Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Minggu pagi di kediaman Fontaine kembali ke pengaturan pabrik, sunyi, dan menyesakkan. Setelah Sonia pulang dengan segala kehebohan ceritanya tentang Jax, Juliatte segera menanggalkan gaun sutra dan perasaan bebasnya semalam. Ia kini duduk di meja belajar yang luas, dikelilingi buku teks sosiologi dan kalkulus.
Rambutnya kembali disanggul kencang tanpa cela, dan di sampingnya hanya ada segelas air putih dingin, tanpa gula, tanpa rasa.
Ketukan sepatu pantofel yang tegas di lantai marmer luar kamar menandakan bahwa badai telah tiba. Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang kaku berdiri di sana. Ayahnya, Arthur Fontaine, menatap tajam ke arah putrinya melalui kacamata berbingkai emas.
"Kau terlihat pucat, Juliatte. Kuharap kau tidak membuang waktu dengan hal tidak berguna selama Ayah di Paris," suara ayahnya dingin, seolah sedang membacakan laporan laba rugi.
Juliatte tidak mendongak, jemarinya tetap stabil membalik halaman buku. "Aku belajar seperti biasa, Ayah. Tidak ada yang berubah."
"Bagus. Karena nanti malam, putra dari kolega bisnis Ayah, Sebastian, akan datang untuk makan malam. Dia baru saja menyelesaikan studinya di Oxford. Jaga sikapmu, jaga penampilanmu. Jangan biarkan satu ons pun lemak atau satu kata ceroboh merusak citra keluarga ini."
Arthur menutup pintu dengan dentuman yang final. Juliatte memejamkan mata sejenak. Bayangan William yang tertawa di atas motor, rasa cokelat pasar malam yang manis, dan kehangatan ciuman semalam terasa seperti mimpi dari kehidupan orang lain yang ia curi secara ilegal.
Ponselnya yang diletakkan tersembunyi di bawah tumpukan buku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak tersimpan, namun ia tahu siapa pemiliknya.
"Porselen, jangan biarkan mereka mengunci pintumu terlalu rapat. Aku masih punya kunci cadangan."
Juliatte meremas ponsel itu di bawah meja. Jantungnya berkhianat, berdetak liar berlawanan dengan wajahnya yang tetap tenang seperti patung pualam. Ia harus kembali menjadi Juliatte yang Sempurna malam ini, tapi di dalam kepalanya, suara deru motor William Wilson terus bergema, merusak ritme belajarnya yang biasanya tanpa celah.
Sementara itu, di sebuah kedai kopi dekat sekolah, Sonia sedang frustrasi mencoba mengajari Jax cara berkencan yang normal, dan tidak menyadari bahwa sahabatnya di mansion sedang bersiap menghadapi malam yang paling menyesakkan dalam hidupnya.
Malam itu, ruang makan mansion Fontaine terasa lebih dingin dari biasanya, meski perapian menyala dengan megah.
Di hadapan Juliatte, duduk seorang pria bernama Sebastian. Usianya sekitar awal tiga puluhan, dengan rambut klimis dan senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
Ayah Juliatte, Arthur, tertawa renyah suara yang jarang didengar Juliatte sambil menuangkan wine mahal ke gelas Sebastian. Mereka menghabiskan satu jam pertama hanya membahas ekspansi saham dan proyek pelabuhan, seolah Juliatte hanyalah bagian dari dekorasi ruangan yang cantik.
"Lihat putriku, Sebastian," Arthur akhirnya mengalihkan pembicaraan, matanya berkilat bangga. "Dia adalah karya terbaik keluarga Fontaine. Disiplin, cerdas, dan yang terpenting, dia tahu bagaimana menjaga penampilannya agar tetap sempurna. Tidak ada cacat sedikit pun."
Sebastian menyandarkan punggungnya, menatap Juliatte dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya tidak hangat seperti William, tatapan itu terasa berat, kotor, dan seolah sedang menelanjangi Juliatte di depan ayahnya sendiri.
"Memang luar biasa, Tuan Arthur. Jarang sekali menemukan wanita yang tahu cara menjaga aset berharganya dengan begitu rapi di zaman sekarang."
Juliatte mengepalkan tangan di bawah meja, kukunya menekan telapak tangan hingga perih. Ia merasa seperti barang dagangan yang sedang ditaksir harganya.
Setelah makan malam yang menyesakkan, Sebastian meminta izin untuk berbicara berdua dengan Juliatte di teras belakang. Begitu mereka keluar dan pintu kaca tertutup, udara malam yang segar sama sekali tidak menolong Juliatte.
"Kau jauh lebih menarik saat dilihat dari dekat, Juliatte," suara Sebastian merendah, ia melangkah maju hingga memojokkan Juliatte di pagar balkon marmer. "Ayahmu bilang kau sulit ditaklukkan. Aku suka tantangan."
Tanpa peringatan, Sebastian menunduk, mencoba mendaratkan ciuman di pipi Juliatte dengan gerakan yang agresif. Refleks, Juliatte mendorong dada pria itu dengan sekuat tenaga hingga Sebastian terhuyung mundur.
"Jangan berani-berani menyentuhku," desis Juliatte, matanya berkilat penuh amarah yang selama ini ia pendam.
Sebastian tidak marah. Ia justru tertawa meremehkan sambil merapikan jasnya yang sedikit berantakan. Ia melangkah mendekat lagi, kali ini dengan aura yang lebih mengancam. "Jangan sok mahal, Juliatte. Kau pikir siapa yang membiayai semua kemewahanmu ini? Ayahmu butuh investasiku, dan kau adalah jaminannya."
Sebastian menyeringai, menatap Juliatte dengan pandangan predator. "Nikmati malammu sekarang. Tapi aku pastikan, dalam waktu dekat, kau sendiri yang akan menangis dan memohon pada ayahmu agar dipertemukan lagi denganku. Saat itu terjadi, aku tidak akan selembut ini."
Pria itu berbalik masuk ke dalam, meninggalkan Juliatte yang berdiri gemetar di teras. Air mata kemarahan mulai menggenang di matanya. Ia merogoh saku gaunnya, mencari satu-satunya pelarian yang ia miliki. Dengan tangan gemetar, ia mengetik pesan singkat untuk satu-satunya orang yang berani menghancurkan aturan demi dirinya.
"William... jemput aku. Sekarang. Tolong."
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍