Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata
Bau asap yang menyesakkan dada menyapa Gavin Wirya Aryaga bahkan sebelum mobilnya benar-benar berhenti di depan gedung pusat Aryaga Kitchenware. Langit Jakarta yang biasanya hitam pekat kini berubah warna menjadi jingga kemerahan yang mengerikan. Lidah api menjilat-jilat dari lantai lobi hingga ke lantai tiga, melahap tirai-tirai mahal, dokumen bersejarah tiga generasi, dan impian yang dibangun dengan keringat serta air mata.
Gavin melompat keluar dari mobil, matanya nanar menatap kehancuran di depannya. Di tengah riuh rendah teriakan karyawan dan bunyi klakson yang bersahutan, ia sempat menangkap sesosok bayangan di balik kepulan asap tebal. Itu Aris Wicaksana.
Aris berdiri di dekat pintu darurat, memegang jerigen kosong yang baunya menyengat. Wajahnya yang kotor oleh jelaga tersenyum lebar saat matanya bertemu dengan Gavin. Ia melambaikan tangan dengan gerakan teatrikal yang gila, lalu menghilang ke dalam gang gelap di samping gedung tepat saat suara ledakan kecil kembali terdengar dari dalam lobi.
"ARIS! JANGAN LARI!" teriak Gavin, namun langkahnya tertahan oleh petugas keamanan yang menariknya mundur.
"Jangan masuk, Pak! Lantai atas bisa ambruk kapan saja!"
Beberapa menit kemudian, barisan truk pemadam kebakaran meraung membelah kemacetan, menyemprotkan air dengan tekanan tinggi. Namun, api seolah enggan menyerah. Butuh waktu berjam-jam hingga si jago merah benar-benar jinak. Saat fajar menyingsing, kemegahan Menara Aryaga kini hanya menyisakan kerangka hitam yang berasap. Setengah bangunan itu hancur, menyisakan puing-pusing masa lalu yang berserakan.
Gavin berdiri di trotoar, kemejanya kini legam oleh debu. Ia tidak menangisi bangunan itu. Ia menangisi kenyataan bahwa Aris telah bertransformasi menjadi hantu yang tidak lagi memiliki rasa takut akan hukuman.
****
Di villa pegunungan, suasana jauh dari kata damai. Devina duduk di sudut perpustakaan, menatap ponselnya dengan tangan gemetar. Ia baru saja menghubungi Raka, manajernya.
"Raka, batalkan semua. Syuting iklan minggu depan, talkshow kuliner, semuanya. Jangan beritahu lokasi baruku pada siapa pun, termasuk pihak stasiun TV," perintah Devina dengan suara parau.
"Tapi Dev, kontraknya—"
"Aku tidak peduli soal kontrak atau denda, Raka! Nyawa ibuku dan Bu Imroh lebih penting dari karierku!" Devina menutup telepon dan melempar benda itu ke atas meja.
Ia merasa seperti tahanan di dalam rumah mewah. Ia, yang biasanya lincah di depan kamera dan cekatan di dapur, kini merasa tak berdaya. Setiap kali angin bertiup kencang hingga menggoyahkan dahan pohon di luar, jantungnya seolah melompat keluar. Ia melihat Bu Ines yang kini sering melamun di dekat jendela, dan Pak Pamuji yang terus berjaga di pintu depan dengan raut wajah yang menua sepuluh tahun dalam semalam.
Di kamar sebelah, suara zikir Bu Imroh masih terdengar samar, menjadi satu-satunya melodi tenang di tengah badai kecemasan yang melanda mereka.
****
Aris tidak melarikan diri untuk bersembunyi. Ia melarikan diri untuk memburu. Di sebuah gudang rongsokan di pinggiran kota, ia membuka sebuah laptop curian. Matanya yang merah dan cekung menatap layar yang menampilkan rekaman GPS dari sebuah alat pelacak kecil yang sempat ia tempelkan di bawah mobil pengawal Gavin saat keributan di apartemen tempo hari.
Jari-jarinya yang kasar bergerak di atas keyboard. Sebuah titik merah berkedip di area perbukitan yang sepi.
"Ketemu," bisik Aris. Suaranya terdengar seperti gesekan ampelas di atas kayu kering.
Ia menyeringai tajam. Kegagalan-kegagalannya sebelumnya bukan dianggap sebagai kekalahan, melainkan pemanasan. Kini, dengan hancurnya kantor Gavin, ia merasa telah memenangkan ronde pertama. Ia telah melukai kebanggaan Gavin, dan sekarang saatnya mengambil kembali apa yang ia anggap sebagai hak miliknya: Devina. Dan tentu saja, memastikan saksi kunci dari kematian Salsa—Bu Imroh—tidak akan pernah berbicara lagi.
Aris mengambil tas ranselnya yang berisi sisa peluru dan bahan bakar. Ia tidak butuh banyak orang. Ia adalah gerilya yang lahir dari dendam.
"Kalian pikir gunung bisa menyembunyikan kalian dariku?" Aris tertawa sendiri, sebuah tawa yang berakhir dengan batuk karena paru-parunya masih terisi asap kebakaran kantor Gavin.
****
Gavin kembali ke villa pada tengah malam setelah berkoordinasi dengan kepolisian di Jakarta. Begitu ia masuk, Devina langsung menghambur memeluknya. Bau asap yang menempel di jaket Gavin membuat Devina sadar betapa mengerikannya situasi di kota.
"Gedungnya... bagaimana?" tanya Devina lirih.
"Hancur setengahnya, Dev. Tapi itu bisa dibangun lagi. Yang penting sekarang adalah kalian," jawab Gavin sambil mengusap kepala Devina. Namun, mata Gavin tidak bisa menyembunyikan kegelisahan.
Ia segera memanggil kepala tim keamanannya di villa. "Perketat perimeter. Aku punya perasaan Aris tidak akan menunggu lama. Dia sudah membakar jembatannya, dia tidak akan ragu melakukan apa pun sekarang."
Gavin tidak tahu bahwa saat itu, hanya beberapa kilometer dari gerbang villa, sebuah mobil tua dengan lampu mati sedang merayap perlahan di jalan setapak perbukitan. Di dalamnya, Aris Wicaksana sedang mengamati villa tersebut melalui teropong malam.
Ia melihat bayangan Devina di balik jendela. Ia melihat penjaga yang berkeliling. Dan yang paling penting, ia melihat jalan masuk rahasia yang mungkin terabaikan oleh tim keamanan Gavin.
"Sebentar lagi, Devina. Sebentar lagi kita akan 'bersatu' kembali, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi. Bahkan maut sekalipun," gumam Aris sambil mulai mengokang senjatanya.
Di dalam villa, Bu Imroh tiba-tiba menghentikan zikirnya. Ia merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menoleh ke arah jendela yang tertutup rapat, merasakan kehadiran kegelapan yang sangat pekat sedang mendekat.
Pertempuran terakhir bukan lagi di studio televisi atau di lobi gedung pencakar langit. Pertempuran itu kini berpindah ke tanah sunyi yang dingin, di mana hanya satu dari mereka yang akan keluar sebagai pemenang.
****
Malam di lereng pegunungan itu mendadak pecah oleh suara kaca yang berdentum hancur. Kegelapan yang tadinya sunyi kini dipenuhi oleh jeritan dan deru napas yang memburu. Aris Wicaksana, dengan kegilaan yang sudah mencapai puncaknya, berhasil menembus celah keamanan di sisi belakang villa yang terjal. Ia bergerak seperti bayangan hitam yang membawa maut, melewati penjaga yang lengah dalam kabut tebal.
"Siapa itu?!" teriak seorang pengawal, namun sebuah hantaman benda tumpul dari Aris membuatnya tersungkur sebelum sempat menarik pelatuk.
Tujuannya bukan Devina—bukan sekarang. Ia butuh umpan. Ia butuh menghancurkan fondasi moral lawannya. Dan di kamar sudut yang harum akan aroma minyak kayu putih dan doa, ia menemukan sasarannya.
Bu Imroh baru saja meletakkan tasbihnya saat pintu kamarnya didobrak paksa. Belum sempat ia memanggil nama Tuhan, tangan kasar Aris sudah membekap mulutnya. Sebuah hantaman keras di tengkuk membuat wanita tua itu kehilangan kesadaran seketika. Tubuhnya yang ringkih terkulai seperti boneka kain di pelukan pria yang telah membantai putrinya.
"Ibu! Ibu Imroh!"
Devina berlari keluar dari ruang tengah, diikuti oleh Gavin yang sudah memegang senjata. Namun mereka terlambat. Mereka hanya melihat bayangan Aris yang sedang menyeret tubuh pingsan Bu Imroh menuju mobil tua yang terparkir di semak-semak luar pagar.
"ARIS! LEPASKAN DIA!" raung Gavin. ia melepaskan tembakan peringatan, namun Aris justru tertawa histeris sambil membanting pintu mobilnya.
"Kalau mau dia hidup, kejar aku ke tempat semuanya bermula, Gavin!" teriak Aris dari balik jendela mobil yang melesat membelah kabut.
Gavin segera melompat ke SUV-nya, memacu mesin dengan kecepatan gila, namun medan pegunungan yang berliku dan kabut yang turun tiba-tiba menjadi sekutu bagi Aris. Dalam hitungan menit, lampu belakang mobil Aris lenyap ditelan kegelapan jurang.