Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 16
"Sela. Sela."
Aku tahu perasaan anak laki-laki bibiku. Sudah lama dia menaruh perasaannya padaku. Yang dia tahu, aku hanyalah gadis polos yang malang. Namun biarpun dia tau semua yang di lakukan ibunya dan apa yang terjadi dengan kakakku, dia hanya diam saja. Itu juga suatu bentuk kejahatan bukan?
Aku menjejali mulut pria itu dengan obat.
"Shin, aku tahu perasaanmu padaku."
Aku duduk di pangkuannya. Aku mengelus lembut pipinya dengan tanganku yang di penuhi darah ibunya.
"Kau mencintaiku bukan?"
"Kau gila! Kau gila!"
Teriakannya membuat telingaku sakit. Ku sumpal mulutnya dengan kain agar dia tidak bisa berteriak lagi. Aku pergi ke toilet dan membasuh mukaku dengan air. Ketika aku menghadap cermin. Aku masih melihat sosok Baphomet itu. Aku tertawa.
Aku kembali duduk dipangkuan Shin. Sudah hampir 20 menit aku duduk tanpa mengatakan apapun. Kurasakan tubuhnya memanas. Tubuhnya menggeliat. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Aku akui, tubuhnya lumayan bagus. Obat yang aku berikan bereaksi.
"Shin. Aku sengaja membersihkan wajahku agar kamu tidak takut. Tapi tak ku sangka, kau akan bersikap nakal bahkan di depan mayat ibumu sendiri."
Aku membelainya lembut. Napasnya terengah-engah. Ku lepas sumpalan kain dari mulutnya lalu menciumnya lembut.
"Karena kau menyukaiku, aku akan memberikannya padamu."
Malam itu, aku memperlakukan Shin sebagai alat pemuasku. Dan karena pengaruh obat yang ku berikan, hanya kenikmatan yang bisa ia rasakan.
Pagi pun tiba. Aku menyumpal mulutnya kembali dengan kain. Ku kurung dia bersama mayat ibunya dikamar itu dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tubuh yang masih kotor. Aku sudah harus melancarkan aksiku yang terakhir hari ini.
Aku memakai seragam sekolahku dan berdandan seperti biasanya.
"Mark. Hari ini kau harus mati bersama yang lainnya."
...----------------...
Point of view Carmila
Mendengarnya, aku sedikit merasa iba. Tapi perbuatannya tidak bisa di benarkan sama sekali. Suara pria berlari terdengar menggema. Aku tahu, itu Tuan Josep.
"Aku sudah menelpon polisi. Mereka akan segera datang."
"Hahaha. Menelpon polisi pun percuma."
Wanita itu tertawa. Ia berjalan menuju tumpukan kayu. Aku melihatnya mengeluarkan sebuah koper. Wanita itu membukanya. Di dalamnya aku melihat banyak seragam sekolah berlumuran darah.
Tak lama setelah itu polisi datang.
"Kau di tangkap atas tuduhan sekte sesat dan mencoba mencelakai penghuni sekolah!"
Ucap polisi itu. Namun wanita itu hanya tertawa lagi.
"Manusia bodoh. Kalian pikir kalian bisa mengalahkan aku?"
Aku mengamatinya dengan teliti. Aura hitam di tubuhnya sudah hampir sampai ke kepala. Ia hendak menyatu dengan iblis. Dengan cepat aku mengambil tas yang ada di tangan Tuan Josep. Aku membuka lembaran demi lembaran kertas di buku peninggalan ibu berharap menemukan cara mencegah hal mengerikan yang akan terjadi di hadapanku ini.
"Hancurkan Simbol Setannya."
Hanya itu yang tertulis. Aku kembali melihat wanita dihadapanku. Aku mengamatinya lagi berharap menemukan sesuatu. Aku melihatnya.
"Aku mengerti perasaanmu. Aku mengerti kenapa kamu melakukan ini. Tapi asalkan kamu tahu, kakakmu tidak rela kamu menjadi seperti ini."
"Kau bohong!"
Aku mencoba membuatnya lengah berharap bisa merebut kalung yang ada di lehernya itu.
"Kakakmu bahkan memintaku untuk menolongmu."
"Kau bohong!"
Suaranya berubah. Baphomet mulai mengambil alih tubuhnya.
"Dia bahkan menangis memohon untukmu."
"Bohong!!"
Aku berjalan memutarinya. Setiap lilin yang menyala, disetiap kesempatan aku memadamkannya.
"Sela. Kakakmu sangat membenci apa yang kau lakukan."
Aku melihatnya mulai berteriak kesakitan. Ia memegangi kepalanya.
"Tidak! Kakak menyukainya! Dia yang mengatakannya sendiri padaku!! Tidak!! Tidak!!"
Aku menarik kalung yang ada di lehernya.
"Pegangi dia!!!!"
Teriakku pada para polisi yang menyaksikan. Polisi langsung bergegas memegangi wanita yang kesakitan itu. Namun tenaganya sangat kuat hingga membuat polisi yang memeganginya terpental. Polisi lain yang melihat kejadian itu spontan meringkusnya. 10 orang memegangi tubuh mungil yang meronta-ronta kesakitan itu.
Aku mengeluarkan korek api pemberian ayah. Ku buka liontin kalung itu. Aku melihat sebuah foto wanita cantik terpajang di dalam liontin itu.
"Dewa agung. Aku kembalikan apa yang tak seharusnya ada di bumi."
Aku membakar foto itu.
"Aaaaaaaaaa."
Wanita itu berteriak. Polisi yang memeganginya seketika terpental. Aku berlari menghampiri Sela. Ku pegang kepalanya. Ku bacakan kembali do'a.
"Dewa Agung yang suci. Yang melindungi seluruh semesta dan bumi tempat yang aku tinggali. Yang menjaga surga. Yang mengendalikan neraka. Lindungilah kami dari iblis dan roh jahat ini. Sucikan kami. Hindari kami dari segala marabahaya. Aku memohon dengan tulus. Ambillah apa yang tak seharusnya ada dibumi!!"
Bayangan hitam itu seolah tertarik ke langit.
"Aaaaaaaaaaaaaa."
Aku terus mengulang do'a itu. Cahaya muncul di area lembab itu. Polisi yang melihatnya merasa aneh.
"Bagaimana bisa tempat yang tertutup seperti ini di masuki cahaya seterang ini?"
Wanita itu terjatuh tak sadarkan diri. Tubuhnya menghitam. Namun napasnya masih ada.
"Kau adalah pilihan dewa agung."
Suara lembut terdengar di telingaku. Aku tidak mengerti apa arti kalimat itu.
Aku sudah tak mampu menopang tubuhku. Aku terjatuh.
"Bongkar lantai ini. Kamu akan menemukan mereka."
"Bo-bongkar. Ga-gali. Si-simbol."
Aku tidak sadarkan diri.