Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Briana Hamil?
Alarm di ponsel Aiza berbunyi pukul tiga pagi. Dengan sisa tenaga dan hati yang masih terasa remuk, ia memaksakan diri bangun. Ini adalah Ramadhan, dan sesakit apa pun hatinya, ketaatannya pada Sang Pencipta tidak boleh luruh.
Aiza keluar dari kamar dengan langkah perlahan, berniat menuju dapur untuk menyiapkan sahur. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu kamar tamu.
Cklek.
Pintu itu terbuka. Arjuna keluar dari sana, masih membenahi kaosnya yang kusut. Dan di belakangnya, menyusul Briana dengan rambut berantakan dan senyum tanpa dosa. Mereka keluar dari kamar yang sama. Di waktu sahur bulan Ramadhan.
Aiza merasakan dadanya sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya menghilang. Ia secara refleks mengelus dadanya, mencoba menekan rasa sakit yang mencuat hebat.
“Aiza. Kok bengong? Cepetan masak sahur, Briana lapar," ucap Arjuna dengan nada santai, seolah perbuatannya barusan bukanlah sebuah dosa besar dan penghinaan luar biasa bagi istrinya.
Aiza menarik napas panjang, mencoba mengingat pesan dalam kitab dari Gus Qais: "Jangan biarkan orang lain merusak kedamaian yang Allah titipkan dalam jiwamu.”
Ia menatap Arjuna dan wanita itu dengan tatapan datar—bukan lagi tatapan hormat seorang istri, melainkan tatapan muak.
"Aku hanya memasak untuk orang yang berpuasa dan tahu cara menghargai rumah ini, Mas," jawab Aiza tenang, suaranya tidak bergetar meski hatinya menjerit. "Kalau kalian merasa ndak perlu menjaga adab di bulan suci ini, silakan cari makan sendiri di luar. Aku ndak ingin keberkahan sahurku hilang karena melayani sesuatu yang... kotor.”
"Heh! Maksud kamu apa?!" Briana mulai meradang.
Aiza tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju dapur dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, ia berbisik, "Gus Qais, kamu benar. Kehormatan adalah mutiara. Dan aku ndak akan membiarkan mutiara ini hancur hanya karena lumpuh yang dibawa mas Arjuna ke rumah ini."
***
Seminggu telah berlalu sejak Briana menginjakkan kaki di rumah ini. Bagi Aiza, tujuh hari ini adalah ujian bisu. Ia tak lagi mengeluarkan sepatah kata pun pada Arjuna maupun Briana. Ia bergerak seperti bayangan—menyiapkan keperluan rumah seperlunya, lalu mengunci diri dengan kitab pemberian Qais. Ia memilih diam bukan karena kalah, tapi karena bicara dengan mereka hanya akan mengotori lisannya. Ia berpura-pura tegar, berdiri tegak dengan dagu terangkat, tak membiarkan satu tetes air mata pun jatuh di depan orang-orang yang merendahkannya.
Suasana semakin memanas saat pintu depan terbuka lebar. Agatha dan Dirgantara—orang tua Arjuna—pulang dari luar negeri.
"Briana! Menantu idamanku!" Agatha langsung menghambur memeluk Briana, mengabaikan Aiza yang berdiri tak jauh dari sana. Bagi Agatha, Briana adalah sosok ideal: cantik, modis, dan berkelas, tak peduli Briana memiliki kekurangan sekalipun. mandul.
Berbeda dengan istrinya, Dirgantara hanya menatap dingin pada Briana. Ia melangkah mendekati Aiza, menepuk bahu menantunya itu dengan lembut. "Apa kabar kamu, Nak? Maafkan Papa baru pulang," ucapnya dengan nada tulus yang membuat pertahanan Aiza nyaris runtuh. Dirgantara tahu ada yang tidak beres, dan ia selalu berada di pihak Aiza sejak awal.
Namun, suasana berubah drastis saat Briana tiba-tiba memegangi perutnya dengan wajah pucat.
"Aduh, sayang... kepalaku pusing banget. Perutku juga rasanya... mual," rintih Briana sambil bersandar pada Arjuna.
"Briana! Sayang, kamu kenapa?" Agatha panik bukan main. "Jun, panggilkan dokter sekarang!"
Arjuna dengan sigap membopong Briana ke sofa, tatapan khawatirnya begitu kentara. Ia mengusap pucuk kepala Briana dengan sayang, mengabaikan Aiza yang menatap pedih ke arah mereka yang seolah tak peduli dengan kehadirannya.
Agatha tampak sibuk menelpon dokter keluarga mereka.
Tak lama kemudian, dokter pribadi keluarga mereka datang. Dia segera memeriksakan keadaan Briana.
Detik berikutnya, dokter itu menatap Briana, lalu kemudian mengangguk kecil.
Bagaimana, dok? Apa yang terjadi pada Briana?" tanya Arjuna cemas. Tangannya terus menggenggam tangan Briana, seolah ingin mengatakan “Kamu tenang saja, aku selalu disini"
Dokter itu menatap Arjuna dengan senyum profesionalnya.
“Selamat, Tuan Arjuna, nona Briana ternyata sedang hamil dua Minggu.”
Suasana mendadak tegang saat Dokter Anton menyebut kata "hamil". Papa Dirgantara langsung menyela dengan nada skeptis yang tajam. Reaksinya sangat bertolak belakang dengan Arjuna dan Agatha yang langsung terlihat bahagia.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍