Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi
Suara bising menyambut suasana pagi di Terminal Kedatangan Bandara Soekarno-Hatta. Udara di luar bandara terasa lembap, khas Jakarta setelah hujan tengah malam. Troli-troli koper berderak, suara roda koper saling berselisihan, dan pengumuman bandara masih menggema samar di belakang mereka.
Junia berjalan sambil menyeret koper pinknya. Ia masih memakai hoodie abu-abu dan celana jeans. Matanya masih tampak setengah mengantuk. Liburan yang baru mereka jalani masih menempel di kepalanya seperti stiker-stiker lucu yang belum sempat dilepas. Ia ingin memperpanjang momen itu—kalau bisa, jangan dulu kembali ke dunia yang sama seperti sebelum mereka berangkat.
Di sampingnya ayahnya mendorong koper dan tas-tas bawaan mereka sambil sesekali berhenti untuk menyesuaikan posisi tas. Sementara ibunya hanya menenteng tas kecil saja. Di belakang mereka, kakek duduk di atas kursi roda yang didorong oleh Fitri—caregiver yang dibawa ayah untuk membantu kakek.
“Kita langsung pulang, ya. InsyaAllah sebelum zuhur sudah sampai rumah.” ucap Pram. “Mbak Fitri boleh langsung pulang juga, ya. Pembayarannya sudah saya proses dan transfer. Bukti transfer sudah saya kirim ke WhatsApp kamu. Tolong dicek ya.”
“Baik, Pak. Terima kasih banyak.” Fitri menundukkan sedikit tubuhnya. “Saya pamit ya, Pak.”
“Baik. Hati-hati, Mbak. Terima kasih sudah membantu perjalanan kami nyaman,” ucap Pram.
Usai wanita itu berpamitan mereka pun naik ke mobil yang sudah dititipkan di parkiran inap bandara. Jam masih menunjukkan pukul 07:15 saat mobil keluar dari bandara dan masuk ke jalan tol. Langit cerah dihiasi dengan awan tipis yang bergerak pelan, dan beberapa pesawat masih terlihat naik-turun dalam jarak jauh.
Di kursi belakang, Junia mulai memeluk bantal lehernya. “Ngantuk,” gumamnya.
“Tidur aja, Jun,” ucap ibunya.
“Tapi pengen lihat jalan,” balasnya sambil menguap.
Kakek menoleh. “Kalo ngantuk, tidur. Kalau enggak dibawa tidur, nanti kepalanya pusing.”
Junia mengangguk tapi matanya tetap setengah terbuka.
Sementara itu, Pram dan Mahira mulai membicarakan kecil-kecil tentang oleh-oleh yang harus dibagi dan foto mana yang bagus untuk dicetak. Ayah berniat memasang beberapa foto di ruang keluarga.
“Kita pilih tiga foto buat dipajang ya,” kata bunda.
“Tiga cukup, sisanya disimpan di album aja,” jawab ayah. “Kalau semua dipajang nanti rumah jadi museum.”
Perjalanan berjalan lancar. Mobil melaju dengan kecepatan stabil. Lalu lintas tidak padat, tidak juga terlalu lengang. Truk-truk bermuatan kontainer sesekali menyalip dari kanan atau melambat di kiri. Semuanya terasa benar-benar tenang. Tidak ada firasat apa pun ataupun tanda-tanda buruk.
Mendekati pukul 10:20, mereka sudah melewati Cawang. Langit semakin terang, matahari mulai menusuk kaca. Junia yang tadinya setengah terjaga, akhirnya tertidur sambil memeluk bantal leher dan bertumpu pada pundak kakeknya.
Kakek menutup mata juga, tetapi tidak sepenuhnya tertidur. Hanya beristirahat. Tubuhnya bergoyang pelan mengikuti gerakan mobil.
Pram mengendarai mobil sambil bersenandung kecil, sementara istrinya sudah tampak terlelap di sampingnnya.
Sepuluh menit kemudian, suara bising mulai terdengar dari kejauhan. Suara klakson panjang yang memekakkan telinga. Namun sebelum mereka sempat terjaga suara klakson itu berubah menjadi teriakan dari pengemudi di depan.
Truk dari arah berlawanan melambung melewati garis tengah—mengambil jalur berlawanan. Truk besar itu tampak oleng, dan meluncur langsung ke arah mereka seperti hewan besar yang kehilangan kendali. Semua terjadi dalam jarak beberapa detik hingga mereka pun tidak sempat berteriak.
Mahira refleks memegang dashboard.
“Ayah!” Junia terbangun lalu berteriak panik.
Raja membulatkan matanya lalu tubuh ringkihnya memeluk erat Junia, berusaha melindungi cucunya itu.
Pram membanting setir ke kiri hingga bannya menggesek bahu jalan. Suara rem memekik keras bercampur dengan suara logam bergesekan, dan seketika dunia hening dalam kepanikan.
“Junia!” teriak Mahira. Namun ia tak bisa melakukan apapun untuk melindungi putrinya.
Benturan pertama menghantam keras dari depan menghentak seluruh kabin. Kemudian mobil terlempar, memutar, menghantam lagi pada sisi kanan, lalu berputar seperti koin yang dilempar sampai akhirnya jatuh terbalik.
Semua terjadi begitu cepat, tapi bagi Junia, rasanya seperti adegan film yang diperlambat. Kaca yang pecah menjadi serpihan kecil, tas koper mental ke langit-langit, sabuk pengaman menarik tubuhnya keras hingga dadanya sakit, kepala menghantam sisi mobil, dan suara ayahnya yang hilang seketika.
Lalu…
Hening.
Benar-benar hening.
Junia tidak tahu apakah telinganya rusak atau memang seluruh dunia berhenti bersuara. Yang ada hanya dengkingan panjang dan detak jantungnya sendiri yang terasa seperti pukulan palu kecil.
Mobil berhenti dalam posisi terbalik.
Bau bensin samar memenuhi udara, bercampur dengan bau debu dan serpihan kaca. Udara terasa berat dan panas, meskipun AC masih menghembus pelan dari sudut yang bengkok.
Junia mencoba bergerak.
“Sa… saakiit…” gumamnya. Suaranya sendiri terdengar jauh dan aneh.
Tangannya bergetar saat meraba sabuk pengaman. Dadanya sesak, pelipisnya basah. Entah oleh keringat, darah, atau keduanya.
“Bunda…?” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
“Bunda?” suaranya naik setengah oktaf.
Ia menoleh ke depan—kursi terbalik, kaca pecah, dashboard ringsek menekan ruang kabin. Ayah dan bunda tidak bergerak. Sabuk pengaman bunda terputus, tubuh ayah terhimpit kemudi.
“Bunda!” teriaknya, tapi suara itu terdengar seperti suara anak kecil yang ketakutan dalam mimpi buruk.
Ia menoleh ke samping.
“Kakek? Kek…”
Kakek tergeletak dengan kepala miring, matanya tertutup. Tubuh pria tua itu terlepas dari pelukannya saat mobil berputar. Junia tak lagi merasakan nafas dari tubuh kakeknya. Tidak ada gerakan di dadanya. Bahkan tidak ada rasa sakit pada wajahnya—hanya ketenangan yang justru terlihat lebih menakutkan.
Junia menegang.
Jantungnya seperti terlepas dari tubuhnya.
Seseorang dari luar mulai berteriak.
“Masih ada yang hidup! Cepat! Tolong buka!”
Pintu belakang didobrak menggunakan alat darurat. Seseorang memotong sabuk pengaman Junia dan menyeretnya keluar melalui celah pintu yang sudah bengkok.
Begitu tubuhnya menyentuh aspal, pandangannya mulai mengabur. Ia hanya bisa melihat orang-orang mulai datang mengerubunginya. Beberapa orang lainnya berusaha membuka pintu depan, memanggil ayah dan bundanya, tapi tidak ada jawaban. Sirene ambulans mulai terdengar dari kejauhan.
“Ayah… bunda… kakek…” ucap Junia tanpa suara. Hanya bibirnya yang bergerak lambat.
Tetesan air mata jatuh di sudut matanya. Junia hendak mengangkat tangannya namun ia tak mampu menggerakkannya.
Tak lama kemudian—seorang petugas medis menghampirinya dengan tergesa-gesa. Dengan cekatan, petugas itu memeriksa tubuh Junia. “Nak… siapa nama kamu?”
“Juunn…” lirih Junia dengan suara yang sulit didengar.
“Oke Jun… kamu umur berapa, Nak? Jangan tidur ya, Nak. Jawab semua pertanyaan saya…” ucapnya berusaha tetap menjaga kesadaran Junia.
Hari itu semua kebahagian Junia di renggut oleh semesta—dalam sepersekian detik saja. Dunia benar-benar kejam pada gadis itu. Tuhan menjadikannya satu-satunya yang selamat dari tragedi memilukan itu. Ia menjadi satu-satunya yang pulang setelah liburan membahagiakan kemarin.
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.