Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naga perak kecil
Sebelum sempat kata-kata Azz menghilang, suara kepakan sayap dibarengi napas berat terdengar dari sungai yang mengarah ke kastil.
Udara seakan berhenti bergerak, waktu tampak membeku, dan air sungai mengalir lebih pelan.
Muncul di balik bayangan malam, sosok makhluk kecil berwarna perak, bertanduk mungil, bersayap seperti kelelawar, berkaki empat, serta berekor kadal, mengendap diam-diam menuju gunung harta buatan Rhea.
Dengan kepakan kecil yang lambat, makhluk itu mendarat tepat di dasar gunung emas. Mata peraknya tertuju pada peti harta palsu yang terbuka dan memuntahkan perhiasan berharga—mutiara, permata, serta benda-benda berkilau lainnya.
Tangan depannya menarik sebuah mahkota bertatah safir, lalu menaruhnya di kepala mungilnya yang bertanduk. Tak puas dengan itu, tangannya kembali mencari kalung, gelang, cincin, dan benda lainnya. Semuanya dipakai hingga menutupi tubuh kecilnya.
Dari sudut pandang Rhea, tindakan makhluk itu merupakan sebuah bom kelucuan. Saking imutnya, mustahil ia tidak menyadari jeritan tertahan yang hampir keluar dari celah bibirnya.
“Itu benar-benar naga… menakjubkan,” gumam Rhea sambil menggoyangkan kakinya dan menggigit bibir keras-keras demi menahan kegembiraan.
Mata ungu Azz menyipit mengamati naga perak kecil di hadapannya. Komentar Rhea membuatnya mengeluh pelan.
“Kenapa guru tidak terkejut sama sekali...”
“Hm? Anda tidak melihat ekspresi saya sekarang? Gurumu ini sangat terkejut hingga ingin segera menangkapnya,” sahut Rhea sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Kegembiraannya jelas terlihat oleh siapa pun yang menatapnya. Namun, bukan keterkejutan semacam itu yang diharapkan Azz.
“Masalahnya, Guru, Anda tidak menyangkal dan langsung menebak kalau makhluk itu naga. Padahal sejauh yang kita tahu, naga hanyalah mitos, bukan?”
“Anda juga tidak terkejut, Yang Mulia,” balas Rhea sinis tanpa menoleh.
“Tidak perlu mengulik lebih jauh jika Anda sendiri juga punya rahasia,” lanjutnya sambil mengangkat sudut bibirnya.
Ucapan itu menusuk tepat sasaran. Azz terdiam sejenak sebelum mendengus meremehkan.
“Rahasia apa yang pangeran ini miliki? Saya hanya orang jenius dan tak mudah ditebak.”
Rhea tertawa tak percaya, lalu mengeluh datar.
“Semua orang tahu itu. Tidak perlu menekankannya, rasanya kurang enak didengar.”
“Hmmp!”
Setelah saling menggoda dan mengejek, keduanya kembali pada masalah utama. Kini naga perak itu telah selesai bermain-main dengan harta barunya dan terbang di atas gunung emas.
Karena posisi pohon tempat mereka berada sedikit lebih rendah dari puncak gunung itu, tak dapat disangkal bahwa gerakan naga tersebut berada jauh dari jangkauan pandangan mereka.
Wuussh!
Angin panas bertiup dari langit. Api putih muncul di udara, lalu jatuh menyelimuti gunung emas hingga pandangan sepenuhnya tertutup.
Beberapa detik kemudian, saat api putih itu memudar, tanah kosong berumput segar perlahan terlihat bergoyang. Gunung emas harta itu lenyap dalam sekejap.
“Selesai. Sempurna.”
Azz menunggu sesaat sebelum menarik Rhea turun dari batang pohon. Begitu kaki mereka menginjak tanah, keduanya refleks mendongak ke langit.
“Naga itu kabur, Yang Mulia,” ujar Rhea sambil memindai sekeliling dengan cermat.
Tanpa menunjukkan sedikit pun kekhawatiran, Azz berjalan perlahan mengitari area tersebut. Ia berhenti, menunduk, lalu mengambil sesuatu dari tanah.
“Kita hanya perlu mencarinya, Guru.”
Azz mengangkat sebuah kalung bergantungan permata biru berbentuk bulat, lalu menggoyangkannya di udara.
“Itu… hah? Permata biru itu kristal arcana, kan?” Rhea mengamatinya dan merasakan energi sihir yang menenangkan dari kalung tersebut, meski sangat tipis.
Senyuman yang penuh keyakinan muncul di bibir Azz, matanya yang ungu melengkung. “Ayo lacak dia dengan sihir, Guru.”
“Bagaimana?” Rhea menatapnya, mengungkapkan pernyataan bahwa dia tidak paham dan ingin sang putra mahkota menjelaskan.
Dia yang baru mempelajari sihir beberapa hari saja belum menguasai semua tipe mantra. Jika putra mahkota menginginkan dia merapal mantra selain jenis ilusi dan penyembuhan, mana mungkin dia tahu.
“Oh, akan kuberi mantranya,” jawab Azz sambil menghela napas. Dari nadanya, kemungkinan dia lupa hal itu. Mengingat betapa lihainya Rhea menangani semuanya, tidak mungkin Azz tidak lengah.
Azz hanya memberi contoh mantranya tanpa bisa menggunakannya sama sekali. Sebagai mage lingkaran ke-2, sungguh menakjubkan dapat menghafal banyak mantra tingkat yang lebih tinggi dari levelnya.
Setelah mengingat dan memahaminya dengan susah payah, Rhea teringat kalung di tangannya.
“Untuk apa ini?” tanyanya bingung.
“Itu untuk memudahkan pelacakan, agar keefektifan mantra lebih tinggi,” jawab Azz tanpa berkedip. “Di dalam kristal arcana itu, ada energi Guru dan naga yang tak sengaja tertinggal. Sekarang naga itu membawa emas yang hampir 90 persennya ilusi, dari sihir Anda.”
“Dan... Guru pasti mengerti sekarang tanpa perlu dijelaskan,” lanjutnya sambil tersenyum tipis.
Rhea berhenti mendengarkan penjelasan muridnya dan sudah menggunakan sihirnya. Memegang kalung kristal biru di telapak tangannya, dia merasakan tarikan samar dari suatu tempat yang cukup jauh.
Rhea mendongak, menemukan untaian benang biru dan perak transparan yang terjalin di udara, melayang dari tangannya ke pegunungan jauh di depan.
Azz tiba-tiba memegang lengannya, membuatnya kehilangan fokus sesaat.
“Fokus, saya juga ingin melihatnya,” tegur putra mahkota.
Tampaknya putra mahkota memiliki trik sendiri untuk mengamati benang itu, dan ketika keduanya sudah melihat arah tujuan benang dengan jelas, mereka langsung bergerak.
Angin membawa mereka mengarungi langit malam. Bulan di sana selalu bersinar terang, bintang-bintang juga begitu padat.
Sambil menikmati perasaan langka dan ajaib melayang di langit, Rhea menunduk untuk melihat cengkeraman putra mahkota Azz di lengannya.
Keduanya belum berubah ke penampilan asli mereka, jadi tinggi Azz melebihi tinggi dirinya. Cengkeramannya juga membuat keduanya saling berhimpit, membuat Rhea sedikit memerah, entah karena malu atau gerah.
“Ini adalah gua naga,” ujar Azz setelah mendarat dari langit ke bebatuan datar di depan gua.
Mereka tidak segera masuk dengan ceroboh, berniat melihat gua itu dari jarak aman untuk mengecek situasi.
Rhea merasakan sesuatu yang familier, tetapi tidak yakin apa.
Gua itu memiliki tinggi sepuluh kaki, dengan mulut gua yang tampak bersih dari gulma dan sarang hewan, juga sangat gelap.
Saat masih merenung untuk menemukan perasaan yang familier itu, putra mahkota berkata, mengingatkannya secara tak terduga.
“Guru tidak merasa ada penghalang tak terlihat di gua? Sihir ilusi atau yang lainnya?”
Seolah penutup di matanya terbuka, Rhea akhirnya menyadari aliran sihir di depan gua. Mantra yang sudah familier di otaknya kini terlihat merangkai aliran sihir di pintu gua itu.
“Sebentar, biar Guru lihat lebih jelas,” jawab Rhea serius.
Tampaknya dia tak begitu memperhatikan kalau ada sihir ilusi karena mantranya sangat-sangat lemah, sepertinya sudah kedaluwarsa.
Setelah tahu itu, Rhea pun tanpa ragu menghapusnya. Dia melempar energi sihirnya secara acak dan mantra lemah itu begitu saja runtuh.
“Ayo masuk, kurasa sudah aman,” ucap Rhea tersenyum sedikit cerah, bangga pada dirinya.
Azz mengikuti Rhea tanpa berkata apa-apa. Berjalan beberapa langkah hingga lubang gua, tetapi berhenti tiba-tiba, ia menarik Rhea ke samping.
“Banyak sekali tengkorak manusia di sana.” Setiap pinggir gua itu tertimbun tulang belulang manusia, hanya menyisakan bagian tengah yang mudah untuk dilewati maksimal tiga orang.
Sedikit merinding, Rhea mengusap telapak tangannya. Untuk sesaat dia menyadari betapa mengerikannya dunia ini, sekali lagi.
Semakin mereka berjalan, semakin gelap pandangan di sekitarnya. Rhea mencengkeram lengan putra mahkota lebih erat. Kehangatan di tangannya membuatnya tetap sadar.
Tiba-tiba Azz bertanya, “Guru... takut kegelapan?”
“Huh?” Suara yang berbisik di sampingnya itu membuatnya terkejut. Rhea menarik napas dalam, lalu menyadari dia menahan napasnya sampai sekarang.
“Kurasa...ya," bisiknya samar. Setelah beberapa saat, ia mengeluh, “Yang Mulia, tidak bisakah kita nyalakan api atau apapun untuk penerangan?"
Tidak menjawab, Azz langsung melakukan aksi. Api muncul di tangan kanannya, menerangi sekitarnya dalam lingkup kecil.
“Guru, jangan menggunakan sihir untuk sekarang, takutnya naga itu merasakannya,” ujar Azz sambil mengangkat tangannya yang memancarkan api.
“Oke, api itu saja sudah cukup.” Rhea menghela napas lega, mengikuti langkahnya dengan patuh.
Mereka masuk ke kedalaman gua lebih dalam, dan aroma menyengat samar-samar tercium. Di sebuah tikungan, mulai banyak lampu penerangan hingga Azz pun berhenti menciptakan api.
Terdapat dua tikungan. Azz menghentikan Rhea dan menariknya menempel ke sisi tembok.
Suara percakapan manusia tiba-tiba terdengar dari lorong gua bagian kiri. Cukup keras, dua suara saling bersahutan. Satu adalah suara anak kecil, merengeh sambil menangis pilu, berteriak pada suara kedua yang terdengar seperti pria tua.
“Kenapa ada manusia di sini? Di mana naga kecil itu? Dia tidak tertangkap, kan?” bisik Rhea dengan sangat pelan, menatap putra mahkota dengan khawatir.
Azz menggeleng, mengangkat jari telunjuknya ke bibir, mengisyaratkan Rhea untuk diam terlebih dahulu.
Rhea mengunci bibirnya rapat, memasang telinganya lebih tajam untuk mendengar isi percakapan.
.
.
.
.
“Kau harus ikut denganku, naga kecil. Ini untuk membantumu. Aku tidak bohong, ibumu pasti akan bangun dengan bantuan saudara-saudariku.” Suara tua itu berkata, terdengar membujuk dengan nada lembut.
“Ibu belum bangun! Kau bohong! Aku sudah mengumpulkan banyak emas sesuai apa yang kau katakan! Tapi Ibu belum bangun!” bentak suara lain, melengking dan kekanak-kanakan.
“Emasnya belum cukup banyak untuk membangunkan ibumu...” ucap suara tua itu. “Karena itu lebih baik ikut denganku dan meminta bantuan saudara lainnya. Sebagai teman lama ibumu, aku tidak tega membiarkanmu melakukan pencurian lagi.”
“Tidak! Kau sendiri yang menyarankanku mencuri emas di gudang para bangsawan dan pedagang, sekarang kau bilang tidak tega? Manusia memang licik dan munafik!”
“Saat itu aku hanya memberimu pilihan, bukan memaksamu, kan?”
“Aku bilang, tidak! Tinggalkan aku dan ibuku! Biar aku mencari cara membangunkan Ibu sendiri!”
“Naga kecil...”
Saat itu, suara dentuman keras terdengar. Udara panas menyelimuti gua, suara erangan terdengar. Kemudian terdengar suara petir dan angin, menabrak sisi-sisi gua.
Di sisi lain, mendengar adanya pertikaian, Rhea menoleh ke arah Azz untuk bertanya apa yang harus dilakukan.
Azz kembali menatapnya dengan tajam. Mengangkat alisnya, seolah menyuruhnya memikirkan solusinya sendiri.
Karena jawaban itu, Rhea cemberut. Merasa dimanfaatkan dengan tidak jelas. Padahal tujuannya di sini hanyalah mengikuti putra mahkota, bukan menyelesaikan masalah yang ditimbulkannya.
Sambil menghela napas, ia melepas lengannya yang sedari tadi melingkari lengan Azz. Rhea maju beberapa langkah untuk melihat pertengkaran itu lebih jelas.
Belum sempat dia melihat seperti apa sosok pertengkaran itu, sebuah benda putih dengan kecepatan luar biasa menghantamnya, tepat di kepalanya.
Bruk!
“Guru!”