Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Dipaksa menikah
"Iya, mami sudah memutuskan bahwa kalian akan segera menikah. Tidak ada penolakan!" Mami Mia berkata dengan tegas tak ingin dibantah.
Melodi terkesiap, ia menatap Davin penuh tanya. Namun, pemuda itu tak menjawab dan justru menatapnya balik sambil mengangkat bahunya.
"Kenapa?" tanya Mami Mia.
"Eng- nggak, Bu." Melodi mengelengkan kepala.
"Awas saja, kalau sampai kamu berani menolak anak saya! Karena saya pasti akan melaporkan kamu ke pihak berwajib," ancamnya sambil mendelikkan mata.
Melodi menggelengkan kepalanya cepat dan langsung mengkeret mendengar ancaman Mami Mia.
"Sekarang juga kalian pulang ke rumah," titah Mami Mia.
"Mami akan menghubungi Pak Penghulu untuk menikahkan kalian.Tidak ada bantahan atau alasan apapun! Kalian mengerti!" lanjutnya sambil tersenyum tipis tanpa mereka sadari.
"Mami akan pulang dulu, kalau sampai dalam jangka waktu satu jam kamu belum muncul juga, maka kamu akan tahu akibatnya," ujarnya menegaskan.
"Vira, ayo pulang, Sayang," ajaknya pada sang menantu.
Sebelum pergi Vira sempat berbisik pada Melodi. "Selamat datang di keluarga kami, semoga kamu akan terbiasa dengan tingkah ajaib ibu mertua kita."
Tubuh Melodi menegang seketika. Ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia menatap Davin, dengan pandangan tak terbaca. Namun, sekali lagi pemuda itu hanya mengangkat bahunya sambil cengengesan, merasa diuntungkan dengan adanya ancaman dari maminya.
Di dalam lift, Mami Mia tak bisa lagi menahan tawanya. Wanita dengan tujuh cucu itu merasa sangat puas bisa mengerjai Melodi. Vira menatapnya sambil mengernyit heran.
"Kelihatannya Mami, seneng banget," celetuk Vira.
"Ha-ha-ha-ha... Kamu lihat tadi kan, bagaimana ekspresi wajahnya Melodi?" tanyanya pada sang menantu.
"Haaahhh...rasanya mami puas banget deh, bisa ngerjain gadis lugu itu," imbuhnya dengan bangga.
"Tapi, Mi. Bagaimana jika Melodi jadi takut sama Mami? Dia kan, belum mengenal Mami? Pasti dia mengira Mami orangnya galak beneran, eeh," komentar Vira, lantas menutup mulutnya.
"Aahh... Kamu tenang saja. Itu mah, urusan mami. Kamu gak perlu khawatir." Mami Mia menenangkan.
.
Kembali ke unit hunian Davin.
Melodi duduk terdiam dengan pikiran berkecamuk. Ia mencuri-curi pandang ke arah Davin.
"Kenapa?" tanya Davin, ketika pandangan mereka berserobok. "Kata-kata yang sudah kamu ucapkan tidak bisa ditarik ulang. Apalagi jika sudah berurusan dengan Mami, maka akan berbuntut panjang andai kamu berani menolak."
"Bukannya saya menolak, Mas. Tapi saya ingin memantaskan diri terlebih dahulu. Kan, Mas Davin bilang kalau saya mau jadi kekasih, Mas akan menuruti kemauan saya. Maka saya pengin sekolah dulu, setidaknya biar saya merasa pantas mendampingi Mas Davin." Melodi menjelaskan panjang lebar.
"Sudahlah, kamu jangan banyak alasan. Aku pasti akan memenuhi itu semua setelah kita resmi menikah," kata Davin.
"Sekarang, ayo kita bersiap. Jangan sampai Mami menunggu lama," lanjutnya menambahkan.
Melodi pun menurut. Mereka bertiga akhirnya berangkat ke kediaman Al Ghifari.
.
Tiga puluh menit kemudian sampailah mereka di depan sebuah hunian yang sangat megah dan mewah.
"Kak Davin, ini rumah siapa? Besar sekali, Kak?" tanya Alvian, pandangan matanya tampak terkagum-kagum.
"Ini rumah orangtuanya Kak Davin," jawab Davin sambil mengusap kepala Alvian.
"Wah...!" seru Alvian. "Pasti orangtuanya Kak Davin orang kaya, ya?"
Davin hanya tersenyum, lalu turun dari mobil. "Turun, yuk. Kita masuk ke dalam," ujarnya, setelah membuka pintu penumpang. Menurunkan kursi roda Alvian, menggendong bocah laki-laki itu dan mendudukkannya di kursi roda.
Sementara Melodi, ia semakin merasa dirinya kecil dan tak sepadan dengan Davin, sehingga yang ia lakukan hanyalah diam dan mengikuti saja apa yang dikatakan Davin.
"Jangan menunduk saja, Mel. Kamu harus percaya diri, oke," kata Davin berusaha menyemangati.
Melodi menarik ujung bibirnya tipis. Ia berjalan mengikuti Davin dengan langkah ragu. Namun, berusaha menepis perasaannya. Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung terkejut. Di dalam rumah itu telah berkumpul seluruh anggota keluarga. Bahkan Daren berserta Niken pun sudah ada di sana, juga Daniel dan Zeya. Entah sejak dari kapan Mami Mia menghubungi kedua putranya tersebut.
Zeya, Niken, dan Vira, langsung menghampiri Melodi, lalu menariknya masuk ke kamar Davin.
"Saya mau dibawa ke mana, Kak?" tanya Melodi bingung, juga sedikit takut.
"Sudah, jangan banyak tanya, ikut saja dengan kami," kata Zeya santai.
Sesampai di dalam kamar Davin, mereka bertiga lantas mendudukkan Melodi di depan meja rias.
"Kita di sini bertugas untuk mengeksekusi dirimu," timpal Vira.
"Mengeksekusi...?" Melodi membulatkan matanya, ia ingin memberontak.
"Iya... Merias wajahmu supaya menjadi pengantin yang sangat cantik," ujar Niken yang akhirnya memilih jujur, karena tak tega melihat wajah pucat Melodi.
Berhubung Melodi sudah mandi, mereka pun lantas mengeksekusi wajah Melodi.
Sementara di tempat berbeda, Darrel, Darren, dan Daniel, membawa Davin ke kamar tamu. Sedangkan Danish bertugas menjaga Alvian yang kini bermain dengan ke tujuh keponakannya.
Di dalam kamar tamu, Davin hanya menurut saja, saat ketiga kakaknya, melancarkan aksinya. Di mulai dari menyapukan riasan tipis di wajahnya, lalu memakaikan beskap dan kain jarik, dilengkapi dengan blangkon sebagai penutup kepala.
"Sudah cakep. Ayo, keluar," ajak Daniel.
Davin hanya manut sudah seperti kerbau dicucuk hidungnya. Rupanya di ruang keluarga telah siap Pak Penghulu serta pegawai KUA, entah sejak kapan rombongan itu datang. Ternyata kekuatan uang benar-benar berbicara di saat dibutuhkan.
Tanpa menunggu lama, Davin telah berjabat tangan dengan Pak Penghulu.
"Saudara Davin, apa sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Siap, Pak," kata Davin dengan yakin.
"Baik, mari kita mulai," kata Pak Penghulu.
Di kamar Davin, ketiga kakak beradik ipar itu, bekerja sama merias wajah Melodi, sambil sesekali tertawa kecil atau bertukar pandang penuh semangat. Selanjutnya memakaikan kebaya modern dan kain jarit yang melekat sempurna di tubuh proporsional Melodi.
"Wah... Cantik sekali kamu, Melodi," puji Niken, yang disetujui oleh kedua iparnya yang lain.
Melodi tersenyum menatap tampilan dirinya di cermin. "Terima kasih, Kak," kata Melodi.
Bersamaan dengan selesainya ucapan terima kasih Melodi, kata sah menggema di ruang keluarga.
Mami Mia membuka pintu, lalu memeluk Melodi dengan erat. "Selamat atas pernikahan kalian ya, Sayang. Selamat datang, di keluarga kami."
Melodi terhenyak, bibirnya kelu tak mampu berkata. Kini, statusnya bukan lagi seorang gadis, tetapi telah berubah menjadi seorang istri.
.
Maaf ya Gaes, karena sesuatu dan lain hal, moms kemarin tidak update. Tolong, jangan kabur ya 🙏
tidak akan tinggal diam mengenai hal ini.
tak bukan taj mom typo nih
Gagal rencanamu Renata dan semoga Davin melaporkan hal ini ke manajemen rumah sakit, biar Renata kena sanksi dan berharap dikeluarkan