duduk di kursinya.
Rumah itu sudah berdiri sangat lama.
Dindingnya terbuat dari kayu yang mulai memudar warnanya karena usia. Namun rumah itu masih terlihat kokoh, sama seperti pemiliknya yang telah tinggal di sana selama puluhan tahun.
Di tangan kakek Alana terdapat secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
Namun ia tidak benar-benar meminumnya.
Tatapannya tertuju ke arah jalan desa yang terlihat dari teras rumahnya.
Pikirannya jauh dari suasana pagi yang tenang.
Sejak kemarin, satu hal terus mengganggu pikirannya.
Kalung berlian hijau yang dipakai oleh Alana.
Ia masih ingat dengan jelas saat cucunya memperlihatkan kalung itu kepadanya.
Kilau berlian hijau itu terlihat sangat berbeda dari perhiasan biasa Bukan hanya karena keindahannya Namun juga karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Perasaan yang muncul ketika melihatnya.
Perasaan yang sangat lama tidak ia rasakan.
Kakek Alana menghela napas pelan.
“Aku mungkin terlalu banyak berpikir…”
gumamnya pelan.
Namun meskipun ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, keraguan tetap muncul di dalam pikirannya Karena ia tahu satu hal dengan sangat jelas ia pernah membaca tentang kalung itu sebelumnya Bukan dalam cerita rakyat Bukan pula dalam legenda desa.
Melainkan dalam catatan lama keluarganya.
Catatan yang ditulis oleh para leluhur mereka yang dulu dikenal sebagai pemburu vampir.
Ia masih mengingat tulisan dalam buku itu.
Tentang sebuah perhiasan langka yang memiliki berlian hijau.
Perhiasan yang disebut sebagai simbol darah suci seorang ratu vampir.
Namun selama ini ia selalu menganggap catatan itu sebagai bagian dari sejarah lama.
Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah muncul lagi di dunia manusia.
Namun sekarang…kalung itu berada di leher cucunya sendiri.
Pikiran itu membuatnya merasa tidak tenang.
Akhirnya ia meletakkan cangkir teh di meja kecil di samping kursinya ia berdiri perlahan sambil mengambil tongkat kayu yang selalu menemaninya berjalan.
Tubuhnya memang sudah tua langkahnya tidak sekuat dulu namun matanya masih tajam seperti dahulu kala.
Ia masih memiliki kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang.
Kebiasaan untuk memperhatikan sekelilingnya.
Perlahan ia mulai berjalan menuju jalan desa Udara pagi terasa segar ketika ia melangkah keluar dari halaman rumahnya tongkat kayu di tangannya menyentuh tanah setiap kali ia melangkah.
Bunyi kecil itu terdengar berulang-ulang di sepanjang jalan beberapa penduduk desa yang melewatinya langsung menyapanya dengan hormat.
“Selamat pagi, Tuan.”
“Pagi,” jawabnya dengan senyum kecil.
Penduduk desa sangat menghormatinya.
Bukan hanya karena usianya namun, juga karena masa lalunya banyak orang di desa tahu bahwa dulu ia adalah seorang pemburu vampir yang hebat.
Meskipun sekarang ia sudah tidak lagi berburu, reputasinya masih dikenang oleh banyak orang namun pagi itu ia tidak benar-benar memperhatikan sapaan mereka pikirannya masih dipenuhi oleh kalung berlian hijau milik Alana,ia berjalan perlahan melewati beberapa rumah dan warung kecil namun ketika ia sampai di jalan utama desa…langkahnya tiba-tiba berhenti.
Di dekat sumur desa, seorang pria sedang berdiri dan berbicara dengan beberapa penduduk.
Pria itu tampak seperti orang asing.
Kakek Alana tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Tubuh pria itu tinggi dan tegap.
Pakaiannya sederhana seperti pendatang biasa, namun terlihat sangat rapi.
Rambutnya hitam dan sedikit panjang.
Wajahnya tampan namun memiliki ketenangan yang aneh.
Beberapa penduduk desa tampak berbicara dengannya dengan ramah seolah pria itu hanyalah seorang pendatang yang sedang menanyakan sesuatu tidak ada yang terlihat mencurigakan namun, ketika kakek Alana melihat pria itu sebuah perasaan aneh muncul di dalam hatinya perasaan yang sulit dijelaskan.
Ia memperhatikan pria itu dengan lebih teliti.
Cara pria itu berdiri terlihat sangat tenang.
Gerakannya halus dan terkendali tatapannya tajam namun tidak terlihat agresif
Justru itulah yang membuat kakek Alana merasa aneh.
Pria itu tampak seperti seseorang yang memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri.
Seolah tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membuatnya merasa gugup Hal seperti itu jarang dimiliki oleh manusia biasa.
Kakek Alana menyipitkan matanya sedikit.
Ia mencoba mengingat sesuatu.
Perasaan familiar itu semakin kuat
Seolah ia pernah melihat wajah itu sebelumnya namun bukan secara langsung melainkan di tempat lain.
Tempat yang baru saja ia buka saat itu pria tersebut menoleh sedikit tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik namun dalam detik singkat itu, tubuh kakek Alana merasakan tekanan yang sangat halus.
Bukan tekanan yang menakutkan.
Namun cukup untuk membuat hatinya bergetar Tatapan pria itu sangat tenangTerlalu tenang Seolah ia telah melihat dunia selama waktu yang sangat lama Kemudian pria itu kembali berbicara dengan penduduk desa seperti sebelumnya.
Namun kakek Alana tetap berdiri diam.
Ingatan lama tiba-tiba muncul di pikirannya.
Tentang sebuah gambar tua yang pernah ia lihat bertahun-tahun lalu.
Gambar dalam buku catatan keluarganya.
Gambar seorang pria yang berdiri di samping Ratu Vampir seorang pria yang dikenal dalam legenda pemburu vampir.
Raja Vampir.
Jantung kakek Alana berdetak sedikit lebih cepat.
“Tidak mungkin…”
bisiknya pelan.
Namun semakin ia memikirkan hal itu, semakin kuat perasaan aneh di dalam hatinya.
Ia kembali teringat sesuatu.
Kalung yang dipakai Alana Kalung dengan berlian hijau yang sangat langka jika, kalung itu benar-benar milik Ratu Vampir…dan jika pria yang berdiri di desa itu memang orang yang sama seperti dalam catatan lama…maka ,keraguannya selama ini mungkin salah.
Kakek Alana menghela napas panjang.
Ia tidak merasa marah ia tidak merasa ingin menyerang siapa pun yang ia rasakan hanyalah kekhawatiran kekhawatiran seorang kakek.
“Alana…” gumamnya pelan.
Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berbalik dan berjalan kembali menuju rumahnya.
Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Tongkat kayu di tangannya beberapa kali hampir terpeleset di jalan tanah beberapa penduduk desa menatapnya heran
namun ia tidak memperhatikan mereka ia hanya memikirkan satu hal buku catatan keluarganya ia harus memastikan semuanya.
Beberapa menit kemudian ia sudah kembali di rumahnya, ia langsung menuju kamar lamanya.
Di sudut ruangan terdapat sebuah peti kayu tua yang terlihat sangat berat Peti itu sudah berada di sana selama puluhan tahun.
Di dalamnya tersimpan buku-buku catatan para leluhur keluarganya.
Catatan tentang perburuan vampir yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Ia membuka peti itu perlahan
Beberapa buku tua terlihat tersusun rapi di dalamnya.Ia mengambil salah satu buku yang paling tua.
Sampulnya sudah sangat usang tangannya sedikit gemetar saat membuka halaman demi halaman akhirnya ia menemukan halaman yang ia cari di sana terdapat gambar sebuah kalung berlian hijau yang digambar dengan tinta hitam.
Persis seperti kalung yang dipakai Alana.
Di bawah gambar itu tertulis:
“Perhiasan ini adalah milik Ratu Vampir. Berlian hijau yang menjadi simbol darah sucinya.”
Kakek Alana membaca tulisan berikutnya dengan perlahan
“Setelah sang Ratu menghilang, kalung ini selalu berada di tangan Raja Vampir.”
Ia menutup buku itu perlahan sekarang keraguannya hampir hilang ia teringat pria yang ia lihat di desa tadi Aura yang tenang tatapan yang dalam dan wajah yang terasa sangat familiar ia tidak tahu apa tujuan pria itu datang ke desa ini.
Namun satu hal menjadi sangat jelas.
Jika kalung milik Ratu Vampir berada di leher Alana…dan jika Raja Vampir benar-benar berada di desa ini…maka Alana pasti memiliki hubungan dengan dunia vampir.
Kakek Alana duduk perlahan di kursinya wajahnya terlihat serius namun, tidak ada kemarahan di matanya yang ada hanyalah kekhawatiran.
“Apa pun yang terjadi…”
bisiknya pelan.
“Cucu ku tidak boleh berada dalam bahaya.”
Ia tidak berniat melawan siapa pun Ia tidak cukup bodoh untuk mencoba melawan makhluk yang mungkin telah hidup selama ribuan tahun.
Namun ia juga tidak akan membiarkan cucunya terseret ke dalam sesuatu yang berbahaya tanpa mengetahui kebenarannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun…kakek Alana mulai merasa bahwa masa lalu yang selama ini hanya ada dalam buku catatan keluarga mereka…mungkin telah kembali ke dunia manusia.
Dan pusat dari semua itu…adalah Alana.