NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12: Cinta yang Menguatkan dan Panggilan Takdir

Pagi itu, sinar matahari terasa lebih hangat dari biasanya, seolah ikut merayakan kebahagiaan yang baru saja tumbuh di dalam pondok kecil itu.

Alexandria terbangun dengan perasaan yang berbeda—rasa utuh, rasa damai, dan rasa dicintai yang meluap-luap. Saat ia membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Leonard yang sedang menatapnya dengan senyum lembut, matanya yang keemasan bersinar penuh kasih sayang.

"Selamat pagi, istriku," bisik Leonard, menggunakan panggilan yang membuat jantung Alexandria berdebar kencang namun bahagia.

Ia mengusap pipi Alexandria dengan punggung tangannya yang hangat.

"Tidurmu nyenyak?"

Alexandria tersenyum, membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada Leonard, menghirup aroma tubuh pria itu yang begitu menenangkan.

"Sangat nyenyak. Rasanya... rasanya aku tidak pernah tidur senyaman ini sebelumnya. Terima kasih, Leonard. Terima kasih untuk segalanya."

Leonard tertawa pelan, suara tawanya yang dalam dan hangat menggema di dada yang dirasakan oleh Alexandria.

"Bukan kamu yang harus berterima kasih, tapi aku, Alexandria. Kamu yang telah mengembalikanku ke kehidupan. Kamu yang telah membuatku merasa menjadi manusia seutuhnya lagi."

Mereka menghabiskan waktu pagi itu dengan santai, tidak terburu-buru. Leonard membantu Alexandria merapikan tempat tidur dan membersihkan ruangan, sebuah hal yang dulu mustahil ia lakukan saat masih dalam wujud macan. Melihat pria yang gagah dan kuat itu sibuk membantu pekerjaan rumah tangga dengan wajah antusias membuat hati Alexandria terasa sangat hangat.

"Kamu terlihat sangat natural melakukan ini," goda Alexandria sambil menggantungkan pakaian yang sudah dicuci.

"Aku kira pangeran seperti kamu tidak pernah menyentuh sapu atau kain pel."

Leonard mengedipkan sebelah matanya, lalu mendekati Alexandria dan memeluk pinggangnya dari belakang, meletakkan dagunya di bahu wanita itu.

"Di Eldoria, kami diajarkan untuk mandiri dan menghormati kerja keras, apa pun bentuknya. Tapi jujur saja, melakukan ini bersamamu membuat pekerjaan sepele pun terasa menyenangkan. Rasanya seperti... membangun rumah tangga yang sesungguhnya."

Alexandria membalikkan tubuhnya di dalam pelukan Leonard, menatap mata pria itu dengan penuh cinta.

"Dan ini adalah rumah tangga yang paling indah di dunia bagiku."

Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada sesuatu yang mulai terasa berbeda pada diri Leonard. Sejak malam itu, selain perasaan bahagia, ia juga merasakan perubahan pada kekuatannya. Sihir di dalam dirinya terasa lebih mengalir lancar, lebih kuat, dan lebih stabil. Ia tidak lagi merasa lelah saat mempertahankan wujud manusianya dalam waktu yang lama. Bahkan, kadang-kadang, ia bisa merasakan getaran aneh yang seolah memanggilnya, memanggilnya untuk kembali ke asalnya, ke Eldoria.

Siang harinya, saat mereka sedang duduk di teras depan menikmati udara segar dan makan siang sederhana, Leonard tiba-tiba menatap jauh ke arah hutan yang lebat, wajahnya menjadi serius.

"Leonard?" panggil Alexandria pelan, menyadari perubahan suasana hati kekasihnya.

"Ada apa? Kamu memikirkan sesuatu?"

Leonard menoleh, menatap Alexandria, lalu menghela napas panjang.

"Aku merasakannya lagi, Alexandria. Panggilan itu. Sejak malam kita bersatu, panggilan itu menjadi semakin jelas, semakin kuat. Rasanya... seolah tanah kelahiranku memanggilku pulang. Seolah ada sesuatu yang menungguku di sana."

Alexandria terdiam sejenak, mencerna kata-kata Leonard. Ia tahu bahwa suatu hari nanti mereka harus menghadapi kenyataan ini. Leonard bukanlah manusia biasa dari dunia ini. Dia adalah pangeran dari dunia lain, dan tanggung jawab serta masa lalunya pasti akan memanggilnya kembali.

"Apakah itu berarti... kamu harus pergi?" tanya Alexandria pelan, meski ia berusaha menyembunyikan rasa cemasnya, nada suaranya sedikit bergetar.

Leonard segera menggenggam tangan Alexandria dengan erat, seolah takut jika ia melepaskannya, wanita itu akan menghilang.

"Tidak! Tidak pernah sendirian. Jika aku harus pergi, kamu akan ikut bersamaku. Kamu adalah bagian dari jiwaku sekarang, Alexandria. Ke mana pun aku pergi, kamu harus ada di sana. Tapi..." Leonard terdiam sejenak, matanya menyiratkan keraguan.

"Aku khawatir. Eldoria bukanlah tempat yang aman saat ini. Valerius masih memegang kendali, dan itu adalah tempat yang penuh dengan sihir dan bahaya. Aku tidak ingin kamu terluka."

Alexandria menatap Leonard tegas, lalu mengangkat tangan bebasnya untuk menyentuh wajah pria itu.

"Leonard, dengarkan aku. Kita sudah melewati begitu banyak hal bersama-sama. Kita menghadapi serangan musuh, kita menghadapi kutukan, dan kita membuktikan bahwa cinta kita lebih kuat dari segalanya. Jika Eldoria adalah tempat di mana takdir kita berada, maka aku akan pergi bersamamu. Aku tidak takut. Selama kamu ada di sisiku, aku bisa menghadapi apa pun, bahkan dunia lain sekalipun."

Mendengar ketegasan dan keberanian dalam suara Alexandria, rasa khawatir di hati Leonard perlahan mereda, digantikan oleh rasa bangga dan cinta yang semakin dalam. Ia tahu Alexandria benar. Mereka adalah tim. Mereka adalah satu. Tidak ada lagi 'aku' dan 'kamu', tapi 'kita'.

"Baiklah," kata Leonard akhirnya, dengan senyum tegas di wajahnya.

"Kalau begitu, kita akan bersiap. Kita tidak bisa tinggal di sini selamanya. Musuh sudah tahu di mana kita berada, dan panggilan pulang semakin kuat. Kita harus pergi ke Eldoria. Kita harus menghadapi Valerius, dan kita akan merebut kembali apa yang menjadi hakku—dan membangun masa depan kita di sana, bersama-sama."

Mereka pun mulai berbicara tentang rencana mereka. Alexandria mulai mengemasi barang-barang yang penting—buku catatan ayahnya, ramuan-ramuan obat yang ia buat, pakaian, dan beberapa kenangan berharga dari orangtuanya.

Leonard, di sisi lain, mulai mempersiapkan dirinya secara fisik dan mental. Ia berlatih mengendalikan kekuatan sihirnya yang semakin bangkit, berlatih bertarung dengan pedang yang ia buat sendiri dari kayu keras dan besi bekas yang ia temukan, memastikan bahwa ia cukup kuat untuk melindungi dirinya dan Alexandria.

Hari-hari berikutnya diisi dengan persiapan yang sibuk namun penuh semangat. Meskipun ada rasa sedih harus meninggalkan pondok yang telah menjadi rumah bagi Alexandria seumur hidupnya, ada juga rasa antusiasme untuk memulai petualangan baru, untuk menghadapi takdir mereka.

Suatu malam, sekitar seminggu setelah mereka memutuskan untuk pergi, Leonard dan Alexandria duduk di dekat perapian, menatap api yang menyala. Banyak barang sudah dikemas dan diikat rapi, siap untuk dibawa.

"Hari ini terakhir kita di sini," kata Alexandria pelan, matanya menyapu seluruh ruangan yang penuh kenangan.

"Rasanya aneh. Di sini tempat aku lahir, tempat aku tumbuh besar, dan tempat aku bertemu denganmu."

Leonard memeluk bahu Alexandria, menariknya agar bersandar ke dadanya.

"Rumah bukanlah sekadar bangunan kayu, Alexandria. Rumah adalah tempat di mana orang yang kamu cintai berada. Ke mana pun kita pergi, selama kita bersama, itu adalah rumah kita. Dan kelak, aku akan membangunkanmu rumah yang lebih indah dari ini di Eldoria, sebuah istana yang pantas untukmu."

Alexandria tersenyum, lalu menoleh dan mencium pipi Leonard.

"Aku tidak butuh istana, Leonard. Aku hanya butuh kamu."

Malam itu, mereka tidur dengan perasaan campur aduk—sedih, bahagia, cemas, namun penuh harapan. Mereka tahu bahwa esok hari, mereka akan melangkah keluar dari zona nyaman mereka, menuju dunia yang asing dan berbahaya. Tapi mereka juga tahu bahwa dengan cinta yang mereka miliki, mereka bisa menaklukkan apa pun.

Saat fajar menyingsing keesokan harinya, Alexandria dan Leonard berdiri di depan pintu pondok mereka yang sudah diperbaiki sementara. Mereka menatap rumah itu untuk terakhir kalinya, mengucapkan selamat tinggal pada kenangan-kenangan indah di sana.

"Siap?" tanya Leonard, menatap Alexandria sambil menggenggam tangan wanita itu erat-erat.

Di tangannya yang lain, ia memikul bekal dan barang-barang mereka dengan mudah.

Alexandria menarik napas panjang, lalu menatap Leonard dengan senyum berani.

"Siap. Ayo kita pergi, cintaku."

Mereka pun melangkah pergi, meninggalkan pondok kecil itu di tengah Hutan Aethelgard, berjalan menuju kedalaman hutan yang lebih lebat, menuju tempat di mana menurut buku catatan ayahnya dan ingatan Leonard, terdapat gerbang yang menghubungkan dunia manusia dengan Eldoria.

Perjalanan mereka baru saja dimulai. Di depan mereka menanti petualangan, bahaya, dan keajaiban. Tapi di samping masing-masing, mereka memiliki kekuatan terbesar di dunia: cinta satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!