Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Berlin malam itu tidak pernah terasa sedingin ini. Di luar sana, jagat raya sedang terbakar oleh spekulasi. Tajuk berita utama di setiap portal media hiburan hingga ekonomi menampilkan foto-foto buram Lucky yang menggendong Freya di Heathrow.
Narasi yang berkembang jauh lebih liar dari kenyataan:
“Cinta Terlarang Sang Diva dan Sang Ahli Waris,”
“Tinggal Bersama Selama Tiga Tahun: Benarkah Lagu-Lagu Galau Lucky Caleb Selama Ini Hanya Kedok?”
Media menuntut penjelasan. Agensi Lucky di Berlin dikepung, sementara di Los Angeles, juru bicara keluarga Montgomery mengeluarkan pernyataan singkat namun dingin yang membantah segala keterlibatan asmara putri mereka dengan "industri hiburan kelas bawah". Publik butuh bantahan, namun di dalam unit apartemen yang sunyi itu, yang ada hanyalah kehancuran.
Di sudut ruangan, Lucky duduk mematung di depan peralatan rekamannya. Jemarinya gemetar saat ia menekan tombol play pada rekaman suara mentah yang baru saja ia kirimkan ke manajernya satu jam lalu. Melodi "You and I" mengalun lirih. Ia sudah menjadwalkan perekaman resmi lagu itu dalam dua hari kedepan. Ironisnya, lagu yang ia ciptakan sebagai ungkapan terima kasih untuk asistennya, kini terdengar seperti lagu pemakaman bagi kepercayaan yang telah mati.
Sementara itu, di lantai bawah, mobil-mobil hitam bermesin besar sudah mengepung area. Fank Montgomery berdiri di depan lobi dengan wajah yang keras. Ia melihat adik perempuannya diseret keluar oleh pengawal pribadi ayahnya.
"Kak! Fank!" teriak Freya, air matanya membasahi masker yang sudah tak lagi ia kenakan. "Kumohon... beri aku waktu dua jam. Dua jam saja untuk menjelaskan semuanya pada Lucky. Jangan biarkan Daddy yang turun tangan, Kak. Aku mohon!"
Fank menatap mata adiknya yang hancur. Sebagai seorang kakak, ia tahu ini bukan sekadar penyamaran yang gagal; ini adalah patah hati yang bisa membunuh jiwa Freya. Fank menghela napas berat, lalu memberi isyarat pada para pengawal untuk melepaskan cengkeraman mereka.
"Dua jam, Freya. Jika dalam 120 menit kau tidak keluar, aku sendiri yang akan mendobrak pintu itu dan membawamu langsung ke bandara menuju Los Angeles," ucap Fank dingin namun penuh perlindungan.
Freya tidak menunggu jawaban kedua. Ia berlari menaiki tangga, mengabaikan lift, mengabaikan rasa perih yang masih terasa di tubuhnya akibat malam di London. Ia harus bicara. Ia harus mengakhiri ini dengan cara yang manusiawi.
Saat pintu apartemen terbuka, ia menemukan Lucky sedang duduk membelakangi pintu, mendengarkan bait lagu yang tempo hari mereka nyanyikan bersama.
"Apa... apa lagumu ini akan segera masuk dapur rekaman?" tanya Freya dengan suara serak, berdiri di ambang pintu.
Lucky tidak menoleh. Ia hanya menatap layar monitor yang menampilkan gelombang suara. "Pergilah, Tuan Putri. Jangan pernah lagi kembali ke tempat ini. Tempat ini bukan untuk seseorang yang punya Oxford di riwayat hidupnya."
"Aku bertanya, Lucky. Aku ingin mendengar lagu ini sekali lagi... sebelum aku pergi ke Los Angeles," bisik Freya, melangkah mendekat meski Lucky tampak begitu menjauh.
Lucky akhirnya menoleh, matanya merah karena amarah dan kurang tidur. Ia tertawa getir. "Kau ingin tahu untuk siapa lagu ini, kan? Kau pikir ini untuk Renata? Kau pikir ini untuk menutupi skandal kita?"
Lucky berdiri, mendekati Freya hingga jarak mereka hanya beberapa inci. "Lagu ini kubuat untukmu, Freya. Untuk asistenku yang kuanggap rumah. Tapi ternyata rumahku hanyalah sebuah istana pasir yang kau bangun di atas kebohongan."
Deg.
Jantung Freya seolah berhenti. Lagu itu untuknya. Cinta yang ia dambakan ternyata sudah ada di sana, di dalam melodi itu, tepat sebelum segalanya hancur.
"Aku punya waktu dua jam sebelum Fank membawaku pergi selamanya," ucap Freya, menatap dalam ke mata Lucky.
"Aku tidak akan meminta maaf lagi, karena kau tidak akan percaya. Tapi aku ingin memberikan sesuatu yang nyata untuk terakhir kalinya. Sesuatu yang bukan kebohongan."
Tanpa menunggu persetujuan, Freya merengkuh leher Lucky. Ia mencium pria itu dengan rasa putus asa yang meledak. Awalnya Lucky mencoba memberontak, mencoba mendorong tubuh yang telah membohonginya itu, namun aroma Freya—aroma yang telah menemaninya selama tiga tahun meruntuhkan tembok pertahanannya.
"Ini permintaan gilaku yang terakhir, Luck," bisik Freya di sela ciuman mereka. "Tidur Dengan ku sekali lagi. Sebagai perpisahan. Sebagai bukti bahwa malam itu di London bukan sekadar pengaruh obat, tapi karena aku memang milikmu. Setelah ini, aku berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu hidupmu. Aku akan menghilang dari duniamu seolah Freya sang asisten tidak pernah ada."
Lucky menatap wajah Freya yang cantik, wajah yang kini ia tahu adalah milik salah satu wanita paling berpengaruh di dunia. Rasa benci dan cinta berperang hebat di dadanya. Namun, saat melihat air mata yang mengalir di pipi Freya, Lucky menyerah pada instingnya.
Malam itu, di apartemen Berlin yang menjadi saksi bisu kebersamaan mereka, terjadi sebuah penyatuan yang sangat berbeda dari malam di London. Tidak ada obat perangsang, tidak ada rasa bingung.
Yang ada hanyalah rasa sakit yang mendalam dan gairah yang penuh keputusasaan. Lucky melakukannya dengan kasar namun penuh pemujaan, seolah ia ingin meninggalkan tanda permanen pada tubuh sang ahli waris Montgomery agar wanita itu tidak pernah bisa melupakannya.
Di setiap sentuhan, Freya membisikkan kata cinta yang tulus. Ia memberikan segalanya, membiarkan Lucky mengambil apa pun yang tersisa dari dirinya. Ia tahu, setelah dua jam ini berakhir, ia bukan lagi asisten yang menyiapkan kopi di pagi hari; ia adalah Freya Montgomery yang harus menanggung beban dinasti di pundaknya.
Satu jam lima puluh menit berlalu.
Di bawah selimut yang berantakan, Freya mengenakan pakaiannya dengan tangan gemetar. Lucky hanya berbaring, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
"Aku mencintaimu, Lucky. Selamanya," bisik Freya, ia mengecup kening Lucky untuk terakhir kalinya.
Lucky tidak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya erat-erat saat mendengar suara pintu apartemen tertutup. Ia mendengar langkah kaki yang menjauh, mendengar suara mobil-mobil besar yang menderu pergi meninggalkan gedung apartemennya.
Kini, apartemen itu benar-benar sunyi.
Lucky bangun, berjalan menuju meja rekamannya dengan langkah gontai. Ia menghapus file rekaman mentah "You and I". Ia tidak akan merekam lagu itu. Ia tidak ingin dunia mendengar lagu yang ia ciptakan untuk seorang wanita yang kini menjadi bayangan paling menyakitkan dalam hidupnya.
.
.
Di dalam jet pribadi menuju Los Angeles, Freya duduk di samping Fank. Ia menatap keluar jendela, ke arah lampu-lampu Berlin yang perlahan mengecil. Ia memegang perutnya sendiri, merasakan sisa kehadiran Lucky yang masih tertinggal.
"Sudah berakhir, Kak," ucap Freya pelan.
"Kau yakin?" tanya Fank tanpa menoleh.
"Ya. Freya sang asisten sudah mati di bandara kemarin. Sekarang yang tersisa hanyalah Freya Montgomery."
Namun, di dalam hatinya, Freya tahu. Ia telah meninggalkan separuh jiwanya di apartemen itu. Dan di Berlin, Lucky Caleb baru saja menyadari bahwa ia baru saja kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya, tepat di saat ia menyadari bahwa ia juga sangat mencintai wanita itu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt