NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Jubah Sutra dan Papan Misi Berdarah

​Musim semi di Puncak Pedang Patah selalu datang terlambat, namun ketika ia tiba, ia menyapu bersih sisa-sisa kematian musim dingin dengan kelembutan yang mutlak. Bunga-bunga persik liar mulai bermekaran di tebing-tebing batu, menyebarkan aroma manis yang mencoba menutupi bau anyir darah dari arena kemarin.

​Pagi itu, di depan deretan gubuk reyot pelataran pelayan, suasana terasa berbeda. Tidak ada suara bentakan mandor, tidak ada suara sapu lidi yang bergesekan dengan batu.

​Shen Yuan berdiri di depan pintu gubuknya yang setengah lapuk. Di bahunya tersampir sebuah buntelan kain kasar yang tidak seberapa besar. Hanya berisi beberapa potong pakaian rami tua dan sisa ubi panggang. Di tangan kirinya, ia menggenggam sebuah medali perunggu baru yang berkilat ditimpa cahaya fajar. Medali bertuliskan 'Murid Luar - Shen Yuan'.

​"Kau benar-benar pergi, Kayu Mati."

​Sebuah suara serak terdengar dari belakangnya. Li Mu berdiri di sana, kedua tangannya memegang ember kayu yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Wajah pemuda itu terlihat lelah, namun ada sepercik kebanggaan di matanya saat menatap sahabatnya.

​"Setiap daun yang gugur akan menemukan tanahnya sendiri, Mu," jawab Shen Yuan tenang. Ia berbalik, menatap pelataran kotor tempat ia menelan hinaan selama tiga tahun berturut-turut. "Aku hanya pindah ke pelataran yang sedikit lebih tinggi. Gunung ini masih sama."

​Li Mu mendengus pelan, menahan senyum getir. "Sedikit lebih tinggi? Kau menghancurkan tangan Tuan Muda Lin Feng! Namamu sekarang menjadi legenda menakutkan di antara para pelayan. Tapi... Yuan, dengarkan aku."

​Langkah Li Mu mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan cemas. "Keluarga Lin tidak akan diam. Dengan status barumu, mereka tidak bisa membunuhmu terang-terangan di sekte. Tapi di luar sana, atau di dalam bayang-bayang... kau akan diburu. Berjanjilah kau akan tidur dengan satu mata terbuka."

​Shen Yuan menunduk sedikit, menatap lengan kanannya yang kini terbalut perban putih tebal. Perban itu menutupi seluruh lengan bawahnya hingga ke buku-buku jarinya.

​Semalam, Benih Hitam di dalam Dantian-nya telah merajut kembali meridian lengannya yang robek dengan sempurna. Lengannya kini lebih kuat dari sebelumnya, setajam pedang yang baru ditempa. Namun, di dunia ini, menyembunyikan taring jauh lebih penting daripada memamerkannya. Ia sengaja membalut lengannya, menebarkan bau obat penyembuh tulang yang menyengat, agar mata-mata keluarga Lin dan para Tetua percaya bahwa ia benar-benar cacat sementara.

​"Aku akan mengingatnya," Shen Yuan mengangguk pelan. Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, dan menekankannya ke telapak tangan Li Mu.

​"Ini Pil Pengumpul Qi tingkat rendah," bisik Shen Yuan sebelum Li Mu sempat menolak. "Mandor Zhao tidak akan menekanmu lagi karena mereka tahu kau adalah temanku. Gunakan pil ini. Tembus Lapisan Keempat sebelum musim dingin berikutnya, atau aku sendiri yang akan menendangmu dari gunung ini."

​Mata Li Mu memerah. Ia mencengkeram botol itu erat-erat hingga buku jarinya memutih. Di dunia kultivasi yang dingin dan tanpa belas kasihan, sebuah pil adalah nyawa.

​"Pergilah, Naga," gumam Li Mu, menelan ludahnya yang terasa pahit sekaligus manis. "Jangan biarkan debu pelataran ini menahan langkahmu lagi."

​Shen Yuan memutar tubuhnya, tidak mengucapkan selamat tinggal. Langkahnya mantap, berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang mengarah ke atas gunung, menuju Paviliun Awan Putih—area pemukiman resmi bagi Murid Luar.

​Paviliun Awan Putih adalah dunia yang sama sekali berbeda.

​Jika pelataran pelayan adalah kandang babi, maka tempat ini adalah sangkar burung emas. Bangunan-bangunan kayunya dipoles mengkilap, halamannya ditumbuhi bambu spiritual yang mengeluarkan Qi tipis ke udara, dan tidak ada bau keringat yang menyengat.

​Shen Yuan telah mengganti pakaian raminya dengan jubah sutra putih yang menjadi seragam standar Murid Luar. Jubah itu terasa terlalu ringan, terlalu halus di kulitnya yang penuh kapalan. Topi bambunya masih ia kenakan, menyembunyikan wajahnya yang biasa-biasa saja. Lengan kanannya yang dibalut perban ia gantungkan di depan dada menggunakan selempang kain, menyempurnakan citra seorang pahlawan tragis yang terluka parah demi kemenangan.

​Sepanjang ia berjalan melintasi koridor paviliun, tatapan mata murid-murid luar lainnya tertuju padanya. Beberapa menatap dengan rasa kagum yang disembunyikan, namun lebih banyak yang menatap dengan permusuhan dan kewaspadaan.

​"Itu dia... Pelayan yang mematahkan tangan Tuan Muda Lin."

"Lihat lengannya. Tetua Yun benar, dia menggunakan teknik bunuh diri. Lengannya pasti sudah tidak berguna sekarang."

"Hmph, orang bodoh. Dia menukar lengan kanannya demi status Murid Luar, tapi sekarang dia hanya sepotong daging cacat yang menunggu disembelih oleh faksi Lin."

​Bisikan-bisikan itu masuk ke telinga Shen Yuan sejelas gema di dalam gua. Logikanya memproses setiap informasi dengan dingin.

​Sempurna, batinnya mengevaluasi. Keluarga Lin sekarang menungguku lengah. Mereka pikir tanganku hancur dan kekuatanku menurun drastis. Jika mereka mengirim pembunuh tingkat tinggi, mereka akan menelan pil pahit kekalahan telak.

​Namun, Shen Yuan tidak berniat duduk manis di kamar barunya menunggu pembunuh datang.

​Ia membelokkan langkahnya, mengabaikan asrama barunya, dan berjalan lurus menuju bangunan bertingkat tiga yang memancarkan aura paling sibuk di pelataran ini: Paviliun Misi.

​Sebagai Murid Luar, ia kini mendapatkan jatah sepuluh keping Batu Roh Tingkat Rendah setiap bulan. Jumlah yang mewah bagi Li Mu, namun tidak lebih dari setetes air di lautan pasir bagi Kitab Penelan Surga di dalam perutnya. Ia membutuhkan Batu Roh Tingkat Menengah, atau inti binatang buas tingkat tinggi, untuk mengenyangkan Benih Hitam dan mendobrak menuju Lapisan Ketujuh.

​Satu-satunya cara legal dan terhormat untuk mendapatkannya adalah dengan mengambil Misi Sekte.

​Di dalam Paviliun Misi, ratusan murid berlalu lalang. Sebuah papan kayu ek raksasa mendominasi dinding utama, dipenuhi oleh puluhan perkamen yang dipaku dengan pisau-pisau kecil.

​Shen Yuan berdiri di depan papan tersebut. Diakon penjaga misi—seorang pria bermata satu dengan bekas luka bakar di lehernya—melirik lengan Shen Yuan yang diperban, lalu mendengus meremehkan.

​"Murid baru," tegur Diakon bermata satu itu dengan nada bosan. "Misi tingkat rendah ada di sebelah kiri. Mencari herba rumput penenang, membersihkan kotoran kelelawar di gua selatan, atau mengawal kereta gandum ke Kota Kabut Merah. Jangan melihat ke papan tengah jika kau hanya punya satu tangan yang berfungsi."

​Shen Yuan tidak menjawab. Matanya menyapu deretan perkamen di papan tengah. Itu adalah misi tingkat ancaman menengah, dikhususkan untuk murid di atas Lapisan Kelima.

​Misi: Mengawal Tuan Tanah Wang di Kota Batu Hitam. Imbalan: 50 Batu Roh Rendah. — Terlalu lama, imbalan terlalu kecil.

Misi: Memburu Harimau Api di Hutan Selatan. Imbalan: 1 Batu Roh Menengah. — Menarik, tapi Hutan Selatan terlalu dekat dengan pengawasan sekte.

​Tatapan Shen Yuan perlahan naik, mengunci sebuah perkamen berwarna merah pudar yang dipaku agak tinggi di sudut papan. Perkamen merah menandakan bahaya tinggi, sebuah misi yang sering kali membuat murid luar tidak pernah kembali.

​Misi: Investigasi dan Pembersihan.

Lokasi: Tambang Besi Darah di Ngarai Angin Melolong, 500 mil ke arah utara.

Deskripsi: Kelompok penambang utusan sekte diserang oleh entitas tak dikenal tiga malam berturut-turut. Dua murid pengawas Lapisan Kelima hilang tanpa jejak. Diperkirakan ada Binatang Buas Mutasi tingkat tinggi, atau sisa-sisa kultivator Aliran Hitam yang bersembunyi di kedalaman tambang.

Syarat: Murid Lapisan Keenam, atau kelompok beranggotakan tiga orang Lapisan Kelima.

Imbalan: 5 Batu Roh Tingkat Menengah, 100 Poin Kontribusi Sekte, dan hak untuk menyimpan seluruh material musuh yang dibunuh.

​Mata Shen Yuan di balik topi bambunya sedikit menyipit. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih lambat, merespons antisipasi yang memabukkan.

​Lokasi yang terisolasi. Jarak yang sangat jauh dari jangkauan keluarga Lin dan para Tetua Sekte. Imbalan sumber daya murni yang sangat besar. Dan yang paling penting... 'hak menyimpan material musuh'. Jika yang bersembunyi di sana adalah kultivator hitam atau binatang buas bermutasi, ia bisa menelan mereka tanpa takut ada mata yang mengawasi.

​Ini bukan sekadar misi. Ini adalah meja makan prasmanan yang disiapkan khusus untuknya.

​Shen Yuan mengangkat tangan kirinya yang sehat, melesat ke depan, dan mencabut belati kecil yang menancapkan perkamen merah itu ke papan.

​Langkah berani itu seketika membungkam murid-murid di sekitarnya. Diakon bermata satu itu terbelalak lebar, menggebrak meja kayunya hingga berderak.

​"Apa kau gila, Murid Baru?!" bentak Diakon tersebut. "Itu Misi Merah! Dua murid Lapisan Kelima lenyap di sana seperti batu yang dilempar ke sumur! Kau hanyalah anak kemarin sore yang beruntung bisa memukul menang di turnamen, dan sekarang lengan kananmu lumpuh! Kau sedang menggali kuburanmu sendiri!"

​Shen Yuan berjalan mendekati meja Diakon, meletakkan perkamen merah itu di atasnya dengan tenang, lalu menempelkan medali perunggunya tepat di sebelah perkamen tersebut.

​"Hukum Paviliun Misi tidak melarang murid untuk mati, Diakon," ucap Shen Yuan datar, suaranya sedingin angin utara yang membelah tulang. "Selama saya bertanggung jawab atas nyawa saya sendiri, Anda hanya perlu mencatat nama saya."

​"Kau—! Berani-beraninya kau tidak tahu diri!" Diakon itu mengertakkan gigi, namun hukum sekte memang seperti itu. Ia meraih kuas tintanya dengan kasar. "Baik! Jika kau ingin mati mencari muka, aku tidak akan menahanmu. Tapi jangan harap sekte akan mengirim tim penyelamat jika kau terjebak di Ngarai Angin Melolong!"

​"Saya tidak pernah berharap diselamatkan oleh siapa pun," sahut Shen Yuan lembut.

​Ia mengambil kembali medali dan perkamennya setelah dicap dengan tinta merah, lalu berbalik menyibak kerumunan murid yang menatapnya seperti menatap mayat berjalan.

​Ngarai Angin Melolong menunggu di utara. Jauh dari intrik dangkal sekte, sebuah ujian hidup dan mati yang sesungguhnya kini memanggilnya. Di tempat di mana tidak ada Tetua yang melarangnya menggunakan ilmu iblis, Shen Yuan akhirnya bisa melepaskan seluruh belenggu yang menahan sisi buas dari Kitab Penelan Surga.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!