Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak pantas
Kondisi Saraswati kali ini benar-benar parah. Dia harus menjalani operasi pemasangan ring jantung secara darurat. Jika tidak, maka nyawanya kemungkinan besar tidak akan terselamatkan.
Ibas, Ikhsan, dan juga Aliya menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan harap-harap cemas. Air mata terus membanjiri wajah Aliya. Dia takut, dia akan kehilangan orang yang dia sayang di tempat yang sama, rumah sakit.
"Al, jangan menangis! Bunda akan baik-baik saja!" hibur Ikhsan kepada sang menantu.
"Aku takut, Yah," ucap Aliya dengan suara bergetar.
Ikhsan menghela napas berat. Dia menyentuh pelan pundak Aliya.
"Sejujurnya, Ayah juga takut, Aliya. Tapi, kita harus percaya sama Bunda. Kita harus percaya sama Allah. Ya?"
Aliya pun mengangguk. Tangisnya masih sesenggukan meski sudah berusaha dihentikan.
Sementara, Ikhsan dan Aliya saling menguatkan, Ibas justru memilih untuk menyendiri di sisi yang lain. Tatapannya kosong menghadap dinding rumah sakit.
Kali ini, dia benar-benar menyadari jika perasaan sayang terhadap sang Ibu ternyata jauh lebih besar dibanding terhadap Nadia. Lantas, kenapa dia malah mengecewakan sang Ibu berkali-kali?
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Ibas tiba-tiba memukuli kepalanya sendiri. Aliya terkejut. Hendak menghampiri Ibas namun sang Ayah mertua justru menahan lengannya.
"Sudah, biarkan saja!" kata Ikhsan. "Sudah saatnya dia bersikap dewasa."
Aliya akhirnya mengangguk. Dia menuruti permintaan sang Ayah mertua untuk tetap diam.
Setengah jam kemudian, Aufar akhirnya datang setelah mendengar kabar masuknya Saraswati ke rumah sakit oleh salah satu kerabat dekat.
Tanpa pikir panjang, Aufar langsung menyetir ke rumah sakit padahal sebelumnya berniat ke rumah Ikhsan dan Saraswati untuk menginap agar bisa mencari tahu siapa Aliya yang dinikahi oleh Ibas.
Benar Aliya yang dia kenal saat masih remaja, atau justru perempuan lain yang kebetulan memiliki nama yang sama?
"Om," sapa Aufar.
Ikhsan menoleh. Cukup terkejut saat melihat keberadaan Aufar di tempat yang sama.
"Loh, Far? Kok, kamu bisa ada disini? Bukannya, kamu masih ada di New York?"
"Aku pulang buat ziarah ke makam Almarhumah Mama, Om. Tadi pagi baru tiba di sini," jawab Aufar. "Tante Saras gimana?"
"Tantemu masih di dalam, Far. Sedang menjalani operasi pemasangan ring jantung."
Aufar menghela napas berat. Tak sengaja, tatapannya tertumbuk pada sosok perempuan yang sedang duduk dibelakang Ikhsan.
"Itu memang dia," lirih Aufar dalam hati.
"Om... dia siapa?" tanya Aufar kepada sang Paman.
Ikhsan menoleh ke belakang. Menatap Aliya yang masih duduk dengan tangan yang saling bertaut.
"Itu ipar kamu. Namanya, Aliya. Dia istrinya Ibas."
Dada Aufar berdesir perih. Dia berusaha tersenyum untuk menutupi luka di hatinya. Sambil menghela napas panjang, dia berusaha untuk bersikap seolah baik-baik saja.
"Aliya Naqiya!" panggil Aufar.
Aliya reflek mendongak. Ia mengusap matanya yang berembun agar penglihatannya tidak lagi mengabur.
"Kak... Aufar?" lirih Aliya.
"Wah, kamu masih ingat aku ternyata," sahut Aufar. "Apa kabar?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Aliya menjabat tangan Aufar dengan sedikit ragu.
"Kurang baik," jawabnya.
Aufar menatap sebentar ke pintu ruang operasi.
"Kamu tenang aja! Tante Saras pasti akan baik-baik aja."
Aliya mencoba tersenyum meski terasa sulit. Dia mengangguk, sambil berusaha menahan tangis yang kembali ingin tumpah.
"Ngomong-ngomong, Ibas dimana, Om?"
"Di sana," tunjuk Ikhsan ke ujung koridor. Di sana, Ibas sedang menyendiri. Duduk dengan kaki selonjoran dengan tatapan kosong.
"Aku izin ke sana dulu, ya, Om!" pamit Aufar.
"Iya," angguk Ikhsan.
Aufar pun menghampiri Ibas. Dia mengajak sang sepupu untuk berbicara di tempat lain.
"Minum," ujarnya sembari menyerahkan sebotol air mineral ke tangan Ibas.
Saat ini, mereka sedang duduk di taman rumah sakit.
"Thanks," timpal Ibas sambil membuka air mineral itu dan meneguknya sedikit.
Aufar masih tersenyum kecil. Dia menatap Ibas cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara.
"Selamat, ya! Akhirnya, Lo nikah juga," ucap Aufar. "Cuma, gue nggak nyangka aja kalau ternyata orang lama juga yang bakal jadi pemenangnya. Soalnya, yang gue tahu, Lo itu bucin parah sama Nadia."
Kepala Ibas yang semula menunduk reflek menoleh ke arah Aufar.
"Maksud Lo apa? Orang lama? Siapa?"
"Bukannya, Aliya itu cinta pertama Lo, ya? Dulu, saat kita lulus SMA, lo pernah bilang kalau lo bakal cari dia lagi buat nyatain cinta. Lo bilang, kalau Aliya adalah cewek pertama yang berhasil bikin lo jadi perhatian dan akhirnya jatuh cinta. Lo bahkan punya panggilan sayang buat dia. Lo suka panggil nama Aliya pakai nama belakangnya. Na-qi-ya."
Penjelasan Aufar membuat kepala Ibas terasa semakin sakit. Dia memaksa memorinya untuk memutar kenangan lama. Namun, sekeras apapun dia berusaha, yang muncul dalam pikirannya hanya potongan-potongan ingatan yang semakin membingungkan.
"Aliya..." gumam Ibas. "Aliya Naqiya. Naqiya... jadi, bukan Nadia?"
Tiba-tiba, Ibas tersadar akan sesuatu. Satu-satunya hal yang dia ingat pasca kecelakaan hanya satu. Dia mencintai seseorang yang berawalan Na. Dia pikir itu Nadia. Tapi, saat Aufar menyebutkan Naqiya, bisa jadi dia memang salah orang.
"Bas, Lo masih belum ingat dia?" tanya Aufar. "Terus, kalau gitu... Gimana ceritanya Lo bisa nikahin dia?"
Telinga Ibas mendadak berdenging hebat. Penglihatannya serasa berputar sebelum semua menjadi gelap.
"Bas, Lo kenapa? Bas?"
.....
Beberapa jam pasca operasi pemasangan ring jantungnya, Saraswati akhirnya sadar kembali.
Orang yang dia panggil pertama kali adalah Aliya. Dia sangat ingin berbicara dengan sang menantu.
"Bunda..." panggil Aliya dengan suara tercekat. Dia duduk disamping brankar sang Ibu mertua dengan perasaan lega sekaligus merasa bersalah.
"Syukurlah Bunda baik-baik aja. Aku benar-benar takut. Aku nggak mau Bunda sampai kenapa-kenapa hanya karena aku."
Saraswati menggeleng pelan. Dia tak mau Aliya menyalahkan dirinya sendiri.
"Aliya... kamu mau pergi, Nak?" tanya Saraswati lirih.
Dan, Aliya mengangguk sambil mengusap airmatanya.
"Aliya memang harus pergi, Bunda. Sebenarnya... Mas Ibas sudah menjatuhkan talaknya pada Aliya. Maaf! Maaf, karena Aliya udah nggak jujur sama Bunda."
"Kapan, Al?" tanya Saraswati dengan hati yang serasa disambar petir.
"Saat Bunda masuk rumah sakit pertama kali."
Saraswati memejamkan matanya. Hatinya bersedih. Gerimis seolah tak mau berhenti.
"Bun... Mas Ibas dan Nadia saling mencintai. Tolong izinkan Mas Ibas bahagia dengan pilihannya sendiri."
"Terus, kamu gimana? Bukannya, justru malah kamu yang jadi tersakiti?"
"Aku nggak apa-apa, Bun. Justru, kalau terus memaksakan diri untuk bersama Mas Ibas, yang ada aku malah akan semakin sakit. Lebih baik, kita akhiri semuanya sampai di sini. Aku dan Mas Ibas sebaiknya saling melepaskan."
Saraswati menyeka air matanya. Dia meraih tangan Aliya. Menggenggamnya erat.
"Aliya... maafkan Bunda, ya! Bunda yang nggak bisa mendidik Ibas dengan baik."
Aliya menggeleng. "Bunda nggak salah."
Dan, kemudian mereka berdua akhirnya saling berpelukan. Keduanya sama-sama menangis. Tanpa mereka sadari jika seseorang sudah mengintip mereka sedari tadi dengan perasaan campur aduk.
"Bunda... Aliya..." panggil Ibas yang tampak takut-takut untuk melangkah semakin dekat.
Saraswati langsung membuang muka ke arah lain.
"Bunda... Aku minta maaf! Aku..."
"Keluar!" usir Saraswati. Bunda nggak mau lihat kamu lagi."
"Bun..."
"Pergi!!!"
Ibas tampak begitu pasrah. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Jika memaksa bertahan di sana, maka kondisi sang Ibu yang akan dipertaruhkan.
"Tunggu!" cegah Saraswati tiba-tiba.
Ibas pun berbalik kembali.
"Karena kalian sudah bercerai secara agama, maka segera proses perceraian kalian secara hukum."
"Bunda, aku masih mau mempertahankan pernikahan ini. Aku..."
"Bebaskan Aliya, Bas!" potong sang Ibu. "Jika kamu bertahan hanya karena Bunda, maka sebaiknya jangan. Bunda ikhlas kalian bercerai. Perempuan sebaik Aliya memang tidak pantas untuk kamu."
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺