dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegiatan Mos
Sayangnya, barisan di panggung terlalu ramai dan sorotan matahari yang terik membuat mataku silau. Aku tak berhasil menemukan sosok itu. Mungkin dia tidak ada di sini, atau mungkin dia sibuk di bagian lain sekolah. Aku menghela napas pelan, mencoba menepis rasa penasaran yang tiba-tiba muncul, dan kembali fokus pada sambutan yang mulai disampaikan ketua OSIS.
Hari-hari MOS pun bergulir dengan cepat, penuh dengan kesibukan yang tak henti. Sejak pagi buta hingga sore hari, waktu kami terisi penuh dengan berbagai kegiatan. Mulai dari perkenalan lingkungan sekolah, pengenalan ekstrakurikuler, hingga permainan-permainan kelompok yang dirancang untuk mempererat keakraban antar siswa baru.
Suasana di sekolah benar-benar hidup. Di setiap sudut, aku bisa melihat kakak-kakak panitia yang berlari-lari kecil memastikan segala sesuatunya berjalan lancar. Mereka berteriak memberi instruksi, tertawa bersama kami saat ada yang melakukan kesalahan lucu, dan tetap sabar meski kadang ada siswa yang mulai rewel karena kelelahan atau kepanasan. Aku melihat bagaimana mereka bekerja sama, saling bantu, dan bergerak dengan ritme yang seolah sudah diatur sedemikian rupa—sungguh pemandangan yang luar biasa bagi seseorang yang terbiasa diam dan sendirian.
Aku sendiri terhanyut dalam alur kesibukan itu. Meski wajahku jarang tersenyum dan hatiku masih terasa seperti tertutup lapisan es, tubuhku bergerak mengikuti instruksi. Aku ikut berbaris, ikut mendengarkan penjelasan, dan ikut bermain dalam permainan kelompok. Teman-teman di sekitarku mulai berani menyapa, bertanya nama, dan mengajak mengobrol saat istirahat. Aku menjawab dengan sopan, seadanya, tapi tak pernah benar-benar membuka diri. Bagi mereka, aku mungkin terlihat pemalu atau pendiam. Dan biarlah mereka berpikir begitu.
Suatu sore, saat kegiatan berlangsung di lapangan belakang, hujan turun cukup deras. Kegiatan terpaksa dihentikan sementara, dan kami semua berlarian mencari tempat berteduh di koridor gedung sekolah. Kekacauan kecil terjadi, tapi di situlah aku melihatnya lagi.
Di tengah kerumunan yang berlarian, sosok itu berdiri cukup tenang di dekat tiang koridor. Dia mengenakan seragam OSIS yang sama dengan panitia lainnya, tapi ada sesuatu tentang postur tubuhnya yang membuatnya menonjol. Dia sedang berbicara dengan beberapa kakak panitia lain, tangannya bergerak memberi isyarat, sepertinya sedang mengatur ulang rencana kegiatan karena hujan. Tatapannya tajam, serius, dan penuh fokus—sama seperti saat aku melihatnya kemarin.
Tanpa sadar, langkahku terhenti. Aku menatapnya dari kejauhan, di balik kerumunan siswa yang basah kuyup. Dan seolah merasakan tatapanku, kepalanya sedikit menoleh, matanya menyapu kerumunan hingga akhirnya berhenti tepat padaku.
Jantungku berdegup kencang, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini. Tatapan kami bertemu lagi. Kali ini, di tengah riuh rendah suara hujan dan tawa teman-teman, aku bisa melihat sedikit kerutan di dahinya, sepertinya dia juga mengenaliku. Namun, sebelum aku sempat melakukan apa-apa atau bahkan memalingkan wajah, seorang kakak panitia memanggil namanya, dan dia pun segera berbalik, kembali sibuk dengan tugasnya, meninggalkanku dengan perasaan aneh yang entah bagaimana mulai mencairkan sedikit rasa dingin di dadaku.
Hari itu, meski tubuhku basah dan udara terasa dingin, tekad ku untuk melewati masa-masa ini semakin kuat. Mungkin, di tengah kesibukan dan keindahan sekolah ini, ada sesuatu yang lebih dari sekadar rutinitas yang menanti ku untuk ditemukan.
Hari-hari MOS terus berlanjut, dan kesibukan seolah tak pernah habis. Hari ini, kegiatan diadakan di area lapangan basket yang luas. Matahari bersinar cukup terik, membuat lantai beton terasa hangat di bawah telapak kaki. Kami sedang melakukan sesi permainan kelompok yang membutuhkan banyak gerakan—lari, berbaris cepat, dan berpindah tempat sesuai instruksi kakak panitia.
Aku, Laras, tetap bergerak mengikuti arus. Wajahku masih datar, meski keringat mulai menetes di pelipis. Hatiku masih terasa dingin, tapi tubuhku sudah mulai terbiasa dengan ritme kegiatan yang padat ini. Tiba-tiba, instruksi terdengar keras dari pengeras suara: "Semua kelompok, pindah ke sisi kanan lapangan sekarang! Cepat!"
Siswa-siswa di sekitarku langsung bergerak serentak. Aku pun ikut melangkah cepat, mencoba mengikuti laju teman-temanku agar tidak tertinggal. Namun, lantai lapangan yang sedikit lembap akibat penyiraman pagi tadi menjadi licin tanpa kusadari. Saat aku melangkah lebih lebar untuk mengejar langkah teman di depanku, telapak kakiku yang memakai sepatu baru tiba-tiba tergelincir.
Dunia seolah berputar pelan. Tubuhku terasa kehilangan keseimbangan seketika, miring ke samping dan kemudian mulai terjatuh ke depan. Aku memejamkan mata secara refleks, sudah membayangkan rasa sakit yang akan menyengat kulitku saat bersentuhan dengan lantai beton yang keras itu. Aku sudah siap merasakan benturan, rasa perih di lutut atau siku—hal yang biasa terjadi saat seseorang jatuh.
Namun, hal yang kutunggu-tunggu itu tidak pernah terjadi.
Tidak ada rasa sakit yang menusuk, tidak ada benturan keras dengan lantai. Sebaliknya, aku merasakan sebuah dorongan lembut namun kuat yang menahan tubuhku di udara, mencegahku jatuh lebih jauh. Ada sepasang tangan yang kokoh mencengkeram lengan dan punggungku dengan sigap, menahan berat tubuhku agar tidak menyentuh tanah.
Aku masih memejamkan mata, jantungku berdegup kencang bukan main—bukan hanya karena kaget hampir jatuh, tapi juga karena sensasi hangat yang tiba-tiba menyelimuti bagian tubuh yang dipegang itu. Perlahan, aku membuka mataku.
Pandanganku sedikit kabur, tapi segera terfokus pada sosok yang berdiri di depanku, yang kini menopang tubuhku yang hampir ambruk. Wajah itu... aku mengenali wajah itu. Tatapan mata yang tajam namun kali ini terlihat sedikit panik, alis yang sedikit berkerut, dan rahang yang mengeras. Itu dia. Kakak kelas yang selama ini aku cari-cari tanpa sadar.
"Kamu tidak apa-apa?" suaranya terdengar rendah, tapi jelas, memecah kebisingan di sekitar kami. Tangannya masih belum melepaskan pegangannya, seolah memastikan aku benar-benar stabil.
Aku terdiam, menatapnya lekat-lekat. Dunia di sekitar kami seolah menghilang sejenak—suara teriakan teman-teman, instruksi panitia, bahkan suara angin pun seakan meredup. Hanya ada dia, dan sepasang tangan yang menyelamatkanku dari rasa sakit, dan entah mengapa, seolah juga menyentuh lapisan es yang selama ini membeku di hatiku.