[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
day one kiamat
Malam berlalu dengan hujan deras dan bulan merah yang terus bersinar sampai subuh. Lin Yan tertidur pulas di sofa ruang tamu, tubuhnya meringkuk nyaman di balik selimut tipis. Mimpi indah tentang makanan enak dan liburan di pantai mengisi alam bawah sadarnya.
Tiba-tiba...
【BANGUN! BANGUN! BANGUN! BANGUN! BANGUN!】
Suara Sistem Xiyue memekik di kepalanya seperti alarm kebakaran. Lin Yan mengerang, menarik selimut menutupi kepala. Tapi sistem tidak berhenti. Makin keras, makin nyaring, sampai kepalanya terasa mau pecah.
【BANGUN BODOH! JAM 4 PAGI! WAKTUNYA OLAHRAGA!】
"ARGH!" Lin Yan bangkit dengan mata melotot, rambut putihnya berantakan seperti sarang burung. Ia menatap jam dinding—04.03 pagi. Matanya memerah—lebih merah dari biasany—karena kesal. "KAU GILA?! JAM 4 PAGI SURUH OLAHRAGA?!"
【Kiamat sudah dimulai! Hari ini hari ketiga, zombie mulai bermunculan! Kau harus kuat! Katanya kamu mau lindungi adik tampanmu!】
Lin Yan menggeram, tapi kata "lindungi adik tampan" berhasil membuatnya sedikit tenang. Ia menghela napas panjang, mengusap wajah, lalu bangkit berdiri.
"Baik... baik... Aku akan olahraga. Tapi besok jangan jam 4 lagi!"
【Tergantung mood-ku.】
"Kurang ajar."
Lin Yan berjalan menuju kamar mandi di lantai satu. Ia membuka keran air panas, tapi baru beberapa detik, airnya berubah dingin. Cuaca di luar memang sudah aneh—dingin sekali meski baru awal musim.
"Hua... dingin!" teriaknya kaget saat air dingin mengguyur tubuhnya. Dengan terpaksa ia mandi cepat-cepat, menggigil sepanjang waktu. Giginya gemeletuk, tapi ia bertahan.
Setelah selesai, ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Kali ini ia memilih crop top hitam yang memperlihatkan sedikit perut rampingnya dengan otot-otot kecil yang mulai terbentuk, dipadukan celana olahraga hitam. Rambut putih panjang diikat tinggi menjadi sanggul ketat. Sarung tangan hitam kembali melindungi tangannya. Penampilannya kini seperti atlet profesional—atau pembunuh bayaran yang sedang pemanasan.
【Sudah siap?】
"Siap atau tidak, tetap dipaksa." Lin Yan menghela napas, lalu melangkah keluar kastil.
---
Udara pagi menusuk tulang. Dinginnya luar biasa, berbeda dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti hutan, membuat suasana terasa mistis. Lin Yan mulai berlari kecil di jalan setapak, awalnya dengan malas dan setengah hati. Langkahnya terseret-seret, matanya masih setengah terpejam.
Tapi setelah beberapa menit, sesuatu yang aneh terjadi. Tubuhnya terasa ringan, napasnya teratur, otot-ototnya bergerak dengan efisien. Pil pembersih sum-sum dan latihan sebelumnya mulai menunjukkan hasil. Darah mengalir lebih cepat, metabolisme meningkat, dan rasa malas perlahan tergantikan oleh energi yang melimpah.
Lin Yan mempercepat larinya. Ia melompat ke dahan pohon, lalu ke pohon lain, berlari di atas ranting-ranting seperti karakter film kungfu. Tubuhnya bergerak lincah, melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan mudah. Angin pagi menerpa wajahnya, terasa menyegarkan.
"Wah... enak juga!" serunya bersemangat. "Gila, ternyata olahraga pagi bikin nagih!"
Ia menjelajahi seluruh hutan seluas 10 hektar itu. Dari atas pohon tertinggi, ia bisa melihat pemandangan gunung yang diselimuti kabut. Sungai kecil berkelok di bawah, airnya berkilau terkena sinar matahari pagi yang mulai muncul.
Di tengah hutan, ia menemukan beberapa hewan liar: seekor elang hitam besar bertengger di pohon tinggi, beberapa burung pipit, dan beberapa ekor kelinci yang berlarian ketakutan. Semua hewan itu tampak sehat, belum terkena virus.
【Hewan liar. Bisa ditangkap untuk diternakkan atau dimakan.】
"Nanti saja. Kasihan." Lin Yan melompat turun dari pohon. "Tapi elangnya keren. Mungkin bisa jadi peliharaan. Nanti deh aku ambil."
Ia terus berlari, menikmati kebebasan dan kekuatan barunya. Namun tiba-tiba ia mendengar suara rintihan hewan dari kejauhan. Bukan rintihan biasa—suara kesakitan, seperti hewan yang terluka parah.
Lin Yan mengerutkan kening. Rasa penasarannya muncul. Ia berubah arah, mengikuti suara itu. Semakin dekat, suaranya semakin jelas—campuran erangan harimau dan lolongan serigala yang menyakitkan.
Setelah beberapa menit, ia tiba di sebuah clearing kecil. Dan di sana, matanya terbelalak.
Dua hewan buas tergeletak tidak jauh dari satu sama lain. Seekor harimau putih besar dengan loreng hitam—ukuran luar biasa, mungkin dua kali harimau normal—berbaring dengan luka dalam di perutnya, darah mengalir membasahi tanah. Di seberangnya, seekor serigala abu-abu raksasa dengan mata kuning bersinar terluka parah di kaki belakang dan leher, napasnya tersengal-sengal.
Di sekitar mereka, tanah hancur, pohon-pohon tumbang, bekas pertempuran sengit. Mereka sepertinya baru saja bertarung memperebutkan wilayah.
"Wow, ternyata di hutan ini ada hewan buas juga." Lin Yan menatap kagum kedua hewan itu. Matanya berbinar, bukan takut, tapi penasaran. "Gila, gede-gede banget. Harimau putih dan serigala raksasa. Kayak di film fantasi."
【Hutanmu ini merupakan hutan yang luas dengan pegunungan yang menyambung, tentu saja akan ada banyak hewan buas. Tapi karena mereka berada di wilayahmu, mereka tidak akan terkena virus zombie dan akan seperti hewan pada umumnya sebelum kiamat.】
"Wow, mantap." Lin Yan mendekat perlahan. "Tapi mereka terluka parah. Kasihan. Gimana cara menyembuhkannya?"
【Coba gunakan kekuatanmu. Kekuatanmu kan kehendak tersendiri, jadi kekuatan penyembuhan sepertinya bisa digunakan.】
"Bagaimana cara menggunakannya?"
【Menurut data sistem, kamu bisa menyentuh area luka itu lalu bayangkan luka itu sembuh. That's simple.】
"Oke, oke."
Lin Yan mendekati kedua hewan itu. Begitu mereka sadar akan kehadirannya, kedua hewan itu langsung waspada. Harimau putih itu mengerang, memperlihatkan taring panjangnya. Serigala abu-abu juga menunjukkan giginya, matanya menyipit mengancam. Mereka mungkin terluka, tapi insting buas mereka masih kuat.
Tapi Lin Yan? Ia bahkan lebih menyeramkan daripada hewan buas. Dengan santai ia berjalan mendekat, tanpa rasa takut sedikit pun. Matanya yang merah delima menatap mereka dengan tenang, bahkan sedikit bosan.
"Aku tidak akan menyakiti kalian berdua." Suaranya lembut, seperti berbicara pada anak kecil. "Aku akan menyembuhkan kalian. Jadi diam, jangan macam-macam."
Awalnya mereka tetap tidak percaya, masih menggeram. Tapi setelah beberapa saat menatap Lin Yan—melihat tidak ada niat jahat di mata manusia aneh ini—mereka perlahan mundur. Harimau itu menjatuhkan kepalanya, menyerah. Serigala juga mengendurkan otot-ototnya, meski matanya tetap awas.
Lin Yan tersenyum puas. Ia berjalan ke arah harimau itu terlebih dahulu. Luka di perutnya parah—sobekan dalam, hampir memperlihatkan isi perut. Darah terus mengalir. Dengan hati-hati, ia meletakkan tangannya di area luka itu.
Ia memejamkan mata, berkonsentrasi. "Sembuh."
Seketika, cahaya hijau keemasan menyelimuti telapak tangannya. Cahaya itu merambat ke luka harimau, dan dalam hitungan detik, luka itu menutup, jaringan kulit baru tumbuh, bulu-bulu putih tumbuh kembali seolah tidak pernah terluka.
Harimau itu terkejut. Ia menjilati area yang tadinya luka, matanya berbinar bingung. Luka itu benar-benar hilang tanpa bekas.
Lin Yan tidak menunggu reaksinya. Ia langsung beralih ke serigala. Kaki belakang serigala itu hampir putus, tulang terlihat dari balik daging robek. Lehernya juga penuh bekas cakaran. Lagi-lagi Lin Yan meletakkan tangan, membayangkan kesembuhan.
Cahaya hijau kembali muncul. Luka-luka serigala menutup, tulang menyambung kembali, daging tumbuh, kulit menutup rapi. Dalam beberapa detik, serigala itu sudah bisa menggerakkan kaki belakangnya dengan normal.
Kedua hewan itu menatap Lin Yan dengan campuran kaget dan heran. Mereka menjilati tubuh mereka sendiri, mencari kemana luka-luka itu pergi. Harimau itu bahkan berputar-putar, tidak percaya.
【Tuh kan, berhasil.】
"Iya. Gampang ternyata."
【Ngomong-ngomong, kenapa tidak kamu kontrak saja kedua hewan itu? Sepertinya mereka merupakan raja harimau dan raja serigala yang memperebutkan wilayah. Jika kamu bisa kontrak dengan mereka, kamu mungkin bisa mendapatkan hewan tunggangan yang cepat dan penjaga yang kuat.】
"Memangnya bisa? Bagaimana caranya?"
【Dengan menggunakan darah. Tapi coba tanya mereka dulu, setuju atau tidak. Meskipun dengan kekuatanmu, mungkin mereka tidak bisa menolak, tapi lebih baik dengan persetujuan.】
Lin Yan mengangguk. Ia berbalik menghadap kedua hewan itu, yang kini sudah berdiri dan menatapnya dengan rasa hormat bercampur takjub.
"Hei, kalian berdua." Suaranya tegas. "Dengar. Semua wilayah ini—hutan, gunung, sungai—milikku. Aku yang punya. Jadi kalian tidak berhak memperebutkan wilayah di sini."
Kedua hewan itu saling pandang, bingung.
"Tapi," lanjut Lin Yan, nadanya sedikit melunak, "kalau kalian berdua ingin tetap tinggal di pegunungan ini, kalian harus menjadi hewan kontrakku. Artinya, kalian setuju untuk menurut padaku, dan aku akan melindungi kalian. Setuju?"
Harimau dan serigala itu menatapnya, lalu saling memandang lagi. Seolah berkomunikasi tanpa suara. Beberapa detik berlalu, lalu mereka berdua menganggukkan kepala. Harimau itu bahkan mendekat, menggosokkan kepalanya ke kaki Lin Yan—tanda tunduk dan setia.
Lin Yan tersenyum lebar. "Bagus!"
Ia menggigit jari telunjuknya hingga berdarah—sedikit sakit, tapi ia sudah terbiasa. Menurut petunjuk sistem, ia meneteskan darahnya ke dahi kedua hewan itu. Darah merah menyatu dengan bulu, lalu meresap masuk.
Sesaat tidak terjadi apa-apa. Lin Yan hampir protes, tapi tiba-tiba...
"Tuan..." Suara berat dan dalam bergema di kepalanya. "Kami bersedia mengikuti Tuan."
Lin Yan menoleh ke harimau itu. Mulutnya tidak bergerak, tapi suara itu jelas datang darinya.
"Benar, benar." Suara lain, lebih tinggi sedikit, tapi tetap berwibawa, ikut berbicara. Itu serigala. "Tolong jangan usir kami. Kami janji tidak akan bertengkar lagi. Dan... Tuan masih punya keluarga, kami bisa bantu menjaganya."
Mata Lin Yan berbinar. "Wah... jadi kalian bisa bicara di kepalaku?"
【Itu efek kontrak. Mulai sekarang kalian bisa berkomunikasi secara mental.】 jelas sistem.
"Keren!" Lin Yan bersemangat. "Baiklah, kalian berdua. Aku tidak akan mengusir kalian. Tugas kalian adalah menjaga wilayah pegunungan ini—termasuk hutan, sungai, dan sekitarnya. Jangan biarkan orang jahat atau zombie masuk. Kalau ada bahaya, kabari aku."
"Baik, Tuan." jawab mereka serempak.
Lin Yan menatap harimau itu. Bulunya putih bersih dengan loreng hitam, ukuran tubuh luar biasa. "Kau, mulai sekarang namamu Baihu (Harimau Putih). Karena bulumu putih dan kau raja di sini."
Harimau itu mengaum pelan, setuju.
Lin Yan beralih ke serigala. "Kau, namamu Lang Shen (Dewa Serigala). Kau akan jadi pemimpin kelompok serigala di gunung ini."
Serigala itu melolong pendek, ekornya bergoyang.
"Bagus. Sekarang pergi, aku mau lanjut latihan. Nanti kalau butuh sesuatu, aku panggil."
Kedua hewan itu membungkuk hormat—sebisa mereka—lalu berbalik dan memasuki hutan lebih dalam. Baihu melompat dengan ringan meski tubuh besar, Lang Shen berlari cepat meninggalkan clearing.
Setelah mereka pergi, Lin Yan baru mulai heboh. Ia melompat-lompat kecil, tangannya mengepal semangat. "WOW! GILA! JADI AKU BISA DENGAR UCAPAN MEREKA! INI KAYA ANIME!"
【Hewan yang dikontrak akan otomatis bisa berkomunikasi dengan tuannya. Semakin kuat tuannya, maka semakin kuat juga mereka.】
"Wow, ini mah namanya ngecheat level dewa!"
【Iya, seperti itulah. Sekarang lanjutkan latihanmu. Mari lakukan latihan neraka level yang lebih tinggi.】
Senyum Lin Yan langsung lenyap. "NOOO!!!"
---
Tiga jam kemudian, Lin Yan kembali ke kastil dalam keadaan mengenaskan. Rambut putihnya yang indah kini kusut dan seperti habis terbakar—beberapa helai gosong di ujungnya. Crop top hitamnya robek di sana-sini, memperlihatkan lecet-lecet di kulitnya. Celana olahraganya juga compang-camping, seperti habis digerogoti anjing. Wajahnya hitam oleh jelaga dan keringat.
Latihan kali benar-benar neraka. Sistem melemparkan bola api ke arahnya, dan ia harus bisa mengendalikan bola api itu—menghentikannya, membalikkannya, atau mengubahnya jadi bentuk lain. Belum selesai dengan api, tiba-tiba ia diterjunkan ke sungai dan harus mengendalikan air. Lalu petir menyambar-nyambar di sekitarnya, dan ia harus menghindar sambil mencoba menangkapnya.
Ia selamat, tapi hampir mati berkali-kali.
Di dapur kastil, Lin Feng sedang sibuk. Di atas meja makan marmer, tersaji sarapan mewah: bubur ayam hangat dengan suwiran ayam dan cakwe, youtiao goreng renyah, telur dadar gulung, tahu poki goreng, dan segelas susu kedelai hangat. Aroma sedap memenuhi seluruh ruangan.
Saat Lin Yan masuk dengan keadaan seperti habis perang, Lin Feng menoleh. Awalnya ia tersenyum, lalu senyum itu luntur seketika. Matanya membelalak.
"Y-ya ampun, Jie! Kamu dari mana saja sampai seperti gembel gitu?!" serunya. "Mana rambutmu kayak habis terbakar! Baju dan celanamu robek-robek! Muka item! Kamu jatuh ke jurang atau habis ke neraka?!"
Lin Yan mendengar pernyataan itu. Dalam hati ia ingin berkata, "kurang tepat, Aku baru selesai latihan yang benar-benar neraka! Dari hampir dibuat hangus oleh bola api, mati tenggelam di air, mati disambar petir, dan masih banyak lagi! Aku beruntung punya kekuatan, kalau tidak sudah berapa kali mati!"
Tapi kata-kata itu tidak bisa ia ucapkan. Ia hanya menghela napas, lalu berkata dengan suara serak, "Kamu terlalu banyak bicara. Aku mau ke atas mandi dan memperbaiki diri."
Lin Feng cemberut, tapi tetap perhatian. "Baiklah, baiklah. Cepat mandi dulu. Aku buatkan sarapan, nanti dingin kalau keburu lama."
Lin Yan menatap meja makan, lalu menatap adiknya. Matanya berkaca-kaca—pura-pura terharu, tentu saja. "Feng'er... kakak tidak tahu kau bisa masak seenak ini."
"Aku belajar otodidak, Jie." Lin Feng tersenyum malu, menggaruk tengkuknya. "Jie kan sering pergi, jadi aku masak sendiri di rumah dulu. Lumayan buat ngisi waktu."
Lin Yan mengangguk, lalu berlari naik ke lantai tiga. Lima belas menit kemudian, ia turun dengan pakaian baru: kaos merah menyala—warna kontras yang jarang ia pakai—dan jeans hitam. Rambut putihnya diikat ekor kuda tinggi dengan pita hitam, sarung tangan hitam kembali menutupi tangannya. Penampilannya kontras—merah menyala di atas, hitam pekat di bawah—tapi justru terlihat unik.
"Wah, Jie cantik!" puji Lin Feng jujur.
"Cantik atau tidak, yang penting lapar." Lin Yan duduk di kursi utama, langsung mengambil sendok dan menyerbu bubur ayam.
Mereka makan dengan lahap. Lin Yan memuji setiap masakan adiknya—buburnya gurih, youtiao-nya renyah, tahunya lembut—membuat Lin Feng tersipu malu senang. Setelah kenyang, Lin Feng memberanikan diri bertanya.
"Jie... setelah ini kita ngapain? Hari ini kan hari ketiga, kata Jie zombie mulai muncul."
Lin Yan mengusap mulut dengan serbet. "Iya. Hari ini hari ketiga. Besok dan seterusnya akan makin parah. Tapi kita tidak bisa diam saja di sini terus."
"Maksud Jie?"
Lin Yan berdiri, berjalan ke jendela besar ruang tamu. Di luar, kabut mulai menghilang, tapi langit masih kelabu. Matahari bersinar redup, warnanya kekuningan tidak normal.
"Sekarang, seluruh hutan ini wilayah kita. Tapi kita harus kuat. Fisik kita harus siap." Ia menoleh pada adiknya. "Kau ikut Jie ke hutan. Jie akan latih kau."
Lin Feng membelalak. Matanya melebar horor. "L-Latih?"
"Push up, squat jump, lari, panjat pohon. 500 kali masing-masing." Lin Yan tersenyum—senyum yang menurut Lin Feng lebih menakutkan daripada seribu zombie.
Dalam batin Lin Yan, ia berpikir, "Mampus, yakali aku mau latihan yang hampir merenggut nyawa sendiri sendirian. Setidaknya harus punya teman."
【Kau benar-benar mencari teman untuk ikut susah bersama.】
"Biarin, dia adikku, jadi bebas ku apain."
Lin Yan menatap Lin Feng yang masih terpaku dengan ekspresi ngeri.
"J-JIE! 500 KALI?!"
"Jangan protes. Ayo. Sekarang juga."
---
Dua jam kemudian, di tengah hutan, Lin Feng tergeletak di tanah berlumut. Tubuhnya bersimbah keringat, napasnya tersengal-sengal seperti habis lari maraton. Ia baru menyelesaikan 500 push up dan 500 squat jump—di bawah pengawasan ketat kakaknya yang duduk santai di dahan pohon sambil makan apel merah segar.
"Jie... kejam..." rintihnya, suaranya hampir putus asa.
"Sedikit lagi." Lin Yan menggigit apelnya dengan suara renyah. "Lari keliling hutan 10 putaran. Ayo, semangat. Kau laki-laki, harus kuat."
Lin Feng menggeram, memaksa diri berdiri. Kakinya gemetar, tapi ia mulai berlari. Pelan-pelan, lalu makin cepat. Ajaibnya, setelah beberapa putaran, tubuhnya terasa lebih ringan. Napasnya lebih teratur. Otot-ototnya mulai terbiasa dengan beban.
Tanpa ia sadari, di balik semak-semak, Baihu dan Lang Shen mengamati. Mereka duduk tenang, menonton "pertunjukan" ini dengan kepala miring.
【Tuan, hewan-hewanmu mengawasi.】
"Biarkan saja. Mereka juga perlu kenal anggota keluarga baru."
---
Dua hari latihan intensif berlalu. Tanpa diketahui Lin Feng, latihan yang ia jalani hanyalah latihan fisik biasa. Sementara Lin Yan di waktu-waktu terpisah menjalani latihan simulasi hidup-mati yang benar-benar gila. Tapi hasilnya, Lin Feng mulai menunjukkan kemajuan.
Pagi hari ketiga, ia sudah bisa berlari keliling hutan tanpa tersengal. Ia juga bisa memukul pohon dan membuat lubang sebesar kepalan di batangnya. Kekuatannya meningkat drastis.
"Jie, lihat!" serunya bangga, memamerkan lubang di pohon. "Aku bisa!"
Lin Yan mengangguk puas. "Bagus. Sekarang kau siap."
"Siap buat apa?"
Lin Yan menatap ke arah kota di kejauhan. "Kita turun ke kota. Lihat keadaan."
---
Pagi hari ketiga, langit cerah tapi aneh. Matahari bersinar, tapi warnanya kekuning-kuningan, tidak normal. Awan-awan tipis berwarna abu-abu bergerak lambat. Udara terasa berat.
Lin Yan dan Lin Feng naik ke mobil militer modifikasi—hitam doff, kaca anti peluru, ban run-flat, dan plat baja di beberapa bagian. Mobil ini paling aman untuk turun ke zona bahaya.
Mereka melaju meninggalkan kastil, melewati gerbang besar dengan ukiran mawar. Baihu dan Lang Shen muncul di pinggir hutan, mengawasi kepergian mereka.
"Jaga tempat ini baik-baik," pesan Lin Yan melalui pikiran.
"Siap, Tuan." jawab mereka serempak.
Semakin dekat ke pusat kota, suasana makin mencekam. Jalanan mulai sepi, hanya beberapa mobil terparkir acak. Di pinggir jalan, toko-toko tutup rapat, beberapa etalase pecah. Suara sirine ambulans terdengar di kejauhan, bersahutan, tidak pernah berhenti.
Beberapa mobil terbengkalai di pinggir jalan, pintu terbuka, barang-barang berhamburan. Koper tergeletak, pakaian berserakan, sepatu-sepatu tertinggal. Seperti orang-orang kabur tergesa-gesa.
Di sebuah persimpangan, mereka melihat pemandangan mengerikan. Sebuah ambulans berhenti di tengah jalan, pintu belakang terbuka lebar. Dua petugas medis berusaha menahan seorang pasien—pria paruh baya dengan piyama rumah sakit. Pasien itu tiba-tiba terbangun, matanya putih susu, tubuhnya kejang-kejang. Lalu dengan kekuatan aneh, ia membalikkan badan dan menggigit leher petugas di depannya.
"AAAAHHH!"
Jeritan memekakkan telinga, bahkan terdengar dari dalam mobil. Petugas lain mencoba menolong, tapi pasien itu sudah beralih, menggigit siapa pun di dekatnya. Dalam hitungan detik, tiga orang sudah tergeletak bersimbah darah.
"Zombie..." bisik Lin Feng, wajahnya pucat pasi. Tangannya menggenggam jok erat-erat.
Orang-orang di sekitar mulai panik. Seorang reporter wanita bersama juru kameranya sedang melaporkan berita dari pinggir jalan. Mikrofon di tangan, kamera menyala.
"Warga yang terhormat, kami berada di pusat kota menyaksikan—"
Belum selesai kalimat, seorang zombie menerjang dari samping, menggigit lehernya. Darah muncrat, mikrofon jatuh, tubuhnya roboh. Kamera jatuh ke aspal, tapi masih merekam—kini hanya gambar langit dan kaki-kaki yang berlarian panik.
"Jie... Jie..." Lin Feng gemetar di kursi penumpang. Ia belum pernah melihat kekejaman seperti ini.
Dari kaca spion, Lin Yan melihat seorang wanita muda berlari ke arah mobil mereka. Wajahnya penuh ketakutan, tangannya mengetuk kaca dengan panik.
"TOLONG! BUKA PINTU! TOLONG! MEREKA DATANG!"
Lin Feng menoleh, matanya memohon pada kakaknya. "Jie, dia... dia minta tolong..."
"Tidak." Suara Lin Yan datar, tanpa emosi.
"TAPI JIE—"
"Dia sudah digigit." Lin Yan menunjuk leher wanita itu dengan dagu. Di sana, bekas gigitan menganga, darah mengalir deras membasahi bajunya. "Buka pintu, dia akan masuk dan menggigit kita."
Lin Feng membeku. Wanita itu terus mengetuk, wajahnya penuh ketakutan, tapi di matanya mulai muncul warna putih susu—perlahan tapi pasti.
"Tolong... tolong..." suaranya melemah, lalu tiba-tiba matanya berubah putih seluruhnya. Tangannya yang tadinya mengetuk, mulai mencakar kaca dengan liar. Kuku-kukunya menggores kaca anti peluru, meninggalkan bekas tipis.
Lin Yan menginjak gas. Mobil melaju kencang meninggalkan wanita itu yang berubah jadi zombie, masih mengejar mereka beberapa langkah dengan lari kaku sebelum akhirnya tertinggal.
---
Mereka tiba di pusat kota—atau sisa-sisanya. Jalanan utama yang biasanya ramai kini porak-poranda. Toko-toko hancur, etalase pecah, barang-barang berhamburan keluar. Beberapa mobil terbakar, asap hitam mengepul ke langit kelabu. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana—di trotoar, di tengah jalan, tergeletak dengan posisi mengerikan.
Di kejauhan, terdengar teriakan minta tolong yang perlahan berubah jadi jeritan, lalu diam. Suara erangan zombie terdengar dari berbagai arah.
Lin Yan memarkir mobil di depan sebuah toko elektronik yang relatif utuh—pintu kacanya masih utuh, hanya beberapa retak. Ia turun, membuka pintu belakang mobil, dan mengeluarkan sebilah pedang Jian—pedang lurus khas Tiongkok dengan bilah berkilau—dari bagasi.
"Kau tunggu di dalam." perintahnya singkat.
"JIE! JANGAN!" Lin Feng panik, mencoba meraih tangan kakaknya. "DI LUAR BANYAK ZOMBIE! KITA BISA PERGI DARI SINI!"
"Makanya kakak mau lihat." Lin Yan tersenyum—senyum yang tidak normal. Senyum yang memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Aman. Duduk manis."
Ia menutup pintu mobil, mengunci dari remote, lalu berjalan ke arah keramaian—atau bekas keramaian. Lin Feng menatap dari balik kaca dengan jantung berdebar kencang, keringat dingin mengalir di pelipis.
Lin Yan berjalan santai, pedang di tangan kanan, langkahnya tidak terburu-buru. Matanya merah delima memindai sekeliling dengan tenang, seperti predator yang sedang mencari mangsa.
Dari balik mobil terbalik, tiga zombie muncul. Pakaian mereka—seorang pria berkemeja kantor, seorang wanita dengan seragam SPBU, seorang remaja laki-laki—masih menunjukkan profesi mereka sebelum berubah. Mereka langsung menyerang dengan gerakan kaku tapi cepat.
Dan Lin Yan mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Lin Feng.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku belakang celananya, mengarahkan kamera ke dirinya sendiri, lalu mulai berbicara dengan suara ceria.
"Hey, ges! Jadi ini day one kiamat!" Kamera menunjukkan wajahnya yang tersenyum lebar, sama sekali tidak terlihat takut. "Lihat ini zombie—" Kamera beralih ke tiga zombie yang mendekat. "Zombie ini akan memakanmu, dan kamu akan menjadi zombie. Jadi jika tidak mau jadi zombie, segera lah membunuhnya!"
Dengan santai, ia mengayunkan pedang. Satu tebasan horizontal, kepala zombie pertama terbang. Tubuhnya masih berdiri beberapa detik sebelum roboh.
Langkah ke samping, hindari serangan zombie kedua—seorang wanita SPBU yang mencoba menggigit lehernya. Pedang berputar di tangannya, lalu menusuk tepat di ulu hati. Zombie itu terpaku, lalu jatuh.
Zombie ketiga—remaja laki-laki—mencoba menerjang dari belakang. Lin Yan berputar cepat, tendangan melayang menghajar kepala zombie hingga terbang beberapa meter. Mungkin lehernya patah, karena ia tidak bergerak lagi.
"Lihat itu! Tendangan maut!" Lanjutnya vlog sambil merekam zombie yang terkapar. Kameranya stabil, tidak goyah. "Tips dari gue: jangan panik. Zombie itu lambat. Mereka hanya menakutkan kalau kau takut. Tapi kalau kau gila seperti gue? Mereka yang takut."
Ia berjalan lagi, melewati mayat-mayat, menemukan tiga zombie lain di depan toko swalayan. Seorang pria bertelanjang dada, seorang wanita hamil dengan perut membesar, dan seorang anak kecil mungkin 8 tahun—semuanya sudah jadi zombie.
Lin Yan menghela napas. "Kasihan, ada anak kecil." Tapi tanpa ragu, ia membantai mereka dengan gaya yang sama sambil terus berbicara ke kamera. Pedangnya bekerja seperti pisau panas di mentega.
"Oke ges, segitu dulu vlog dari gue. Gue mau cari zombie lain. Oh iya, kalau punya adik tampan, jagain baik-baik. Mereka aset berharga di masa kiamat. Dah!"
Ponsel dimasukkan ke saku. Senyumnya meredup, berganti ekspresi fokus. Dan Lin Yan mulai membantai zombie dengan serius—gerakannya cepat, tepat, mematikan. Pedang Jian di tangannya seperti perpanjangan tubuh, setiap tebasan menemukan sasaran. Tidak ada gerakan sia-sia.
Di dalam mobil, Lin Feng menatap dengan mulut terbuka lebar. Matanya tidak percaya melihat apa yang baru saja terjadi. Kakaknya—yang selama ini ia kenal aneh dan pemalas—tiba-tiba berubah menjadi mesin pembunuh zombie yang menakutkan.
Tiba-tiba...
【Kakak perempuanmu benar-benar gila dan tidak waras.】
Lin Feng menoleh kaget setengah mati. Kepalanya memutar ke kiri kanan, mencari sumber suara. "S-Siapa itu?! Di mana kau?!"
Tidak ada siapa pun di dalam mobil. Hanya dia sendiri.
【Bukan siapa-siapa.】
"Ha-ha?!" Lin Feng semakin bingung. "Kau siapa sebenarnya?! Jangan bikin takut!"
Suara itu menghela napas—suara digital yang bisa ia dengar jelas di kepalanya.
【Lupakan aku dulu. Lihat kakakmu—】 Sistem Xiyue terdengar sedikit lelah. 【Aku sudah beberapa hari bersamanya, dan aku masih tidak bisa memahami cara kerjanya. Satu menit dia manja dan minta dipijit, menit berikutnya dia psikopat pembunuh zombie. Kau tahu dia baru saja vlog di tengah-tengah pembantaian?】
Lin Feng mengangguk pelan, masih shock. "A-aku juga tidak paham. Tapi... dia kakakku. Dan dia menyelamatkanku."
【Kau anak baik. Semoga kau bisa menjaganya tetap waras—atau setidaknya, tetap hidup.】
"Kau... apa kau sebenarnya?"
Tidak ada jawaban. Suara itu menghilang.
Di luar, Lin Yan selesai membantai zombie terakhir di sekitar area itu. Mungkin belasan mayat bergelimpangan di sekelilingnya. Darah hitam memenuhi aspal. Ia berjalan kembali ke mobil dengan pedang berlumuran darah, wajahnya tenang, bahkan tersenyum kecil puas.
Lin Feng turun dari mobil, menatap kakaknya. "Jie... kau tadi... vlog?"
"Iya." Lin Yan mengibaskan darah dari pedangnya, lalu membersihkannya dengan kain yang ia ambil dari bagasi. "Buat kenang-kenangan. Biar ada bukti kalau kita hidup di masa kiamat. Nanti kalau sudah tua, bisa ditonton lagi. Seru, kan?"
"Seru?" Lin Feng menggeleng tak percaya. "Jie, kau benar-benar gila."
"Iya, aku tahu." Lin Yan mengacak rambut adiknya—rambut hitam legam yang lembut. "Tapi berkat kegilaanku, kita bisa bertahan. Ayo, kita lihat sekeliling. Mungkin ada yang bisa diselamatkan. Atau barang-barang berguna."
Lin Feng menghela napas panjang. Ia menatap sekeliling—kota yang hancur, mayat-mayat bergelimpangan, api di mana-mana, dan suara erangan zombie di kejauhan. Lalu ia menatap kakaknya yang sedang bersih-bersih pedang sambil bersiul riang.
"Aku berdoa semoga Tuhan memberkati kegilaan Jie," gumamnya lirih.
【Amin.】
"SIALAN SUARA ITU LAGI!" teriak Lin Feng kaget sambil melompat mundur.
Lin Yan menoleh, alisnya terangkat. "Suara apa?"
"T-Tidak apa-apa, Jie." Lin Feng menggeleng cepat, masih gelisah.
Lin Yan mengangkat bahu, lalu kembali bersiul. Iramanya riang, tidak cocok dengan suasana sekeliling.
Di langit kelabu, matahari bersinar aneh—kekuningan, redup, seperti bola lampu yang hampir mati. Awan hitam mulai berkumpul di ufuk barat. Angin bertiup lebih kencang, membawa bau anyir darah dan asap.
Dunia baru saja berubah selamanya.