Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Setelah acara resmi berakhir dan tamu mulai pulang, Rain mengajak Aisyah untuk duduk di balkon hotel yang sepi. "Kau tidak perlu memaksakan diri padaku, Aisyah," ujar Rain dengan nada lembut. "Kita bisa hidup seperti teman sekaligus pasangan rumah tangga dulu. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap, atau jika suatu hari nanti kau menemukan cinta yang sesungguhnya, aku tidak akan menghalangi mu."
Aisyah menatap Rain dengan mata yang penuh rasa campur aduk. "Mengapa kau begitu baik padaku, Kak Rain?" tanyanya dengan suara pelan.
"Karena aku ingin kau bahagia, Aisyah. Baik itu dengan aku atau dengan orang lain," jawab Rain sambil tersenyum lembut.
Sementara itu, jauh di sudut negara lain, seorang pria berdiri di depan jendela apartemennya, menatap arah jalan raya yang penuh dengan lalu lalang kendaraan. Rambut pirangnya yang khas dan tatapan dalam matanya menunjukkan bahwa dia adalah David. Dia mendengar kabar pernikahan Aisyah dari sahabatnya Michael. Ada yang hilang dalam dirinya saat ia melihat foto pernikahan Aisyah bersama pria lain.Tak ada kebahagiaan dan senyuman di wajah cantik wanita yang di cintai nya itu.
"Aku minta maaf telah membuatmu harus memilih seperti ini, Aisyah," bisiknya pelan sambil menyentuh foto kecil mereka yang ada di mejanya.
Setelah menyentuh foto lama mereka, David mengambil gelas kopi yang sudah sedikit dingin di mejanya. Naina masuk ke ruangan dengan membawa secangkir kopi baru untuknya. "Kamu sudah berdiri di sana begitu lama, Vid" ucap Michael dengan nada penuh perhatian.
David menoleh dan memberikan senyum yang sedikit terpaksa. "Aku hanya berpikir, mungkin jika aku tidak pergi saat itu, semuanya akan berbeda."
"Kamu pergi karena itu demi kebaikan Aisyah dan juga kedua keluarga, dan suatu hari Aisyah akan memahami nya .Jangan menyalahkan dirimu terus-terusan," kata Naina menenangkan sambil duduk di sebelahnya. "Kabarnya Rain adalah orang yang baik, dia akan mencintai dan melindungi nya."
David mengangguk perlahan, matanya kembali menatap jendela. Lalu lintas kendaraan mulai berkurang seiring malam semakin larut. "Kau tahu, aku masih menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti kami bisa bertemu lagi tanpa rasa sakit atau kesalahpahaman. Aku ingin dia tahu bahwa aku benar-benar merindukan kebahagiaannya."
Sementara itu, di balkon hotel yang sepi, Aisyah dan Rain masih duduk bersama. Aisyah telah mulai bercerita tentang masa lalunya dengan David bagaimana mereka bertemu, bagaimana mereka pernah membangun impian bersama.
" Aku masih masih mahasiswi baru dan dia adalah kakak senior ku semester akhir , kami mempunyai banyak impian indah saat itu tentang masa depan," ujar Aisyah dengan mata yang tenang sembari membayangkan masalalu yang begitu indah bersama David. "Tetapi hidup membawa kita ke jalan yang berbeda. Aku tidak bisa mengatakan bahwa rasa cintaku padanya hilang begitu saja, tapi aku juga tidak bisa mengingkari bahwa kini semua nya telah berbeda."
...****************...
Seminggu berlalu setelah pesta pernikahan itu. Meski telah menikah Aisyah dan Rain nyata nya menjalani hubungan rumah tangga yang berbeda. Mereka berada di satu atap di satu kamar tapi tak ada yang tahu di kamar itu kecuali merek berdua. Aisyah sudah mengatakan semua masa lalunya bersama David, bagaimana dia begitu mencintai pria itu dan belum bisa melupakan nya begitu saja meski status nya kini sudah menjadi istri pria lain .
" Bersiaplah...kita akan pindah hari ini." Ujar Rain dengan lembut sembari mengemas pakaian nya dari dalam lemari.
Aisyah yang duduk di balkon kamar menoleh kearah kamar dan melihat Rain mengemas barang-barang nya.
" Kita mau pindah kemana?" Tanya Aisyah saat sudah berada di samping Rain yang tengah fokus dengan pekerjaan nya.
Rain menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah Aisyah." Ke apartemen ku."
Ya saat ini mereka masih tinggal di kediaman orang tua Rain,karena mama Delia tak ingin berpisah dengan mereka.Namun setelah Rein mengetahui semua kisah Aisyah, ia memutuskan untuk tinggal di apartemen bersama Aisyah.Rain tak ingin keluarga nya tahu perihal pernikahan tidak biasa mereka .
Aisyah mengernyitkan alis sedikit, matanya penuh kebingungan. "Tapi Mama Delia... bukankah dia tidak ingin kita pergi jauh darinya?" tanyanya dengan suara pelan.
Rain mengangguk perlahan, lalu menyentuh pipi Aisyah dengan lembut. "Aku sudah berbicara dengannya. Aku bilang kita perlu ruang sendiri untuk membangun hubungan kita dengan cara yang benar. Mama mengerti, meskipun dia pasti akan merindukan kita setiap hari." Dia kemudian menarik Aisyah ke dalam pelukan lembut nya. "Selain itu, aku merasa ini lebih baik untukmu juga. Di sana, kamu tidak perlu merasa tertekan atau harus menunjukkan sesuatu yang belum kamu rasakan sepenuhnya padaku dan juga keluarga ku."
Aisyah menutup mata dan merasakan kedamaian dari pelukan Rain. "Terima kasih, Kak Rain. Kamu selalu memikirkan aku."
Setelah selesai mengemas, mereka berdua pergi meninggalkan rumah Mama Delia. Saat mobil mereka mulai melaju menjauh dari kediaman itu, Rain melihat Aisyah yang menatap jendela dengan wajah yang penuh pikiran.
"Aku tahu kamu masih sering berpikir tentang dia," ujar Rain sambil tetap fokus pada jalan. "Kamu tidak perlu menyembunyikannya dariku, Aisyah. Bahkan jika kita tinggal bersama, kamu tetap punya hak untuk merasakan apa yang kamu rasakan."
Aisyah menoleh ke arah Rain dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak tahu bagaimana cara membangun sesuatu denganmu sementara hatiku masih terbagi, Kak Rain. Aku takut menyakiti kamu."
"Kita tidak perlu membangun segalanya dalam sehari," jawab Rain dengan senyum lembut. " yang penting adalah kita jujur satu sama lain. Di apartemen baru kita, kita bisa mulai dengan hal-hal kecil ,memasak bersama, menonton film, atau hanya duduk bersama seperti sekarang. Biarkan kita menemukan kebahagiaan kita sendiri, tanpa tekanan dari siapapun."
Sementara itu, di Roma, David sedang berada di dalam kantornya. Naina masuk membawa sebuah amplop berwarna putih. "Ini dokumen yang kamu minta, Vid. Proyek pusat riset di Jakarta ,mereka ingin kita datang ke Indonesia."
David mengambil amplop dan membukanya. Matanya langsung tertuju pada lokasi proyeknya , tepat di kota tempat Aisyah dan Rain tinggal. Naina yang juga ada di sana melihat ekspresi wajah David dan mengangguk perlahan. "Ini bisa jadi kesempatan bagimu untuk melihatnya lagi, dan mungkin menjelaskan segalanya seperti yang kamu inginkan."
David menghela nafas panjang, matanya penuh pertimbangan. "Aku tidak tahu apakah itu yang terbaik. Dia sudah menikah sekarang. Tapi mungkin..."
Ia menatap dokumen di mejanya, sambil merenungkan apa yang harus dilakukan. Sementara itu, Aisyah dan Rain baru saja tiba di apartemen baru mereka. Sebuah gedung menjulang tinggi di depan mereka berdiri kini, apartemen mewah tempat tinggal para orang kaya, dengan balkon yang menghadap ke taman kota.
"Aku akan membuatkan makan malam spesial malam ini," ujar Rain sambil membuka pintu lemari dapur. "Mari kita mulai menciptakan kenangan baru di sini, Aisyah." lirih nya hanya dia yang mendengar nya sendiri.
Aisyah tersenyum lembut dan mulai membantu Rain mengatur barang-barang di dapur. Tak disadari oleh mereka berdua, sebuah kesempatan bertemu lagi sedang menghampiri, yang akan membawa lebih banyak intrik dan keputusan penting dalam hidup mereka semua.
David menghabiskan semalam untuk merenungkan tawaran proyek itu. Pagi harinya, dia menghubungi pihak pengelola proyek dan menyetujui untuk bergabung sebagai investor . "Aku akan ke Indonesia minggu depan," katanya kepada Naina saat mereka berkumpul untuk sarapan.
"Kamu sudah yakin dengan keputusan ini?" tanya Naina dengan penuh perhatian.
"Ya," jawab David dengan suara yang tegas. "Aku tidak bisa terus-terusan menghindarinya , sekarang aku hanya fokus untuk bekerja dan jika ada kesempatan yang tepat menjelaskan kebenaran tentang mengapa aku pergi dulu. Aisyah berhak tahu bahwa dia tidak pernah ditinggalkan karena pilihanku sendiri."
Naina mengangguk mendukung. "aku akan ikut bersama mu ke Indonesia."