Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Hati Claire
Heningnya malam di rumah pribadi itu seolah menjadi saksi bisu atas kepuasan yang kini membuncah di dada Claire, di mana denting jam dinding yang terus berputar selama satu jam terakhir sejak kepulangannya dari kediaman utama Lergan terasa seperti melodi kemenangan yang manis.
Sementara itu, di kejauhan sana, Julian masih harus terjebak di tengah reruntuhan drama keluarga Lergan, memeras otak untuk mencari solusi atas kekacauan memuakkan yang diperbuat oleh bibi dan kedua saudarinya. Sudah di pastikan jika Maxime Winston akan menghancurkan keluarga Lergan.
Dengan masker wajah yang menempel dingin, Claire bersiul pelan—sebuah nada riang yang kontras dengan ketegangan hebat yang baru saja ditinggalkannya—sembari memutar kembali rekaman memori tentang bagaimana Maxime Winston meledakkan amarahnya hingga membentak Kakek Carlos tanpa ampun.
Bayangan Bibi Glenna, Ana dan Yunda yang tertangkap basah dalam adegan nista bersama seorang bawahan. Itu adalah hukuman yang pantas bagi mereka yang berani melawan nya sehingga membuat reputasi ketiga wanita itu hancur dalam sekejap mata. Ada rasa puas yang tak terlukiskan saat jebakan yang awalnya dirancang untuk menjatuhkannya justru menjadi lubang kubur bagi mereka yang menggalinya--- sebuah skakmat sempurna yang membiarkan para musuh terjepit dalam permainan kotor mereka sendiri.
"Mereka ingin menjebakku dalam skandal, tapi malah terjatuh ke dalam lubang yang mereka gali sendiri. Benar kata orang, senjata makan tuan itu nyata. Dan Julian... ah, suamiku yang malang. Masih harus membersihkan kotoran yang dibuat oleh bibi dan saudari-saudarinya yang tidak tahu diri itu."
Ia tertawa kecil, suara tawa yang anggun namun dingin."Ternyata menjadi sutradara jauh lebih menyenangkan daripada menjadi pemeran utama yang tertindas. Setidaknya, sebagai sutradara, aku bisa menentukan siapa yang akan menangis dan siapa yang akan tertawa di akhir babak."
Ia berjalan menuju jendela, menatap lampu jalan yang berkilauan. "Ini baru permulaan. Jika babak pertama saja sudah seheboh ini, aku tidak sabar untuk menulis skrip untuk drama yang baru. Selamat berjuang di sana, Julian. Aku akan menunggumu dengan senyuman paling manis saat kau pulang nanti."
Claire bergumam pelan, mata terpejam. "Ah... ekspresi Tuan Maxime tadi benar-benar seperti mahakarya. Aku hampir ingin memotret wajah Kakek Carlos saat bentakan itu menggema sampai menghancurkan gendang telinga... sangat memuaskan."
Sementara itu, beberapa meter dari gerbang, sebuah sedan hitam mewah terparkir dalam kegelapan. Mesinnya mati, meninggalkan keheningan yang menyesakkan bagi Albert.
Ares tersenyum tipis, menatap jendela lantai dua. "Dia pasti sudah tidur. Singa betina itu pasti sedang memimpikan kemenangannya malam ini."
Albert memberanikan diri memecah hening. "Tuan Muda, maaf sebelumnya. Tapi kenapa kita berada di sini? Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Ini waktunya untuk tidur, bukan untuk... berjaga."
Suara Ares mendingin. "Diamlah. Tugas seorang bawahan hanya mengikuti atasannya tanpa perlu menjadi jam weker."
Albert terdiam, namun batinnya berteriak keras. " Apa Tuan Muda tidak sadar dia bertingkah seperti penguntit? Kalau yang diincar gadis lajang, aku maklum. Tapi ini istri orang! Istri Julian Lergan!"
"Jangan menyumpahiku dalam hatimu, Albert. Aku bisa mendengarnya dari helaan napasmu yang berisik."
Albert gugup seketika. "M—maaf, Tuan Muda. Saya hanya memikirkan efisiensi waktu Anda."
Ares menoleh pelan, tatapannya tajam. "Kalau begitu, jadilah efisien sekarang. Aku punya tugas untukmu. Selidiki informasi apa pun tentang Claire Sophia. Segalanya. Dari hari dia lahir hingga setiap helai rambut yang dia jatuhkan."
"Tapi Tuan... bukankah sudah jelas jika kedua anak itu adalah darah daging Julian Lergan? Kau sudah melihatnya sendiri.. awal nya aku juga curiga jika itu adalah anak mu. Namun ternyata kau bertemu kedua anak itu di keluarga Lergan."
Ares mengepalkan tangan di atas paha "Lakukan saja! Entah kenapa... aku merasa memiliki ikatan batin yang tidak masuk akal dengan kedua anak itu. Ada sebuah rahasia yang masih menjadi misteri disini." Albert hanya bisa mengangguk pasrah. Dia yang sudah tau watak atasan nya lebih memilih menurut dari pada hukuman nya lembur tiga hari tiga malam.
•
•
Mentari pagi menembus tirai sutra kamar, menyapa Claire yang terbangun dengan perasaan seringan kapas dan hati yang melambung gembira, seolah ia baru saja memenangkan lotre kehidupan yang paling tak ternilai. Dengan langkah ringan yang hampir melompat, ia memasuki kamar mandi marmernya, menatap cermin, dan membasuh wajah yang tampak jauh lebih berseri-seri, seakan memancarkan aura magis yang selama ini tersembunyi.
Rumah mewah itu terasa tenang dan sepi, hanya diisi oleh derap langkah pelan beberapa pelayan yang sedang bekerja dalam sunyi. Usai membersihkan diri dan mengenakan gaun santai, Claire melangkah menuju dapur, berniat menyiapkan sarapan spesial untuk kedua anak tercintanya dengan tangan sendiri.
Senandung ceria mengalun dari bibirnya, sebuah pemandangan yang begitu asing namun menawan, membuat para pelayan menghentikan aktivitas sejenak dan bertukar pandang penuh heran sekaligus kagum melihat perubahan drastis Nyonya mereka yang kini seolah diselimuti kebahagiaan sejati.
Tiba-tiba, seorang bocah kecil dengan rambut acak-acak dan piyama bergambar dinosaurus muncul di ambang pintu dapur. "Bibi, cucu Micel habi—"
Kalimat Michel terputus. Matanya membulat melihat sang Mommy sedang memegang gagang spatula layaknya mikrofon profesional di atas panggung konser.
Michel menengok ke arah Bibi pelayan dengan wajah heran. "Ada konsel lupa na, Bi? Mommy jadi penyanyi?"
Claire yang menyadari kehadiran putranya justru semakin bersemangat. Ia menghampiri Michel, berlutut menyamakan tinggi badan mereka, lalu mengarahkan "mikrofon" spatulanya ke depan wajah kecil Michel.
Claire bernyanyi dengan nada tinggi. "Ayo sayang, sambung lagunya! Hari ini dunia milik kita!"
Michel terkekeh geli, lalu mulai bergoyang lucu mengikuti irama ibunya. "Adu Du Du... cenang na pagi ini! Kau belkata padaku, jangan kau culi hali bahagiaku!"
Claire menyahut dengan tawa. "Pintar! Lalu apa lanjutannya, Rockstar?"
Michel berteriak semangat. "Ku katakan padamu, kita bagi beldua! Mommy catu, Micel satu, Abang catu! Kita makan hali bahagia pakai naci!"
Gelak tawa pecah di dapur. Claire memeluk Michel erat, menciumi pipi gembulnya dengan gemas. Kebahagiaan itu menular, meluluhkan keheranan para pelayan yang kini ikut tersenyum melihat kemesraan ibu dan anak yang penuh energi tersebut.
Di saat yang sama, Mikael melangkah masuk. Niat hatinya hanya ingin membasahi kerongkongan yang kering, namun pemandangan di depan mata membuatnya langsung waspada. "Kabur! Bahaya ini," gumamnya, mencoba memutar balik tubuhnya selembut mungkin agar tidak terdeteksi.
Tapi radar Michel terlalu tajam. "Abang! Cini!" teriak Michel sambil berlari secepat kilat dan menyambar ujung piyama Mikael.
"KYAAAA! NGGAK MAU! MAU MINUM! BUKAN KONSER!" jerit Mikael histeris saat ditarik paksa menuju 'panggung' di tengah dapur.
"Apalah Abang ini, di ajak cenang-cenang kok ndak mau. Cekali caja, belnyanyi menyehatkan mulut, tahu!" protes Michel dengan wajah serius yang dibuat-buat.
Mikael menggeleng kuat-kuat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman adiknya. "Nggak mau! Kau saja yang nyanyi sampai dower, mulutku masih bau jigong! Nanti penontonnya pingsan!"
Michel justru tertawa lebar, matanya menyipit jenaka. "Ndak papa, Abang cayang. Micel lela jika halus mencium bau bucuk dali mulut Abang, demi cebuah peltunjukan yang cetal... epik!"
" NGGAK MAU! HELP ME! MICHEL SUDAH GILA!" teriak Mikael putus asa, sementara Claire hanya tertawa melihat tingkah kedua anak nya.
"Kau bilang help me, ku bilang Cing! Belnyanyi! Waktu na belnyanyi!" Michel bersorak, menarik kakaknya menari berputar-putar di tengah aroma harum makanan yang baru matang.
•
•
•
BERSAMBUNG