Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Di negara dengan julukan Dua Benua, alias Turki. Aaliyah berdiam diri sambil memandang hamparan bunga milik Anane ( nenek) yang terawat indah.
Sudah satu minggu lebih Aaliyah berada di kediaman Opa dan Anane nya. Ia merasa lebih tenang dan terasa nyaman berada disini. Pikirannya lebih fresh dan sudah tidak begitu bising seperti kemarin - kemarin.
Aaliyah juga sudah menerima anak yang ada di dalam kandungannya, setelah ia mendapat dukungan dari Mommy, Opa dan Anane nya.
Setiap hari Rabu dan Jumat Aaliyah akan rutin datang ke psikiater untuk mengobati trauma nya. Baru dua kali ia bertemu dengan dokter Varelire, psikiater yang menanganinya. Aaliyah merasa lebih baikan dan pikiran yang semaut mulai membaik.
" Darling, ayo masuk. Udara di luar sudah sangat begitu dingin. " Ucap Anane Zainab dengan lebut pada sang cucu.
Aaliyah merupakan cucu satu - satunya perempuan di keluarga Mommy Amira. Semua kakak serta adik sepupunya laki - laki. Maka dari itu Aaliyah menjadi cucu yang paling di sayangi oleh Opa dan Anane mereka.
" Sebentar lagi ya, Ane. Aal masih betah melihat bunga - bunga yang tubuh subur itu. " Jawab Aaliyah dengan wajah memohon pada sang nenek.
" Tapi udara di luar sudah begitu dingin, darling. Nanti kamu sakit bagaimana ? "
" Hmm... Tiga menit aja, baru aku masuk ke dalam. Anane tenang aja aku kan sudah pake jaket tebal, jadi tidak akan kedinginan. "
" Anak ini selalu saja begitu. Ya sudah Anane masuk dulu. Ingat hanya tiga menit, setelah itu langsung masuk ke mansion. " Ucap Anane Zainab penuh peringatan pada cucu kesayangannya itu.
Wanita berusia tujuh puluh tiga tahun itu melangkah masuk ke dalam mansion meninggalkan Aaliyah seorang diri di halaman belakang mansion. Biarkan cucunya itu disana sebenar menikmati hamparan bunga yang ia tanam.
Sebenernya sudah sebagian bunga hasil tanaman Anane Zainab sudah mulai layu karena tak bisa tumbuh di cuaca dingin seperti ini. Hanya bunga - bunga tertentu yang masih bermekaran, karena bunga itu memang tumbuh di saat musim dingin kaya sekarang.
Tiga menit berlalu Aaliyah bangkit dari atas kursi taman lalu berjalan masuk kedalam mansion. Ia menepati janji seperti yang Aaliyah katakan pada Anane Zainab. Aaliyah taku mau membuat neneknya itu kesal, karena dirinya tidak menepati janji seperti yang ia katakan tadi.
Anane Zainab yang baru saja keluar dari arah dapur sambil membawa nampan berisi dua gelas cangkir di tangannya.
" Sini, nak. Kamu minum coklat hangat ini dulu, supaya tubuh mu hangat. " Ucap Anane Zainab, setelah Aaliyah sudah berada di dekatnya.
Aaliyah menerima cangkir yang di berikan Anane Zainab lalu duduk di sofa ruang tengah untuk menikmati satu cangkir coklat hangat buatan nenek tercintanya.
" Rasa coklat hangat buatan Anane tidak pernah berubah, selalu enak dan buat tenang. " Ucap Aaliyah setelah menyeruput coklat hangat buatan sang nenek.
" Siapa dulu yang buat, Anane. Sudah di jamin enak pastinya. " Ujur Anane Zainab dengan bangga, minuman buatnya di puji sang cucu.
Ini yang membuat Aaliyah selama seminggu ini terasa nyaman berada di kediaman Kakek dan Neneknya. Kedua paruh baya itu selalu membuatnya tersenyum dan nyaman berada di dekatnya.
Awal - awal pindah ke kediaman Opa Rasyid. Aaliyah masih sama seperti di London banyak melamun dan menangis setiap harinya. Tapi berkat rangkul Mommy, Opa dan Anane nya. Perlahan demi perlahan Aaliyah bisa kembali seperti dulu.
Yang terpenting, Aaliyah tidak boleh di tinggal begitu lama seorang diri. Takut dari pikiran yang semarautnya membuat wanita itu mengambil hal nekat nantinya.
Dua wanita beda usia itu menikmati waktu siang mereka menonton drama Turki di ruang tengah sambil menikmati secangkir coklat hangat dan kudapan khas Turki yang di buat oleh asisten rumah tangga Neneknya.
Di tempat berbeda Pramana baru saja usai menunaikan sholat Zuhur di ruangan kosong yang berada tak jauh dari ruangan devisi nya.
Ia melangkahkan gontai masuk ke dala ruangan devisinya kembali. Hari ini pekerjaannya cukup begitu banyak membuat Pramana hanya memiliki waktu beberapa menit untuk sholat. Ia juga membawa bekal makanan sendiri dari rumah untuk makan siang kali ini.
" Tumben bawa bekal, Bro ? " Tanya Michael si cerewet.
" Hmm... Hari ini pekerjaan ku banyak sekali. Makannya bawa bekal dari rumah sendiri saja. " Jawab Pramana sambil membuka tas bekal miliknya.
" Huhu... Aku kira kamu bawa bekal enak, semacam daging steak dengan mashed potato. Ternyata hanya roti di balur dengan selai coklat. " Ucap Michael, setelah melihat isi bekal yang di bawa oleh Pramana.
Yap.. Pramana hanya membawa bekal buatannya sendiri berupa roti dengan selai coklat menjadi isinya. Lagian Pramana juga tidak begitu jago untuk memasak. Di tambah setok makannya banyak yang sudah habis di dalam kulkas.
Makannya Pramana hanya membawa bekal roti isi selai cokelat sebagai bekalnya. Dari pada ia kelaparan ketika bekerja, karena tak sempat makan di kafetarian perusahan. Lebih baik ia membawa itu saja.
Lagian cerewet sekali Michael ini. Mau Pramana makan dengan bekal apa pun, ngapain dia yang repot.
" Di kulkas ku hanya ada ini saja. Makannya bekal ku berisi roti isi coklat. Lagian aku juga tak jago masak. " Saut Pramana sewot. Ia melahap roti cokelat tanpa menawari Michael.
" Makannya menikah, Bro. Biyar ada yang memasaki mu makanan yang enak. " Ucap Michael, semakin membuat Pramana mendengus kesal.
" Ngapain nyuruh orang menikah kamu saja sana menikah biyar bisa makan enak terus. " Dengus Pramana kesal.
Michael kehilangan kata - kata setelah mendengar perkataan Pramana. Ah temannya ini bisa saja menjawab perkataannya.
" Mendingan kau enyah dari hadapanku deh. Dari pada buat ku kesal dengan mulut cerewet mu itu. " Usir Pramana dengan mata mendelik kesal dengan pria yang berdiri di hadapannya.
" Sorry deh, Bro. Ya sudah nikmati roti cokelat mu itu. Aku mau beli kopi dulu, biyar fresh otak ku ini. " Ucap Michael sambil cengengesan tak jelas. Setelah di usir oleh Pramana.
" Sekalian kau cuci ot*k mu itu. Biyar makin fresh dan segar. " Ucap Pramana dengan suara sedikit berteriak, karena Michael berjalan keluar dari dalam ruangan.
Sepeninggal Michael. Pramana menatap kosong layar komputer sambil memakan roti bawaannya. Pikirannya masih terlempar jauh dengan kejadinan kemarin malam ketika ia datang ke rumah Aaliyah.
Kata - kata Mommy Amira masih terngiang - ngiang di pikirannya. Aaliyah sudah di bawa pergi menjauh dari London, supaya ia tak bisa menemuinya.
" Kenapa kamu pergi ? Aku ingin bertanggung jawab atas perbuatan ku pada mu. " Gumam Pramana sendu dengan mata sedikit berkaca - kaca.
Baru hari ini Pramana cukup bernafsu dengan makanan. Kemarin - kemarin, ia hanya makan sedikit saja. Karena nafsu makannya berkurang setelah kejadian malam itu.
Entah kenapa rasa roti cokelat buatannya sangat menggugah seleranga. Lihat saja lima tangkap roti cokelat yang ia bawa sudah habis tak tersisa.
Apa jangan - jangan ia sedang ngidam ? Makannya lima tangkap roti sudah habis tak tersisa sedikit pun.
Pramana langsung membuyarkan pikirannya itu. Mana mungkin seorang laki - laki seperti dirinya merasakan ngidam.
Kalo membahas hal ini Pramana jadi teringat dengan perkataan Mommy Amira. Yang mengatakan kalo Aaliyah sedang hamil anak hasil kejadian malam itu.
" Ya Allah tak apa kalo aku yang akan merasakan ngidam atau morning sickness. Jangan wanita itu, dia sudah sangat menderita karena perbuatan ku. " Gumam Pramana dengan air mata yang tak terasa jatuh membasahi pipi nya.
Bersambung....