NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Sisa Kehangatan yang Dingin

​Malam itu, hening di perumahan asri itu terasa begitu mencekam. Jarum jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 19.30, sebuah angka yang biasanya menjadi penanda kehangatan di rumah Hana dan Aris. Biasanya, pada jam seperti ini, suara tawa kecil akan pecah di ruang makan. Aris akan bercerita tentang betapa melelahkannya jalanan Jakarta, sementara Hana akan mendengarkan dengan penuh perhatian sembari menyendokkan nasi ke piring suaminya.

​Namun, malam ini berbeda. "Surga" yang selama sepuluh tahun ini dijaga Hana dengan segenap jiwa, mendadak terasa seperti sebuah ruangan luas yang hampa.

​Hana masih duduk mematung di kursi kayu jati yang dipoles mengilap. Di depannya, meja makan penuh dengan hidangan yang ia masak dengan penuh cinta sejak sore tadi. Ada gulai daging sapi yang bumbunya ia ulek sendiri—tanpa blender—agar rasanya tetap autentik seperti selera Aris. Ada juga sambal goreng hati dan kerupuk udang yang masih tersimpan rapat di dalam toples agar tetap renyah. Namun, uap panas dari gulai itu sudah lama menghilang, berganti dengan lapisan lemak tipis yang mulai membeku di permukaan kuah santannya. Dingin. Sedingin perasaan Hana saat ini.

​Ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terasa berat seolah ada batu besar yang menghimpit dadanya. Jemari Hana yang lentik namun sedikit kasar karena terlalu sering bersentuhan dengan pekerjaan dapur, kini beralih meraih ponsel pintarnya. Ia menatap layar yang gelap, berharap ada satu baris pesan atau sekadar panggilan singkat yang masuk.

​“Mas, kamu di mana? Makanannya sudah dingin,” tulis Hana di kolom pesan WhatsApp.

​Ibu jari Hana terdiam di atas tombol kirim. Ia menatap kalimat itu selama beberapa menit. Ada gejolak di dalam hatinya. Di satu sisi, ia adalah istri yang ingin tahu keberadaan suaminya. Namun di sisi lain, didikan ibunya selalu terngiang di telinga: “Seorang istri harus menjadi penyejuk, bukan sumber api. Jangan biarkan pertanyaanmu terdengar seperti tuduhan.”

​Dengan perasaan getir, Hana menghapus pesan itu. Satu per satu huruf hilang, sama seperti harapan-harapannya yang mulai luruh belakangan ini. Ia tidak ingin dianggap sebagai istri yang posesif. Ia tidak ingin Aris merasa tercekik. Maka, ia memilih untuk kembali menaruh ponsel itu dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia lebih memilih terluka dalam ketidaktahuan daripada harus menerima jawaban ketus yang sering ia terima akhir-akhir ini.

​Pikirannya melayang pada kenangan tujuh tahun lalu. Saat itu, mereka masih tinggal di sebuah kontrakan kecil di pinggiran kota. Jangankan gulai daging, bisa makan dengan telur dadar dibagi dua saja sudah menjadi kemewahan. Namun saat itu, Aris selalu pulang tepat waktu. Bahkan jika ia harus lembur, ia akan menyempatkan diri mencari telepon umum atau meminjam ponsel teman hanya untuk berkata, "Sayang, aku pulang agak telat, kamu tidur duluan ya. Jangan lupa kunci pintu."

​Ke mana perginya pria itu? Pria yang dulu begitu takut Hana merasa sendirian?

​Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah kesunyian malam. Cahaya lampu depan mobil menembus kaca jendela ruang tamu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak di dinding. Hana tersentak. Ia segera berdiri, merapikan daster batiknya yang sedikit kusut, dan menyisir rambutnya dengan jemari tangan secara terburu-buru. Ia ingin terlihat cantik, atau setidaknya rapi, saat suaminya masuk.

​Suara kunci yang diputar di lubang pintu terdengar seperti dentuman keras di telinga Hana. Pintu terbuka. Aris melangkah masuk dengan bahu yang merosot. Kemeja putihnya sudah sangat kusut, dasinya sudah ditarik longgar, dan rambutnya berantakan. Namun, bukan itu yang membuat napas Hana tertahan.

​Saat Aris berjalan melewatinya, sebuah aroma menyergap indra penciuman Hana. Bukan aroma keringat Aris yang biasa ia kenali, bukan pula aroma kopi kantor yang sering menempel di bajunya. Itu adalah aroma parfum wanita. Sangat lembut, berkelas, dengan sentuhan floral yang tidak mungkin berasal dari pewangi pakaian atau sabun mandi pria.

​"Baru pulang, Mas?" tanya Hana, suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha menutupinya dengan nada lembut yang paling tulus.

​Aris hanya bergumam tidak jelas. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Hana. Ia terus berjalan menuju tangga, melepaskan jam tangan mahalnya dan meletakkannya begitu saja di atas meja konsol.

​"Aku sudah siapkan gulai daging kesukaanmu. Mau aku panaskan sebentar?" tawar Hana lagi. Ia melangkah mendekat, mencoba menyentuh lengan Aris, ingin merasakan kembali kehangatan kulit pria yang sah menjadi suaminya itu.

​Aris menarik lengannya dengan halus, seolah-olah sentuhan Hana adalah sesuatu yang mengganggunya. "Aku sudah makan di luar tadi sama klien. Aku capek, Na. Mau langsung mandi dan tidur."

​Hana terpaku di tempatnya berdiri. "Tapi tadi pagi kamu bilang ingin makan gulai..."

​"Itu tadi pagi, Na!" suara Aris sedikit meninggi, ada nada iritasi di sana. Ia berhenti di anak tangga pertama dan menatap Hana sekilas. Tatapan itu... Hana merasa jantungnya seperti diremas. Tidak ada lagi binar cinta di sana. Mata itu kini terasa seperti sumur tua yang gelap dan kering. "Jangan buat hal sepele jadi masalah besar. Aku kerja cari uang, bukan untuk didebat soal urusan perut."

​Aris melanjutkan langkahnya ke lantai dua. Suara pintu kamar yang ditutup dengan keras seolah menjadi titik akhir dari percakapan mereka malam itu.

​Hana kembali ke meja makan. Ia menatap kursi kosong yang seharusnya diduduki Aris. Ia perlahan duduk kembali, meraih sendok, dan mencoba mencicipi gulai daging buatannya sendiri. Saat kuah itu menyentuh lidahnya, Hana tidak merasakan rasa gurih atau pedas. Segalanya terasa hambar. Hambar seperti kehidupan pernikahannya saat ini.

​Tanpa ia sadari, satu tetes air mata jatuh tepat ke dalam mangkuk gulainya. Hana segera menghapusnya dengan punggung tangan. Ia tidak boleh menangis. Ia adalah Hana, istri yang harus kuat. Istri yang harus menjaga "Surga" ini agar tidak runtuh, meskipun ia harus menopang pilar-pilarnya seorang diri.

​Ia mulai membereskan meja makan. Memasukkan kembali daging ke dalam wadah plastik untuk disimpan di lemari es. Saat ia sedang mencuci piring, pikirannya kembali terusik oleh aroma parfum tadi. Aroma itu terlalu nyata untuk disebut sebagai imajinasi.

​"Siapa dia, Mas?" bisik Hana pada dinginnya dinding dapur. "Siapa yang telah membuatmu lupa jalan pulang ke hatiku?"

​Hana mematikan lampu dapur. Ia berjalan menaiki tangga dengan langkah yang berat. Di depan pintu kamar mereka, ia ragu untuk masuk. Ia takut melihat Aris yang sudah memunggunginya, menutup diri dalam tidur yang mungkin hanya pura-pura untuk menghindari percakapan dengannya.

​Malam itu, Hana tidur di pinggiran kasur, memberikan jarak yang lebar antara dirinya dan Aris. Jarak yang secara fisik hanya beberapa puluh sentimeter, namun secara batin terasa seperti ribuan kilometer. Di dalam kegelapan, Hana menatap langit-langit kamar. Ia teringat judul buku doa yang dulu sering mereka baca bersama: Menuju Surga Bersamamu.

​Hana memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir bebas ke bantalnya. Ia mulai menyadari sebuah kenyataan pahit yang selama ini coba ia sangkal. Bahwa "Surga" yang ia tinggali saat ini, mungkin bukan lagi surga yang diinginkan suaminya. Aris telah membangun surga lain di luar sana, dan Hana... Hana hanyalah penjaga sisa-sisa kehangatan yang kini kian mendingin.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!