Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu?
Latihan malam itu terasa berbeda sejak Ethan melangkah masuk. Serra sudah berdiri di tengah matras dengan melipat kedua tangan, "telat lima menit?," tegur nya dingin.
"Maaf, tadi pemilik toko.." belum sempat Ethan menjelaskan, Serra lebih dulu memotong kalimatnya, "mulai." Ethan menurut, sekaligus merasa bingung dengan sikap Serra kali ini. Nada suara gadis itu terdengar sangat datar.
Seperti biasa, setelah pemanasan, mereka mulai sparring. Namun kali ini terasa berbeda, Serra menyerang lebih keras. Tendangan, pukulan, serta gerakannya sangat cepat. Ethan hampir tak bisa mengimbanginya. Pemuda itu terus jatuh, lalu terbangun lagi. "Fokus!," tegas Serra dengan tatapan yang dingin.
Latihan dimulai kembali, kali ini tentang teknik. Sebenarnya teknik Ethan sudah jauh lebih baik, gerakannya pun terbilang stabil, namun entah mengapa Serra selalu mencari kesalahan. Hal itu tentunya membuat Ethan mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda.
"Kau baik-baik saja?," tanyanya saat mereka beristirahat sejenak.
"Ya," Serra menjawab tanpa menoleh.
Jelas Serra berbohong. Tapi ia sendiri tidak tahu mengapa perasaannya tidak enak sejak sore tadi.
Bayangan Ethan berdiri dekat gadis pirang tersebut selalu muncul. Sebenarnya ia tahu jika Ethan bekerja di toko tanaman itu, namun baru hari ini ia tak sengaja lewat, lalu melihat pemandangan manis di depan matanya. Pemandangan yang harusnya biasa, namun membuat perasaannya jadi tak biasa.
Ethan tidak bertanya lagi, ia menganggap jika Serra mungkin sedang datang bulan.Namun yang pasti ia belum pernah merasakan dinamika seperti ini. Latihan pun jadi selesai lebih cepat dari biasanya. Serra membereskan tas tanpa banyak bicara.
"Serra, jika boleh.. besok aku ingin libur latihan," ujar Ethan pelan.
"Ok," Serra tidak menoleh, namun tanggapan itu membuat Ethan ragu sepersekian detik. Karena biasanya gadis itu akan banyak bertanya, namun entah kenapa kali ini tidak.
"Mungkin akan pulang agak larut" lanjut Ethan.
Serra hanya mengangguk tanpa menoleh, dan itu membuat Ethan merasa dihindari.
...----------------...
Keesokan harinya setelah pulang bekerja, Ethan datang memenuhi undangan makan malam dari tuan Robert. Rumah tuan Robert yang tak jauh dari lokasi toko tampak sederhana dan hangat.
Ia dijamu dengan baik, banyak bermacam-macam makanan terhidang apik di atas meja. Emma tampak duduk di seberangnya. Percakapan ketiganya terdengar mengalir. Diantaranya tentang tanaman, rencana membuka workshop herbal kecil dan lain sebagainya.
Ethan selalu menjawab dengan sopan, ia tampak ramah, mendengarkan dengan tulus serta tersenyum jika perlu. Membuat Emma semakin tertarik. Melihat puteri semata wayangnya senang, tentu tuan Robert ikut merasa senang jua.
Namun disela-sela obrolan, entah mengapa pikiran Ethan tidak sepenuhnya di sana. Setiap beberapa menit, ia selalu melihat ke arah jam dinding. Seperti ada dorongan aneh yang memintanya untuk pergi ke tempat lain.
Ia memikirkan apartemen kecil, Serra tidak mungkin sudah kembali. Lalu ia kembali memikirkan mini market, Serra juga tidak ada di sana. Kini satu-satunya tempat yang ia yakini jika Serra sedang berada di sana hanyalah dojang, tempat gadis itu mengajar sekaligus melatihnya.
Ethan bahkan tidak sadar, mengapa ia sampai sebegitu nya memikirkan keberadaan Serra. Emma yang sedang bercerita tentang sesuatu sampai tak ia hiraukan. Hingga tiba-tiba..
"Maaf, sepertinya saya harus pamit," ujar Ethan sopan.
"Wah, cepat sekali. Kau belum mencicipi hidangan penutupnya," tuan Robert sedikit menyayangkan.
"Mungkin lain kali, saya harus pergi, ada urusan penting," balas Ethan.
Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih, Ethan pun pergi meninggalkan rumah sederhana tersebut.
...----------------...
Di dalam dojang, tampak sosok Serra dengan rambut terikat asal, sedang duduk sendirian di ujung matras. Lampu hanya menyala di satu sisi ruang, membuat suasana menjadi remang.
Ia tidak tahu mengapa masih berada disini. Padahal sudah lewat jauh dari waktu mengajar. Anak-anak pun pasti sudah berkegiatan lain dirumahnya masing-masing. Entah mengapa ia enggan pulang ke apartemen kecil itu. Ia pun tak tahu apa alasannya.
Kriettt..
Ditengah lamunannya, terdengar suara pintu ruangan terbuka perlahan. Serra terkesiap lalu menoleh. Diambang pintu sudah berdiri sosok Ethan yang mulai berjalan ke arahnya. Napas pemuda itu terdengar terengah, seperti habis lari maraton ratusan kilometer.
"Hhh.. belum pulang?," tanya Ethan, mengatur napasnya.
Serra hanya terdiam, lalu memberikan sebotol air mineral miliknya yang tersisa sedikit. Ethan tak lagi bertanya, ia langsung meneguk habis air tersebut. Sejenak suasana ruangan itu menjadi sunyi. Mereka hanya terduduk diam diujung matras.
"Tadi pemilik toko tempatku bekerja mengundangku ke rumahnya, untuk makan malam," Ethan mulai membuka obrolan.
Serra tidak bereaksi, ia hanya terdiam. Gadis itu enggan menanggapi. "Hey Serra, apa kau marah padaku?", melihat sikap Serra yang acuh tak acuh, membuat Ethan mulai hilang kesabaran.
Kali ini Serra menoleh karena terkejut mendengar pertanyaan Ethan yang tiba-tiba. "Tidak, lagi pula itu bukan urusanku" balasnya dingin.
"Lalu mengapa sejak kemarin.."
"Aku melihatmu di depan toko," potong Serra.
Ethan terdiam sejenak, pikirannya kembali mengingat kejadian kemarin. Mungkin saja Serra sedang melihatnya mengobrol dengan pelanggan, atau pemilik toko, atau.. Ah, kini pemuda itu mengerti.
"Emma, dia anak pemilik toko" ujarnya pelan, "aku hanya membantunya. Jadi, kau marah karena hal itu?," Ethan menatap bingung.
Serra mengusap wajahnya kasar, ia membenci kenyataan jika pernyataan Ethan sepenuhnya benar. "Sudahlah", ia meraih tasnya hendak meninggalkan ruangan, namun Ethan lebih dulu menahan dengan meraih tangannya.
Tatapan Ethan seketika berubah, entah mengapa melihat sikap Serra yang seperti ini membuatnya merasa kesal. Ia tidak suka melihat Serra dingin kepadanya, dan membayangkan hal lain yang menurutnya tidak penting.
"Waktu di sana.." Ethan berusaha mengontrol emosi, suaranya terdengar lebih rendah, "aku tidak bisa tenang," lanjutnya.
Serra tidak menjawab, namun posisi Ethan kini semakin dekat, hingga tepat berada dihadapannya. "Kau tahu kenapa? karena.. aku terus memikirkan mu."
Serra masih terdiam, ia tak tahu harus berkata apa, namun satu hal yang pasti, ia mulai merasa lega dan menyadari sepenuhnya jika sikapnya kali ini tak luput dari kecemburuan semata. Pada kenyataannya ia memang memiliki perasaan khusus pada Ethan.
"Ethan, sepertinya aku.."
Serra tak melanjutkan perkataannya karena Ethan sudah lebih dulu membuatnya berhenti berbicara.
Tangan pemuda itu terasa sedikit gemetar, menyentuh kedua sisi wajahnya. Bibir mereka saling menyentuh lembut secara perlahan namun pasti. Hal itu terjadi begitu saja secara singkat.
Ethan menarik diri lebih dulu. Matanya mulai terbuka, seolah memastikan Serra baik-baik saja. Tapi sepertinya, jantung gadis itu tidak merasa demikian.
Duk!
Serra menundukkan wajah, memukul pelan dada pemuda dihadapannya. Ia merasa sangat malu sampai rasanya ingin segera menghilang dari sana.