NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikat Gigi Listrik dan Kebingungan Pagi

Sinar matahari pagi yang lembut menembus celah gorden otomatis di penthouse, menandakan dimulainya hari baru bagi penghuninya. Lana terbangun dengan perasaan segar setelah semalaman "bertarung" melawan monster di layar televisi bersama Jeno. Hal pertama yang ia lakukan adalah menuju kamar mandi pribadinya yang serba marmer putih untuk membersihkan diri.

Di atas meja rias wastafel yang sangat rapi, Lana melihat sebuah benda baru yang diletakkan di dalam gelas kaca kristal. Benda itu berbentuk seperti sikat gigi, namun gagangnya sangat besar, terbuat dari plastik premium berwarna merah muda pucat, dan tidak memiliki bulu sikat yang lebar seperti sikat gigi kayu yang biasa ia pakai di desa. Di bagian tengahnya, terdapat sebuah tombol lingkaran kecil.

"Ini sikat gigi ya? Kok gemuk banget gagangnya?" gumam Lana heran.

Lana mengambil benda itu. Ia mencoba mengoleskan sedikit pasta gigi herbal yang ia bawa dari kampung ke ujung sikatnya yang kecil dan bulat. Ia kemudian memasukkan sikat itu ke dalam mulutnya, bersiap untuk menggosok giginya seperti biasa. Namun, karena penasaran, jempolnya tidak sengaja menekan tombol di gagang tersebut.

BZZZZZZZTTTTT!

Seketika, seluruh mulut Lana terasa bergetar hebat. Suara mesin kecil di dalam gagang sikat itu mendengung nyaring, membuat tangan Lana ikut bergetar tak terkendali. Karena kaget dan panik, Lana tidak sengaja menarik sikat itu keluar dari mulutnya dalam keadaan masih menyala.

Crat! Crat! Crat!

Pasta gigi yang bercampur air ludah muncrat ke mana-mana—ke cermin marmer, ke rambut Lana, bahkan ke wajahnya sendiri. "Aduh! Ini kenapa joget-joget sendiri?! Kak Arka! Tolong! Sikat giginya kesurupan!" teriak Lana panik. Ia mencoba menekan-nekan gagangnya, tapi getarannya justru terasa makin kuat di tangannya yang basah.

Lana panik dan mencoba melemparkan benda itu ke dalam wastafel, namun sikat itu justru berputar-putar di atas keramik wastafel seperti gasing yang sedang marah.

"Lan? Ada apa? Lo kenapa teriak-teriak pagi gini?"

Pintu kamar mandi yang sedikit terbuka didorong pelan. Bumi berdiri di sana. Ia mengenakan jubah mandi putih bersih dengan stetoskop yang entah kenapa masih melingkar di lehernya—kebiasaannya saat baru pulang dari shift malam di rumah sakit. Wajahnya tampak lelah, namun matanya yang teduh di balik kacamata langsung berubah waspada saat melihat kekacauan di depan wastafel.

"Kak Bumi! Tolong Lana, Kak! Ini... sikat giginya hidup! Dia nyerang Lana!" isak Lana sambil menunjuk ke arah sikat gigi listrik yang masih bergetar hebat di wastafel.

Bumi tertegun sejenak melihat pasta gigi yang belepotan di hidung dan dahi Lana. Ia melangkah maju, tangannya yang panjang dan bersih dengan tenang meraih sikat gigi itu dan menekan tombolnya hingga mati. Keheningan seketika menyelimuti kamar mandi.

"Gila, Lan... lo diapain sama sikat gigi ini sampe mandi pasta gigi gini?" Bumi terkekeh rendah, suara tenangnya seperti obat penenang bagi jantung Lana yang berdegup kencang.

"Maafin Lana, Kak Bumi. Lana cuma mau sikat gigi, terus Lana pencet tombolnya... eh, dia malah getar-getar kayak mau meledak. Lana takut gigi Lana copot semua kalau pakai itu," bisik Lana polos sambil mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.

Bumi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum tipis yang sangat hangat. Ia meletakkan sikat gigi listrik itu kembali ke gelas. "Ini namanya sikat gigi elektrik, Lana. Emang kerjanya pakai getaran ultrasonik buat bersihin plak lebih maksimal. Tapi ya nggak buat dilempar-lempar juga, nyet."

Bumi mengambil selembar tisu basah dari kotak di sampingnya. Ia melangkah lebih dekat ke arah Lana. "Sini lo, deketan. Muka lo udah kayak donat gula gara-gara pasta gigi ini."

Bumi memegang dagu Lana dengan lembut menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan telaten mengusap sisa-sisa pasta gigi di pipi dan hidung Lana. Jarak mereka sangat dekat, hingga Lana bisa mencium aroma antiseptik khas rumah sakit yang bercampur dengan wangi sabun mandi Bumi yang sangat maskulin.

"Maafin Lana ya, Kak Bumi. Lana selalu bikin repot Kakak-kakak di sini," ucap Lana pelan, matanya menatap kancing jubah mandi Bumi karena tidak berani menatap mata sang dokter secara langsung.

"Udah, jangan mulai lagi deh drama minta maafnya. Gak asik banget lo, Lan," sahut Bumi dengan bahasa "Gue-Lo" yang tetap terdengar sangat dewasa. "Gue nggak ngerasa direpotin kok. Malah gue seneng ada hiburan pagi-pagi gini sebelum tidur."

Bumi menatap gigi Lana yang rapi dan putih alami. Sebagai dokter, ia sangat memperhatikan kesehatan. Ia tahu Lana tidak akan nyaman dengan teknologi yang terlalu agresif untuk awal. Ia berjalan keluar kamar mandi sejenak, lalu kembali dengan membawa sebuah sikat gigi manual yang masih terbungkus rapi—tipe yang memiliki bulu sikat sangat lembut (ultra soft).

"Nih, pakai yang ini aja dulu. Ini sikat gigi manual, nggak bakal 'joget' di dalem mulut lo," ucap Bumi sambil memberikan sikat gigi itu pada Lana.

Lana menerima sikat gigi itu dengan binar mata bahagia. "Wah! Ini kayak punya Lana di rumah, tapi lebih bagus! Makasih banyak ya, Kak Bumi. Kak Bumi emang paling ngertiin Lana."

Bumi bersandar di pinggiran wastafel, memperhatikan Lana yang mulai menyikat gigi dengan benar. "Gue dokter, Lan. Tugas gue emang mastiin semua pasien—eh maksud gue, semua orang di rumah ini—sehat dan nggak stres gara-gara hal sepele kayak sikat gigi."

Bumi memperhatikan gerakan tangan Lana. "Lan, nyikatnya jangan terlalu kencang. Pelan-pelan aja, muter-muter kayak gini." Bumi memegang punggung tangan Lana dari belakang, menuntun gerakan menyikat gigi yang benar.

Posisi ini membuat dada Bumi menempel di bahu Lana. Lana bisa merasakan napas Bumi yang teratur di samping pelipisnya. Meskipun Bumi adalah pria yang paling tenang, Lana merasa ada getaran aneh di hatinya yang berbeda saat ia bersama Jeno atau Arka. Bersama Bumi, ia merasa sangat terlindungi, seperti sedang berada di bawah naungan pohon yang rindang.

"Nah, gitu. Pinter," bisik Bumi setelah selesai. Ia melepaskan tangan Lana dan menepuk puncak kepala gadis itu dengan lembut. "Udah, lanjutin mandinya. Gue mau bikin kopi terus tidur sebentar. Kalau ada apa-apa lagi, panggil gue, tapi jangan pakai teriakan kiamat kayak tadi, ya? Kuping gue sensitif, nyet."

Lana tertawa kecil, mulutnya masih penuh busa. "Iya, Kak Bumi! Selamat istirahat ya, Kak Dokter paling ganteng!"

Bumi tertegun di ambang pintu mendengar pujian jujur itu. Ia memalingkan wajahnya yang sedikit memerah, lalu bergumam tanpa menoleh, "Dih, gombal lo bocah. Belajar yang bener sana."

Bumi berjalan menuju dapur dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Di sana, ia bertemu dengan Rian yang sedang membaca koran digital di tabletnya.

"Wih, Pak Dokter seger bener mukanya? Habis dapet pasien spesial ya?" goda Rian tanpa menoleh.

Bumi menuangkan kopi ke cangkirnya dengan santai. "Berisik lo, Yan. Lana tadi hampir perang sama sikat gigi elektrik. Gue cuma beresin kekacauan doang."

"Halah, bilang aja lo modus mau pegang-pegang dagunya, kan?" cecar Rian sambil menyeringai nakal. "Gue liat tadi dari luar. Gak asik lo, Bumi. Diem-diem menghanyutkan."

Bumi hanya mendengus, namun sudut bibirnya tidak bisa berbohong. "Terserah lo mau ngomong apa. Yang penting dia nggak takut lagi pagi ini. Eh, denger-denger hari ini jadwal lo ngajarin dia pakai laptop baru ya? Jangan lo bikin dia pusing sama istilah-istilah kampus lo, kasian anaknya."

"Tenang aja, Bos. Gue bakal jadi tutor paling sabar sedunia buat Lana," jawab Rian penuh percaya diri.

Di dalam kamar mandi, Lana membilas mulutnya dengan perasaan hangat. Ia menatap cermin, menyentuh pipinya yang tadi diusap oleh Bumi. Bagi Lana, Bumi adalah sosok kakak yang sangat bijaksana. Ia merasa sangat bersyukur karena di rumah yang serba otomatis ini, masih ada sentuhan-sentuhan manual yang penuh perhatian dari para pria yang kini menjadi keluarganya. Ia tidak sadar bahwa bagi Bumi, sikat gigi yang "kesurupan" tadi adalah awal dari debaran jantung yang jauh lebih kencang daripada getaran mesin elektrik mana pun.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!