NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Daripada penasaran, yuk mampir ><

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Gaby..

Pagi itu, studio desain Oxford terasa lebih mencekam daripada biasanya, meski sinar matahari musim semi menyusup masuk melalui jendela-jendela tinggi. Gaby melangkah masuk dengan dagu terangkat, memegang gelas kopi seolah itu adalah perisai pelindungnya.

Di ujung ruangan, Melvin berdiri di dekat meja maket. Ia tidak sedang bekerja. Ia hanya berdiri di sana, menyandarkan pinggulnya pada meja dengan tangan terlipat di depan dada. Saat pintu tertutup di belakang Gaby, Melvin perlahan mengangkat kepalanya.

Tatapan matanya tidak lagi tajam seperti kemarin. Kali ini, matanya berkilat dengan binar yang sangat aneh. Sebuah kombinasi antara kepuasan, tantangan, dan sesuatu yang menyerupai rasa kasihan. Tatapan itu seolah berteriak tepat di wajah Gaby. "Aku tahu kau sudah melihat email itu, Gaby. Aku tahu kau sudah melaporkannya pada sepupu kesayanganmu itu."

Namun, bukannya bersikap defensif, Melvin justru tersenyum sangat manis. Senyum yang biasanya ia simpan hanya untuk momen-momen langka ketika desain mereka mencapai titik sempurna.

"Good morning, Starshine," sapa Melvin, suaranya lembut, hampir merayu. "Kau terlihat... luar biasa pagi ini. Merah Ferrari itu benar-benar meninggalkan rona yang cantik di pipimu."

Gaby merasakan perutnya mual, namun ia mengingat pesan Emrys. Jadilah Kaito. Berikan pertunjukan.

"Terima kasih, Melvin," jawab Gaby dengan nada yang tak kalah manis, meletakkan tasnya dengan tenang. "Aku merasa sangat segar hari ini. Sepertinya tidur nyenyak benar-benar membantu menjernihkan pikiran."

Melvin berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar pelan di atas lantai kayu. Ia berhenti tepat di depan Gaby, jarak yang cukup dekat untuk membuat siapa pun merasa terintimidasi. Ia mengulurkan tangan, merapikan sedikit kerah blus Gaby yang sebenarnya sudah sempurna.

"I'm glad," bisik Melvin. "Karena hari ini kita akan menyelesaikan bagian paling krusial dari 'Sanctuary'. Aku ingin memastikan tidak ada rahasia lagi di antara kita dalam proyek ini. Semuanya harus transparan, bukan?"

Ia menatap Gaby tepat di manik mata, seolah sedang menantang Gaby untuk meledak saat itu juga. Namun, Gaby hanya membalasnya dengan senyum tipis yang misterius.

"Tentu saja, Melvin. Transparansi adalah kunci," balas Gaby, sambil diam-diam meraba ponsel di sakunya yang sedang merekam setiap kata yang keluar dari mulut pria itu.

Melvin terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat puas. "Good girl. Mari kita mulai. Aku sudah menyiapkan beberapa data baru yang... kupikir akan sangat menarik untuk kau pelajari."

Meskipun ketegangan merayap di bawah permukaan seperti arus listrik, profesionalisme menyelimuti ruangan itu. Gaby dan Melvin bekerja dengan sinkronisasi yang menakutkan seolah-olah pengkhianatan dan kecurigaan semalam hanyalah bumbu yang membuat fokus mereka semakin tajam.

Lantai studio dipenuhi dengan gulungan kain prototipe dan potongan maket akrilik. Gaby duduk di depan layar monitor besar, jemarinya menari di atas keyboard untuk menyempurnakan detail pencahayaan pada struktur "Sanctuary". Di sampingnya, Melvin sibuk memotong pola dengan presisi bedah, sesekali memberikan instruksi teknis tanpa sedikit pun nada permusuhan.

"Geser titik fokusnya dua derajat ke kiri, Gaby. Kita butuh bayangannya jatuh tepat di tengah atrium," ujar Melvin tenang, suaranya terdengar seperti rekan kerja yang paling tulus di dunia.

Gaby mengikuti instruksi itu tanpa membantah. "Sudah. Sekarang strukturnya terlihat lebih kokoh, tapi tetap transparan. Seperti yang kita diskusikan kemarin."

Pekerjaan mereka mengalir lancar selama berjam-jam. Mereka berdiskusi tentang estetika, fungsionalitas, dan filosofi desain seolah-olah email "Kaito's Weak Point" itu tidak pernah ada. Melvin bahkan sesekali memberikan pujian jujur pada pilihan palet warna Gaby, sementara Gaby membalasnya dengan senyuman yang tampak alami.

Namun, di balik layar monitornya, Gaby diam-diam memantau bilah status pada perangkat USB kecil yang terpasang di bawah meja. Perangkat yang diberikan tim IT Emrys pagi tadi untuk menyedot data secara pasif setiap kali laptop Melvin terhubung ke jaringan lokal studio.

Setiap kali Melvin tertawa atau bercanda, Gaby merasakan desiran adrenalin. Ia sadar sedang melakukan tarian berbahaya di atas tali tipis. Melvin merasa dia sedang memegang kendali, sementara Gaby tahu bahwa setiap detak jantung dan setiap dokumen yang mereka kerjakan sedang dipantau oleh mata-mata tak kasat mata milik kakaknya.

Hingga matahari mulai terbenam dan menyiram studio dengan warna jingga yang dramatis, maket fisik "Sanctuary" akhirnya berdiri dengan megah di tengah meja.

"Sempurna," gumam Melvin, menatap karya mereka dengan binar kebanggaan yang terlihat sangat nyata. Ia menoleh pada Gaby, memberikan botol air mineral yang baru dibuka. "Kita tim yang hebat, Gaby. Sayang sekali jika ini harus berakhir begitu cepat."

Gaby menerima botol itu, menatap pantulan dirinya di mata Melvin. "Siapa bilang ini akan berakhir, Melvin? Ini baru saja dimulai."

Kerja keras mereka membuahkan hasil yang luar biasa, namun badai di balik layar semakin dekat.

"Kita baru saja menciptakan mahakarya, Gaby," ujar Melvin sembari membereskan peralatan sketsanya. "Rasanya tidak adil jika kita langsung pulang dan tidur. Bagaimana kalau satu atau dua gelas di The Turf Tavern? Bar itu cukup tersembunyi, jauh dari hiruk-pikuk turis. Hanya untuk merayakan kerja keras kita."

Gaby terdiam sejenak. Ia teringat perintah Emrys untuk tetap menjadi "umpan" yang manis. Pergi minum dengan Melvin adalah situasi berisiko tinggi. Alkohol dan suasana bar yang remang bisa dengan mudah meruntuhkan tembok pertahanan yang ia bangun seharian ini. Namun, menolak secara mentah-mentah justru akan memicu kecurigaan Melvin bahwa Gaby sedang menyembunyikan sesuatu.

"Kedengarannya menyenangkan, Melvin," jawab Gaby sembari memasukkan tabletnya ke dalam tas. "Satu gelas tidak akan membunuhku."

The Turf Tavern, Oxford

Bar tua yang tersembunyi di balik gang sempit itu terasa hangat dengan aroma kayu ek dan bir yang khas. Mereka duduk di sudut yang paling gelap, di sebuah meja kayu yang permukaannya sudah kasar dimakan usia.

Melvin memesankan segelas cider untuk Gaby dan bir hitam untuk dirinya sendiri. Di bawah cahaya lilin yang temaram, wajah Melvin tampak lebih lembut, hampir membuat Gaby lupa bahwa pria ini sedang melaporkan setiap geraknya kepada keluarga Blackwood.

"Kau tahu, Gaby..." Melvin memutar-mutar gelasnya, matanya menatap cairan di dalamnya. "Bekerja denganmu membuatku sadar bahwa kau bukan sekadar 'bayangan' Emrys Aetherion Kaito. Kau punya insting yang tajam. Sangat tajam, bahkan terkadang aku merasa kau bisa melihat apa yang tidak terlihat oleh orang lain."

Gaby menyesap cider-nya, membiarkan rasa manis yang dingin membasahi tenggorokannya. Ia harus tetap waspada. "Apa maksudmu, Melvin? Aku hanya melakukan tugasku sebagai desainer."

Melvin terkekeh rendah, suaranya parau terkena musik latar yang pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Gaby, jarak yang membuat Gaby bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau kertas studio.

"Maksudku..." Melvin berbisik, matanya mengunci mata Gaby dengan intensitas yang membuat jantung Gaby berdesir ngeri. "...kadang aku bertanya-tanya, apakah kau berada di sini karena kau ingin, atau karena kakakmu sedang membiarkanmu bermain dengan api sebelum ia memadamkannya?"

Tangan Gaby yang memegang gelas sedikit bergetar. Ia tahu Melvin sedang mencoba memancingnya. Ini adalah perang persepsi yang sesungguhnya.

Tepat saat itu, ponsel Gaby di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Gaby tahu itu adalah kode dari tim IT Emrys.

[ 04:30 ]

"Umpan diterima. Brankas terbuka. Segera tinggalkan lokasi."

Suasana hangat di The Turf Tavern seketika menguap, berganti dengan hawa dingin yang mencekam. Gaby baru saja hendak beranjak ketika jemari Melvin melingkar kuat di pergelangan tangannya. Cengkeraman itu tidak main-main, keras, posesif, dan mematikan.

"Kenapa terburu-buru, Gaby? Permainan baru saja dimulai," bisik Melvin. Senyumnya masih manis, namun binar di matanya telah berubah menjadi kegelapan murni.

Tanpa memedulikan tatapan beberapa pengunjung bar, Melvin menarik Gaby paksa keluar menuju gang sempit yang gelap. Di sana, sebuah SUV hitam dengan mesin yang sudah menyala telah menunggu. Dengan kekuatan yang tidak terduga, Melvin mengangkat tubuh mungil Gaby, menggendongnya seolah gadis itu tidak berdaya, dan menghempaskannya ke kursi belakang sebelum ikut menerjang masuk.

Pintu terkunci otomatis. Click.

Melvin langsung mendekap Gaby, mengunci tubuh gadis itu dalam pelukan yang menyesakkan. Ia menghirup aroma rambut Gaby dengan ekspresi ekstasi yang mengerikan, seperti predator yang akhirnya mendapatkan mangsa utamanya.

"Diamlah, Gaby girl. Tenangkan dirimu," gumam Melvin, suaranya terdengar lembut namun beracun di telinga Gaby. "Emrys menginginkan sesuatu, maka aku juga menginginkan sesuatu. Biarkan mereka berperang di dunia siber atau di papan saham. Pekerjaanku untuk keluarga Blackwood sudah selesai. Laporan 'titik lemah' itu sudah terkirim. Itu artinya, aku sudah bisa mengambil imbalanku sekarang... Kau."

Gaby merasakan kemarahan yang meluap hingga ke ubun-ubun. Rasa takutnya berubah menjadi insting bertahan hidup yang liar. Tanpa peringatan, Gaby memajukan kepalanya dan menggigit leher Melvin sekuat tenaga, seolah ia ingin merobek kulit pria itu.

"Argh!" Melvin mengerang tertahan. Rasa sakit yang tajam menusuk sarafnya, namun bukannya menjauh, ia justru tertawa rendah. Suara tawa yang terdengar sangat psikopatis dan haus akan kegilaan.

Ia menahan kepala Gaby dengan tangan besarnya, memaksa gadis itu untuk berhenti menggigit meski darah segar mulai merembes di kerah kemejanya. Melvin menatap Gaby dengan tatapan lapar, lalu menjilat bibirnya sendiri.

"Yah... itu manis sekali," Melvin terkekeh menyeramkan, matanya berkilat di bawah lampu kabin yang temaram. "Gigitan kecil dari seekor burung yang mencoba menjadi serigala. Aku suka perlawanan, Gaby. Itu membuat 'hadiah' ini terasa jauh lebih berharga."

Mobil SUV itu mulai melaju kencang meninggalkan area kampus, membelah kegelapan Oxford menuju lokasi yang tidak diketahui. Sementara itu, di dalam saku gaun Gaby, ponselnya masih terhubung dengan sistem pelacak Kaito, namun ia tidak tahu apakah Emrys bisa sampai tepat waktu sebelum Melvin melangkah lebih jauh.

1
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!