“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”
Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.
Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.
Bayu Putra!
Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?
“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”
Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.
“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?
Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.
Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.
“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”
Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.
“Mah!”
“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”
Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?
Tidak!!
Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WASIAT DI BAWAH BANTAL
Wasiat di Bawah Bantal
Arka melirik Vina. Gadis itu seolah kehilangan nyawa, hanya diam mematung.
“Buka, Koh. Siapa tahu Bayu ingin menyampaikan sesuatu padamu..” suara Bunda Sari bergetar, menyerahkan lipatan kertas itu.
Dengan tangan gemetar hebat, Arka membuka lembaran itu. Baru baris pertama, pertahanannya runtuh. Air mata kembali membasahi pipi tegasnya.
*Hi Brother!! Gue harap Lo sehat selalu.. Makasih Lo udah datang di saat yang tepat\, saat dimana Gue butuhin Lo.. Makasih udah menjadi sahabat baik buat Gue.. Maaf Gue pergi tanpa pamit\, Gue harap Lo gak kecewa. Gue titip Vinara ya. Gue yakin hanya Lo yang bisa jaga Bidadari Gue. Manja dan kolokannya dia hanya kita berdua yang bisa atasin. Gue harap Lo bisa gantiin Gue buat hidup sama Vie\, nikahi dia. Hanya itu permintaan terakhir Gue. Lo bilang kan bakal kasih kado apapun di hari pernikahan gue? Gue minta hanya kesediaan Lo menggantikan Gue. Udah itu aja. Gue pamit\, Gue udah gak sakit lagi. Jaga Vie buat gue. Lindungi dan sayangi dia. BAYU.*
Arka meremas kertas yang kini lembap oleh air matanya. Hatinya hancur berkeping-keping. Bagaimana bisa Bayu meninggalkan amanah sebesar gunung di pundaknya? Amanah yang melibatkan masa depan tiga hati sekaligus.
“Lo udah janji sama gue bakalan jaga Vina, Yu. Lalu apa ini? Bagaimana bisa lo ninggalin dia dengan kepedihan sedahsyat ini?” batin Arka menjerit. Matanya menatap tulisan tangan yang sangat ia kenali tulisan tangan sahabat yang kini sudah tak bernapas.
“Sahabat macam apa aku ini? Bahkan aku tidak tahu sahabatku sakit. Dia terluka, dia kesakitan, dan aku sama sekali tidak menyadarinya...” Arka terisak.
Bunda Sari mengusap bahu Arka, mencoba memberi kekuatan meski dirinya sendiri hancur.
“Dia memendamnya seorang diri, Nak. Bahkan dia menyembunyikannya dari Bunda dan Ayah.” Bunda Sari menoleh ke arah Vina yang terkulai lemas. “Vina pun tidak tahu, Nak.”
---
Arka meminta izin untuk masuk ke kamar Bayu sejenak. Begitu pintu terbuka, aroma khas parfum Bayu menyergap indranya. Ruangan itu penuh dengan foto mereka bertiga, Bayu, Vina, dan Arka. Tawa dalam foto-foto itu seolah mengejek kesunyian yang ada sekarang.
Bahkan jaket couple yang mereka buat saat SMA masih terpasang rapi di dinding.
“Yu, kasur ini terlalu luas bukan? Biasanya Lo selalu berbagi ranjang ini sama gue kalau gue menginap. Tapi kenapa sekarang terasa sangat sepi?” Arka ambruk di atas ranjang Bayu. Air matanya membasahi sprei.
“Lo nggak sungguh-sungguh ninggalin kita, kan? Kita janji mau merangkai masa depan bersama. Sekarang apa? Lo minta gue nikahi Vina? Lelucon apa ini, Yu?”
Arka meraih figura foto Bayu yang ada di nakas, memeluknya erat. Dalam isak tangis yang mulai mereda karena lelah, sayup-sayup Arka seakan mendengar bisikan lembut di telinganya.
“Menikahlah, Kha. Jaga Vie... lindungi dia.”
Seketika mata Arka terbuka sempurna. Suara itu terasa begitu nyata. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan bertekad.
"Haruskah?"
---
Pukul satu siang. Suasana rumah duka berubah menjadi tegang saat mereka kembali dari pemakaman. Pak Penghulu sudah duduk di depan meja akad yang seharusnya menjadi milik Bayu. Vina menatap sekeliling dengan pandangan kosong, tak mengerti mengapa kursi itu masih ada di sana.
“Duduk, Nak,” pinta Angga, Ayah Vina, dengan suara parau.
“Ada apa, Ayah?”
Angga mengusap pipi anaknya, mencium keningnya lama seolah meminta maaf atas apa yang akan terjadi.
“Lanjutkan pernikahanmu. Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya.”
Deg!
Tubuh Vina melemas. Dunianya seakan runtuh untuk kedua kalinya dalam sehari. Ia nyaris pingsan jika Arka tidak segera menahan bahunya dengan kuat.
“Vie.. kamu mau nikah sama aku, kan? Demi permintaan terakhir Bayu.” Arka menyerahkan surat itu.
Vina membacanya, dan tangisnya pecah lagi.
“Tidak mungkin... bagaimana bisa kita menikah, Kha? Di undangan itu nama Bayu, bukan kamu!” Vina menolak, suaranya parau karena terlalu banyak menangis.
“Jika ini permintaan terakhirnya, aku yakin dia akan ikhlas, Vie. Percayalah padaku,” Arka menatap dalam mata Vina, mencoba menyalurkan keberanian.
Pandangan Vina terjatuh pada jari manis Arka. Di sana masih melingkar cincin pertunangan Arka dengan gadis lain di Italia.
“Lalu Sefana bagaimana, Kha?”
Arka tertegun sejenak. Nama itu seperti duri di hatinya saat ini. Namun, ia kembali mengusap punggung tangan Vina.
“Aku akan memberikan dia pengertian. Sekarang, fokus pada kita. Ayo menikah, Vie.”
Vina tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan tatapan kosong, seperti raga tanpa jiwa.
“Ibu, Arka siapkan mas kawin seadanya,” ucap Arka pada Ibu Mala.
Karena keadaan darurat, Arka hanya bisa mengeluarkan seluruh uang tunai yang ada di dompetnya, sekitar lima ratus ribu rupiah. Mahar yang jauh dari kata mewah untuk pria sesukses dirinya di Italia, namun ini adalah mahar paling tulus yang pernah ada.
“Apapun, Nak, yang penting sah,” sahut Ibu Mala dengan senyum getir.
Arka memperbaiki posisi duduknya di depan penghulu. Ia menarik napas panjang, menatap Ayah Vina yang siap menikahkan putrinya.
“Kamu siap, Vie?” bisik Arka.
Vina hanya diam, air mata mengalir deras membasahi kebaya putihnya yang kini terasa begitu berat.