Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Informasi
Angin malam yang dingin merayap masuk melalui celah-celah jendela gedung tinggi, membawa hawa yang menusuk hingga ke ruangan mewah di lantai teratas. Di sana, Anton duduk sendirian di kursi tunggalnya. Satu kaki disilang, tangan menopang dagu, matanya bergerak perlahan mengikuti alur informasi di layar tablet.
Ini adalah hasil penyelidikan yang telah berlangsung selama beberapa hari.
Layar kembali digulir ke atas. Sebuah foto profil muncul—Gerard. Wajah itu tampak biasa saja, tapi cukup untuk membuat alis Anton terus terangkat. Data diri di bawahnya lengkap: nama, alamat, riwayat pendidikan, pekerjaan terakhir, hingga riwayat kesehatan. Semuanya tampak normal. Bahkan terlalu normal.
Gerard Putra.
Tak ada marga. Anak kedua dari tiga bersaudara. Latar belakang keluarga sederhana, tak pernah tercatat dalam masalah hukum, tak punya koneksi dengan dunia kriminal. Tapi...
Anton mencubit layar, memperbesar foto itu. Matanya menyipit.
Dia mirip. Sangat mirip.
Di benaknya muncul satu nama: keluarga Hartono. Sebuah klan bisnis besar, yang darahnya mengalir di tubuh seorang pebisnis muda yang belakangan ini sering menghiasi media. Dan Gerard—entah mengapa—memiliki kemiripan yang sulit diabaikan dengan pria itu.
Informasi yang Anton kumpulkan menyebutkan bahwa Hartono kehilangan satu cabang keluarganya puluhan tahun lalu. Seorang anak kawin lari dengan pria dari kalangan biasa, meninggalkan tunangan yang telah dijodohkan. Sejak itu, kabar tentang mereka terputus. Hanya fragmen-fragmen kecil yang tersisa—termasuk kabar bahwa suami wanita itu tewas dalam sebuah insiden penyerangan yang juga melibatkan anak dan istrinya.
Kebetulan?
Jari Anton mengetuk lengan kursi. Lambat. Berat.
Ia tak suka kebetulan.
Apalagi dalam beberapa hari terakhir, informannya juga melaporkan bahwa keluarga Hartono—yang sempat ia curigai di balik penculikan Melinda—ternyata bersih. Tak ada keterlibatan. Tak ada jejak. Semua pihak yang baru berhubungan dengan mereka juga steril dari indikasi.
Tandanya jelas: ada pihak ketiga.
Roni, preman pasar yang diduga sebagai eksekutor lapangan, kini lenyap. Jejaknya tak terbaca. Dua pelaku yang tertangkap mengalami amnesia pasca pertarungan dengan Gerard—hilang ingatan total tentang apa yang terjadi. Sementara sopir van yang menjadi sumber informasi utama sudah tak bisa lagi memberikan data baru.
Satu-satunya yang bisa menjadi kunci adalah Gerard sendiri.
Anton menghela napas panjang, menggulir layar ke bagian paling bawah. Di sana, beberapa catatan terbaru menarik perhatiannya.
- Terduga diketahui pernah menjalani kehidupan sebagai gelandangan hingga satu minggu lalu.
- Lotre mengubah status hidupnya: rumah, motor, mobil dalam waktu singkat—semuanya terverifikasi asli.
- Terduga memiliki hubungan dengan Mawar (ponakan Tuan Anton & Nyonya Tari), anak dari Linda & Andy.
Anton menatap layar itu cukup lama.
Lotre? Dalam seminggu? Hidupnya berubah total?
Ia sudah memeriksa ke pihak penyelenggara. Semua dokumen sah, tak ada kejanggalan. Tapi nalurinya tetap berteriak: ada yang tidak beres.
“Ah, menyebalkan,” gumamnya akhirnya, menekan tombol power tablet hingga layar gelap. Ia bersandar di kursi, memijat kening dengan dua jari. “Dia terlalu bersih. Justru itu yang bikin aku curiga.”
Udara di ruangan terasa berat. Di luar, malam Jakarta terus bergulir tanpa peduli pada kecurigaan seorang ayah yang mencoba melindungi keluarganya.
Untuk sekarang, Anton hanya bisa waspada. Dan mungkin—menjalin hubungan baik dengan Gerard. Karena kadang, sumber terbaik justru datang dari orang yang paling dekat dengan pusaran masalah.
...*•*•*...
Di sudut lain perkotaan, di sebuah ruangan rumah sakit yang temaram, Gerard masih terbaring di ranjang yang sama. Matanya terpejam, napasnya teratur, dan di sudut bibirnya—senyuman tipis mengembang. Tak ada yang tahu apa yang sedang ia mimpikan, tapi jelas itu adalah mimpi yang indah.
...*•*•*...
Kembali pada Melinda.
Pertemuan singkat dengan Mawar sore tadi masih membekas di kepala Melinda. Sepupunya itu bersemangat sekali menanyakan kabar, tentang rumah sakit, tentang Gerard—tanpa sadar, Mawar lebih banyak bertanya tentang pria itu daripada tentang dirinya sendiri. Melinda hanya menjawab seperlunya, tersenyum tipis, lalu mengalihkan topik.
Kini, di kamarnya yang sunyi, ia duduk di depan meja rias. Satu per satu, ia bersihkan sisa riasan di wajahnya. Gerakannya lambat, matanya sesekali menerawang ke bayangannya sendiri di cermin.
Memangnya kenapa kalau aku dekat dengannya?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sejak tadi. Mawar, bibinya, bahkan sopir pribadinya—semua seolah punya komentar tentang seberapa sering ia ke rumah sakit belakangan ini. Seperti ada yang salah dengan kedekatan itu.
Padahal, tidak.
Melinda memang terkenal selektif. Untuk berteman saja ia punya standar, tapi anehnya lingkaran pertemanannya justru luas—mahasiswa berprestasi, anak pejabat, seniman, hingga aktivis sosial. Ia pandai memilih orang, dan orang-orang itu nyaman dengannya.
Tapi kali ini berbeda.
Ini pertama kalinya ia merasa begitu dekat dengan seseorang, dan bukan karena status, kekayaan, atau kemampuan orang itu. Bukan karena Gerard menyelamatkannya. Bukan karena rasa terima kasih.
Tapi karena… ketika ia di samping Gerard, semuanya terasa tenang.
Sesederhana itu.
Dan perasaan itu—entah kenapa—tidak ingin ia tolak.
Melinda meletakkan kapas pembersih, lalu menatap matanya sendiri di cermin. Di sana, ia melihat sorot yang tak biasa. Lembut. Hangat. Jatuh cinta? Mungkin. Atau mungkin baru pertama kali merasakan apa artinya nyaman dengan seseorang tanpa alasan.
Ia tersenyum kecil, lalu berbisik pelan, hanya untuk dirinya sendiri:
"Aneh…"
Tapi senyum itu tak pergi.