persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Tentang Meja Kantin dan Orang-Orang yang Datang untuk Menang
Sabtu siang setelah kegiatan Pramuka biasanya adalah waktu di mana sekolah berubah menjadi tempat yang lebih santai. Bau rumput lapangan yang baru dipangkas bercampur dengan aroma minyak goreng dari kantin, menciptakan suasana khas yang selalu membuat saya merasa rumah itu jaraknya jauh sekali. Saya berjalan menuju kantin dengan langkah yang tidak terburu-buru. Di tangan saya ada buku astronomi pemberian Dara yang sudah hampir habis saya baca. Saya mulai menyukai fakta-fakta tentang benda langit; mereka besar, dingin, dan punya lintasan yang pasti. Tidak seperti perasaan manusia yang seringkali melompat-lompat tanpa koordinat yang jelas.
Kantin sedang ramai-ramainya. Saya melihat Togar sedang beradu argumen dengan Ibu Kantin soal jumlah gorengan yang dia makan. Di sudut lain, anak-anak kelas sebelah sibuk membicarakan pertandingan bola nanti malam. Saya mencari bangku kosong, dan mata saya tertuju pada meja di pojok, tempat yang biasanya saya duduki bersama Kayla.
Hari ini, meja itu sudah diisi. Ada Kayla, dan tentu saja, Arkan.
Saya sempat ragu sejenak. Ingin rasanya berbalik arah dan pergi ke warung depan sekolah saja. Tapi kemudian saya teringat kata-kata Dara tentang menjaga poros sendiri. Kalau saya lari, itu tandanya saya masih terpengaruh oleh gravitasi mereka. Maka, saya tetap berjalan maju, melewati meja mereka seolah-olah mereka hanyalah bagian dari dekorasi kantin yang tidak terlalu penting.
Bumi! Sini duduk! teriakan Kayla menghentikan langkah saya.
Saya menoleh. Kayla menatap saya dengan tatapan yang sulit diartikan. Masih ada sisa-sisa kemarahan dari kejadian di perpustakaan tadi pagi, tapi ada juga sedikit rasa rindu yang berusaha dia sembunyikan. Di sampingnya, Arkan tersenyum sopan. Senyum yang sekarang saya sadari adalah senyum kemenangan.
Tidak usah, Kay. Saya mau duduk di sana saja, bareng Togar, jawab saya sambil menunjuk meja Togar yang berisik.
Ayolah, Mi. Kita perlu bahas soal mading yang tadi. Arkan mau jelasin kenapa bagian tulisan kamu perlu sedikit disesuaikan, kata Kayla lagi. Dia menarik kursi kosong di sebelahnya, mengisyaratkan saya untuk duduk.
Saya menghela nafas. Menghindari masalah tidak akan menyelesaikannya. Saya pun duduk, tapi tidak di sebelah Kayla, melainkan di depan mereka berdua. Saya meletakkan buku astronomi saya di atas meja dengan posisi yang sangat rapi.
Jadi, apa masalahnya? tanya saya langsung pada Arkan.
Arkan berdehem sebentar, lalu memajukan posisi duduknya. Begini, Bumi. Tulisan kamu di rubrik Suara Hati itu sebenarnya bagus. Sangat puitis. Tapi menurut saya, kalimat terakhir soal motor keren itu agak terlalu spesifik dan berpotensi menyinggung sebagian orang. Mading kita ini kan sifatnya inklusif, untuk semua siswa. Saya cuma mau menggantinya dengan sesuatu yang lebih universal, misalnya soal perbedaan status sosial secara umum.
Universal itu kata lain dari membosankan, Kan, jawab saya tenang. Kalimat itu saya tulis karena itu yang saya rasakan. Kalau kamu ganti, berarti itu bukan lagi suara hati saya, tapi suara hati kamu yang sedang berpura-pura menjadi saya.
Arkan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat percaya diri. Kita ini sedang bekerja untuk tim, Bumi. Ego pribadi harus dikesampingkan demi kualitas hasil akhir. Kayla juga setuju kok kalau bagian itu diganti. Ya kan, Kay?
Kayla tampak sedikit canggung. Dia menatap saya, lalu menatap Arkan. Iya, Mi. Arkan bener. Biar tidak ada yang merasa tersindir saja. Lagian kan itu cuma satu baris, tidak akan mengubah maknanya secara keseluruhan, kan?
Saya menatap Kayla. Di titik ini, saya menyadari bahwa Kayla sudah bukan lagi rekan diskusi yang seimbang bagi saya. Dia sudah menjadi gema dari suara-suara Arkan.
Kalau begitu, hapus saja nama saya dari sana, kata saya pendek.
Lho, kenapa harus dihapus? tanya Kayla kaget.
Karena kalau tulisannya diubah oleh orang lain, itu bukan tulisan saya lagi. Masukkan saja nama Arkan di sana sebagai penulisnya. Dia kan lebih tahu apa yang universal dan apa yang tidak menyinggung orang lain, jawab saya sambil mulai membuka buku astronomi saya, tanda saya tidak ingin melanjutkan perdebatan itu.
Bumi, kamu jangan kekanak-kanakan deh! Arkan cuma mau bantu! Kayla meninggikan suaranya, membuat beberapa orang di meja sebelah menoleh.
Saya tidak merasa sedang kekanak-kanakan, Kay. Saya cuma sedang menghargai karya saya sendiri. Kalau kamu tidak bisa menghargainya, ya sudah. Tidak masalah buat saya.
Arkan tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa lebih tajam. Sudahlah, Kay. Mungkin Bumi memang butuh waktu untuk mengerti bagaimana cara kerja organisasi. Tidak apa-apa, bagian itu akan saya ambil alih saja. Oh iya, nanti malam kita jadi kan belajar bareng di kafe depan perumahan kamu? Aku sudah bawa buku referensi yang kamu butuhin.
Jadi kok, Kan. Jam tujuh ya? jawab Kayla, suaranya melembut saat bicara dengan Arkan.
Saya tetap menatap buku saya, meski tidak ada satu kata pun yang masuk ke dalam otak saya. Dada saya rasanya seperti sedang dihimpit oleh dua keping beton. Belajar bareng di kafe. Di depan perumahan Kayla. Itu adalah tempat di mana dulu saya dan Kayla sering menghabiskan waktu malam minggu hanya untuk makan martabak dan berdebat soal hal-hal konyol. Sekarang, tempat itu sudah punya penghuni baru.
Saya berdiri dari bangku. Kay, saya duluan ya. Ada urusan, kata saya tanpa menunggu jawaban mereka.
Saya berjalan menjauh dari meja itu, tapi sebelum saya benar-benar keluar dari kantin, saya berpapasan dengan Dara. Dia sedang membawa segelas air putih dan sepotong roti tawar.
Sudah selesai upacara penyerahan kekuasaannya? tanya Dara dengan nada datarnya yang khas.
Kamu lihat? tanya saya balik.
Saya punya mata, Bumi. Dan telinga saya cukup tajam untuk mendengar suara ego yang sedang terluka dari jarak sepuluh meter, jawab Dara. Dia kemudian menatap ke arah meja Kayla dan Arkan. Arkan itu seperti meteorit. Dia datang dengan cahaya yang terang, menarik perhatian semua orang, tapi sebenarnya dia hanya membawa kehancuran bagi ekosistem yang sudah ada sebelumnya.
Dan saya adalah dinosaurus yang sebentar lagi punah? tanya saya sambil tersenyum pahit.
Bukan. Kamu adalah kerak bumi. Kamu kuat, kamu dalam, dan kamu tetap ada meski di permukaannya terjadi banyak ledakan. Jangan biarkan meteorit kecil itu membuatmu merasa tidak berharga, kata Dara. Dia kemudian menyodorkan rotinya. Mau sepotong? Ini hambar, seperti kenyataan yang sedang kamu hadapi.
Saya mengambil sepotong roti itu. Terima kasih, Dara. Kamu selalu punya cara untuk menghina dan menghibur saya di saat yang bersamaan.
Dara hanya mengangkat bahu lalu berjalan menuju meja yang paling sepi. Saya keluar dari kantin, menuju parkiran. Saya ingin segera pulang. Saya ingin merebahkan diri dan menutup mata, berharap saat saya bangun nanti, nama Kayla sudah tidak lagi memberikan efek apa-apa pada jantung saya.
Saat saya sedang memasang helm, saya melihat motor merah Arkan keluar dari gerbang sekolah. Di belakangnya, Kayla duduk dengan manis, tangannya memegang jaket Arkan agar tidak jatuh. Mereka terlihat sangat bahagia. Cahaya matahari sore menerpa wajah mereka, membuat mereka terlihat seperti karakter dalam novel remaja yang selalu mendapatkan akhir yang indah.
Saya menyalakan Si Kumbang. Suaranya terdengar sangat tua dan lelah, sama seperti perasaan saya saat ini.
Kumbang, kita tidak punya motor merah, tapi kita punya harga diri yang tidak bisa dibeli dengan harga berapapun, bisik saya.
Saya memacu motor saya menyusuri jalanan Bandung yang mulai macet. Saya memikirkan kata-kata Dara tentang poros. Saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu sibuk menjaga orbit Kayla sampai saya lupa bahwa saya sendiri punya ruang untuk bersinar.
Malam harinya, saya tidak mengecek media sosial. Saya tahu akan ada foto mereka di kafe itu. Saya tahu akan ada caption puitis yang dibuat Arkan dan disukai oleh Kayla. Saya lebih memilih duduk di meja belajar, membuka kembali buku astronomi, dan mulai menulis sesuatu di buku catatan saya yang baru.
Bukan tentang cemburu. Bukan tentang Kayla.
Saya menulis tentang bagaimana sebuah planet tetap bisa hidup meski dia jauh dari mataharinya. Tentang bagaimana kegelapan sebenarnya adalah tempat di mana kita bisa melihat cahaya kita sendiri dengan lebih jelas.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa orang-orang mungkin datang untuk menang dan mengambil apa yang kita punya, tapi mereka tidak akan pernah bisa mengambil siapa kita sebenarnya selama kita tidak mengizinkannya.
saya yang tertidur sambil memeluk buku astronomi, sementara di luar sana, dunia terus berputar mengelilingi orang-orang yang merasa telah memenangkan segalanya.