Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Mantan
Flashback — On
Bau antiseptik memenuhi ruang bersalin.
Lampu putih terang menyorot tajam, terasa menyilaukan mata. Suara alat medis berdetak pelan seperti penanda waktu yang berjalan lambat… terlalu lambat bagi seseorang yang sedang menahan rasa sakit luar biasa.
Samira menggenggam seprai ranjang rumah sakit erat sampai buku-buku jarinya memucat.
“Napas, Bu… tarik… hembuskan…”
Suara bidan terdengar jauh. Seolah berasal dari ujung lorong panjang, bukan dari sampingnya.
Kontraksi datang lagi lebih kuat dari tadi yang ia rasakan.
“Ah—” napas Samira terputus. Air matanya langsung mengalir tanpa bisa ditahan.
Tubuhnya gemetar.
Sakitnya bukan sekadar sakit. Rasanya seperti tubuhnya sedang dibelah dari dalam.
Tangannya refleks meraih sisi ranjang…
Kosong. Tak ada tangan lain yang menggenggam balik. Tak ada suara lelaki yang menenangkannya.
Tak ada seseorang yang berkata “Aku di sini.”
Dadanya sesak bukan karena kontraksi kali ini… tapi karena kesadaran pahit yang menamparnya berulang kali sejak tadi.
Samudra tidak datang. Bahkan setelah ia menelepon.
Bahkan setelah ia bilang…
Aku mau melahirkan. Bibir Samira bergetar. Air matanya jatuh ke pelipis, lalu mengalir turun ke rambutnya.
“Suami ibu di mana?” tanya bidan lembut.
Samira menelan ludah. Tenggorokannya terasa perih.
“…Kerja.”
Satu kata itu keluar pelan.
Bidan itu tak bertanya lagi. Mungkin ia mengerti. Atau mungkin ia memilih tidak ikut campur.
Kontraksi berikutnya datang.
Samira memejamkan mata kuat-kuat.
Dalam pikirannya, bayangan Samudra muncul.
Wajah datarnya. Nada bicaranya yang selalu dingin. Cara ia memperlakukannya seperti kewajiban… bukan pasangan.
Dadanya makin sesak.
Mas…
Suara itu hanya bergema di dalam hati. Tak pernah sampai ke telinga siapa pun.
“Pembukaan sudah hampir lengkap, Bu. Semangat ya. Sedikit lagi.”
Sedikit lagi.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi bagi Samira… detik-detik ini terasa seperti selamanya.
Ia menggigit bibir bawahnya menahan teriak. Tubuhnya berkeringat dingin. Rambutnya menempel di pelipis.
Sendirian.
Ia melahirkan anak mereka sendirian tanpa suaminya.
Tanpa tangan yang menggenggam dan tidak ada suara yang menyemangati.
Hanya ada dirinya… dan bayi di dalam perutnya.
Dan justru itu yang membuat Samira akhirnya berbisik lirih di sela napasnya yang terengah—
“Gapapa… Nak… kita berdua aja…”
Air mata baru jatuh lagi.
“Tahan… dorong sekarang, Bu!”
Samira mengumpulkan sisa tenaganya.
Rasa sakit itu datang seperti gelombang besar yang menghantam seluruh tubuhnya. Ia menjerit pelan, suaranya pecah, tangannya mencengkeram seprai semakin kuat.
“Sekali lagi! Sedikit lagi!”
Napasnya tersengal. Tubuhnya gemetar. Tapi ia mendorong. Bukan demi dirinya. Demi anaknya.
Tangisan bayi tiba-tiba pecah di ruangan.
Nyaring.
Semua suara lain seolah hilang.
Samira terdiam.
Tangis kecil itu… memenuhi seluruh ruang hatinya.
“Selamat, Bu. Anak perempuan.”
Bidan meletakkan bayi kecil itu di dada Samira.
Hangat.
Lembut.
Kecil.
Samira menatap wajah mungil itu dengan mata berkaca-kaca. Hidungnya memerah, bibirnya gemetar.
“Binar…” bisiknya pelan.
Nama itu keluar begitu saja. Nama yang sudah ia simpan sejak lama.
Bayi itu bergerak kecil, pipinya menempel di kulit ibunya.
Dan saat itulah—
Samira tersenyum di tengah air mata.
Senyum paling tulus yang pernah ia punya.
Bukan karena hidupnya bahagia.
Tapi karena akhirnya… ia punya alasan untuk bertahan.
Ia menatap wajah anaknya lama.
Lalu berbisik lirih—
“Kita berdua aja nggak apa-apa ya, Nak…”
Flashback off
@@@
Setelah seharian bermain di mall, sore harinya Samudra memutuskan mengajak mereka makan malam sekalian di restoran.
Awalnya Samira sempat terkejut mendengarnya.
“Kita… makan di luar?” tanyanya memastikan.
Samudra mengangguk singkat sambil menyalakan mesin mobil. “Sekalian. Binar pasti lapar.”
Binar yang duduk di kursi belakang langsung berseru riang. “Mau makan ayam!”
Samudra melirik lewat kaca spion. “Ayam apa?”
“Ayam yang kriuk!”
Sudut bibir Samudra terangkat tipis. “Oke. Ayam kriuk.”
Samira diam saja di kursinya. Tapi diamnya bukan karena bingung melainkan karena hatinya terasa aneh. Hari ini terlalu berbeda. Terlalu hangat. Dan… seperti keluarga sungguhan.
Mobil melaju menuju sebuah restoran keluarga yang cukup ramai. Lampu-lampu gantung menyala hangat, aroma makanan memenuhi udara begitu mereka masuk.
Samudra langsung menarik kursi untuk Binar, lalu duduk di sebelahnya. Tanpa sadar ia membuka tisu dan membersihkan sendok garpu kecil itu sebelum memberikannya pada anaknya.
Samira memperhatikan.
Hal kecil.
Tapi cukup membuat dadanya bergetar pelan.
Pelayan datang mencatat pesanan. Binar memesan ayam goreng favoritnya, Samira memilih menu sederhana, sementara Samudra hanya memesan satu porsi steak dan minuman.
Suasana meja itu tenang. Binar sesekali berceloteh tentang permainan tadi, menceritakan semuanya dengan penuh semangat. Samudra mendengarkan. Bukan sekadar mendengar tapi benar-benar mendengarkan.
Matanya fokus pada Binar.
Tidak teralihkan. Tatapannya tidak dingin. Tidak jauh seperti biasanya.
Samira menatap pemandangan itu diam-diam.
Dan tepat saat ia hendak meneguk air minumnya—
“Loh Samira?”
Suara itu membuatnya membeku.
Perlahan ia menoleh.
Seorang pria berdiri beberapa langkah dari meja mereka. Tingginya hampir sama dengan Samudra, wajahnya ramah, senyumnya hangat. Matanya terlihat terkejut sekaligus senang.
Samira berkedip.
“…Arsen?”
Pria itu tertawa kecil. “Ya ampun, beneran kamu. Aku kira tadi salah lihat.”
Binar menoleh penasaran. “Ma, itu siapa?”
Samira sedikit gugup, tapi berusaha tenang. “Teman lama Mama.”
Arsen melangkah mendekat. “Udah lama banget ya. Gimana kabarmu?”
“Baik,” jawab Samira pelan. “Kamu sendiri?”
“Baik juga.” Tatapannya lalu turun pada Binar. Senyumnya melembut. “Ini anakmu?”
Samira mengangguk. “Iya.”
“Lucu banget,” katanya tulus.
Binar langsung sembunyi setengah di balik lengan Samudra.
Arsen tertawa kecil. “Halo.”
Binar cuma mengintip.
Baru saat itu Arsen menyadari keberadaan pria di samping anak itu.
Ia menoleh. Samudra menatapnya. Tatapan datar. Tenang. Tapi tajam.
Arsen langsung mengerti. “Oh— maaf. Saya Arsen. Teman SMA Samira dulu.”
Samudra mengangguk tipis. “Samudra.”
Tak ada jabat tangan dan basa-basi panjang. Hanya dua pria yang saling mengukur dalam diam.
Samira bisa merasakan udara di sekitar meja berubah tipis.
Arsen kembali menoleh padanya. “Kamu hampir nggak berubah.”
Samira tersenyum kecil. “Kamu juga.”
Mereka tertawa ringan tawa nostalgia yang singkat tapi hangat.
Samudra memperhatikan.
Diam.
Ekspresinya tidak berubah. Tapi matanya mengawasi.
“Eh iya,” kata Arsen, “aku lagi kerja di kota sini sekarang. Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini.”
“Oh ya?” Samira terlihat benar-benar kaget. “Sejak kapan?”
“Baru beberapa bulan.”
Obrolan itu mengalir begitu saja. Tentang masa SMA. Tentang guru galak. Tentang kenangan lomba kelas. Tentang hal-hal kecil yang dulu terasa besar.
Dan tanpa terasa Samira tertawa lepas. Tawa yang jarang sekali keluar darinya selama ini.
Samudra melihatnya.
Dada kirinya terasa… aneh. Bukan marah dan kesal.
Tapi sesuatu yang asing.
Sesuatu yang tidak ia kenal sebelumnya.
Arsen merogoh saku. “Eh, boleh tukeran nomor? Siapa tahu kapan-kapan bisa ngobrol lagi. Nostalgia gitu.”
Samira ragu sepersekian detik.
Lalu mengangguk. “Oh… iya.”
Mereka bertukar ponsel.
Dan itu terjadi tepat di depan mata Samudra.
Tangannya yang tadi memegang gelas kini diam di meja.
Matanya turun sekilas ke arah layar ponsel Samira… lalu kembali ke wajah pria itu.
Arsen mengembalikan ponsel. “Senang bisa ketemu kamu lagi, Mir.”
“Iya,” jawab Samira tulus. “Aku juga.”
Arsen melirik Samudra sopan. “Maaf ganggu waktunya. Saya duluan.”
Samudra hanya mengangguk.
Arsen pergi.
Langkahnya menjauh. Namun suasana meja… tidak langsung kembali seperti tadi.
Sunyi kecil muncul.
Binar yang tidak mengerti apa-apa tetap sibuk makan ayamnya.
Samira menaruh ponsel di meja.
Dan baru saat itulah—
Ia sadar.
Samudra sedang menatapnya.
Bukan tatapan biasa.
Tatapan yang… berbeda.
Dan entah kenapa—
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah…
Samira merasa seperti sedang diperhatikan oleh suaminya.
Samira menahan napas samar. Tatapan Samudra masih tertuju padanya.
Bukan tajam. Bukan marah. Tapi tatapan yang dalam membuat dadanya terasa seperti ditekan sesuatu yang tak terlihat.
“Ada apa?” tanya Samira pelan, berusaha terdengar biasa.
Samudra tidak langsung menjawab.
Ia mengambil gelasnya, menyesap air, lalu meletakkannya kembali dengan tenang. Baru setelah itu ia berkata singkat—
“Temen deket?”
Pertanyaan sederhana.
Tapi nadanya… tidak sesederhana itu.
Samira mengedip pelan. “Temen SMA.”
“Cuma temen?”
Samira terdiam sepersekian detik.
“Iya.”
Hening.
Samudra mengangguk pelan seolah menerima jawaban itu. Namun matanya turun ke meja, bukan karena tak percaya melainkan karena ia sendiri tidak mengerti kenapa ia menanyakan itu.
Kenapa dadanya terasa berat saat melihat Samira tertawa dengan pria lain.
Kenapa suaranya terdengar berbeda saat bertanya.
Kenapa ada rasa tidak nyaman yang muncul tiba-tiba.
Padahal—
Bukannya ia sendiri yang berniat melepaskan wanita itu?
Binar yang tidak sadar apa-apa mengangkat tangannya kecil. “Pa, tisu.”
Samudra langsung menoleh. Refleks. “Iya.”
Ia mengambil tisu lalu membersihkan saus di sudut bibir anaknya dengan lembut. Gerakannya otomatis, seolah dunia di luar mereka tidak ada.
Samira memperhatikan.
Dan lagi-lagi hatinya bergetar. Bukan karena pertanyaan tadi.
Tapi karena sikapnya sekarang.
Samudra yang dulu… tidak akan memperhatikan hal sekecil itu.
Setelah makan selesai, mereka berjalan keluar restoran. Malam sudah turun sepenuhnya. Lampu parkiran memantulkan cahaya kuning lembut di aspal.
Binar digendong Samudra karena mulai mengantuk. Kepalanya bersandar di bahu pria itu, napasnya pelan dan hangat di leher Samudra.
Samira berjalan di samping.
Sunyi.
Hanya suara langkah kaki mereka.
Tiba-tiba—
“Kamu dulu pacaran sama dia?”
Samira menoleh cepat.
Samudra masih berjalan lurus, menatap depan, seolah pertanyaan itu tidak penting.
Tapi jelas penting.
“Iya,” jawab Samira jujur.
Langkah Samudra tidak berhenti.
Namun rahangnya mengeras sedikit.
“Berapa lama?”
“Setahun.”
Hening lagi.
Angin malam berembus pelan melewati mereka.
Samira menatap profil wajah suaminya. “Kenapa nanya?”
Samudra tidak langsung menjawab.
Beberapa detik.
Baru kemudian—
“Enggak kenapa-kenapa.”
Jawaban paling klise.
Dan paling jelas menunjukkan kalau sebenarnya ada apa-apa.
Samira menahan senyum kecil. Bukan senyum mengejek. Lebih seperti senyum yang tak sengaja muncul karena ia baru menyadari sesuatu.
Suaminya…
Sedang cemburu.
Kesadaran itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Samudra membuka pintu mobil belakang dengan satu tangan sambil tetap menggendong Binar. Ia menaruh tubuh kecil itu perlahan di kursi, memakaikan sabuk pengaman, lalu menutup pintu hati-hati supaya tidak membangunkan.
Gerakannya lembut.
Sangat lembut.
Samira berdiri di samping mobil, memperhatikannya dalam diam.
Setelah Samudra menutup pintu, ia berbalik.
Dan mendapati Samira masih menatapnya.
“Apa?” tanyanya datar.
Samira menggeleng. “Nggak.”
Samudra menyipitkan mata sedikit. “Kenapa lihat aku begitu?”
Samira tersenyum tipis. “Nggak kenapa-kenapa.”
Kini giliran Samudra yang merasa ada sesuatu.
Ia menatap Samira beberapa detik.
Lalu memalingkan wajah.
“Masuk,” katanya singkat.
Mereka naik ke mobil.
Mesin dinyalakan. Mobil melaju keluar dari parkiran. Di kursi belakang, Binar sudah tertidur pulas, boneka kelincinya terjepit di pelukan.
Di kursi depan—
Sunyi.
Samudra menatap jalan, tapi pikirannya tidak di sana.
Kenapa gue nanya begitu?
Kenapa gue peduli?
Kenapa rasanya nggak suka lihat dia ketawa sama orang lain?
Pertanyaan itu terus berputar.
Dan semakin ia mencoba menepisnya…
Semakin jelas jawabannya.
Tangannya mengerat sedikit di setir.
Sial.
Di sampingnya, Samira diam-diam menatap ke arah jendela, menyembunyikan senyum kecil yang tak bisa ia tahan.
Karena untuk pertama kalinya—
Ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat selama lima tahun pernikahan mereka.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!