Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maya hancur
Kepala Maya mendongak disertai air mata yang meleleh, akibat menahan rasa sakit yang teramat sangat dibagian inti tubuhnya saat Bryan berhasil merobek selaput daranya dan menjelajahi tubuhnya dengan penuh nafsu.
Bryan mulai menggerakkan tubuhnya, saat sudah berhasil membus dinding kegadisan Maya.
Air mata Maya terus mengalir, dirinya benar - benar hancur sekarang. Maya hancur karena harus kehilangan kehormatan dan harga dirinya dengan cara yang benar-benar hina, di bawah kungkungan tubuh perkasa dari seorang iblis berwujud manusia.
Belum lagi, semua ini di lakukan Bryan di samping jasad adiknya yang belum lama meninggal.
Selain itu, ada jasad ayahnya yang sekarang terbujur tak bernyawa di ruang tamu tanpa bisa Maya menatap untuk terakhir kalinya.
Maya coba menjerit di balik mulutnya yang tertutup robekan pakaiannya sendiri. Hatinya terus mengutuk apa yang di lakukan Bryan dan mengutuk dirinya sendiri yang tak mampu berbuat apapun.
Sikap Bryan sedikit berbeda saat ini, tidak seperti perlakuannya pada Vello yang kasar dan brutal. Perlakuan Bryan pada Maya begitu lembut dan sangat menikmati seolah baru pertama kali merasakannya.
Bahkan Bryan merasa jika dirinya menemukan candu pada tubuh Maya.
Tak ubahnya orang yang kecanduan, Bryan terus menerus menggagahi Maya berkali - kali hingga membuat Maya kehilangan kesadarannya.
Setelah beberapa kali melepaskan puncak kepuasannya, barulah Bryan berhenti dan setelahnya dia menciumi wajah Maya yang sudah tidak sadar, dengan lembut.
"Kenapa kau bisa secandu ini sayang?? Aku tidak menyangka, jika kau jauh lebih nikmat dari adikmu! Andai kau kekasihku, akan kubuat kau melayang setiap waktu!"kekeh Bryan lalu keluar dari kamar tanpa mengenakan pakaian terlebih dahulu.
Maya yang memang sudah kembali sadar, hanya diam mendengarkan perkataan Bryan dan menunggu hingga Bryan keluar.
Setelah Bryan tak lagi didalam kamar, Maya membuka matanya. Dia kembali menangis, meratapi nasibnya dan juga keluarganya yang begitu tragis.
Adiknya di lecehkan tanpa mampu menuntut keadilan, lalu ayahnya di bunuh tepat di hari kematian adiknya dan sekarang dirinya pun menjadi korban pelecehan.
*
"Wow, kau baru selesai brother?? Tidak biasanya kau selama itu menikmati seorang gadis? Haha, apa kau kecanduan?" kekeh Joe saat melihat Bryan yang baru keluar, setelah hampir 3 jam menggagahi Maya.
"Kau tidak akan pernah tahu rasanya Joe. Dari banyaknya gadis yang pernah kita nikmati, Maya benar - benar luar biasa. Hahaha
Dia membuatku melayang dan sulit untuk berhenti! Aku seperti baru pertama kali menikmati seorang gadis!" ucap Bryan, dengan jakun yang naik turun membayangkan apa yang baru saja dia lewati.
"Gilaaa. Aku jadi penasaran untuk mencobanya, apa sekarang boleh giliranku?" tanya Joe.
"Tidak! Jangan dulu, aku sedang mengistirahatkan tubuhku dulu. Jangan sampai ada yang berani menyentuhnya, aku masih belum puas!" ucapan Bryan sontak membuat temannya terheran sekaligus tergelak.
"Fucking shit, ternyata kau benar - benar kecanduan tubuh Maya! Sepertinya aku harus bersabar sekarang, karena ini pertama kalinya kau kecanduan pada satu wanita!"
"Tunggu staminaku pulih dan kembali menikmatinya. Setelah itu, baru giliran kalian atau jika perlu kita nikmati bersama - sama!" kekeh Bryan, lalu mendongakkan kepala pada sandaran sofa lusuh di ruang tamu.
*
Didalam kamar.
Setelah beberapa saat Bryan keluar, Maya berusaha menggerakan kaki dan tangannya dengan sisa tenaga yang ada.
"Tuhan, bantu aku untuk lepas dari sini! Setidaknya, biarkan aku lepas dari penderitaan yang mungkin akan terjadi lagi kalau aku tidak pergi," lirih Maya.
Dengan menahan rasa perih di area sensitifnya, Maya terus menggerakan kakinya berusaha melepaskan ikatan pada kakinya.
Merasa ikatan pada tangan sedikit melonggar, Maya semakin bersemangat dan akhirnya salah satu tangannya terlepas.
Gegas Maya melepaskan ikatan pada tangan kirinya, kemudian bangkit melepaskan ikatan pada kaki kiri dan kanannya.
Maya mengambil selimut tipis yang teronggok di ujung ranjang, dan membelitkannya pada dada dan paha sehingga membentuk seperti dress pendek.
Setelah tubuhnya tertutup. Maya, berusaha membuka jendela kamar se pelan mungkin agar tidak menimbulkan suara.
Begitu jendela terbuka, Maya segera melompat dan langsung lari sekuat tenaga dengan menahan rasa sakit pada bagian intinya.
"Ayah, Vello. Maafkan aku, karena meninggalkan jasad kalian tanpa di makamkan. Aku harus bisa menyelamatkan diriku terlebih dahulu!" batin Maya dengan terus berusaha berlari.