"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: MAHKOTA DARI RASA SAKIT
BAB 16: MAHKOTA DARI RASA SAKIT
Lampu neon di koridor rumah sakit berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang seolah menari di atas lantai putih yang dingin. Alana masih berdiri di depan kaca ruang ICU, telapak tangannya menempel pada permukaan kaca yang beku, mencoba merasakan detak jantung Kenzo yang kini hanya bergantung pada mesin-mesin di sekelilingnya.
Di dalam sana, Kenzo tampak begitu rapuh. Tidak ada lagi tatapan tajam yang mendominasi, tidak ada lagi senyum miring yang menenangkan. Hanya ada suara pip... pip... pip... dari monitor jantung yang seolah menghitung sisa waktu yang mereka miliki.
"Bangunlah, Kenzo..." bisik Alana, napasnya membentuk kabut tipis di kaca. "Jangan biarkan aku sendirian di dunia yang kejam ini. Kau bilang kau tidak akan membiarkan pintu itu dibanting lagi dalam hidupku. Tapi sekarang, kau justru menutup pintumu sendiri."
Langkah kaki terdengar mendekat. Itu Elvan. Kakak tertuanya itu membawa secangkir kopi yang sudah dingin, namun wajahnya menunjukkan bahwa ia sendiri tidak butuh kafein. Ia butuh jawaban.
"Alana," suara Elvan serak. "Tim hukum kita sudah siap. Tapi Tuan Besar Dirgantara baru saja mengeluarkan perintah untuk menutup aksesmu ke seluruh gedung Dirgantara Group. Dia menyalahkanmu sepenuhnya atas kondisi Kenzo."
Alana tidak menoleh. Ia perlahan menarik tangannya dari kaca. Matanya yang tadinya basah oleh air mata, kini berubah menjadi sedingin es kutub.
"Dia hanya seorang ayah yang sedang ketakutan, Kak," ucap Alana dengan nada datar yang mengerikan. "Tapi dia lupa satu hal. Kenzo memercayakan kode akses darurat perusahaannya kepadaku seminggu yang lalu. Dia tahu bahwa suatu saat hari ini akan datang."
Alana berbalik, menatap Elvan dengan tatapan yang membuat sang kakak tertua sekalipun merasa merinding. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meruntuhkan pasar saham Ardiansyah Group jika kita menyerang dari dua sisi—Adiwangsa dan kode darurat Dirgantara?"
Elvan tertegun. "Alana, itu tindakan ilegal jika tanpa persetujuan dewan direksi Dirgantara."
"Legalitas adalah milik mereka yang menang, Kak," sahut Alana. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu memakai kembali blazer hitamnya. "Kumpulkan semua wartawan ekonomi besok pagi di depan gedung pusat. Aku akan mengumumkan pengambilalihan kekuasaan sementara."
Keesokan paginya, suasana di depan kantor pusat Ardiansyah Group (yang kini sedang dalam proses sengketa) sangat kacau. Raka, yang entah bagaimana bisa mendapatkan penangguhan penahanan sementara karena alasan kesehatan yang dimanipulasi, berdiri di lobi dengan senyum penuh kemenangan. Di sampingnya ada Siska, yang tampak sangat percaya diri mengenakan gaun merah menyala.
"Lihat itu, Raka," tunjuk Siska ke arah kerumunan wartawan. "Alana pasti akan datang untuk menangis memohon ampun karena pelindungnya sudah sekarat di rumah sakit. Setelah ini, kita akan mengambil kembali semuanya."
Raka memperbaiki kerah kemejanya. "Dia hanya wanita yang beruntung. Tanpa Kenzo, dia tidak lebih dari debu."
Namun, suara sirine mobil polisi dan pengawalan mewah memecah kesombongan mereka. Tiga mobil SUV hitam berhenti tepat di depan tangga utama. Pintu terbuka, dan Alana keluar.
Ia tidak lagi memakai warna-warna lembut. Ia mengenakan setelan jas hitam pekat dengan bros merak milik Ibu Kenzo tersemat di dadanya—sebuah pernyataan perang yang nyata. Di belakangnya, enam kakak Adiwangsa berjalan seperti barisan jenderal yang siap bertempur.
Alana berjalan melewati kerumunan wartawan tanpa sepatah kata pun, hingga ia berdiri tepat di hadapan Raka dan Siska.
"Alana, Alana... kau masih punya nyali untuk datang?" Raka tertawa meremehkan. "Kudengar kekasihmu sedang bersiap untuk mati? Kasihan sekali. Mungkin setelah dia mati, kau bisa kembali merangkak di kakiku untuk meminta sisa roti."
Siska ikut menimpali, "Atau mungkin kau mau menawarkan diri menjadi pelayan di rumah baruku nanti?"
Alana tetap diam. Ia hanya menatap mereka berdua dengan tatapan kosong, seolah-olah ia sedang melihat dua ekor serangga yang akan segera ia injak. Keheningan Alana justru membuat Raka merasa tidak nyaman.
"Kenapa diam?! Kau sudah bisu karena sedih?!" gertak Raka.
Alana perlahan membuka tas tangannya, mengeluarkan sebuah tablet, dan memutar sebuah video. Di dalam video itu, terlihat Bastian sedang diinterogasi di sebuah ruangan gelap, mengakui semua keterlibatan Raka dalam sabotase mobil Kenzo semalam.
Wajah Raka memucat seketika. "I-itu palsu! Bastian dipaksa bicara!"
"Video itu sudah terkirim ke Jaksa Agung sepuluh menit yang lalu," ucap Alana, suaranya rendah namun tajam seperti silet. "Dan bicara soal aset... periksa ponselmu, Raka."
Raka dengan gemetar mengeluarkan ponselnya. Sebuah notifikasi masuk. Satu per satu, saham perusahaan Ardiansyah Group jatuh ke titik nol karena adanya aksi jual besar-besaran secara serentak, dan pembelinya adalah sebuah konsorsium baru bernama "Roseline-Adiwangsa Corp".
"Kau... kau menghancurkan perusahaan ini dalam hitungan menit?!" teriak Raka tak percaya.
"Bukan menghancurkan," ralat Alana. "Aku hanya mengambil kembali apa yang kau curi dariku selama tiga tahun, ditambah bunga atas setiap tetes air mata yang kau buat jatuh."
Alana melangkah maju, memperkecil jarak antara dirinya dan Siska. Siska mencoba mundur, tapi ia terhalang oleh pagar pembatas.
"Dan kau, Siska," Alana menyentuh anting mewah yang dipakai Siska—anting yang dulu dibeli Raka menggunakan uang hasil memotong gaji karyawan. "Nikmatilah hari terakhirmu memakai barang-barang mahal. Karena mulai sore ini, namamu masuk dalam daftar hitam seluruh perbankan di negeri ini atas kasus pencucian uang."
"Kau tidak bisa melakukan ini!" jerit Siska.
"Aku bisa. Karena aku bukan lagi Alana yang kau kenal," bisik Alana tepat di telinga Siska. "Dan jika Kenzo tidak bangun dalam waktu 24 jam... aku pastikan penjara akan terasa seperti surga dibandingkan dengan apa yang akan kulakukan pada kalian di luar."
Alana berbalik menuju para wartawan, memberikan satu pernyataan singkat yang akan mengguncang bursa saham internasional.
"Mulai hari ini, saya, Alana Roseline Adiwangsa, resmi mengambil alih seluruh kendali operasional Dirgantara Group atas mandat khusus Tuan Kenzo Dirgantara. Dan bagi siapa pun yang terlibat dalam kecelakaan sepuluh tahun lalu maupun semalam... bersembunyilah dengan baik. Karena aku sedang mencarimu."
Di rumah sakit, Tuan Besar Dirgantara yang sedang menonton berita tersebut dari tabletnya, tertegun. Ia melihat Alana di layar TV—wanita yang tadinya ia anggap sebagai pembawa sial, kini berdiri dengan aura yang bahkan lebih kuat daripada Kenzo.
Ia melihat bros merak istrinya yang dipakai Alana. Ada rasa haru yang mendalam sekaligus rasa hormat yang tumbuh di hati pria tua yang keras itu.
"Dia... dia benar-benar wanita yang dipilih Kenzo," gumam Tuan Dirgantara. Ia menoleh ke arah Kenzo yang masih koma. "Bangunlah, Nak. Jika kau tidak segera bangun, istrimu akan membakar dunia ini untukmu."
Tiba-tiba, jari tangan Kenzo bergerak sedikit. Sangat tipis, namun itu adalah sebuah tanda.
Namun, di saat yang sama, di pintu masuk rumah sakit, seorang pria asing dengan setelan jas rapi dan logat Eropa yang kental muncul. Ia membawa dokumen dengan lambang Mawar Hitam.
"Saya mencari Alana Roseline von Heist," ucap pria itu kepada resepsionis. "Keluarganya di Jerman ingin dia segera pulang untuk menerima takhta yang telah lama kosong."