Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kepulangan Sang Naga ke Akar Sunyi
Angin gunung berhembus pelan, membawa aroma pinus dan tanah basah yang sangat akrab di indra penciuman Tian Shan.
Ia melangkah perlahan menyusuri jalan setapak yang telah mulai tertutup semak belukar.
Tidak ada kilatan Qi yang meledak, tidak ada langkah kaki yang membelah udara.
Hari ini, ia bukan Sang Legenda Naga yang ditakuti dunia; ia hanyalah seorang murid yang sedang pulang ke rumah.
Jalan setapak ini adalah saksi bisu masa kecilnya.
Di batu besar itu, ia pernah duduk berjam-jam mencoba merasakan aliran energi untuk pertama kali.
Di pohon tua yang kini dahan-dahannya merunduk itu, ia pernah berlatih ketangkasan hingga tangannya berdarah.
Setiap jengkal tanah ini menyimpan potongan memori dari masa di mana ia masih merupakan "bejana kosong" yang tidak mengerti arti tangisan.
"Sudah lama sekali." gumamnya pelan. Senyum tipis, yang kini terasa lebih manusiawi setelah air mata yang tumpah untuk Lin, tersungging di bibirnya.
Setelah menempuh perjalanan yang santai, ia sampai di puncak bukit yang menghadap ke lembah awan.
Di sana, di bawah naungan pohon bodhi yang rindang, terdapat sebuah gundukan tanah sederhana dengan nisan kayu yang sudah mulai melapuk dimakan usia.
Makam Master Xinjiang.
Tian Shan berhenti. Ia melepaskan beban di punggungnya.
Dengan telaten, ia mulai mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar makam.
Ia memperbaiki susunan batu yang bergeser dan mengusap debu dari kayu nisan itu dengan ujung jubahnya yang mahal.
Baginya, tempat ini jauh lebih berharga daripada istana megah manapun di Kota Air Tenang.
Setelah semuanya rapi, Tian Shan melakukan sesuatu yang sangat simbolis.
Ia meletakkan pedang warisan gurunya—pedang yang telah menemaninya menebas ribuan musuh—di depan makam. Di atas hulu pedang itu, ia meletakkan caping bambunya.
Ia berdiri di sana dengan rambut panjang yang terurai bebas ditiup angin, membiarkan wajahnya terpapar cahaya matahari senja yang hangat, persis seperti dalam lukisan takdir yang kini ia jalani.
Tian Shan duduk bersila di depan makam. Ia mengeluarkan satu kendi arak kualitas terbaik yang ia bawa dari kota, lalu menuangkan dua cawan.
Satu untuk gurunya yang telah tiada, satu untuk dirinya sendiri.
"Guru, aku kembali," ucapnya, suaranya berat namun tenang. ia menuangkan cawan pertama ke atas tanah makam. "Arak ini mahal, Guru. Kau pasti akan menyukainya. Tidak seperti arak murahan yang biasa kita curi dari desa bawah dulu."
Ia meneguk cawannya sendiri, membiarkan rasa hangat membakar kerongkongannya.
"Dunia memanggilku Legenda Naga sekarang. Mereka bilang aku adalah pendekar hebat yang menyelamatkan ribuan orang. Tapi kau tahu yang sebenarnya, bukan? Aku hanyalah anak yang kau temukan di hutan, yang bahkan tidak tahu cara merasa lapar atau sakit."
Tian Shan terdiam sejenak, menatap pedang yang kini bersandar diam.
"Aku baru saja membunuh Gao Feng, anak gubernur itu. Kami bertarung hingga gunung runtuh. Di saat terakhirnya, kami minum bersama dan tertawa. Dan di saat itu, aku teringat padamu. Aku menyadari sesuatu yang mengerikan sekaligus indah."
Ia menatap makam itu dengan tatapan yang sangat dalam.
"Terima kasih, Guru. Terima kasih karena kau yang menemukanku hari itu, dan bukan orang lain. Jika orang lain yang menemukanku—seseorang yang hanya melihat kekosonganku sebagai senjata atau alat kekuasaan—mungkin saat ini aku tidak akan duduk di sini sambil minum arak bersamamu."
Suaranya sedikit bergetar saat ia melanjutkan.
"Jika bukan kau yang mengajarkanku tentang 'bejana kosong', aku mungkin sudah menjadi monster yang jauh lebih buruk dari Gao Feng. Aku mungkin sudah menghancurkan dunia ini hanya karena aku tidak bisa merasakan apa-apa. Kau memberiku fondasi... kau memberiku kesempatan untuk menjadi 'manusia', meski butuh waktu bertahun-tahun dan banyak air mata untuk benar-benar memahaminya."
Tian Shan kembali menuangkan arak. Kali ini ia tidak terburu-buru.
Ia mulai bercerita panjang lebar—tentang Lin, tentang bagaimana ia belajar menangis, tentang betapa pahitnya rasa kehilangan, dan tentang betapa lucunya dunia ini yang memuja seorang pembantai sebagai pahlawan.
"Kau benar, Guru. Hidup memang bukan tentang garis finis. Ini tentang rasa sakit saat kita berlari. Dan sekarang, aku merasakan sakit itu setiap hari. Rasanya berat, tapi setidaknya... aku tahu aku hidup."
Matahari mulai tenggelam, menyisakan warna ungu dan emas di langit yang luas.
Tian Shan berdiri, namun ia membiarkan pedang dan capingnya tetap di sana.
"Aku akan meninggalkan pedang ini di sini bersamamu, Guru. Aku tidak lagi membutuhkannya untuk membuktikan siapa aku. Aku akan melanjutkan perjalanan ini dengan namaku sendiri, membawa pelajaranmu ke setiap tempat yang belum tersentuh cahaya."
Ia membungkuk hormat, dahi menyentuh tanah, dalam posisi Kowtow(Bentuk penghormatan tertinggi Tiongkok kuno) yang paling tulus.
"Istirahatlah dengan tenang. Muridmu ini sudah tidak kosong lagi. Bejanaku kini penuh... penuh dengan kenangan, luka, dan harapan."
Tian Shan berbalik dan berjalan turun gunung dengan tangan kosong, namun dengan jiwa yang jauh lebih berat dan berisi.
Langkahnya santai, menikmati sisa-sisa ingatan masa lalu yang kini tidak lagi menghantuinya, melainkan menuntunnya menuju jalan yang baru.