Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.
Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.
Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.
Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.
Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.
Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???
Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???
Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh Cinta
Dalam rimbunnya hutan dan dinginnnya suasana yang mencekam, terbaringlah sang mafia yang masih hidup itu sendirian.
Ia bersimbah darah dengan dua luka tembak di tubuhnya, mencoba untuk bertahan melawan rasa sakit yang semakin menyiksa.
Sementara Benjamin bersama anggota lainnya belum juga muncul ke permukaan. Apakah orang-orang itu berhasil selamat, atau justru telah gugur di tangan musuh-musuhnya.
Terlepas dari semua itu, satu-satunya yang terlintas di benak Veron hanyalah gadis tawanannya, alih-alih memikirkan nasibnya sendiri.
Dia berharap Jenia berhasil menemukan jalan dan bisa pulang dengan selamat.
Dia berharap gadis itu bisa kembali melanjutkan hidupnya dan menjadi seorang dokter yang sukses dan berbakat.
Tapi dari semua harapan itu, terbesit satu harapan kecil di dalam hatinya.
Meskipun dirasa tidak mungkin, namun Veron sangat berharap jika gadis itu tetap berada di sisinya.
Walau di sisi lain dia sudah tidak ingin terlibat lebih jauh dengan Jenia, tapi hati kecilnya tak bisa berbohong.
Bola matanya yang berbinar dan senyumnya yang manis selalu muncul setiap kali Veron memejamkan mata.
Sikap polosnya yang serba tidak tahu apa-apa selalu menjadi penyebab sang mafia ingin segera sampai ke markas setiap pagi menjelang.
Tanpa sadar Veron merubah kata-katanya yang kasar menjadi kata yang sedikit lebih enak di dengar.
Entah kapan dan dimana awal mula perasaan itu bisa muncul. Yang lelas perasaan itu tidak muncul hanya karena Veron merasa kasihan atau sekedar kagum sesaat.
Bahkan Veron sampai menugaskan banyak pengawal untuk berjaga di sekitar markasnya.
Bukan karena takut tawanannya kabur melainkan karena ia takut Jenia kenapa-napa.
Dia juga sengaja mengurung Jenia di sebuah kamar yang menghadap tepat ke arah perairan luas, supaya gadis itu tidak terlalu stres dan bisa menikmati pemandangan cantik setiap harinya.
Hal yang paling dia sukai adalah ketika sore hari menjelang malam.
Pada saat itulah Veron selalu tersenyum melihat Jenia yang selalu melambaikan tangan ke arah kapal yang di tumpanginya.
Gadis itu tidak pernah menyerah dan selalu mengirimkan sinyal minta tolong setiap kali Veron melintas dari bawah tebing menuju pulau pribadinya.
Tiba-tiba semua kenangan itu muncul beberapa saat setelah Nia pergi meninggalkannya. Tanpa sadar sang mafia tersenyum di tengah rasa sakit yang makin menyiksa.
Saat itu ditengah kesadarannya yang mulai hilang, samar-samar Veron mendengar suara seseorang memanggil namanya.
"Apa aku berhalusinasi...??" ucapnya lirih.
Rasanya seperti mimpi, antara sadar dan tidak suara itu semakin lama semakin terdengar jelas di telinganya.
Sementara wajahnya sudah pucat pasi akibat kekurangan banyak darah. Pandangannya pun mulai buram tidak bisa mengenali siapa yang datang.
"Siapa dia...?? Apakah dia malaikat..?? Apa aku sudah mati...??" batinnya saat melihat sosok berbaju putih yang datang mendekat.
Tapi siapa sangka orang yang dikira malaikat itu ternyata adalah gadis tawanannya.
"Veron...!! Kau masih hidup kan...??" ucap Nia sambil menempelkan telinganya di atas dada sang mafia.
Dia sangat bersyukur dan merasa lega saat mengetahui Veron masib bernapas serta detak jantungnnya masih terdengar jelas.
"Syukurlah kau masih hidup...!!" Ucapnya sambil menangis memeluk Veron.
"Dasar bodoh...!! Kenapa kau kembali...??"
gumam lelaki itu melihat kedatangan Nia.
“Karena aku bodoh...!! Makanya aku kembali…!!" Sahutnya seketika membuat Veron tersenyum.
"Uhuk.... uhukkk..cepat menyingkir dariku, tubuhmu itu berat..!!"
Saat itu entah kenapa Veron yang tadinya nyaris pingsan kini mendapat sedikit kekuatan dalam dirinya.
Kemudian dengan perlahan dan hati-hati lelaki itu berusaha untuk bangun sambil di bantu oleh
Jenia di sampingnya.
Meski kakinya sendiri sakit dan terkilir namun Jenia masih kuat memapah Veron dan membawanya pergi dari tempat itu.
Beruntungunya belum beberapa meter mereka berjalan Benjamin dan kawanan lainnya berhasil menemukan lokasi Veron.
Para anggota mafia itu juga penuh dengan bekas luka dan sayatan dimana-mana.
Mereka sangat kaget melihat kondisi Veron yang sangat parah dengan luka tembak. Benjamin pun segera membantu bosnya untuk segera menuju markas.
"Ehhh kita mau kemana...?? Bukankah kita seharusuya ke rumah sakit...?? Dia harus di operasi secepatnya...!!!" ucap Nia yang kaget setelah mengetahui kalau ternuata mereka kembali ke markas.
"Tidak...!! tidak bisa Nia, aku tidak bisa ke rumah sakit...!!" sahut Veron bersikeras, namun ia tidak bisa mengungkapkan alasannya.
"Apaaa...?? Lalu bagaimana dengan lukamu.?? kau kekurangan banyak darah Veron...!!"
Sementara Veron dan yang lainnya tetap tidak peduli dengan ocehan Nia yang terlihat khawatir sejak tadi.
Sesampainya di markas mereka membawa Veron ke sebuah ruangan khusus yang terletak disamping kamar Jenia.
Di dalam ruangan tersebut sudah dilenekapi dengan beberapa perlengkapan medis dan obat-obatan yang cukup memadai.
Nia yang baru pertama kali melihatnya pun sempat tercengang, ternyata di markas Veron terdapat ruangan seperti itu, sebelumnya dia tidak pernah tahu karena ruangannya selalu terkunci.
Mereka menyebutnya ruang steril. Biasanya tempat itu digunakan apabila ada anggota yang terluka parah dan memerlukan penanganan medis secepat mungkin.
Para mafia itu akan memanggil dokter pribadi dari luar dan membayarnya dengan harga yang sangat mahal.
"Sekarang semuanya ku serahkan padamu....!!" ucap Veron menatap Nia penuh arti, di iringi dengan tatapan para anggota lainnya yang ikut menatap Jenia.
"Apaaa...?? Maksudnya...??"
"Cepat keluarkan pelurunya, kita tidak punya waktu...!!" sahut Benjamin memaksa.
"Ta...tapi aku belum lulus dan belum punya lisensi sebagai seorang dokter...!!" sahutnya gemetar.
"Lakukan saja Nia, alu percaya padamu..." pinta Veron lirih dengan kondisinya yang semakin
lemah.
"Golongan darahku O, kau bisa ambil darahku..." ucap Benjamin menawarkan diri.
"Aku juga O..."
"Aku juga...." Ucap dua orang anggota lainnya.
Mereka bersedia memberikan darahnya untuk Veron, padahal orang-orang itu juga sedang dalam kondisi yang terluka.
Setelah menarik napas paniang dan berpikir keras, akhirnya Nia bersedia melakukan operasi pada Veron.
Sementara tiga orang lainnya bersiap untuk mendonorkan darahnya setelah mereka memenuhi syarat sebagai pendonor.
Saat menyiapkan perlengkapan. Nia kembali di buat bingung karena ternyata ada sesuatu yang kurang.
"Di mana obat biusnya...??" tanya Jenia menatap sang mafia.
"Mungkin habis..." jawab Veron santai.
"Apaaa...?? Bagaimana mungkin orang yang punya ladang poppy dan pengimport opium tidak punya stok obat bius...??"
"Kalau begitu lakukan tanpa bius...!!" sahut Veron yang membuat Jenia semakin tercengang.
"Apa...?? Yang benar saya Veron...?? tidak tidak tidak....!! aku tidak bisa melakukannya…!!” (“Bukannya apa-apa, aku hanya tidak tega kau kesakitan…”)
"Cepat lakukan Nia...!! Anggap saja operasi tanpa anestesi ini sebagai bentuk balas dendammu
padaku…!!"
Karena terus di paksa, akhirnya mau tudak mau Jenia tetap melakukan tindakan operasi tanpa anestesi sesuai perintah Veron.
Lelaki itu juga mengaku bahwa anggota tubuhnya yang terluka mulai mati rasa, jadi dia pikir tidak masalah jika melakukannya tanpa bantuan obat bius.
Namun meskipun begitu, Nia tetap membuat gulungan dari kain dan memaksa Veron untuk menggigitnya sebagai bentuk pertahanan diri melawan rasa sakit.
Dan nyatanya semuatidak semudah yang di bayangkan. Veron bahkan sudah mengerang kesakitan saat Nia mulai menyayat bagian luka tembakaya.
"Bagaimana ini...?? Kau pasti sangat kesakitan...?? Apa sebaiknya kita hentikan saja...??” tanya Nia nampak khawatir.
"Tidak apa-apa Nia, lanjutkan saja dan tetap fokus, jangan pedulikan aku....!!"
Setelah beberapa saat mereka di dalam, akhirnya Nia berhasi mengeluarkan dua butir peluru yang bersarang di tubuh Veron.
Perlahan Nia mulai menjahit bekas lukanya dan terakhir membalutnya dengan perban.
Tidak bisa dipungkiri, saat itu Veron benar-benar kesakitan. Lelaki itu meringis setiap kali jarum jahit keluar masuk menembus kulitnya.
Namun di disisi lain rasa sakit itu jauh lebih berkurang saat dia memperhatikan wajah sang dokter yang tengah menanganinya.
"Ehem, Kupikir tadi aku sudah mati...."
"Tidak...!! tidak boleh....!! Kau tidak boleh mati dan kau tidak akan mati..!!" Sahut Nia sambil membersihkan darah di sekitar wajah Veron.
"Kenapa…?? Bukankah seharusnya kau senang jika aku mati....??"
"Bu…bukan begitu, hanya saja orang yang banyak dosa sepertimu tidak boleh mati begitu cepat…!!”
“Tapi ngomong-ngomong kenapa kau malah kembali lagi..?? Padahal aku sudah menyuruhmu untuk pergi…”
Mendengar pertanyaan itu Nia pun terdiam sejenak sambil menatap satu sama lain.
“Karena kau telah menyelamatkan nyawaku…” gumamnya pelan sembari menurunkan tangannya dari wajah Veron.
Namun lelaki itu lebih dulu mengenggam tangan Nia dan terus menatap matanya semakin dalam.
Entah kenapa saat itu irama jantung Nia benar-benar berdebar tidak karuan, apalagi jarak antara keduanya sangat dekat.
“Kau akan menyesal karena sudah memilih untuk kembali Nia…!!” Ucapnya memperingatkan.
“Ehem… sudah selesai, aku mau mengobati mereka yang ada di luar…” sahut Nia berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Sebentar Nia, kemarikan dulu kakimu…” sahut lelaki itu meminta Jenia agar mengangkat kakinya yang terkilir.
Gadis itu baru menyadari bahwa sejak tadi ternyata pergelangan kakinya sedikit membengkak.
Kemudian perlahan Veron mulai membersihkan kakinya, lalu mengolesinya dengan salep pereda nyeri dan melilitnya dengan perban elastis (elastik bandage) untuk mengurangi pembengkakan.
“Untuk beberapa hari kedepan aku akan tidur di bawah dan kau bisa pakai ruanganku. Aku juga akan menonaktifkan kode sandinya agar kau bebas keluar masuk ke sana…”
“Hmm…” sahut gadis itu mengangguk pelan.
Setelah semuanya selesai Nia pun bergegas pergi untuk mengobati yang lainnya.
Di luar pintu ia sempat menenangkan dirinya beberapa saat.
“Hhuuuffftttt, ada apa denganmu Nia..??? Sepertinya aku harus segera konsultasi dengan dokter spesialis jantung….!!” Gumamnya sambil mengelus dadanya yang semakin terasa aneh.
Sepanjang penanganan para anggota mafia itu terdengar mengerang kesakitan, karena tidak ada satupun yang menggunakan obat bius saat lukanya di jahit.
“Tenangkan diri kalian…!! Bahkan bos kalian saja masih bisa tersenyum saat lukanya dijahit…!!” Ucap Nia membandingkan.
“Yang benar saja…!! Bos pasti sudah gila…!! Ini rasanya sangat menyakitkan seperti nyawaku ikut tertarik setiap kali benang jahitnya ditarik...!!”
Gumam seorang anggota mafia yang tengah dijahit lukanya.
…………………………………………………………………………………