Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 — Terlalu Khawatir
Aroma gandum dan kaldu gurih seketika memenuhi indra penciumanku. Makanan telah dihidangkan di atas meja kayu panjang yang permukaannya sudah mulai kusam dimakan usia.
Sup hangat mengepul perlahan, mengirimkan uap tipis ke udara yang dingin. Roti yang terlihat lembut tersusun rapi di sampingnya, bersanding dengan beberapa hidangan sederhana lainnya yang melengkapi sajian bersahaja itu.
Aku dan Xun'er duduk bersebelahan di bangku kayu. Kemudian, dua orang tua pemilik rumah itu meletakkan piring tanah liat di depan kami.
Dengan senyuman hangat yang mempertegas kerutan di wajah mereka, mereka menuangkan sup yang masih hangat ke piring itu, lalu menambahkan potongan roti ke dalamnya. Keramahtamahan mereka terasa begitu tulus.
"Silahkan dimakan."
Aku merobek roti itu perlahan, serat lembutnya terpisah dengan mudah sebelum akhirnya kumasukkan ke dalam mulut. Rasanya empuk, sedikit basah, namun hangat.
Aku menoleh pada Xun'er, melihatnya menikmati makanannya. Ia tersenyum tipis sambil memakan roti itu, ternyata bukan hanya aku, Xun'er kelihatannya juga merasakan hal yang sama.
Hanya roti dan sup, namun bisa membuatku merasakan kehangatan.
"Nenek, ini... enak sekali," pujiku.
"Hahaha, ini sup desa kami, tentu saja enak." Wanita tua itu menatapku sejenak, lalu menyipitkan mata.
"Tunggu, Nona ini… aku belum pernah melihatmu di desa ini."
Jantungku berdegup satu ketukan lebih cepat.
Sebelum aku sempat menjawab, suara tenang terdengar di sampingku.
"Dia adalah orang dunia luar, Nek."
Begitu kata-kata Xun’er terucap, suasana di sekitar meja mendadak sunyi. Denting sendok terhenti. Tawa riang yang sebelumnya mengisi ruang terhenti seketika.
Wanita tua dan pria tua itu saling bertukar pandang, sebuah komunikasi tanpa suara sebelum kembali menatapku dengan ekspresi sulit ditebak.
Anak-anak yang tadi ramai perlahan terdiam, beberapa dari mereka saling berbisik sambil menatapku penuh rasa ingin tahu.
"Nenek, Kakak itu orang dunia luar?" salah satu anak kecil dengan wajah polos menarik-narik ujung baju wanita tua itu.
"Ah, maaf. Kurasa aku malah mengganggu makan kalian."
Kelihatannya mereka benar-benar tidak menyukai orang dunia luar. Hal yang tidak mereka sukai muncul ketika mereka sedang makan, itu rasanya akan sangat buruk.
"Ehem. Nona ini kelihatannya tidak punya niat jahat, jadi kurasa tidak apa-apa. Bukankah begitu, Nona Xun'er?" pria tua itu berbicara lebih dulu.
Eh?
"Yah, aku senang kalian mengerti. Kalian adalah orang paling baik yang kukenal, karena itulah juga kalian pasti tau kalau Xinyi tidak punya niat jahat," Xun'er menjawab dengan nada santai namun penuh keyakinan.
"Nona Xinyi?" Wanita tua itu mengambil sepotong roti lagi, lalu meletakkannya ke piringku. "Meski orang luar, tapi kalau tidak punya niat jahat... maka silahkan saja kembali lagi," ucapnya dengan senyuman.
Bahu yang sejak tadi kaku perlahan turun.
Perasaan apa ini... lega? Kupikir mereka benar-benar akan mengusirku. Jujur saja, aku takut tentang itu.
"Lihat, kau terlalu khawatir, Xinyi," ucap Xun'er.
"Tunggu, bagaimana kau bisa tau?" tanyaku.
"Siapapun bisa menebaknya kalau ekspresimu seperti itu."
"Hah? Seperti apa?" Aku meraba wajahku sendiri, bingung.
Xun'er mengabaikanku dan melanjutkan memakan rotinya dengan acuh tak acuh.
Aku hanya bisa menghela napas panjang.
Aku tidak diusir, tidak dibenci, malah diperlakukan dengan baik. Pilihanku untuk ke desa ini tidak salah.
Mereka di sini, meski hidup dalam kesulitan dan keterbatasan, tapi tetap hidup bahagia. Ironisnya, penyebab kesulitan mereka adalah orang-orang luar yang menganggap mereka sebagai lambang dosa. Satu kesalahan masa lalu membuat yang lain kena akibatnya hingga kini.
Aku meraih rotiku tanpa ragu, menggigitnya, lalu terus makan dengan tenang.
Tiba-tiba, sebuah tarikan kecil terasa di lengan bajuku.
"Kakak, kakak!"
Anak-anak itu berada di sampingku. Mereka telah lebih dulu menghabiskan makanannya.
"Iyaa, ada apa?" tanyaku sambil tersenyum pada mereka.
"Karena Kakak orang luar, apakah kakak bisa menggunakan sihir juga?" tanya gadis kecil dengan mata berbinar.
Aku terkekeh pelan. "Tentu saja, aku bisa melakukannya walau tidak ahli."
Xun’er yang sedang minum air di sampingku mendadak tersedak. Ia terbatuk kecil, air muncrat sedikit dari bibirnya sambil menepuk dadanya keras-keras.
"A—apa tadi? Tidak ahli?" Ia mendekatkan wajahnya padaku, matanya melotot.
"Hmm? ada yang salah?" ucapku.
"Tidak, bukan apa-apa. Lupakan saja." Xun'er membenarkan posisi duduknya. Kembali meminum airnya dengan tenang, meski ia masih melirikku.
"Jadi sihir apa yang kakak bisa?" gadis kecil itu kembali bertanya.
Sihir yah... yang pernah kucoba, yang menarik dan tidak membosankan.
"Eumm... aku bisa meledakkan leher monster dengan bola api."
"Woaahhh!"
"Kakak hebat!"
"Dia bisa mengalahkan monster! Hebat!"
Sorak sorai kekaguman mereka meledak. Mendengar pujian tulus mereka membuat pipiku terasa panas, sedikit malu karena membual di depan anak kecil.
Kejadian yang sebenernya tidak sekeren itu.
Sementara itu kedua orang tua itu tertawa kecil, melihat anak-anaknya yang bermain dengan gembira.
"Aku adalah Kak Xinyi!" salah satu gadis kecil menirukanku, mengangkat tangannya seolah melempar sesuatu. "Buumm!"
Aku hanya bisa tertawa melihatnya, caranya meniruku agak buruk tapi lucu.
Menyenangkan sekali.
"Xinyi," panggil Xun'er lembut. "Mungkin sudah saatnya kita kembali, kau sudah kenyang, kan?"
"Ah iya, aku sudah kenyang."
Xun'er kemudian berdiri, merapikan pakaiannya. "Kakek, Nenek. Kami akan pergi, kurasa Yao Li akan khawatir kalau kami terlalu lama."
"Ah, tentu. Nona Xun'er, Nona Xinyi juga, kembalilah kapan saja!" ucap wanita tua itu.
"Ayo, Xinyi."
Akhirnya aku dan Xun'er meninggalkan tempat itu. Beberapa kali aku menoleh kebelakang, anak-anak masih bermain bersama, bahkan salah satunya melambaikan tangannya padaku.
apa ada sejarah dengan nama itu?