Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Rencana Mama Untuk Besok
Rido hanya bisa menghembuskan napasnya dengan sangat kasar, ketika dia sudah selesai mendengarkan semua penjelasan dari sang ayah, dia tidak bisa menyalahkan sang ayah karena memang kondisilah yang membuat keadaan jadi seperti itu.
“Ayah dan Ibu minta maaf ya nak, kalau kami sudah mengambil keputusan sepihak tanpa ada persetujuan darimu terlebih dahulu” ucap Tiaras angkat bicara membantu sang suaminya.
Rido menatap sang ayah dengan tatapan serius namun penuh dengan berbagai arti, kemudian dia menatap sang ibu dengan rasa penuh haru.
Rido menjalankan kursi rodanya, dia mendekatkan dirinya kepada sang ibu, kemudian dia memegang tangan sang bunda “Saya tidak menyalahkan kalian semua, saya malahan berterimakasih, karena kalian sudah berbuat dengan benar untuk menyelamatkan perusahaan, harusnya saya yang meminta maaf pada kalian semua, karena kondisiku yang seperti ini membuat semuanya menjadi kacau seperti sekarang”.
Rido menunduk dengan dipenuhi rasa haru, dia sedikit menyesal karena ata kecerobahannya pada hari hari yang lalu, kondisinya menjadi seperti sekarang ini.
“Hufft” rido menarik napasnya dalam dalam kemudian dia berkata “Saya yang harus menyelesaikan masalah perusahaan, tidak mungkin bisa dihadapi oleh orang lain, tapi….” Ucap Rido menggantung di atas langit ketujuh.
“Tapia apa sayang?” ucap Tiaras dengan mengerut sambil menatap sang anak dengan penuh rasa penasaran yang membara.
“Tapi! Sepertinya embun harus tetap berada bersamaku, karena sekretaris Brys sudah terlanjur mengatakan hal demikian kepada semua para pemegang saham” jelas Rido dengan sangat tegas.
Giancarlo menganggukan kepalanya, dia sangat setuju dengan pendapat Rido, karena memang selayaknya mereka bersama di perusahaan untuk menunjukan kalau Rido benar benar sudah menikah saat ini.
“Kalau begitu biar saya beritahukan kepada nak embun! Kalau besok dia akan ikut bersamamu di perusahaan, dan ibu wajib memilihkan pakaian untuknya, Hahahai” ucap Tiaras dengan sangat bahagia, sampai sampai dia mengangkat tangannya keatas langit saking dia sangat gembira.
Setelah Tiaras bersorak ria di depan sang anak dan suaminya, dia langsung bergegas meninggalkan ruang keluarga dan memilih memanggil kepala pelayan untuk meminta desainer baju keluaran terbaru dan memilihkan baju untuk sang menantunya.
“Kepala pelayan! Cepat perlihatkan model desainer baju edisi terbaik tahun ini?” ucapnya kepada kepala pelayan.
‘baik Nyonya besar, mohon tunggu sebentar” jawab sang kepala pelayan itu.
Tidak menunggu lama beberapa baju desainer terbaru tahun 2026 sudah tertata rapi dihadapannya, kemudian dia berjalan untuk mengamati satu persatu baju tersebut, kemudian dia tersenyum senang.
Tiaras menatap pelayan bu Triska “sekarang semuanya sudah siapkan kan?”tanyanya dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.
“Sudah siap semuanya nyonya besar” sahut bu Triska dengan sangat sopan.
“Nah sekarang! Panggilkan embun kemari, karena dia harus mencoba semua baju baju ini” ujar Tiaras dengan santai, sambil dia tersenyum bangga.
Para pelayan yang lainnya hanya bisa memelototkan mata mereka dengan tidak percaya, mereka tidak menyangka kalau embun akan menjadi nyonya muda dirumah ini, untung sajalah selama ini mereka tidak pernah menjahili embun, karena kalau hal itu terjadi, entah bagaimana nasib mereka saat ini.
Dengan langkah kaki yang sangat cepat, bu Triska memanggil embun yang masih berada di halam belakang, dia sedang menjemur beberapa pakaian besar, seperti gorden, seprei dan lain sebagainya.
“Nak Embun!” panggil bu Triska dengan napasnya yang masih terasa ngos ngosan.
Embun langsung membalikan tubuhnya ketika dia mendengarkan namanya dipanggil dari dalam rumah besar itu, kemudian dia langsung menjawab “Kenapa Bi?”.
“Nak embun dipanggil Nyonya besar sekarang!” ucap bu Triska singkat, namun mendengar nama nyonya besar rumah itu disebut, membuat semua telinga yang mendengarkannya pastilah akan terasa terkejut.
“i, iya bu! Sebentar ya, biarkan saya selesaikan menjemur ini sebentar lagi” jawab embun dengan nada terburu buru.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya, embun langsung bergegas pergi kedalam rumah dia bersama dengan bu Triska.
Ketika Tiaras melihatnya dia langsung melemparkan senyuman terbaiknya “Nak Embun, ayo kemari sayang! Nah coba kamu pilih yang sesuai dengan ukuran tubuhmu” jelaskan Tiaras kepada sang Menantu.
“Maaf Bu! Ini apa maksudnya ya? Kok aku disuruh memilih baju baju ini, untuk apa semua ini?” Tanya Embun dengan rasa penasaran yang terlihat polos.
“Ahhh,, sudahlah! Nanti ibu jelaskan, yang penting sekarang kamu cobalah semua ukuran baju ini, nanti yang tidak kamu suka, di kembalikan saja di Toko” paksa Tiaras kepada sang Menantu polosnya itu.
Dengan sifat embun yang penurut, dia hanya bisa menganggukkan kepala dan mencoba beberapa setelan baju itu yang sudah tergantung di hadapannya.
Ketika embun sudah mencoba semua baju itu, Tiaras langsung menarik tangan embun untuk duduk berdua dengannya, dan dia menyuruh seluruh pelayan yang lain untuk pergi meninggalkan mereka berdua di tempat itu.
Tiaras menjelaskan kepada embun bahwa besok dia akan pergi bersama dengan Rido di perusahaan, yang membuat embun sedikit terkejut. Namun dia tidak banyak berkata kata, karena dia masih mengingat dasar pernikahan itu adalah karena adanya kontrak perjanjian.
Embun dan Tiaras terus saja memilih beberapa pakaian itu, dan semuanya pas di tubuh embun yang membuatnya sangatlah anggun nan cantik.
Menjelang sore hari embun pergi kekamar Rido, dia melaksanakan pekerjaannya seperti biasa untuk merawat Rido dengan telaten. Rido menatap embun dengan penuh tanda Tanya, dia hanya bisa diam tanpa ada kata kata cerocos seperti waktu waktu yang lalu.
Setelah selesai memakaikan pakaian di badan Rido, embun buru buru mengumpulkan seluruh pakaian kotor dan ingin langsung bergegas pergi dari tempat itu, namun sebelum kakinya benar benar melangkah pergi dari kamar itu, tangannya langsung dicekat oleh Rido.
“Tunggu!” kata Rido terdengar menggema di gendang telinga para pendengar setia.
“Ad,ada apa Tuan Muda!” Tanya embun basa basi, dia harus pura pura bertingkah seperti tidak terjadi apa apa.
“Kamu jangan berlagak kayak orang B”go! Kau berani berbohong padaku!” ucap Rido dengan wajah terlihat sangat menyeramkan.
“Emm, so, soal apa Tuan Muda?” sahut embun dengan masih menggunakan mode basa basinya, dia semakin membuat orang yang berada dihadapannya itu semakin menjadi gile.
“Kau masih saja berpura pura tidak tau Nona Embun! Kau anggap aku ini apa? Hah! Kau berani menikah denganku tapi kau tidak berani untuk bertanggungjawab, malahan kau berani menutupinya dariku” Ketus Rido dengan kesal menatap embun.
“Oh tentang itu?” sahut embun dengan entengnya, kemudian dia duduk berjongkok dihadapan Rido, kemudian dia mengumpulkan seluruh keberanian yang ada di dunia ini, dia beranikan diri menatap Rido yang masih saja menatapnya dengan tatapan tajam.
Embun melemparkan senyuman termahalnya di tahun ini, dengan lembut dia berkata “Saya rasa Tuan besar dan Nyonya besar pasti sudah memberitahukannya kepada anda tuan muda prasetio, pasti anda juga sudah tahu tentang dasar terjadinya pernikahan ini, karena adanya Perjanjian di atas kertas”.
“Mohon Tuan Muda memaafkan saya dalam hal ini, karena saya berpikir bahwa saya tidak punya kuasa memberitahukannya kepada anda, karena antara anda dan saya hanyalah sebatas Pelayan dan majikan, dan kontrak pernikahan ini hanyalah sebatas 1 tahun lamanya, sehingga saya berpikir bahwa pernikahan ini tidaklah terlalu untuk dipikirkan” ucap embun lebih lanjut menjelaskan.
Mendengar ucapan dari mulut embun, membuat Rido hanya bisa diam tanpa kata karena dia tidak bisa lagi menanggapi perkataan embun, karena dia tau embun saat ini sedang dalam keadaan hati yang tidak stabil.
“Heemm! Baiklah, karena kamu berkata selalu focus berdasarkan dengan surat perjanjian, maka besok kamu harus menemani saya ke Perusahaan, saya akan memperkenalkan kamu sebagai istriku dan akan menggantikan saya untuk bekerja di perusahaan” ucap Rido dengan tegas.
“Hah! Bagaimana mungkin? Saya kan hanya tamatan sekolah menengah atas tuan, tolong jangan seret saya di dalam masalah yang tidak bisa saya lakukan” ucap embun dengan masih berjongkok dihadapan Rido, sambil dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada memohon kepada Rido.
“Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak permintaan, keputusanku sudah bulat, kau harus ikut besok dengan saya di perusahaan, titik” ucap Rido memberikan titah kaisar langit. “oh ya, lagi! Karena kamu sudah menikah dengan saya, maka kamu harus tinggal bersama sama saya satu kamar, mulai malam ini kamu harus tidur bersama dengan saya di kamar ini” lanjut Rido dengan memberikan penekanan kepada embun, bahwa mereka sekarang adalah berstatus suami istri.
“Mana boleh seperti itu? Tuan muda! Hal itu tidak termasuk dalam perjanjian pernikaha, jadi gak bisa saya satu kamar dengan anda” seru embun dengan buru buru menjawab.
“Memangnya kenapa kalau tidak ada di dalam perjanjian! Itukan perjanjian yang kalian buat tanpa ada saya, nah sekarang perjanjian itu saya tambahkan sekarang” ucap rido dengan tatapan tegas masih saja menghadap kedepan.
“Lagian, kalau sempat semua orang mengetahui hal ini, menantu keluarga Prasetio masih menjadi pelayan dirumahnya sendiri dan tidur terpisah dengan suaminya, mau di taruh dimana wajah keluarga prasetio, Jadi! Mulai detik ini, kamu hanya bisa melayani saya, kamu tidak boleh mengerjakan pekerjaan yang lain! Apakah kamu mengerti?” lanjut rido dengan tegas menatap embun.
“baiklah baiklah, saya setujui semuanya!” Jawab embun, namun dia masih berkata lirih “kok sekarang semakin sewot kayaknya, sudah mulai banyak bicaranya, Hemm”. Kata kata itu masih saja terdengar di telinga Rido, yang membuat Rido menatapnya dengan sangat kesal.
“Apakah kamu mengataiku lagi? Hah!” sergah Rido, yang membuat Embun langsung menggelengkan kepalanya dan berdiri dari hadapannya.
Embun langsung bangkit berdiri dan menuju keruang tempat cucian baju, kepalanya menjadi ruwet mendengar kata kata wejangan dari sang suami, sehingga dia langsung menyetujui semua ususlan Rido dengannya.
Rido hanya bisa melanjutkan melihat ipadnya, dia terus mengecek beberapa email yang masuk dan terus mengecek bagian keuangan perusahaan, dimana dia mendapatkan keuangan perusahaan saat ini masih dalam keadaan standby dengan kondisi stabil.
Rido meraih ponselnya dan melakukan panggilan kepada sang Sekretaris “Hallo” ucapnya setelah sambungan telepon itu tersambung.
“Hallo Tuan Muda” sahut orang di seberang ujung telponnya.
“Besok saya akan ke kantor, dan memperkenalkan Istri saya kepada seluruh pemegang saham, sesuai dengan apa yang sudah kau janjikan kepada mereka” ucapnya dengan santai.
“ba, Baik Tuan muda, saya akan mengumumkannya langsung di dalam Group WA perusahaan” sahut Berys dengan cepat, namun kata katanya itu langsung di bantah oleh Rido.
“Tunggu dulu! Jangan beritahukan kepada siapapun terkait kedatanganku ke perusahaan, biarlah ini menjadi kejutan untuk mereka” ucap Rido menyanggah pendapat Berys.
“Baik Tuan Muda, akan saya laksanakan” Ucap Berys dengan menganggukkan kepalanya.