Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Reuni di Bawah Rembulan Hitam(2)
Langkah kaki Chen Kai baru saja melewati gerbang luar istana saat ia merasakan perubahan atmosfer yang sangat tajam. Bau amis darah yang bercampur dengan aroma dupa busuk menyeruak di udara malam yang dingin. Indranya yang tajam segera menangkap keributan di sebuah gang sempit yang gelap, tak jauh dari pasar pusat ibu kota yang sudah sepi.
Chen Kai melesat, bergerak seperti bayangan kristal di atas atap-atap rumah. Di bawah sana, di sebuah lorong buntu, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih seketika.
Seorang pemuda—yang tampak seperti murid jenius dari klan lain—tergeletak lemas di tanah dengan rantai energi hitam mengikat lehernya. Tubuh pemuda itu memancarkan cahaya keunguan redup, tanda dari Tubuh Spiritual Langit yang sedang diperas energinya secara paksa.
Dan di sana, berdiri dengan jubah hitam yang berkibar tertiup angin malam, sosok pria yang telah menghantui setiap mimpi buruk Chen Kai selama tujuh tahun terakhir.
Chen Xo.
Kakaknya berdiri membelakangi Chen Kai, tangannya memegang rantai energi itu dengan santai, seolah-olah ia sedang menyeret hewan ternak menuju tempat penjagalan.
"CHEN XO!!!"
Raungan Chen Kai membelah kesunyian malam. Amarah yang ia bendung selama tujuh tahun meledak dalam satu detik. Ia tidak lagi memikirkan strategi atau jebakan. Yang ada di pikirannya hanyalah keinginan untuk menghancurkan pria di depannya.
Chen Kai melompat dari atap, menarik Pedang Kristal Abadi dengan kecepatan yang menciptakan ledakan sonik di udara.
"SENI PEDANG KRISTAL: TEBASAN PEMBALASAN!"
Bilah pedang itu memancarkan cahaya biru yang menyilaukan, membawa seluruh berat dari dendam klan yang musnah. Serangan itu sangat cepat, mengincar leher Chen Xo dengan presisi yang mematikan.
KLANK!
Suara dentingan logam yang memekakkan telinga bergema di seluruh lorong. Langkah Chen Kai terhenti mendadak. Matanya membelalak tidak percaya.
Chen Xo tidak berbalik. Ia menahan tebasan pedang terkuat Chen Kai hanya dengan satu tangan—bukan dengan pedang, melainkan dengan dua jari yang dilapisi oleh energi hitam pekat yang berdenyut.
"Masih gegabah seperti dulu, Adik Kecilku." ucap Chen Xo. Suaranya dingin, tenang, dan tanpa emosi sedikit pun, seolah-olah ia tidak baru saja diserang oleh seseorang yang ingin membunuhnya.
Chen Xo berbalik perlahan. Wajahnya yang tampan masih terlihat sama seperti tujuh tahun lalu, namun matanya... matanya kini berwarna merah darah dengan pupil vertikal yang menyerupai mata ular. Tidak ada jejak kehangatan kakak yang dulu sering menggendongnya.
"Lepaskan dia, Keparat! Dan bayar semua nyawa anggota klan yang kau ambil!" teriak Chen Kai. Ia memutar pedangnya, melepaskan gelombang Qi esensi kristal untuk memaksa Chen Xo menjauh.
Chen Xo melompat mundur dengan anggun, membiarkan tawanannya tergeletak di tanah. "Kau berbicara tentang nyawa seolah kau mengerti nilainya, Kai. Tujuh tahun ini kau berlatih hanya untuk menjadi sekuat ini? Mengecewakan."
"DIAM KAU!"
Chen Kai merogoh kantongnya dan melepaskan Teknik Pedang Arus Surgawi yang baru saja ia pelajari. Pedangnya mulai bergetar, menciptakan distorsi ruang di sekitarnya. Arus udara di lorong itu tersedot masuk ke dalam bilah pedangnya.
"ARUS SURGAWI: BELAHAN DUNIA!"
Sebuah tebasan horizontal vertikal meluncur, membawa energi yang sanggup meruntuhkan tembok benteng. Namun, Chen Xo hanya menyeringai. Ia mengangkat tangannya yang lain, dan sebuah pusaran hitam muncul di telapak tangannya.
"Seni Bulan Hitam: Penelanan Jiwa."
Serangan dahsyat Chen Kai tertelan begitu saja ke dalam pusaran hitam itu, seolah-olah arus surgawinya hanya setetes air yang jatuh ke dalam lubuk laut yang tak berdasar.
"Kau memiliki potensi, Kai. Tubuh Esensi Kristal milikmu mulai bangkit," Chen Xo melangkah maju, setiap langkahnya membuat bayangan di sekitarnya merayap hidup. "Tapi kau masih terlalu 'bersih'. Dendammu hanya menjadikanku lebih kuat, sementara kau terikat oleh rasa kemanusiaan yang lemah."
Chen Xo muncul di depan Chen Kai dalam sekejap mata—kecepatan yang bahkan tidak bisa diikuti oleh indra Jiwa Sejati Tahap 5 milik Chen Kai. Sebuah pukulan bertenaga hitam menghantam perut Chen Kai.
DUAK!
Chen Kai terpental jauh, menghantam tembok bata hingga hancur berkeping-keping. Darah segar menyembur dari mulutnya. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah organ dalamnya baru saja dibekukan lalu dihancurkan.
"Belajarlah lebih giat, Adikku," Chen Xo kembali menyeret tawanannya. "Saat kita bertemu lagi, aku berharap kau sudah melepaskan kemanusiaanmu. Jika tidak... kau hanya akan berakhir sebagai bahan ritual untuk tuanku."
Chen Xo menghilang ke dalam kabut hitam bersama tawanannya, meninggalkan Chen Kai yang terkapar di antara reruntuhan tembok, menatap langit malam dengan pandangan yang kabur dan penuh amarah yang tak tersampaikan.
Dari balik bayangan, Lin Xia yang ternyata diam-diam mengikuti Chen Kai karena khawatir, berlari mendekat dengan wajah penuh air mata. "Tuan Chen Kai! Bertahanlah!"