NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Benteng dari Orang Buangan

Aku menoleh ke Lyra yang sudah berdiri tegak, matanya yang hijau kosong kini berbinar dengan fokus yang mengerikan. "Lyra! Kau yang memiliki ingatan tempur dan sihir! Lindungi area perkemahan! Fokus pada anak-anak dan yang tidak bisa bertarung! Jangan biarkan mereka mendekat!"

Lyra mengangguk, tanpa kata. Dia berbalik dan mulai mengorganisir beberapa pemuda yang terlihat sigap dengan perintah singkat dan jelas.

Aku memandang ke sekeliling pengungsi yang panik. "Semua pemuda yang kuat, yang bisa bertarung atau memiliki sihir dasar, berkumpul! Siapkan apa saja sebagai senjata! Yang lain—wanita, orang tua, anak-anak—masuk ke gubuk yang paling kokoh, JAUHI PANTAI!"

Suaraku menggema, penuh kepastian yang tidak terbantahkan. Aku tidak sadar telah mengambil alih komando, tapi tidak ada waktu untuk ragu. Mereka mendengarkan, bergerak cepat karena panik namun terarah.

Aku sendiri berlari menuju rumah. Di sana, Eveline sudah keluar dengan ketiga MAC-10, magazen terpisah tergantung di pinggangnya. Ratri sudah berdiri di depan pintu, wajahnya yang biasanya lembut kini keras seperti batu, mata emasnya berkilat dingin.

"Rian, mereka memiliki tiga penyihir level menengah, dan sekitar dua puluh orang bersenjata tajam," lapor Ratri cepat. "Aura mereka kotor... penjahat, perompak."

"Ambil senjatamu," perintahku pada Ratri, sambil meraih MAC-10-ku dan memasang magazen dengan gerakan terlatih. "Eveline, dengan aku. Ratri, kau sebagai cadangan dan pengawas area. Jika ada yang lolos atau mencoba menyerang dari belakang, kau yang tangani."

Mereka berdua mengangguk, tidak ada protes. Dalam situasi seperti ini, hierarki jelas.

Kami bertiga bergerak cepat menuju teluk timur. Saat sampai di bibir tebing yang menghadap ke pantai, pemandangan yang tidak menyenangkan menyambut. Tiga perahu panjang dengan layar compang-camping telah mendarat. Sekitar dua puluh orang berpakaian acak-acakan dan bersenjata pedang, kapak, dan beberapa busur, sedang mengobrak-abrik perkemahan kecil nelayan pengungsi yang ada di sana. Dua tubuh sudah terbaring tak bergerak di pasir. Tiga orang dengan jubah—penyihir—berdiri di belakang, tangan bersiap dengan bola energi.

Melihat kami muncul, seorang lelaki berbadan besar dengan mata beringas—pemimpinnya—berteriak. "Hei! Tambahan orang! Lihat itu, ada cewek cantik!" Dia menunjuk ke arah Ratri dan Eveline dengan senyum menjijikkan.

Aku melangkah maju, suaraku datar namun keras. "Ini pulau berpenghuni. Tinggalkan tempat ini. Sekarang. Bawa barang kalian dan pergi."

Sang pemimpin tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh anak buahnya. "Dengar itu, boys! Si kurus suruh kita pergi! Apa lo bisa apa, anak kemarin sore? Mending serahin cewek-cewek itu dan semua barang berharga, biar kami kasih lo mati cepat!"

"Mengingatkan untuk terakhir kali," ucapku, suara mulai berisi ancaman. "Pergi. Atau hadapi konsekuensinya."

"Mulut besar lo!" teriak salah satu perompak, lalu melesat maju dengan pedang teracung.

Tidak ada waktu untuk peringatan lagi. Insting berbicara.

"Tembak!"

Aku, Eveline, dan Ratri mengangkat senjata kami. BRRRRAP! BRRRRAP! BRRRRAP!

Suara tembakan memecah udara, asap mesiu mengepul. Peluru-peluru besi menghujani kelompok perompak terdepan. Mereka terkejut bukan main—senjata aneh, suara menggelegar, dan rekan mereka yang tiba-tiba terjungkal dengan lubang-lubang berdarah di tubuhnya.

Kekacauan terjadi. Tapi para penyihir bereaksi cepat. Sebuah perisai energi terbentuk, menghalangi beberapa peluru. Para perompak yang selamat, meski ketakutan, mulai menyerang balik dengan panah dan sihir kecil.

Pertempuran sengit terjadi. Aku dan Eveline bergerak dengan cover, menembak dengan semburan pendek. Ratri, dengan kecepatan dewinya, menghilang dan muncul, menyerang dengan MAC-10-nya dengan akurasi mematikan, sambil sesekali membelokkan panah atau sihir dengan gerakan tangannya.

Beberapa perompak tewas. Beberapa terluka parah. Tapi jumlah mereka masih banyak, dan penyihir mereka mulai melancarkan serangan lebih ganas—tombak es, bola api, dan semburan asam.

Aku melihat ke tubuh-b tubuh perompak yang sudah tak bergerak di pasir. Sebuah ide gelap, pragmatis, dan mengerikan muncul di kepalaku. Saat ini bukan waktunya untuk keraguan moral. Ini tentang pertahanan.

Aku berlari mendekati salah satu mayat, sambil tetap menembak sebagai cover. Aku menempatkan tanganku di dada mayat itu, dan dengan konsentrasi penuh—dan sedikit rasa jijik pada diriku sendiri—aku menarik "potensi" itu lagi.

"Bangkit. Dan lawan mantan rekanmu."

Mayat itu bergetar. Luka-lukanya tidak sembuh, tapi matanya terbuka, kosong. Dengan gerakan kaku, dia berdiri, mengambil pedangnya yang terjatuh, lalu berbalik dan menyerang perompak di sebelahnya yang sedang bingung melihat rekannya bangkit.

Kegaduhan menjadi puncaknya. "APA APAN?! DIA BANGKIT?! IBLIS! ITU IBLIS!" teriak para perompak.

Aku tidak berhenti. Mayat kedua, ketiga. Dalam beberapa menit, empat mantan perompak telah bangkit dan berbalik melawan bekas kawan mereka sendiri. Mereka tidak kenal takut, tidak kenal sakit. Panah yang menancap tidak menghentikan mereka. Sihir yang mengenai hanya memperlambat.

Para perompak dan penyihir mereka kini benar-benar kalang kabut. Mereka berjuang melawan musuh yang tidak bisa mati—atau tepatnya, sudah mati. Ketakutan yang irasional melumpuhkan semangat juang mereka.

"LARI! LARI KE KAPAL!" teriak pemimpin mereka yang kini penuh luka.

Mereka berbalik dan berlari pontang-panting ke arah perahu mereka, meninggalkan barang rampasan dan rekan-rekan mereka yang terluka. Para revenant yang kubangkitkan terus mengejar hingga ke air dangkal, sebelum akhirnya aku memberi perintah mental untuk berhenti.

Sementara itu, dari arah perkemahan utama, terdengar teriakan singkat dan ledakan energi kecil. Tampaknya beberapa perompak mencoba menyusup dari sisi lain, tapi bertemu dengan Lyra dan beberapa pemuda pengungsi yang siap. Dari kejauhan, aku melihat Lyra dengan tatapan dingin mengarahkan energi hijau untuk menjerat kaki seorang perompak, sambil dengan tubuhnya melindungi sekelompok anak-anak yang bersembunyi di balik gubuk. Tidak ada yang berhasil masuk.

Saat kapal-kapal perompak itu akhirnya berhasil mendayung pergi dengan tergesa-gesa, keheningan yang tegang menyelimuti pantai. Hanya terisa suara debur ombak, asap mesiu, dan erangan orang terluka.

Aku berdiri di antara mayat asli dan revenant yang kini berdiri diam menungg perintah. Dadaku berdebar kencang, bukan karena pertarungan, tapi karena apa yang baru saja kulakukan. Aku menggunakan mayat musuh sebagai senjata. Aku telah melangkah lebih jauh.

Ratri mendekat, melihat revenant-revenant itu dengan ekspresi kompleks. Eveline hanya berdiri siap, senjatanya masih mengarah ke pantai.

"Aku... tidak punya pilihan lain," bisikku, lebih kepada diriku sendiri.

"Kau melakukan apa yang harus dilakukan untuk melindungi orang-orang di sini," balas Ratri, suaranya lembut tapi tegas. "Tapi beban itu... akan bertambah, kan?"

Aku mengangguk, menatap revenant-revenant yang kubuat. Mereka adalah pengingat nyata dari jalan gelap yang mungkin harus kulalui di dunia ini. Jalan yang dimulai dari sebuah celetukan bodoh, dan kini membawaku ke sini: memerintah mayat untuk membunuh, demi melindungi kehidupan.

Pertanyaan besarnya adalah: seberapa jauh lagi aku harus melangkah sebelum akhirnya kehilangan jejak manusia di dalam diriku sendiri?

 Setelah kekacauan akibat serangan perompak mereda, suasana di pulau berubah. Ada aroma asap mesiu dan darah yang perlahan tersapu angin laut, digantikan oleh bau tanah basah dan ketegangan yang masih menggantung. Para perompak yang terluka parah dan tidak sempat kabur—sekitar lima orang—ditangkap dan diikat. Aku memutuskan untuk tidak ikut campur dalam penghukuman mereka. Ini adalah urusan para pengungsi yang langsung menjadi korban—yang kehilangan anggota keluarga, yang rumah sementaranya diobrak-abrik.

Aku menyaksikan dari kejauhan saat dewan perwakilan yang terbentuk dari perjanjian—Gregor (Manusia), Lirea (Elf), dan Kael (Iblis)—mengadili mereka dengan didampingi oleh para korban. Suara marah, tangisan, dan akhirnya keputusan yang disepakati: para perompak itu akan dipekerjakan paksa untuk membangun pertahanan dan memperbaiki kerusakan, di bawah pengawasan ketat, dengan ancaman hukuman lebih keras jika melarikan diri atau membangkang. Itu adalah keputusan pragmatis yang keras namun tidak keji, mencerminkan keinginan untuk bertahan, bukan balas dendam buta.

Setelah prosesi itu, beberapa pengungsi mendatangiku. Wajah-wajah mereka masih terlihat pucat, tapi mata mereka memancarkan rasa terima kasih yang dalam. Seorang wanita manusia yang suaminya terluka, seorang lelaki elf yang anaknya selamat karena perlindungan Lyra, dan beberapa lainnya.

"Tuan Rian," kata wanita itu, suaranya bergetar. "Terima kasih. Tanpa kalian... kami pasti sudah binasa."

Lelaki elf itu mengangguk dalam-dalam. "Kami berhutang nyawa pada kalian. Kekuatan yang kalian tunjukkan... itu menyelamatkan kita semua."

Aku merasa tidak nyaman dengan pujian itu. "Aku hanya membantu sedikit. Yang banyak berkontribusi adalah Ratri dan Eveline dengan kekuatan fisik dan sihir mereka. Dan... Lyra serta yang lainnya yang langsung bertahan di garis depan. Aku hanya... membangkitkan yang sudah mati. Itu saja."

Maksudku adalah merendahkan peranku, tapi kata-kataku justru membuat mereka semakin terkesan.

"Membangkitkan yang mati... dengan sempurna, tanpa cacat, dan bisa diperintah untuk melindungi kita?" Lelaki elf itu menggeleng takjub. "Itu bukan 'hanya', Tuan. Itu adalah kekuatan yang melampaui sihir biasa. Bahkan revenant buatan penyihir gelap paling kuat pun biasanya cacat, haus darah, atau tidak stabil. Yang kau ciptakan... mereka patuh dan masih mempertahankan bentuk aslinya. Itu adalah keajaiban, atau... sesuatu yang sangat berkuasa."

Mendengar penjelasannya, aku baru menyadari betapa tidak biasa kemampuan ini di mata mereka. Bagi mereka, revenant yang "sempurna" dan terkendali adalah hal yang hampir mitos. Bagi aku, itu adalah konsekuensi dari "celetukan bodoh".

"Terima kasih telah mengatakannya," ucapku akhirnya, menerima rasa terima kasih mereka karena melihat itu penting bagi moral mereka. "Sekarang, kita harus fokus pada pemulihan dan persiapan. Kejadian ini tidak boleh terulang."

Setelah mereka pergi, aku menoleh ke Eveline yang masih berdiri siaga di sampingku. "Eveline, situasi sudah aman terkendali. Kembali ke aktivitas biasa. Tapi tetap waspada."

"Ya, Tuanku." Eveline mengangguk, lalu berbalik dan berjalan dengan langkah pasti menuju rumah, mungkin untuk merapikan senjata atau kembali ke patroli diamnya.

Sekarang, saatnya berpikir ke depan. Keamanan. Serangan perompak adalah pengingat brutal bahwa pulau ini tidak kebal. Tapi, bergantung pada revenant dan kekuatan kita bertiga saja bukan solusi jangka panjang. Aku tidak ingin para pengungsi menjadi pasif, selalu berharap pada "penyelamat" dari luar. Mereka harus bisa mempertahankan diri.

Aku mencari Ratri dan menemukannya di belakang rumah, sedang memeriksa tanaman obatnya. "Ratri, kita perlu bicara."

Dia menoleh, wajahnya masih serius. "Tentang pertahanan?"

"Ya." Aku duduk di sebuah bongkahan kayu. "Kita tidak bisa mengandalkan revenant sebagai tameng utama. Itu tidak sehat. Mereka harus belajar melindungi diri dan keluarganya sendiri. Jika suatu hari nanti kita tidak ada di sini, atau revenant tidak bisa diandalkan, mereka harus punya kemampuan bertahan."

Ratri mengangguk, setuju. "Itu bijaksana. Tapi bagaimana caranya? Kebanyakan dari mereka bukan prajurit. Mereka petani, pengrajin, pengungsi yang trauma."

"Kita latih mereka," jawabku tegas. "Bentuk sistem pertahanan sipil. Mereka yang memiliki elemen sihir dasar—air, api, tanah, angin—kita latih untuk koordinasi dan pertahanan area. Yang kuat fisik dan lincah, kita latih bertarung jarak dekat dengan tombak, kapak, atau bahkan belati. Yang memiliki ketajaman mata dan kesabaran, bisa kita latih dengan busur. Kita buat pos-pos jaga, sistem alarm sederhana, dan rencana evakuasi."

Ratri mendengarkan dengan saksama. "Itu akan membutuhkan waktu dan komitmen."

"Tapi itu investasi yang perlu. Kita bagi tugas. Kau bisa mengawasi pelatihan elemen sihir dasar. Aku dan Eveline bisa menangani pelatihan fisik dan taktis. Lyra bisa membantu dengan pengetahuannya tentang sihir dan strategi elf."

Ratri tersenyum kecil. "Kau sudah memikirkan semuanya. Baiklah, aku setuju. Tapi ada satu hal," lanjutnya, matanya yang emas berbinar dengan ide. "Senjata api-mu, MAC-10 itu. Keefektifannya luar biasa dalam pertarungan jarak dekat. Bagaimana jika kita buat lebih banyak? Bentuk satuan kecil yang dilatih khusus menggunakan senjata itu? Itu akan menjadi kekuatan penentu."

Aku menghela napas, sudah menduga usulan ini. "Aku sudah memikirkannya, Ratri. Tapi ada masalah besar. Bahan baku. Membuat satu atau dua MAC-10 dengan tangan, part by part, seperti yang kita lakukan, itu mungkin. Tapi untuk produksi massal, butuh logam yang banyak, perkakas yang lebih baik, dan waktu yang sangat lama. Bijih besi di pulau ini terbatas. Kita tidak punya tambang atau tungku peleburan besar. Belum lagi pembuatan amunisi—420 peluru itu cukup untuk beberapa pertempuran kecil, tapi akan habis cepat jika digunakan banyak orang."

Aku melihat ke arah hutan dan bukit. "Pulau ini terbatas. Kita tidak bisa mengeksploitasi semua sumber dayanya hanya untuk senjata. Kita butuh untuk bertahan hidup jangka panjang—pertanian, perkakas, perbaikan rumah."

Ratri mengerutkan kening, mempertimbangkan. "Kau benar. Aku terbawa oleh efektivitasnya. Aku lupa bahwa di balik keajaiban teknologi duniamu, ada rantai pasokan dan industri yang mendukung." Dia diam sejenak. "Kalau begitu, kita buat dalam skala sangat terbatas. Mungkin hanya untuk regu khusus, lima atau enam orang terbaik dan paling terpercaya. Dan kita fokus pada efisiensi amunisi—latihan penembakan yang akurat, bukan semburan sembarangan."

Itu ide yang lebih realistis. "Setuju. Tapi itu untuk nanti. Prioritas sekarang adalah membangun fondasi pertahanan dasar dengan apa yang mereka sudah punya: sihir, fisik, dan kerja sama."

"Dan," tambah Ratri, "kita juga harus memikirkan senjata dengan jarak yang lebih jauh. MAC-10 hebat untuk jarak dekat dan menengah, tapi kemarin, para penyihir itu bisa bertahan dari jarak yang agak jauh karena kita tidak memiliki cara efektif untuk menembus pertahanan mereka dari jarak sangat jauh sebelum mereka mendekat."

Aku mengangguk, sebuah ide lain muncul. "Aku punya rencana untuk itu. Aku ingin membuat senjata jenis lain. Namanya DMR."

Ratri memiringkan kepalanya. "DMR? Apa itu?"

"Designated Marksman Rifle. Senapan penembak runduk yang ditunjuk," jelasku, mencoba menerjemahkan konsepnya. "Bayangkan MAC-10 itu seperti pisau—cepat, mematikan dalam jarak dekat, tapi kurang akurat dan kuat untuk jarak jauh. DMR ini seperti panah yang sangat kuat dan akurat, tapi bisa ditembakkan berkali-kali lebih cepat daripada memanah."

Aku menggunakan kayu kecil untuk menggambar di tanah. "Larasnya lebih panjang, untuk meningkatkan akurasi dan jangkauan. Pelurunya juga berbeda—lebih panjang, lebih berat, dirancang untuk menjaga kecepatan dan tenaga di jarak jauh. Mekanismenya bisa semi-otomatis—satu tarikan pelatuk, satu tembakan, tapi tidak perlu menarik bolt seperti busur panah—atau bahkan full-otomatis terbatas. Dengan ini, satu orang penembak jitu bisa mengancam penyihir atau komandan musuh dari jarak 200, bahkan 300 meter, sebelum mereka sempat membentuk pertahanan sihir."

Mata Ratri berbinar dengan pemahaman dan kekaguman baru. "Jadi... ini adalah senjata untuk mengontrol medan pertempuran dari kejauhan. Menghilangkan ancaman sebelum ancaman itu sampai ke garis pertahanan kita."

"Tepat," aku menganggak. "Tapi, masalahnya sama: kompleksitas dan bahan. Membuat DMR akan jauh lebih sulit daripada MAC-10. Butuh presisi yang lebih tinggi, logam yang lebih baik untuk laras panjang, mekanisme yang lebih rumit. Itu adalah proyek jangka panjang."

"Tapi kau sudah punya desainnya di buku catatanmu, kan?" tanya Ratri.

"Sketsa dan konsep dasar, ya. Tapi untuk mewujudkannya..." Aku menghela napas. "Butuh waktu, eksperimen, dan sumber daya yang kita belum tentu punya."

Ratri menempatkan tangannya di pundakku. "Maka kita lakukan selangkah demi selangkah. Prioritas pertama: latihan dasar pertahanan untuk semua pengungsi. Kedua: pilih kandidat terbaik untuk regu senjata api terbatas, dan kita mulai produksi MAC-10 tambahan dengan sangat perlahan, sambil mengumpulkan bahan untuk DMR. Ketiga: eksplorasi pulau lebih dalam—mungkin ada deposit mineral atau bahan lain yang bisa kita manfaatkan dengan cara yang lebih efisien dengan bantuanku."

Rencananya masuk akal, realistis, dan bertahap. Itu yang kuperlukan—sebuah peta jalan, bukan impian kosong.

"Baik," ucapku, merasa sedikit lebih ringan. "Mari kita mulai dengan mengumpulkan dewan perwakilan dan menyampaikan rencana pelatihan pertahanan sipil. Kita butuh partisipasi dan komitmen dari semua."

Hari itu, di bawah langit sore yang mulai jingga, kami mengumpulkan Gregor, Lirea, Kael, dan beberapa tokoh pengungsi lainnya. Aku menyampaikan visi tentang masyarakat yang mampu mempertahankan diri, bukan bergantung pada penyelamat. Awalnya ada keraguan—mereka lelah, trauma—tapi setelah dijelaskan tentang pentingnya kemandirian dan ditunjukkan bahwa ini adalah langkah untuk melindungi anak-anak dan masa depan mereka, perlahan-lahan mereka setuju.

Lyra, yang hadir dengan ayahnya, menawarkan diri untuk membantu pelatihan sihir dasar dan taktik pengintaian ala elf. Beberapa pemuda yang selama ini hanya merasa takut, kini matanya berbinar dengan tujuan baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!