NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. The Collapse of the Sand Castle

Pagi itu, layar televisi di seluruh penjuru negeri dipenuhi oleh satu berita besar: Kebangkrutan Mendadak Grup Choi dan Skandal Penipuan Proyek Utara. Jennie duduk di meja makan, menyesap kopi hitamnya dengan tenang sambil menyaksikan berita tersebut. Di layar, terlihat ayah Reynard yang digiring keluar dari rumah mewahnya oleh pihak kepolisian, sementara Sarah tampak menangis menutupi wajahnya dari kejaran wartawan.

"Keadilan mungkin terlambat di kehidupanku yang dulu," gumam Jennie pelan, "tapi di kehidupan ini, dia datang tepat waktu."

Penyitaan Aset

Limario turun dengan setelan jas hitam yang sempurna, melingkarkan jam tangan pemberian Jennie semalam. Ia berdiri di belakang istrinya, meletakkan tangan di pundaknya sambil ikut menatap layar TV.

"Semua rekening mereka sudah dibekukan. Rumah itu akan dilelang minggu depan," ucap Limario dengan suara berat. "Kau benar-benar menghancurkan mereka tanpa menyentuh satu pun dari mereka secara hukum, Jennie. Kau menggunakan tangan mereka sendiri untuk menjerat leher mereka."

Jennie menoleh, tersenyum manis. "Aku hanya memberi mereka panggung, Lim. Mereka sendiri yang memilih untuk melompat ke jurang."

"Lalu, bagaimana dengan tikus kecil itu?" tanya Limario, merujuk pada Reynard yang kini sudah berada di pengasingan tambang.

"Biarkan dia di sana. Kematian terlalu mewah untuk orang yang tidak tahu cara menghargai hidup orang lain," jawab Jennie tegas.

Nyonya Vincentius yang Baru

Siang harinya, Jennie memutuskan untuk mengunjungi kantor pusat Vincentius Group. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sana setelah sekian lama selalu menolak terlibat dalam urusan Limario.

Kehadirannya membuat seluruh lobi perusahaan geger. Para karyawan berbisik, terkejut melihat sang istri CEO yang biasanya terkenal angkuh dan boros, kini tampil sangat profesional dengan blazer merah marun dan aura kepemimpinan yang kuat.

"Selamat siang, Nyonya Vincentius," sapa sekretaris pribadi Limario dengan hormat yang tulus.

"Siang. Apakah Limario sedang ada rapat?" tanya Jennie.

"Tuan sedang menunggu Anda di ruangannya, Nyonya."

Saat Jennie masuk, ia mendapati Limario sedang menatap dokumen yang dikirimkan Jennie tadi malam—daftar aset luar negeri keluarga Choi.

"Ada apa?" tanya Limario tanpa mengalihkan pandangan.

"Aku ingin mengajukan proposal," Jennie duduk di kursi di depan meja kerja suaminya. "Aku ingin mengelola yayasan pendidikan atas nama keluarga Vincentius. Aku ingin membangun sekolah untuk anak-anak kurang mampu menggunakan aset yang kita sita dari keluarga Choi."

Limario meletakkan dokumennya, menatap Jennie dengan tatapan dalam. "Kau ingin menjadi seorang filantropis sekarang?"

"Aku ingin menghapus jejak burukku di masa lalu dengan membangun masa depan bagi orang lain," jawab Jennie serius. "Dan aku ingin Kenzhi bangga memiliki ibu yang tidak hanya tahu cara membelanjakan uang, tapi juga cara membaginya."

Kejutan Tak Terduga

Di tengah pembicaraan serius itu, pintu ruangan Limario terbuka tanpa diketuk. Seorang wanita cantik dengan penampilan sangat elegan masuk dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat.

"Limario! Apa benar kau menarik dukungan bank untuk keluarga Choi hanya karena bisikan istrimu yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis ini?!" seru wanita itu.

Jennie menyipitkan mata. Ia mengenali wanita ini. Isabella. Mantan kekasih Limario yang dulu hampir menikahinya sebelum perjodohan Limario dan Jennie terjadi. Di kehidupan lalu, Isabella adalah orang yang sering memanas-manasi Jennie agar membenci Limario.

"Isabella," suara Limario mendadak dingin, suasananya berubah mencekam. "Kau tidak punya hak untuk masuk ke sini tanpa izin."

Isabella menoleh ke arah Jennie dengan tatapan menghina. "Jennie, apa yang kau lakukan? Kau pikir dengan berpura-pura baik, semua orang akan lupa betapa kau memperlakukan Limario seperti sampah selama ini?"

Jennie berdiri perlahan, merapikan bajunya, lalu berjalan mendekati Isabella. Ia tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat lawan bicaranya merasa kecil.

"Isabella, sayang," ucap Jennie dengan nada tenang namun mematikan. "Kau bicara seolah-olah kau sangat mengenal suamiku. Tapi kau lupa satu hal... aku adalah istrinya. Dan di rumah ini, akulah ratunya. Jika aku ingin menghancurkan sebuah keluarga dalam semalam, suamiku akan dengan senang hati meminjamkan tangannya untukku."

Jennie maju selangkah, berbisik tepat di telinga Isabella. "Dan jika kau berani menginjakkan kaki di kantorku lagi tanpa izin, kau akan menjadi targetku berikutnya. Paham?"

Wajah Isabella memerah karena marah sekaligus malu. Ia melirik Limario, berharap pria itu membelanya, namun Limario justru menatap Jennie dengan binar kekaguman yang tak bisa disembunyikan.

Malam yang Membara

Setelah Isabella pergi dengan kemarahan, Limario menarik Jennie ke dalam pelukannya. "Aku tidak tahu kau bisa begitu protektif," godanya.

"Aku hanya menjaga milikku, Lim," balas Jennie sambil melingkarkan tangan di leher suaminya.

Malam itu, mereka pulang lebih awal. Di dalam mobil, Limario menggenggam tangan Jennie erat. "Jennie, ada satu hal yang ingin kutanyakan sejak tadi pagi."

"Apa?"

Limario menatapnya dengan intens. "Kau bilang kau ingin Kenzhi bangga. Apakah kau tidak berpikir... mungkin Kenzhi butuh seorang adik agar dia tidak sendirian di mansion seluas itu?"

Jennie tertegun, lalu tertawa renyah. "Apakah itu permintaan resmi dari sang Mafia?"

"Itu perintah," bisik Limario sambil mencium punggung tangan Jennie.

Jennie hanya membalas tatapan intens Limario dengan senyuman misterius. "Sebuah perintah, ya? Aku tidak menyangka seorang bos Mafia sepertimu bisa bersikap tidak sabaran," goda Jennie sambil jemarinya mengusap kerah jas mahal suaminya.

Strategi dan Godaan

Mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu malam. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa begitu intim. Limario menarik Jennie lebih dekat hingga tidak ada jarak di antara mereka.

"Aku serius, Jennie," bisik Limario, suaranya rendah dan serak. "Melihatmu berdiri di depanku tadi, menghadapi Isabella... aku menyadari bahwa aku tidak ingin membuang waktu lagi. Aku ingin membangun masa depan yang nyata bersamamu."

Jennie menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Limario. "Aku juga, Lim. Tapi sebelum itu, aku harus memastikan tidak ada satu pun duri yang tersisa di jalan kita. Isabella tidak akan diam saja. Dia tipe wanita yang akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."

Limario mengelus rambut Jennie. "Jangan khawatirkan dia. Dia hanya masa lalu yang tidak berarti. Fokuslah pada yayasanmu, dan biarkan aku yang menangani sisanya."

Konspirasi di Balik Layar

Sementara itu, di sebuah bar eksklusif yang remang-remang, Isabella duduk dengan segelas wine di tangannya. Wajahnya merah padam karena amarah. Tak lama kemudian, seseorang duduk di depannya. Itu adalah Sarah, mantan sekretaris keluarga Choi yang entah bagaimana berhasil lolos dari penangkapan hari itu.

"Kau lihat sendiri kan? Jennie sudah berubah menjadi monster," desis Isabella. "Dia menghancurkan keluarga Choi, dan sekarang dia mencoba menguasai Limario sepenuhnya."

Sarah mengangguk pelan, matanya memancarkan rasa dendam. "Dia tahu terlalu banyak, Isabella. Informasi yang dia punya tentang proyek Utara... itu mustahil didapatkan orang biasa. Seolah-olah dia bisa meramal masa depan."

Isabella menyipitkan mata. "Aku tidak peduli dia peramal atau bukan. Aku ingin dia menghilang. Jika kita tidak bisa menyerangnya lewat bisnis, kita serang titik lemahnya."

"Maksudmu... Kenzhi?" tanya Sarah ragu.

"Bukan hanya anak itu," Isabella tersenyum licik. "Ibu mertuanya, Maurel. Wanita tua itu sangat menyayangi Jennie. Jika sesuatu terjadi padanya, dan semua bukti mengarah pada kelalaian Jennie... Limario tidak akan pernah memaafkannya."

Malam Penuh Kehangatan

Di mansion Vincentius, Jennie tidak menyadari badai yang sedang direncanakan untuknya. Malam itu, ia menemani Kenzhi membacakan dongeng hingga bocah itu terlelap. Setelah itu, ia melangkah menuju kamar utama.

Ia menemukan Limario sedang berdiri di balkon, menatap langit malam tanpa mengenakan atasan. Tato di punggungnya terlihat begitu artistik sekaligus mengintimidasi di bawah sinar bulan.

Jennie mendekat dan memeluk punggung suaminya dari belakang. "Apa yang sedang kau pikirkan, Tuan Mafia?"

Limario berbalik, menangkap pinggang Jennie dan mengangkatnya hingga duduk di pagar balkon yang aman. "Memikirkan betapa beruntungnya aku karena kau memutuskan untuk 'kembali' padaku."

Jennie tersenyum sedih, mengingat betapa ia menyia-nyiakan pria ini di kehidupan sebelumnya. Ia menarik tengkuk Limario dan menciumnya dengan penuh perasaan—sebuah ciuman yang menjanjikan kesetiaan abadi.

"Malam ini..." bisik Jennie di sela ciuman mereka, "tidak ada bisnis, tidak ada musuh, hanya kita."

Limario terkekeh rendah sebelum membimbing istrinya masuk ke dalam, menutup pintu balkon, dan membiarkan dunia luar menghilang di balik tirai sutra yang tertutup rapat.

Kejutan di Pagi Hari

Keesokan paginya, Jennie terbangun dengan perasaan sangat segar. Namun, kedamaian itu terusik saat ia turun ke bawah dan melihat Ny. Maurel sedang menerima sebuah paket tanpa nama di depan pintu.

"Ibu, apa itu?" tanya Jennie curiga.

"Entahlah, Nak. Katanya ini hadiah dari salah satu relasi bisnis Limario," jawab Maurel sambil hendak membuka kotak tersebut.

Insting Jennie berteriak. Ia segera berlari dan menahan tangan Maurel. "Tunggu! Jangan dibuka dulu!"

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!