Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 Syarat Sebelum Menikah
"Aaaaaa!" Letisha terlihat frustasi sendiri mengacak rambutnya dengan membuat rambut tersebut berantakan seperti tidak pernah disisir.
Sementara Winona yang duduk di depannya hanya bisa diam saja memperhatikan temannya itu.
"Ini pasti ada kesalahan, tidak mungkin dia menerima perjodohan dan aku sangat yakin beliau adalah pria yang sangat agamis dan sudah pasti tidak menginginkan istri sepertiku," ucap Leticha masih tidak percaya.
"Tetapi kamu baru saja mengatakan bahwa pernikahan kalian dilanjutkan dan artinya dia menerima perjodohan itu," sahut Winona.
"Ini pasti ada kesalahan!" ucap Leticha.
"Mungkin tidak ada kesalahan. Pria itu secara usia sudah sangat matang untuk menikah dan mungkin saja daripada tidak menikah sama sekali, lebih baik menerima perjodohan itu," ucap Winona.
"Tetapi ini tidak adil untukku dan bagaimana kehidupanku kedepannya jika aku menikah dengan orang seperti itu dan lagi pula aku tidak mengenalnya secara pribadi," ucap Leticha benar-benar tidak menerima.
"Sudahlah Leticha sebaiknya kamu terima saja perjodohan itu. Lagi pula bukankah ketika sudah menikah dengan pria itu maka kamu akan bebas dari kedua orang tuamu, siapa tahu saja pernikahan ini menjadi jalan satu-satunya untuk kamu menuju kebebasan," ucap Winona.
"Apa menurutmu itu mungkin?" tanya Leticha.
"Kamu bisa mengajukan syarat dalam pernikahan kalian, semoga saja ini jalan terbaik," jawab Winona.
"Entahlah! aku akan coba untuk memikirkan semuanya dan aku berharap bisa mengatasi semua ini," ucap Leticha.
"Good luck sahabatku," ucap Winona terus aja memberikan semangat.
****
Rakash seperti biasa berada di dalam ruangannya tampak fokus pada jarinya yang menandatangani tumpukan berkas.
Tok-tok-tok.
"Masuk!" jawabnya tanpa melihat ke arah pintu dan beberapa detik pintu tersebut terbuka.
"Pak. Ada yang ingin bertemu," ucap wanita bernama Maya itu tak lain merupakan sekretaris dari Rakash.
"Bukankah saya memiliki janji bersama dengan klien satu jam ke depan?" tanya Rakash.
"Bukan klien, tetapi...."
"Aku yang ingin bertemu denganmu," Rakash melihat ke arah pintu. Leticha ternyata kamu yang dengan sengaja ingin menemuinya.
"Maaf jika tidak membuat janji terlebih dahulu," ucapnya dengan santai
Kali ini penampilan Leticha cukup sopan menggunakan dress di bawah lututnya dengan lengan panjang.
"Kamu boleh keluar!" ucap Rakash pada sekretarisnya membuat Maya menganggukkan kepala dan langsung pergi.
"Ada apa?" tanya Rakash.
"Kenapa menerima perjodohan itu?" tanya Leticha.
"Saya tidak punya alasan untuk menolaknya," jawab Rakash.
"Benar! Kamu memang tidak memiliki alasan untuk menolaknya, karena kamu harus menikah mengingat usiamu yang sudah lanjut," ucapnya dengan kesal.
"Kamu menemui saya hanya ingin mengingatkan tentang usia?" tanya Rakash.
"Baiklah! aku juga tidak bisa menolak pernikahan itu. Tetapi bukan berarti kita menikah dan tidak ada jarak diantara kita. Aku tidak ingin pernikahan dengan normal dan pernikahan ini berdasarkan bisnis!" tegas Leticha.
"Saya tidak pernah menjadikan pernikahan sebuah bisnis," sahut Rakash.
"Terserah mau seperti apapun yang kamu katakan. Karena saya tidak punya pilihan lain untuk tidak menerima pernikahan itu. Maka saya ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi dalam pernikahan," ucap Leticha dengan wajahnya petantang-petenteng dengan kedua tangan dilipat di dada.
"Katakan, Insyallah saya bisa memenuhinya," jawab Rakash.
"Kita berdua dijodohkan dan menikah karena bisnis, tidak akan bermain perasaan dan tidak akan ada hubungan suami istri dan pernikahan yang normal. Kamu juga tidak boleh mengganggu urusan privasiku dan aku bisa bebas melakukan apapun yang aku mau, ini bukan hanya berlaku untukku saja, tetapi juga untuk kamu. Kita punya urusan masing-masing!" ucapnya memberikan syarat.
"Baiklah," sahut Rakash ternyata setuju begitu saja membuat Leticha mengerutkan dahi.
Dia pikir itu akan menjadi syarat yang sangat sulit untuk diterima dan ternyata pria di hadapannya itu benar-benar setuju.
"Astaga! dia benar-benar sangat datar. Apa yang ada dipikirannya sebenarnya," batin Leticha.
"Kamu ingin mengajukan syarat apa lagi?" tanya Rakash.
"Kamu masih punya waktu untuk membatalkan pernikahan ini. Aku wanita yang tidak bisa bohong dan harus jujur, jika aku bukan wanita sempurna, aku tidak bisa memasak dan aku memiliki kebebasan sendiri, aku tidak suka diatur dan apalagi dikekang. Aku juga tidak bisa bersandiwara. Jadi kamu harus pikirkan mulai dari sekarang sebelum kamu malu ketika menjadikanku sebagai istri," ucap Leticha.
"Aku menerima pernikahan ini bukan untuk mengekang atau merubah seseorang, Jadi apa yang kamu katakan tidak perlu untuk dipikirkan," jawabnya.
"Ya sudah," sahut Leticha bertambah kesal karena reaksi yang sangat santai itu.
"Jika sudah tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, maka kamu boleh tinggalkan ruangan saya, saya masih memiliki banyak pekerjaan," ucap Rakash dengan jujur.
"Baiklah," jawabnya dengan cepat dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
Leticha berjalan di koridor kantor dengan mulutnya yang tidak berhenti merocos.
"Sekarang aku benar-benar terjebak dalam hubungan ini, kenapa Papa selalu saja tidak menganggapku, dia lebih mementingkan bisnis dibandingkan perasaanku," ucap Leticha terlihat kesal.
*****
Rakash mendatangi kediaman kedua orang tuanya, kedua orang tuanya memanggilnya untuk menikmati makan malam. Rakash selama ini memang tinggal di Apartemen karena lebih dekat dengan kantor.
Sementara kedua orang tuanya berada di puncak Bogor dengan rumah mewah yang dikelilingi taman yang indah.
"Sebelum kamu menikah dengan anak dari tuan Ricard, Mama ingin bertemu dengannya terlebih dahulu," ucap Sulistyawati.
Wanita berhijab terlihat anggun tersebut berbicara di depan putranya.
"Tidak ada salahnya Rakash kamu membawanya ke rumah kita sebelum kalian menikah, berkenalan secara langsung dengan keluarga. Kakak juga ingin mengenalnya lebih dekat," ucap Wanita yang juga memakai hijab itu
"Benar apa yang dikatakan Karin, tidak ada salahnya menjamunya untuk makan malam di rumah kita, kamu juga baru saja mengenal putri dari tuan Richard, meski kalian berdua dijodohkan, tetapi kalian juga harus bisa menyesuaikan sebelum pernikahan," sahut Edwin.
"Baik. Pa, nanti saya akan coba menyesuaikan jadwal saya dengan beliau," sahut Rakash tidak berjanji apapun.
*****
Leticha pulang ke rumahnya terlihat begitu kesal dan langsung melempar tasnya sembarangan di atas tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang besar itu.
"Aaaaaaa!" Leticha berteriak dengan mengacak-acak rambutnya sembari menggoyang-goyangkan kakinya yang masih berpijak pada lantai.
"Bagaimana ini?"
"Kenapa dia menerima pernikahan itu, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak ingin menjadi istri pria tua itu. Pokoknya aku harus melakukan sesuatu, aku tidak akan menikah dengannya, syarat yang aku pikirkan semalaman untuk membuatnya berubah pikiran ternyata tidak mempan," ucap Leticha dengan amarah yang menggebu.
Dratt-drattt-drattt.
Tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya mengambil tasnya yang cukup jauh jaraknya dan akhirnya mendapatkannya dengan merogoh tas tersebut.
"Nomor baru!" gumam Leticha melihat panggilan masuk tersebut.
"Hallo!" ucap Leticha.
"Assalamualaikum!" terdengar begitu adem suara seorang pria membuat Leticha mengerutkan dahi.
"Ini saya Rakash, besok kita bertemu di kantor saya. Saya ingin membawa kamu ke keluarga saya," ucap Rakash tanpa basi-basi menyampaikan keinginannya.
"Hah!" sahut Leticha masih kebingungan mengapa nomor ponselnya ada pada pria tersebut.
"Kamu bisa mengabari saya jika kamu tidak bisa dan saya akan menyesuaikan jadwal kamu," ucap Rakash langsung to the point.
"Assalamualaikum!" Rakash kemudian menutup telepon tersebut tanpa banyak berbicara.
Bersambung.....
.