NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 3 - CH 15 : Kekuatan Emak - Emak

Bara mengelus dua gepok uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu di tangannya. Aroma uang kertas lecek itu entah kenapa terasa lebih wangi daripada butter impor dari Prancis.

"Dua puluh juta dari si dewa rezeki bau menyan. Ditambah sisa uang dari si buaya darat kemarin," gumam Bara, matanya menerawang menembus plafon ruko. "Total dua puluh tiga juta dalam dua hari. Kalau gue main crypto, gue udah jadi crazy rich Kota X."

Lintang yang sedang mengelap meja stainless mendengus. "Jangan ngadi-ngadi, Mas. Lo main capit boneka di pasar malem aja rugi lima puluh ribu, boro-boro crypto."

Bara mengabaikan ejekan asistennya. Dia merasa seperti mafia. Dia baru saja mensponsori operasi penyelundupan mahar terselubung menembus markas bos besar pelabuhan. Dia adalah koki underground. Koki dengan nyali baja.

Dia memasukkan uang itu ke dalam brankas kecil di bawah meja kasir, menguncinya dengan kombinasi yang cuma dia dan Tuhan yang tahu, lalu merentangkan tangannya lebar-lebar.

"Oke, team," seru Bara dengan suara serak namun penuh kemenangan. "Operasi Trojan Buaya sukses. Kita kaya. Dan sebagai bos yang toxic tapi pengertian, gue nyatain hari ini ruko kita CLOSE ORDER. Tutup. Libur. Gue mau tidur tiga hari tiga malam sampe nyatu sama kasur kapuk gue."

Mang Ojak yang baru saja mencuci muka di wastafel langsung sujud syukur. "Alhamdulillah, Gusti... punggung Abah udah kayak kerupuk seblak, renyah bener ditekuk-tekuk."

Bara melepas apronnya dengan gerakan slow-motion yang dramatis. Dia memutar lehernya sampai berbunyi krek, bersiap melangkah ke arah mezzanine surgawinya.

Namun, di sudut dapur, Lintang perlahan mengangkat tangan kanannya. Wajah gadis berambut pink itu tidak memancarkan kelegaan. Sebaliknya, kulitnya memucat seolah baru saja melihat penampakan kuntilanak di siang bolong.

"M-mas Bara..." cicit Lintang.

Bara berhenti melangkah. Firasat buruk langsung menyengat ujung sarafnya. "Apa lagi, Tang? Duitnya ada yang palsu?"

"Bukan..." Lintang menelan ludah. Matanya melirik ngeri ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 06.05 pagi. "Pesenan... Ibu RT..."

Bara mengerutkan kening. Otaknya yang sudah konslet belum bisa memproses informasi. "Ibu RT siapa? Pak RT kan kemaren udah lewat, yang salah alamat itu."

"Bukan, Mas!" Lintang setengah berteriak, kepanikan mulai mengambil alih pita suaranya. "Ibu RT RW 04! Yang DP-nya sejuta minggu lalu! Seratus box brownies panggang buat acara arisan akbar kelurahan jam delapan pagi ini!"

Hening. Bara mematung. Mang Ojak yang masih dalam posisi sujud syukur langsung mendongak.

"Seratus... box?" gumam Bara. Matanya perlahan ikut melirik jam dinding.

Sekarang jam 06.06 pagi. Acara jam 08.00 pagi. Waktu tersisa: 1 Jam 54 Menit.

Status bahan: Tepung belum ditimbang, cokelat belum dilelehkan, telur masih di dalam kulkas. Status oven: Masih berwujud Frankenstein mutan dengan moncong plat aluminium bekas ngelas perut buaya, dan suhunya masih setara knalpot bus malam.

"MANG OJAK! LINTANG!"

Teriakan Bara menggelegar mengalahkan suara sirine ambulance. Nyawa dan kewarasannya yang tadi sudah setengah melayang ke alam mimpi langsung ditarik paksa kembali ke dunia fana. Preman pasar bawa parang mungkin menakutkan, tapi Emak-emak arisan kelurahan yang pesanannya telat adalah entitas paling mematikan di alam semesta. Haji Muhidin sang bos mafia pun mungkin akan sungkem kalau berhadapan dengan Ibu RT yang batal flexing kue arisan.

"BONGKAR OVENNYA SEKARANG! KITA BUTUH OVEN DECK UTAMA BUAT MANGGANG BROWNIES!" raung Bara sambil menyambar kembali apron kotornya.

"PANAS, DEN! ITU SENGNYA MASIH PANAS BANGET!" jerit Mang Ojak panik berlari mencari sarung tangan tebal.

"PAKE KAIN PEL! PAKE JAKET GUE! PAKE APA AJA YANG PENTING LEPAS TUH MONCONGNYA!"

Dapur Bara's Kitchen mendadak berubah jadi zona perang speedrun. Lintang melompat ke arah kulkas, mengeluarkan empat tray telur sekaligus layaknya pemain sirkus. Dia memecahkan telur-telur itu ke dalam mixer industri dengan kecepatan cahaya.

Trak! Trak! Trak! Cangkang telur berterbangan ke mana-mana.

"Mas! Gula halusnya kurang!" teriak Lintang mengatasi deru mesin mixer yang berputar di gigi maksimal.

"Pake gula pasir biasa! Blender sampe alus, sekarang! Nggak ada waktu buat estetik!" balas Bara yang sedang mengayunkan palu besi untuk mencopot paku keling di lorong aluminium oven.

CLANG! CLANG! BRAAAK!

Plat aluminium tebal sisa memanggang buaya itu akhirnya runtuh ke lantai dengan bunyi memekakkan telinga. Mang Ojak langsung menyeret plat panas itu ke pojok ruangan menggunakan dua buah gagang sapu.

"Oven clear, Den! Suhu masih 180 derajat!" lapor Mang Ojak ngos-ngosan.

"Pas! Jangan diturunin!" Bara berlari ke meja stainless, menuangkan dua baskom cokelat blok cincang dan mentega leleh ke dalam adonan yang sedang diaduk Lintang.

Ini bukan lagi teknik baking ala Bara's Kitchen yang presisi dan mengutamakan keseimbangan molekul rasa. Ini adalah teknik "Sapu Jagat". Masukkan semua, aduk sampai rata, panggang sampai matang, dan berdoa kepada Tuhan YME agar rasanya masih seperti brownies dan bukan seperti aspal basah.

Pukul 06.40 WIB. Adonan raksasa berhasil dituang ke dalam loyang-loyang kotak seukuran nampan. Bara menyusunnya ke dalam oven dengan gerakan yang sangat terlatih, menutup pintu oven, dan menyetel timer.

"Tiga puluh menit! Pukul 07.10 kita keluarin!" napas Bara tersengal-sengal. "Tang, kardus packaging-nya udah dilipet?"

"Belum, Mas..." cicit Lintang, duduk lemas di lantai.

"LIPET SEKARANG, BUJANG! SERATUS BIJI! KASIH STIKER LOGO KITA!"

Mereka bertiga duduk melingkar di lantai dapur seperti buruh pabrik sweatshop, melipat kardus kertas cokelat dengan gerakan mekanis. Otak mereka sudah kosong. Ini murni muscle memory. Mang Ojak bahkan melipat kardus sambil mata terpejam.

Pukul 07.10 WIB. TIIING! Oven berbunyi. Bara langsung menarik loyang-loyang berisi brownies itu keluar. Aromanya luar biasa harum, manis, dan pekat. Tapi masalah baru muncul.

Browniesnya panas membara. Kalau langsung dipotong, teksturnya akan hancur lebur jadi bubur cokelat.

"Kipas, Mas! Kipas!" jerit Lintang.

Bara tidak pikir panjang. Dia mencabut kipas angin Cosmos dari pojok ruangan, menaruhnya tepat di atas meja stainless, memutar speed-nya ke angka 3, dan menghadapkannya langsung ke arah hamparan brownies panas. Lintang tak mau kalah, dia mengambil hairdryer miliknya dari dalam tas, menyetel ke mode cool, dan ikut menyemprot loyang-loyang itu.

Pukul 07.35 WIB. Brownies sudah cukup set. Bara mengambil pisau besarnya. Crot. Crot. Crot. Dalam sepuluh menit, ratusan potong brownies berhasil dieksekusi, dilempar ke dalam kardus yang sudah disiapkan Lintang, dan diikat tali rami sekadarnya.

Pukul 07.55 WIB. TIN! TIIIIIN!

Suara klakson mobil Toyota Avanza membelah keheningan jalanan depan ruko.

Bara, Lintang, dan Mang Ojak baru saja mengikat kardus ke-100. Ketiganya ambruk ke lantai, memandang tumpukan kardus brownies yang menjulang tinggi di depan meja kasir seperti piramida Mesir.

Bara berjalan ke arah rolling door dengan sisa tenaga nol koma nol sekian persen. Dia mendorong pintu ke atas.

Berdiri di sana, Ibu RT seorang wanita paruh baya dengan lipstik merah merona, daster motif macan tutul yang ditutup kardigan emas, dan perhiasan yang menyilaukan mata tampak berkacak pinggang.

"Pagi, Mas Bara! Duh, ruko kok tutup jam segini sih? Ibu hampir jantungan kirain Mas Bara kabur bawa DP Ibu!" serunya dengan nada tinggi khas penguasa wilayah.

Bara memaksakan senyum pepsodent andalannya, meski wajahnya cemong oleh tepung dan cokelat leleh. "Pagi, Ibu RT. Nggak mungkin kabur dong, Bu. Kita justru tutup pintu biar aroma premium chocolate-nya nggak keluar kemana-mana."

Bara mempersilakan Ibu RT dan supirnya masuk untuk mengangkat tumpukan box tersebut.

Ibu RT memegang salah satu box. "Loh, Mas Bara. Kok kardusnya anget? Browniesnya lembek ya ini?" alis Ibu RT menukik tajam. Hidungnya mengendus curiga.

Lintang yang tiduran di balik etalase kasir langsung menahan napas. Mampus ketahuan baru mateng.

Otak DKV Bara loading secepat kilat.

"Wah, Ibu RT memang tester sejati. Jago banget nilainya," puji Bara dengan nada meyakinkan layaknya SPB panci presto. "Itu bukan lembek, Bu. Itu namanya konsep 'Fresh From the Oven Melted Fudge'. Teknik ini sengaja saya terapkan khusus buat arisan Ibu. Jadi pas Ibu-ibu kelurahan gigit nanti, cokelat di tengahnya lumer di mulut, kerasa banget premiumnya. Nggak keras kayak brownies murahan di pasar."

Mata Ibu RT langsung berbinar-binar. Kata premium dan lumer adalah magic word bagi kaum sosialita kelurahan.

"Aduh, Mas Bara ini bisa aja! Pantesan dibilang koki andalan Kota X!" Ibu RT tertawa puas, menepuk bahu Bara sampai pria itu hampir terjerembap. "Ya sudah, ini sisa pelunasannya. Besok-besok Ibu pesen lagi ya buat pengajian!"

Begitu Avanza Ibu RT melaju pergi, Bara menutup rolling door, menggemboknya dengan kasar, lalu menjatuhkan diri ke lantai, tepat di sebelah Lintang.

"Kita... selamat..." bisik Lintang.

"Jangan ada yang bangunin gue... sampe tahun depan," gumam Bara, matanya perlahan menutup. Hawa kantuk yang luar biasa akhirnya merengkuh tubuhnya. Damai. Tenang.

Namun, alam semesta di Kota X sepertinya membenci Bara Mahendra.

Baru lima menit Bara memejamkan mata, HP di dalam saku celananya bergetar hebat. Diiringi ringtone bawaan pabrik yang memekakkan telinga.

Bara mengerang frustrasi. Dia merogoh sakunya tanpa membuka mata. "Halo... Bara's Kitchen... kami tutup... kalau mau komplain kardus anget, baca caption IG..."

"Koki."

Satu kata itu. Suara berat, serak, bergema yang langsung membuat bulu kuduk Bara berdiri. Bau kemenyan seolah menembus masuk melalui speaker HP.

Mata Bara langsung melek sempurna. Itu Bang Kobra.

"B-bang? Ada apa, Bang? Buayanya kurang manis? Atau permen matanya copot?" Bara langsung duduk tegak.

"Buayanya sempurna. Rombongan gue berhasil nembus barikade pelabuhan utara. Haji Muhidin nerima gue di ruang tamunya."

"Wah, alhamdulillah, Bang. Selamat kalau gitu—"

"Belum," potong Bang Kobra dingin. "Haji Muhidin ini orang tua yang paranoid. Dia pantang makan atau nerima makanan gede dari luar kalau nggak dipotong langsung sama pembuatnya di depan mata dia. Takut diracun."

Jantung Bara seakan berhenti berdetak. "M-maksudnya, Bang?"

"Maksudnya, lo ke pelabuhan utara sekarang. Markas Gudang Tiga. Bawa pisau panjang lo," titah Bang Kobra tanpa intonasi.

"Bang, sori banget, gue ini tukang roti, bukan jagal—"

"Lima belas menit, Koki. Lo yang belah perut buaya ini di depan Haji Muhidin. Kalau lo nggak muncul perut lo yang bakal gue belah. Paham?"

KLIK. Sambungan telepon diputus.

Bara menatap layar HP-nya yang menghitam. Tangannya bergetar. Dia menoleh pelan ke arah Lintang yang menatapnya dengan raut wajah penuh tanya.

"Tang," suara Bara hampa, seolah ruhnya sudah meninggalkan badan. "Ambilin pisau cake panjang gue. Terus pinjem tas P3K Mang Ojak."

"Buat apa, Mas? Ada yang luka?"

Bara menelan ludah. "Bukan. Buat persiapan kalau gue pulang tinggal nama dari markas bos mafia Kota X."

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!