sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PELAJARAN PERTAMA
Malam pertama di neraka tidak pernah tenang.
Aldric duduk bersila di mulut gua, memandangi kegelapan di hadapannya. Di luar, suara-suara aneh terus terdengar—raungan panjang yang naik turun seperti nyanyian pilu, derap kaki ribuan makhluk yang berlarian entah ke mana, dan sesekali jeritan kesakitan yang memilukan. Jeritan itu selalu berakhir tiba-tiba, seperti nyala lilin yang dipadamkan.
Dunia bawah tidak pernah tidur.
Di belakangnya, Varyn the Silent duduk bersandar di dinding batu. Mata merahnya setengah tertutup, tapi Aldric tahu iblis tua itu tidak tidur. Mungkin tidak pernah tidur. Atau mungkin di sini, tidur adalah kemewahan yang tidak dimiliki siapa pun.
"Kau tidak bisa tidur?" suara Varyn bergema di kepalanya—bukan di telinga, tapi langsung di pikiran.
Aldric menoleh. "Bisa. Tapi tidak mau."
"Kenapa?"
Karena setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat Liana. Aku melihat Ayah. Aku melihat Ibu. Aku melihat Elara bersandar di dada Darius.
"Tidak penting," jawab Aldric datar.
Varyn tersenyum. Senyum yang tahu segalanya. "Kau akan belajar, Nak. Di sini, tidur adalah kebutuhan, bukan pilihan. Makhluk-makhluk di luar itu—mereka menunggu yang lemah. Yang kelelahan. Yang lengah. Jika kau tidak tidur, kau akan lemah. Jika kau lemah, kau mati."
"Aku sudah mati," kata Aldric. "Di dalam sini." Ia menunjuk dadanya.
Varyn tertawa—tawa dalam yang bergema di seluruh gua. "Kau pikir kau sudah mati? Lucu. Manusia selalu berpikir mereka tahu apa itu mati, padahal mereka tidak tahu apa-apa."
Ia bangkit—tubuh raksasanya bergerak dengan keanggunan aneh—lalu berjalan mendekati Aldric. Di dekatnya, napas panas Varyn terasa seperti api unggun.
"Aku akan mengajarkanmu pelajaran pertama, Nak. Gratis. Sebagai tanda selamat datang."
Ia mengulurkan tangannya—cakar panjangnya menunjuk ke arah luar gua.
"Di luar sana, ada ribuan makhluk yang lebih kuat darimu. Lebih cepat. Lebih ganas. Mereka bisa merobekmu dalam hitungan detik. Tapi kau tahu apa yang membuat manusia—bahkan manusia setengah iblis sepertimu—bertahan hidup di sini?"
Aldric menggeleng.
"Akal." Varyn mengetuk dahinya sendiri. "Kecerdasan. Kemampuan untuk berpikir, merencanakan, menipu. Monster-monster di sini punya kekuatan, tapi mereka bodoh. Mereka bertindak berdasarkan naluri. Lapar? Makan. Marah? Serang. Takut? Lari."
Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Aldric.
"Kau tidak boleh seperti mereka. Kau harus menggunakan kepalamu. Setiap saat. Setiap detik. Karena satu kesalahan—satu kelengahan—dan kau akan menjadi makanan mereka."
Aldric menatap mata merah itu. Di dalamnya, ia melihat ribuan tahun pengalaman. Ribuan tahun bertahan hidup di tempat paling mengerikan di dunia.
"Aku mengerti."
"Bagus." Varyn tegak kembali. "Sekarang, pelajaran pertamamu dimulai."
Varyn membawanya keluar gua.
Untuk pertama kalinya, Aldric berjalan di dunia bawah tanpa lindungan. Udara di sini lebih berat, lebih pekat—seperti berjalan di dalam sup kental. Di sekelilingnya, batu-batu aneh tumbuh seperti pohon, beberapa di antaranya bercahaya samar dengan warna biru atau hijau.
Cahaya-cahaya kecil itu—mungkin semacam lumut atau jamur—adalah satu-satunya penerangan di tempat ini. Cukup untuk melihat beberapa meter ke depan, tapi tidak lebih.
"Ke mana kita pergi?" tanya Aldric.
"Diam dan ikut."
Mereka berjalan melewati sungai kecil—bukan air, tapi lava cair yang mengalir lambat, memancarkan panas menyengat. Aldric harus menjauh, tapi Varyn berjalan tepat di tepinya, tidak terganggu sama sekali.
Di seberang sungai, sesuatu bergerak.
Aldric melihatnya sekilas—bayangan besar, mungkin sebesar gajah, dengan banyak kaki seperti laba-laba. Makhluk itu sedang memakan sesuatu. Suara renyah tulang yang dihancurkan terdengar jelas di keheningan.
"Jangan lihat terlalu lama," bisik Varyn di kepalanya. "Itu Ravok. Ia bisa merasakan tatapan. Jika kau menarik perhatiannya, kau akan menjadi makanan penutup."
Aldric memalingkan wajah, mengikuti Varyn melewati bayang-bayang batu.
Mereka berhenti di sebuah lembah kecil—cekungan di antara batu-batu raksasa. Di dasar lembah, sesuatu bergerombol. Makhluk-makhluk kecil seukuran kucing, tapi dengan taring panjang dan mata bersinar kuning. Ada puluhan—mungkin ratusan—mereka.
"Vermok," kata Varyn. "Hama di dunia bawah. Mereka berkembang biak cepat, makan apa saja. Daun, batu, daging, bangkai—semua masuk."
"Kenapa kita ke sini?"
Varyn tersenyum—senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi tajam. "Ini ujian pertamamu."
Aldric menatapnya, tidak mengerti.
"Kau harus membunuh satu Vermok. Sendirian. Dengan tangan kosong."
"Apa?"
"Kau dengar." Varyn melipat tangannya. "Vermok adalah makhluk terlemah di dunia bawah. Tapi untuk manusia biasa, mereka masih mematikan. Kau sekarang bukan manusia biasa—tapi kau juga belum apa-apa. Jadi, ini tes. Untuk melihat seberapa jauh kau bisa bertahan."
Aldric menatap kawanan Vermok di bawah. Mereka tampak tidak berbahaya—seperti tikus raksasa dengan taring. Tapi instingnya berkata lain. Instingnya berkata bahwa makhluk-makhluk ini bisa merobeknya dalam hitungan detik jika mereka menyerang bersama.
"Kenapa tidak kau beri aku senjata?"
"Karena musuhmu nanti tidak akan memberimu senjata. Darius tidak akan memberimu pedang sebelum kau menyerangnya." Varyn menatapnya tajam. "Kau ingin balas dendam? Kau harus belajar menggunakan apa pun yang kau punya—termasuk tubuhmu sendiri."
Darius.
Nama itu seperti pukulan di ulu hati.
Aldric mengepalkan tangan. Urat-urat hitam di punggung tangannya berdenyut lebih cepat.
"Baik."
Ia melangkah maju, menuruni lereng lembah menuju kawanan Vermok.
Vermok pertama menyadarinya ketika ia masih sepuluh langkah dari kelompok itu.
Makhluk kecil itu menoleh, mata kuningnya menyipit. Dari mulutnya, suara desisan pelan keluar—peringatan. Vermok lain mulai menoleh, satu per satu.
Aldric berhenti.
Ia mengamati mereka. Tubuh Vermok seukuran kucing hutan, tapi lebih kekar, dengan otot-otot padat di bawah kulit abu-abu. Cakar mereka pendek tapi tampak tajam. Taring mereka—taring itu panjangnya hampir setengah jengkal, mengkilap oleh air liur.
Satu lawan satu, mungkin aku bisa, pikirnya. Tapi kalau mereka menyerang bersama...
Di belakangnya, Varyn hanya diam. Mengamati.
Salah satu Vermok—yang terbesar di kelompok itu—mendesis keras. Seperti komando. Tiba-tiba, lima Vermok terpisah dari kelompok, merayap mendekati Aldric dengan posisi rendah, siap menerkam.
Mereka tidak menunggu diserang. Mereka menyerang duluan.
Alam liar. Hukum rimba. Yang kuat bertahan, yang lemah mati.
Aldric mengatur napas. Konsentrasi. Ia ingat semua latihan dari Sir Kaelan—tentang kuda-kuda, tentang timing, tentang membaca gerakan lawan.
Tapi ini bukan lawan manusia. Ini monster.
Vermok pertama menerkam.
Gerakannya cepat—sangat cepat. Tubuh abu-abu itu melesat seperti anak panah, cakar terbuka, taring siap menggali daging.
Aldric bergerak secara naluriah.
Ia membanting tubuh ke samping, menghindari serangan itu. Tapi Vermok kedua sudah datang dari sisi lain. Cakarnya menggores lengan Aldric—daging terbelah, darah muncrat.
Rasa sakit.
Tapi rasa sakit itu—anehnya—terasa berbeda. Tidak seperti rasa sakit biasa. Rasa sakit ini... enak? Seperti bahan bakar yang mengalir di urat-uratnya.
Aldric melihat lengannya. Luka goresan itu—darah yang mengalir—berwarna merah, tapi bercampur hitam. Dan di sekeliling luka, kulitnya berdenyut, menutup perlahan.
Regenerasi.
Ia ingat janji Varyn. Kekuatan iblis.
Senyum pertama dalam berjam-jam muncul di wajahnya.
Vermok ketiga dan keempat menerkam bersamaan. Tapi kali ini, Aldric siap.
Ia menangkap Vermok pertama di udara—tangan kirinya mencengkeram leher makhluk itu—dan membantingnya ke tanah sekuat tenaga. Tulang belakang Vermok patah dengan suara renyah. Makhluk itu meronta sebentar, lalu diam.
Yang kedua datang dari belakang. Cakarnya mencakar punggung Aldric, merobek jubahnya yang sudah compang-camping. Tapi Aldric hanya berputar, menendang keras. Kakinya menghantam kepala Vermok itu hingga hancur—seperti buah labu yang diinjak.
Darah hitam dan otak berserakan.
Dua mati. Tiga tersisa.
Tapi tiga yang tersisa tidak menyerang. Mereka mundur, mendesis ketakutan. Mata kuning mereka menatap Aldric dengan ekspresi baru: takut.
Mereka takut padaku.
Aldric menatap tangannya yang berlumuran darah hitam. Tubuhnya—luka di lengan sudah hampir tertutup sempurna. Luka di punggung terasa hangat, menutup.
Ia menatap tiga Vermok itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan senang. Bukan puas. Tapi... lapar.
Lapar akan lebih banyak darah.
Vermok-vermok itu lari. Kembali ke kelompok utama, yang kini menjauh dari Aldric, meninggalkan dua bangkai kawan mereka.
Aldric berdiri di tengah lembah, dikelilingi oleh makhluk-makhluk kecil yang ketakutan. Tubuhnya berlumuran darah—darahnya sendiri dan darah musuh. Napasnya tidak tersengal-sengal. Jantungnya tidak berdebar kencang.
Ia merasa... baik-baik saja.
"Bagus."
Varyn berdiri di tepi lembah, bertepuk tangan lambat. Suara tepukannya bergema aneh di antara batu-batu.
"Luar biasa untuk pertama kali. Refleksmu bagus. Instingmu tajam. Dan yang paling penting..." Ia menunjuk lengan Aldric yang sudah sembuh. "...darah Veynheart bekerja sama dengan baik dengan kegelapan yang kuberikan."
Aldric mendaki lereng, kembali ke sisi Varyn. Ia tidak melihat ke belakang—tidak peduli pada Vermok-vermok yang ketakutan itu.
"Selanjutnya?"
Varyn tertawa. "Kau lapar akan lebih banyak, ya? Bagus. Itu tanda yang baik."
Ia menepuk bahu Aldric—tepukan yang cukup keras untuk membuat manusia biasa patah tulang, tapi Aldric hanya bergoyang sedikit.
"Istirahat dulu. Tubuhmu perlu menyerap kekuatan baru ini. Besok, pelajaran berikutnya."
Mereka berjalan kembali ke gua. Di belakang mereka, Vermok-vermok itu mulai mendekati bangkai kawan mereka—dan mulai memakannya.
Hukum rimba. Yang kuat bertahan. Yang lemah jadi makanan.
Aldric melihat itu sekilas. Tapi ia tidak merasa jijik. Tidak merasa iba. Hanya... biasa saja.
Kemanusiaanku, pikirnya. Benar-benar hilang.
Dan anehnya, ia tidak merasa kehilangan.
Kembali di gua, Varyn duduk di sudut, mengamati Aldric dengan mata merahnya yang tajam.
"Kau tahu," katanya tiba-tiba, "ada sesuatu yang aneh denganmu."
Aldric menatapnya. "Aneh bagaimana?"
"Kebanyakan manusia yang kuubah—mereka butuh waktu berminggu-minggu untuk menerima kenyataan. Mereka menangis, meratap, berharap bisa kembali normal. Tapi kau..." Varyn memiringkan kepala. "Kau terima begitu saja. Seolah kau memang sudah menunggu ini."
Aldric diam. Ia meregangkan tubuh—merasakan otot-otot barunya yang lebih padat, lebih kuat.
"Mungkin karena tidak ada lagi yang bisa kuharapkan di atas sana," jawabnya akhirnya. "Keluargaku mati. Istriku... mengkhianatiku. Aku tidak punya apa-apa lagi."
"Kau punya dendam."
"Ya." Aldric mengepalkan tangan. "Aku punya dendam."
"Dendam yang kuat." Varyn tersenyum puas. "Bahan bakar yang sempurna."
Hening untuk beberapa saat. Suara-suara dari luar gua terdengar samar—seperti latar belakang yang konstan.
"Varyn."
"Ya?"
"Kisahmu... tentang kakek buyutku. Ceritakan lebih banyak."
Varyn mengangkat alis. "Tertarik dengan sejarah keluarga?"
"Aku ingin tahu musuh seperti apa yang akan kuhadapi nanti." Aldric menatapnya tajam. "Kau bilang kau akan keluar setelah aku buka segel. Aku harus tahu apa yang akan terjadi. Apa kau akan membantuku? Atau akan kau bunuh setelah bebas?"
Varyn tertawa terbahak-bahak—tawa yang mengguncang gua, membuat debu berjatuhan dari langit-langit.
"Kau cerdas, Nak. Aku suka itu."
Ia berhenti tertawa, matanya berubah serius.
"Baik, akan kuceritakan. Tapi tidak sekarang. Sekarang, kau perlu tidur. Besok, perjalanan panjang."
"Ke mana?"
Varyn tersenyum misterius. "Ke kota. Kau perlu perlengkapan. Dan kau perlu melihat—" ia menjeda, "—seperti apa kehidupan di sini."
Malam kedua di neraka.
Aldric berbaring di lantai batu gua, memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia tidak melawan tidur. Mungkin karena tubuhnya lelah. Mungkin karena pikirannya sudah mati rasa.
Ia tidur.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bermimpi.
Tidak ada Liana. Tidak ada Ayah. Tidak ada Ibu. Tidak ada Elara.
Hanya gelap. Gelap yang hangat. Gelap yang nyaman.
Ketika ia bangun beberapa jam kemudian, ia merasa... aneh. Segar, tapi aneh.
Seharusnya aku bermimpi tentang mereka, pikirnya. Seharusnya aku merasa bersalah karena tidak bermimpi.
Tapi ia tidak merasa apa-apa.
Kemanusiaanku.
Ya. Itu harganya.
Aldric bangkit, meregangkan tubuh. Di sudut gua, Varyn sudah bangun—atau mungkin tidak pernah tidur—dan sedang mengamatinya dengan mata merah.
"Selamat pagi, Nak."
"Pagi?" Aldric melihat ke luar gua. Gelap tetap gelap. "Di sini ada pagi?"
"Tidak." Varyn tersenyum. "Tapi kita tetap perlu menyebutnya pagi. Untuk menjaga kewarasan."
Ia berdiri, berjalan ke mulut gua.
"Ayo. Perjalanan panjang menanti. Dan kau perlu sarapan."
"Sarapan apa?"
Varyn menoleh. Senyumnya lebar—terlalu lebar.
"Vermok mentah."
Aldric mengerutkan dahi. Tapi tidak membantah. Ia hanya mengangguk dan mengikuti.
Di luar, kegelapan yang sama menyambut mereka. Tapi sekarang, kegelapan itu tidak lagi menakutkan. Sekarang, kegelapan itu terasa... seperti rumah.
Mungkin, pikir Aldric, ini memang rumahku sekarang.
Rumah para monster.
Rumah para pembuang.
Dan suatu hari, rumah para pembalas.