NovelToon NovelToon
Akan Ku Ubah Takdirku

Akan Ku Ubah Takdirku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen Sun044

dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Penuh Harapan Dan Sorotan Mata Orang Banyak

Hari-hari setelah percakapan dengan Bu RT, hidupku seolah mendapatkan warna baru. Setiap sore, setelah pulang sekolah dan selesai membantu pekerjaan rumah tetangga, aku langsung sibuk di sudut kamarku yang reyot. Tidak ada lagi waktu untuk melamun atau bersedih. Tanganku tidak pernah diam.

Aku menyortir barang-barang bekas yang sudah aku kumpulkan dengan teliti. Kardus-kardus kusam ku gunting dan ku lem dengan rapi, botol-botol plastik bekas minuman ku cuci bersih hingga mengkilap, dan kain-kain perca yang tadinya dianggap sampah ku susun menjadi pola-pola cantik.

Karena tidak punya uang untuk membeli bahan baru, aku berusaha semaksimal mungkin dengan apa yang ada. Untuk cat, aku meminta sisa cat tembok yang sudah kering pada tetangga yang sedang merenovasi rumah, lalu ku larutkan dengan sedikit air agar bisa dipakai untuk melukis botol-botol itu. Untuk perekat, aku masih menggunakan lem kanji buatan sendiri yang kurebus dengan hati-hati agar tidak mudah lepas.

Setiap kali selesai membuat satu barang, aku akan memandangnya lama, tersenyum sendiri.

"Ini milikku. Ini hasil karyaku." Tidak ada yang membantu, tidak ada yang menyuruh, dan yang paling penting—ini bukan belas kasihan.

Hari bazar pun akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun. Aku memakai baju terbaikku—baju yang sudah pudar warnanya tapi kusetrika sebersih mungkin hingga tidak ada satu pun lipatan yang terlihat. Bu RT sudah menyiapkan sebuah meja kecil di pojok balai desa, tidak terlalu di tengah tapi cukup terlihat oleh orang yang lewat.

"Nak Laras, semangat ya!" kata Bu RT sambil membantuku menata barang-barang kerajinan tanganku di atas meja. "Ini semua bagus-bagus, pasti ada yang suka."

Aku mengangguk, tapi jantungku berdegup kencang sekali. Tangan dan kakiku terasa dingin. "Bagaimana kalau tidak ada yang mau membeli? Bagaimana kalau orang-orang malah menertawakan barang bekas ini? Bayangan kata-kata Pak Herman dan ejekan teman-teman sekolah kembali melintas di kepala. Beban... bodoh... tidak berguna... terlintas di otak ku"

"Tarik napas, Laras," bisikku berusaha menenangkan diri sendiri sambil memegang ujung bajuku. "Ini usahamu. Jangan takut."

Awalnya, orang-orang yang lewat hanya melirik sekilas, lalu berlalu begitu saja.

"Hatiku sedikit mencelos. Aku mulai menggigit bibir bawahku, merasa cemas. Apakah Bu RT salah menilai? Apakah barang-barang ini memang tidak ada harganya? apa kali ini aku gagal di akui lagi?" Kata ku dalam hati.

Namun, tak lama kemudian, seorang ibu-ibu yang sedang berjalan-jalan dengan anaknya berhenti tepat di depan meja kecilku. Matanya tertuju pada sebuah pot bunga dari botol plastik bekas yang sudah kucat warna biru langit dan kuhias dengan lukisan bunga matahari kecil.

"Eh, ini unik sekali," kata ibu itu sambil membungkuk untuk melihat lebih dekat. "Bahan dari botol bekas ya? Tapi dihiasnya rapi banget, ya. Kreatif sekali anaknya."

Mendengar pujian itu, aku sedikit tersentak. Aku mengangkat wajahku, menatap ibu itu dengan ragu. "B... benarkah Bu? Ini tidak jelek?"

"Ah, enak aja jelek! Ini malah lebih bagus daripada pot yang aku beli di toko, karena ini buatan tangan dan unik," jawab ibu itu tersenyum hangat. "Nak, saya beli yang ini ya. Berapa harganya?"

Aku tertegun sejenak. Orang ini benar-benar mau membelinya? "Eh... iya Bu, terserah ibu mau pilih yang mana, harganya sepuluh ribu rupiah saja, Bu," jawabku pelan, takut mematok harga terlalu mahal.

"Sepuluh ribu? Murah sekali!" Ibu itu langsung mengambil uang dari dompetnya dan menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribu kepadaku. "Ini buat kamu. Simpan yang baik-baik ya, kerjaannya bagus sekali."

"Te-terima kasih, Bu!" seruku, suaraku sedikit bergetar. Tanganku menerima uang itu dengan gemetar. Rasanya seperti mimpi. Ini adalah uang pertamaku yang aku dapatkan bukan dari membersihkan rumah, bukan dari mengais sampah, tapi dari menjual karyaku sendiri.

Kata-kata ibu itu seolah menjadi sinyal. Orang-orang yang tadinya hanya lewat mulai berhenti satu per satu. Mereka tertarik melihat kotak-kotak penyimpanan dari kardus yang dihias kain perca, keset-keset kecil yang empuk, hingga tempat pensil dari pipa paralon bekas yang kucat warna-warni.

"Wah, ini lucu banget, terbuat dari apa sih?" tanya seorang gadis muda sambil memegang tempat pensil berbentuk kelinci.

"Dari pipa paralon bekas, Kak. Saya cat dan kasih hiasan dari kain," jawabku, kali ini lebih berani.

"Keren banget idenya! Saya ambil dua ya, buat oleh-oleh buat adik saya."

Satu per satu barang di mejaku mulai berkurang. Uang receh dan lembaran kertas mulai terkumpul di tanganku. Tapi yang membuatku jauh lebih bahagia daripada uang itu adalah tatapan orang-orang. Tidak ada tatapan jijik, tidak ada tatapan meremehkan. Yang ada adalah tatapan kagum, senyum tulus, dan pujian.

"Anak ini rajin sekali ya."

"Pintar, bisa mengubah sampah jadi barang berguna dan cantik."

"Besok kalau ada bazar lagi, kamu harus ikut ya, Nak."

Setiap kata pujian itu bagaikan obat yang menyembuhkan luka-luka lama di hatiku. Ternyata, aku juga bisa dihargai. Ternyata, aku juga bisa membuat orang lain senang. Ternyata, meski aku tidak pintar berhitung atau menghafal pelajaran sekolah, Tuhan memberiku keahlian lain yang sama berharganya.

Di tengah keramaian itu, mataku tanpa sengaja bertemu dengan tatapan seseorang di kejauhan. Itu Pak Herman. Dia sedang berdiri di dekat stan lain, menatap ke arahku dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan—mungkin kaget, mungkin heran. Aku tidak menunduk seperti biasanya. Aku justru tersenyum kecil padanya, lalu kembali melayani pembeli dengan semangat.

Hari ini, aku yakin akan satu hal: takdirku akan mulai berubah. Dan aku, Laras, tidak akan pernah lagi melihat diri aku sebagai sampah atau beban. Aku adalah pencipta keindahan dari apa yang dianggap tidak berguna. Aku akan berjanji pada diriku sendiri

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!